3. Makan Malam Pertama
"Da-dari mana kau tahu? Kenapa kau tahu aku ingin nonton konser K-pop? Aku sama sekali tak cerita soal itu padamu," ujar Arum kebingungan.
"Karena itu, kau harus mau. Dan... Dengan baik hati, aku akan mengabulkan 3 permintaanmu," ucap Jagat.
"Kau... Aku sudah katakan kalau aku-"
"Terima saja, Rum. Kau kan ingin nonton konser. Masa tiket gratis ditolak."
Arum terkejut karena Sumi muncul di belakang. Gadis itu lantas menggoda Jagat yang sama sekali tak meliriknya. "Hai, tampan," sapa Sumi.
"Tidak. Dia itu yang buat motor papaku rusak," titah Arum. "Tapi, kan dia juga sudah ganti," kata Sumi. Ya, memang benar.
"Kau tak bisa lagi menolak. Ikut aku!" pria itu dengan enteng menarik tangan Arum. Gadis itu terus berontak meminta dilepaskan. Berteriak-teriak meminta sahabatnya agar dibantu, tapi Sumi membiarkan Arum pergi dengan pria tampan dan kaya raya. Sontak hal tersebut menjadi buah bibir anak-anak di Galaxy.
***
Sampai di dalam mobil, Arum terus memaksa agar pria itu mau membuka pintu mobil untuknya. Tetapi, kali ini Jagat sama sekali tak biarkan gadis itu lolos.
"Pak Jagat, lepaskan saya. Saya mohon. Kalau Pak Jagat mau culik saya, saya tidak punya apa-apa," mohon Arum. Tetapi, hal itu tak membuat Jagat luluh.
"Lepaskan saya. Saya harus pulang. Orang tua saya sudah tunggu saya di rumah," oceh Arum. Mobil menyala, Jagat keluar dari parkiran Galaxy.
Arum mengguncangkan tangan Jagat yang sedang menyetir.
"Diam. Kau bisa saja membuat mobil ini celaka!" tegas Jagat. "Saya tidak peduli. Saya mau keluar dari mobil ini. Saya tidak ingin menjadi pacar pura-pura!" oceh Arum.
"Saya sudah kaya. Saya tidak butuh apa-apa dari kamu selain kamu hanya berpura-pura jadi pacar saya."
"Kenapa harus saya?" tanya Arum. Jagat terdiam. Lebih memilih fokus menyetir. Sementara itu, sia-sia juga dia meminta cowok itu melepaskannya. Dan Arum hanya bisa bersandar sembari melihat ke jendela mobil.
Entah ke mana dia akan dibawa pergi? Sama sekali dia tidak tahu. Dan hanya bisa pasrah.
***
Arum adalah salah satu mahasiswi terkenal Galaxy. Tetapi, bukan berarti terkenal secara materi. Melainkan karena dia baik dan mudah bergaul.
Dia bukan anak yang terlahir dari keluarga kaya.
Terbukti, saat pria itu membawanya ke butik mewah dia terkejut dan kagumnya bukan main. Semua gaun di sana tampak indah dan menarik sekali. Tetapi, dia sadar dengan kondisi kantungnya.
Namun, dia masih bingung kenapa pria itu membawanya ke tempat tersebut. "Untuk apa kau bawa aku ke sini?" tanya Arum.
Jagat langsung bicara pada pelayan butik. "Aku minta gaun terbaik di sini."
"Baik, Pak. Tunggu sebentar." Kata pelayan itu bergegas menunjukkan gaun hitam, elegan, mewah dan harga fantastis.
"Ini, Pak. Kami punya yang ini. Cocok sekali untuk istrinya," kata pelayan tersebut. Arum melotot. "Saya bukan-"
Jagat lebih dulu bicara, "sayang kamu cobain dulu ya gaunnya."
"Silakan bawa istri saya untuk ganti pakaian," ucap Jagat. Arum melotot. "Pak, maksud-" belum kelar, Arum sudah dibawa pelayan ke tempat ganti baju.
Jagat menunggu di sofa dengan sambil membaca majalah, salah satu kakinya naik di atas kaki lain. Dia menunggu beberapa menit lamanya. Lalu, setelah itu Arum muncul dengan gaun tersebut. Jagat menoleh. Menyaksikan bagaimana layaknya gaun itu di tubuh mahasiswa tersebut.
Tetapi, dia masih merasa kurang cocok. "Ganti," titah Jagat.
Arum terpaksa harus ganti gaun lagi. Dan beberapa kali selalu disuruh ganti oleh Jagat. CEO itu sangat mempermainkannya. Kesal dan malas tergambar di wajah Arum. Apa mau pria itu?
Sampai hampir 1 jam lebih, akhirnya dia menemukan gaun yang tepat di mana bagian belakang tubuh Arum terekspos jelas. Dan bagian depannya tertutup. Gaun hitam itu sangat indah dan pas di tubuh Arum. Tampak lekuk tubuh wanita itu. Arum sedikit tak nyaman. Baru, Jagat mengangguk setuju. Tak sampai di situ. Wajah Arum juga harus sedikit dipoles. Diberi make up dan gaya rambutnya diubah. Alhasil, dia tampil makin cantik. Tidak seperti Arum yang tadi marah-marah saat diajaknya.
Arum berkaca diri melihat tampilannya di cermin yang cukup besar. Sungguh tak percaya akan yang ia lihat. Rambutnya hitam lurus dan diikat tinggi sampai memperlihatkan leher jenjangnya. Arum berputar-putar. Merasa bahagia. Tetapi, tentunya dia juga tidak tahu apa maksud pria itu sampai membuatnya berubah seperti sekarang.
Usai itu, Jagat dan Arum masuk ke dalam mobil. Waktu sudah hampir maghrib.
"Jadi, kau mau bawa aku ke mana? Daritadi kau tidak mau menjawab." Tutur Arum. Jelas dia butuh penjelasan. Tak ingin ditipu pria yang sudah sempat membuatnya celaka.
"Kau harus bisa berakting. Karena, malam ini kau harus jadi pacar pura-pura di hadapan orang tuaku," jelas Jagat. Arum memutar bola mata malas. Tetapi, dia juga tak bisa kabur.
"Jangan permalukan aku, saat sudah selesai, kau bisa minta 3 permintaan," ujar Jagat.
"Ya, aku minta ini segera berakhir," ucap Arum, asal. Jagat melotot, tapi hanya diam. Mobil segera pergi dari butik.
***
Entah dia mimpi apa bisa sampai datang di restoran yang megah dengan nuansa yang menenangkan. Alunan musik piano, slow, terdengar rapi. Dengan nuansa Eropa, dia tahu betul pasti sangat menguras isi dompet untuk 1 porsi makanan atau minuman.
Arum berjalan dengan anggun. Sudah memainkan perannya saat masuk ke tempat tersebut. Dia bak artis cantik yang jadi peran utama. Di sampingnya, Jagat masih selalu fresh dengan setelan jasnya. Dan saat mulai mau duduk dan bertemu orang tua Jagat, jantung Arum berdegup cepat.
"Ma, Pa, Jagat datang bawa pacar," ucap Jagat.
Akankah kehadirannya dapat dipercaya? Dan apakah aktingnya membuahkan hasil?
***
Flashback on*
"Ingat, jangan buat kacau. Kalau itu terjadi, aku tidak akan belikan tiket konser yang kamu mau," ancam Jagat. Dia tak mau sandiwara di depan orang tuanya gagal. "Dan biaya kuliahmu, tidak akan kupenuhi!"
"Ya, ya, ya," ucap Arum.
"Kalau aku berhasil, belikan aku tiketnya dan 2 permintaan lainnya, penuhi. Tugasku sebagai pacar pura-pura itu selesai," kata Arum. Jagat mengangguk. Hanya untuk hari ini dia menunjukkan kepada orang tuanya kalau dia punya kekasih. Meyakinkan mereka dan agar tidak repot mencarikannya calon istri.
Beberapa menit kemudian mereka akan bertemu orang tua Jagat di restoran sesuai yang sudah dijanjikan orang tua Jagat sekaligus makan malam bersama.
Flashback off.
"Ya Tuhan, Jagat, kamu mengejutkan Mama," ujar Lena. Lenatersenyum canggung pada Arum. Begitu pun Arum, dia menundukkan sedikit kepalanya, sopan. Melihat penampilan gadis itu, Lena tak bisa berekspektasi kalau ternyata Jagat yang sibuk sama dunia LJ Big masih peduli untuk percintaan.
Sementara, Arum takut kalau dia gagal meyakinkan mereka. Dan entah kenapa dia seperti masuk ke dunia Jagat lebih dalam seperti bukan permainan.
"Kenapa kamu baru perkenalkan sekarang?" Lena melotot.
"Maaf," ucap Jagat.
"Ma, sudah." Kata Jaenal, "kalian boleh duduk," lanjutnya.
Jagat pun memberikan kursi untuk Arum. "Terima kasih," ucap Arum tersenyum. Dia duduk dengan posisi tubuh yang tegap.
"Cantik sekali, siapa namamu?" ucap Lena. "Terima kasih, saya Lovela Arum Prasetio, Tante," ucap Arum, lembut suaranya. Berbeda sekali saat bicara dengan Jagat. Jagat terus memperhatikan keduanya.
"Jadi, sudah berapa lama kamu berpacaran dengan Jagat? Ini kali pertamanya Jagat bawa perempuan di depan orang tuanya," jelas Lena.
"Oh gitu, ya, ya ampun... Emm, kita sudah pacaran 3 bulan, Tante," ujar Arum seraya terkekeh, malu. Dia selalu melirik ke Jagat sembari melotot, seolah berkata, 'puas?'
"Ya, ampun. Sudah 3 bulan. Jagat, Jagat. Kenapa kamu sembunyikan ini dari Mama dan Papa?" ucap Lena tidak percaya.
"Tapi, sekarang sudah tahu kan. Dan Jagat minta hapus soal rencana perjodohan itu," tutur Jagat.
"Iya, maafkan Mama dan Papa, ya?"
Jagat mengangguk. "Jagat sudah punya pilihan sendiri, sudah ada Arum di hidup Jagat," katanya. Keduanya saling melirik. "Ya, kan?" ucap Jagat. Arum mengangguk, gugup. Entah kenapa dia jadi terbawa perasaan. Setelahnya, Arum mengedipkan mata. Fokus dan sadar kalau ini hanya akting.
"Sebaiknya kita pesan makanan, Papa sudah lapar," ucap Jaenal.
"Oh, iya, benar," ucap Lena. Melihat banyaknya reaksi awal, Arum merasa tak gagal. Mereka sepertinya percaya kalau dia pacar putra dari Lena dan Jaenal. "Mau makan apa?" ucap Jagat. "Hm...," Arum berpikir sejenak.
Kehadiran Arum tampak diterima kedua orang tuanya. Jagat tersenyum, rencananya berhasil. Dengan begitu dia tak perlu pusing memikirkan perjodohan-perjodohan gila.
"Kamu pesan apa?" tanya Arum. "Sama kayak kamu," jawab Jagat. Entah kenapa, obrolan mereka seperti mengalir. Apakah itu sekedar akting belaka? Hanya mereka yang tahu. Diam-diam, Lena dan Jaenal tersenyum memperhatikan. Saling senggol. Senang kalau putranya punya kekasih.
Beberapa lama mereka makan, dan diakhiri obrolan santai. Jaenal mengajak putranya untuk minum.
"Pa, Jagat gak minum," ujar Jagat.
"Alah, kamu, Gat, biasanya juga kamu paling banyak menghabiskan beberapa botol," kata Jaenal membongkar kelakuan putranya. "Pa, itu karena ada pacarnya, Papa bagaimana, sih," ledek Lena. Arum terkekeh. Apa iya dia banyak minum?- Pikir Arum.
"Ya sudah, lain kali saja. Minum sama Papa," ujar Jaenal. "Kalau ada waktu," sahut Jagat.
"Sudah malam, Jagat harus antar Arum pulang," katanya berpamitan. "Iya, antarkan Arum dengan aman. Mama gak mau Arum kenapa-kenapa, loh," ucapnya.
Arum berdiri begitu juga Jagat.
"Om, Tante, Arum pamit. Terima kasih sudah ajak Arum makan malam," pamitnya. "Iya, Arum. Duh, cantik sekali." Lena masih tak percaya akan kehadiran Arum. Memang benar-benar cantik. Gadis itu seperti disulap. Dia cocok dengan perawakan seperti itu untuk jadi model.
"Mama sampai lupa. Kamu kerja di mana?"
