Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

5. Mengembalikkan Jas

"Pa, Arum pergi dulu." Arum pamit pada Pras, ayahnya. Dia ada jadwal ke kampus hari ini. Seperti biasa, motor sudah terparkir rapi di halaman depan rumah.

"Hati-hati, Rum," ujar Pras. Arum mengangguk. Berjalan seraya naik ke atas motor. Dia melambaikan tangan pada papanya. Di mana mamanya? Arum sendiri tidak tahu keberadaan perempuan itu. Arum lebih bebas jika tak ada Rami. Hidupnya kacau dan selalu diganggu. Sudahlah. Bukan waktunya bersedih atas kehidupannya.

Arum lupa mengantarkan jas pria itu. Dia segera mengecek di dalam tas. Jas itu sudah dimasukkan. Hari ini setelah selesai ke kampus, dia ingin mengantarkan jas itu kepada Jagat. Tetapi, bodohnya mereka belum bertukar kontak.

"Huft. Aku ingin mengembalikkan jas ini, tapi aku tidak tahu di mana pria itu tinggal," keluh Arum. Ya, sudah. Itu urusan nanti. Arum segera pergi ke kampus Galaxy.

Seperti biasa, dia selalu menemui kemacetan di pagi hari. Wajar saja, di kota yang padat merayap ini orang-orang sibuk sekali beraktivitas. Yang sekolah, kerja, jadi tukang ojek online. Semua memadati jalan.

Yang seharusnya tiba lebih cepat 30 menit. Kini, dia harus menghabiskan waktu berlama-lama pada perjalanan menuju kampus.

"Gerah juga," ucap Arum. Dia membuka kaca helm itu. Duduk di atas motor dengan pandangan ke depan. Yang juga dipadati kendaraan. Beberapa kali dia berdecak sebal. Kalau seperti ini, kapan dia bisa sampai kampus?

Sementara itu, mobil di sampingnya dengan kaca tertutup seorang pria sebagai pemilik mobil ikut kesal dengan kemacetan yang tiada henti. Bagaimanapun juga dia harus tiba di kantor sebelum jam 7.

"Ck, kalau seperti ini, aku akan terlambat meeting," decaknya.

***

"Kau?"

Rupanya, kedua lawan jenis itu sama terkejutnya. Bagaimana pemilik motor itu tak terkejut ketika tiba-tiba dari belakang seorang menepuk bahunya. Arum menoleh cepat, risih dan terganggu. Namun, orang itu adalah orang yang kesekian kali menganggu hidupnya.

"Mau apa kau?" ucap Arum. "Aku harus ikut denganmu," jawab Jagat.

"Haha, Pak Jagat jangan asal bicara, saya harus ke kampus," ujar Arum disertai tawa. Bisa-bisanya pria itu ingin nebeng. Dia saja masih terjebak di tempat.

"Sudah, serahkan saja padaku," Jagat segera naik ke motor. "Pak! Pak, mau apa dengan motor saya?"

"Kenapa harus motor saya? Memangnya Pak Jagat tidak bawa mobil?"

"Mobil saya di samping motor kamu. Kalau saya bawa, saya akan terjebak macet terus."

"Jangan banyak tanya!" instruksi Jagat.

Alhasil, Arum duduk di belakang, Jagat yang mengendarai motor itu. "Kau tenang saja. Kuakan bawa kau ke kampus tepat waktu," tutur Jagat. Dia bahkan berani menyalip mobil-mobil dan kendaraan roda dua yang lain di tengah padatnya kemacetan. Arum ketakutan. Tapi, tak begitu heboh.

Ternyata beberapa saat kemudian, dia berhasil melewati panjangnya jejeran kendalaran itu. Berhasil keluar dan menemukan jalan lengang. Jagat tersenyum tipis di atas motor matic itu.

"Pak Jagat kenapa tidak naik taksi saja?" ucap Arum.

"Kau diam saja," sahut Jagat yang tak ingin diganggu. Arum cemberut. Motor itu miliknya, tetapi kenapa seolah Jagat yang berkuasa.

"Tapi, ini motor saya, Pak Jagat!"

"Turun dari motor saya sekarang!"

Arum tak mau orang lain mengambil alih miliknya. "Kamu tidak ingat kalau ini belinya pakai uang siapa?" oceh Jagat.

Ya. Memang benar itu pakai uang Jagat. Tetapi, apa Jagat juga tidak ingat kalau dia yang sudah menabraknya hingga motornya yang dahulu hancur.

"Karena Pak Jagat sendiri motor saya rusak. Makanya, Pak Jagat harus tanggung jawab dong!" sahut Arum tak ingin dipojokkan.

Beberapa lama kemudian, motor berhenti tepat di gedung di kampus Galaxy. Jagat menoleh, "ini kan kampusmu?"

"Ya," sahut Arum ketus. Jagat turun dari motor, "terima kasih tumpangannya."

Arum mengernyit, bingung. Rupanya, pria itu segera menelepon. Dan ternyata dia memutuskan naik taksi. Arum tak bisa berkata-kata. Dia pun segera masuk ke dalam gedung. Memarkirkan motornya.

"Ck. Kenapa juga aku harus memikirkannya? Oh, dan kenapa aku lupa menagih janji tentang tiket konser itu?" celoteh Arum seorang diri.

***

Sialnya, saat usai pulang dari kampus. Dia sudah pulang lewat senja. Dan waktu berganti malam. Dia hanya tahu kantor pria itu.

LJ Big terletak di Jakarta Pusat. Arum harus segera mengembalikkan jas yang sempat dia pinjam dan juga menagih tiket konser KPOP INFinity. Yang konsernya akan diadakan di luar negeri, Korea Selatan. Dua minggu lagi waktunya.

***

Ya. Sepertinya memang para karyawan sedang tidak lembur. Sepi. Ada satpam yang harus ditemui di depan.

"Permisi, Pak. Apa Pak Jagat masih di kantor?"

"Mbak siapa? Sudah janji dengan Pak Jagat?" kata pria bertubuh kekar.

"Oh... Itu...," Arum bingung harus jelaskan seperti apa.

"Saya harus kembalikan barang Pak Jagat yang tertinggal," ucap Arum.

"Tidak bisa kalau tidak buat janji dulu, Bu."

"Tapi, saya cuma mau ketemu sebentar, kok," ujar Arum. "Please, Pak. Saya harus ketemu Pak Jagat," mohon Arum.

"Saya bilang tidak maka tidak, Mbak."

Arum garuk-garuk kepala. Kalau tidak secepatnya, 3 permintaan itu akan hangus. Dia tidak rela kalau gagal nonton konser.

"Pak satpam, saya mohon izinkan saya bertemu Pak Jagat," Arum sampai memohon dengan kedua tangan. "Pak, please, please, cuma 10 menit."

"Tidak, Mbak. Pak Jagat sedang tak bisa diganggu," kata satpam itu. Arum mencoba masuk. Tetapi, satpam itu lebih dahulu mencegah dengan badannya yang kekar.

"Mbak jangan bandel, ya. Saya sudah peringatkan Mbak. Jangan mengganggu. Pergi dari sini!" usir satpam.

"Pak, minggir, saya harus kasih jas ini ke Pak Jagat. Minggir!"

Tetap saja, Arum tak didengar. Saat Arum coba berusaha masuk ke kantor, satpam itu semakin kasar dan mendorong Arum. Arum seketika jatuh. Dia mengaduh sakit. Tangannya sedikit merah. Arum menatap tajam pria itu. Awas saja. Dia pasti akan kena batunya sendiri.

"Pergi dari sini, Mbak. Pak Jagat pasti akan marah kalau Mbak memaksa seperti ini."

"Saya cuma mau ketemu Pak Jagat karena ini penting banget..." mohon Arum. "Tolong izinkan saya, ya, Pak satpam?"

"Kalau Mbak tidak pergi, saya tidak akan segan-segan menarik paksa agar Mbak jauh-jauh dari sini," ucap satpam.

"Pak-"

"Pergi dari sini!"

Saat Arum hampir terjatuh, seseorang buru-buru menarik dan menangkapnya.

Hap.

Dan ya, itu Jagat. Tiba-tiba saja pria itu hadir di sana. "P-Pak Jagat."

Jagat segera melepaksan Arum.

"Biarkan dia ke ruangan saya!" titah Jagat. Pak satpam lantas mengangguk. Dia merasa bersalah.

Arum lantas tertawa kecil. Dia meledek satpam dengan menjulurkan lidah. Satpam itu hanya bisa terdiam.

Saat sudah tiba di ruangan milik Jagat. Arum mengeluarkan jas milik CEO tersebut.

"Terima kasih untuk jasnya. Dan aku ingin menagih janjimu."

"Permintaan pertama, aku mau tiket konser yang kuminta besok pagi sudah ada, VIP."

"Apa? Besok?"

"Ya, kenapa? Keberatan?" ujar Arum.

"Kalau memang iya Anda keberatan, aku akan bicara pada orang tuamu kalau sebenarnya kau dan aku bukanlah sepasang kekasih. Dan mungkin kau akan segera dijodohkan," ancam Arum. Tersenyum miring sedikit agar lebih meyakinkan.

Jagat tidak siap soal itu. Alhasil, dia menyetujui. "Baiklah, asal kau tetap tenang dan tak bicara pada orang tuaku," kata Jagat.

"Yes. Aku tunggu besok pagi," ujar Arum tersenyum senang.

Tidak ada lagi yang mau dibicarakan, Arum membalikkan badan. "Aku pamit. Selamat malam. Jangan lupa permintaanku, hehe."

"Tunggu," cegah Jagat.

Arum berhenti. "Kenapa?"

"Aku antar kau pulang."

"Ini sudah malam, tidak ada penolakan," Jagat pun bergegas meraih kunci mobil.

Sementara, Arum mematung. 'Tidak apa-apakan kalau pulang bareng CEO itu?'

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel