Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

2. Sebuah Tawaran

Pikiran tentang pria itu segera dienyahkan. Dan mahasiswa Galaxy tersebut fokus pada jalanan kota yang selalu ramai di pagi hari. 

Ada yang lebih penting dari memikirkan pemilik perusahaan tersebut. Yaitu, dosen akan memberikan ujian hari ini. 

***

Jas hitam itu sangat pas dan melekat rapi di tubuh pria itu. Usai memakai jam tangan dan parfum, dia meraih kunci mobil dan segera berangkat. 

Baru masuk mobil. Pria itu kembali dihubungi oleh orang tuanya. Lena, mamanya. Meskipun malas, dia tetap menyahut panggilan tersebut. 

"Halo, Ma?"

"Jagat, kamu pasti mau berangkat kerja, ya?" tanya Lena, lembut. 

"Hm, iya."

"Jagat, bagaimana soal perjodohan kami, kamu mau kan? Gat, Mama pastinya akan carikan yang terbaik untukmu." Lena terus berusaha agar putranya mau dijodohkan. 

"Ma, Jagat harus berangkat kerja sekarang." Jagat mematikan panggilan itu begitu saja. Dia tak ingin mendengarkan soal perjodohan tersebut. 

Lalu, tak lama Lena mengirim pesan mengerikan yang membuat Jagat bergidik takut.  

'Kalau kamu tak mau segera menikah, kamu bukan anak papa dan mama lagi! Dan jangan harap kamu bisa bebas menggunakan nama Gevin.'

 

Shit. Dia masih butuh semuanya. Perusahaan dan segala kepercayaan yang sudah lama dia jaga dan bangun. 

'Ma, Mama gak perlu carikan Jagat jodoh. Jagat bisa cari sendiri. Dan Jagat sudah punya pacar.' 

Terpaksa dia mengatakan itu. Mungkin dengan begitu Lena berhenti memintanya untuk setuju soal perjodohan itu. Baginya, cinta dan pernikahan tak bisa dipaksakan. Dan masalah hati, biarkanlah dia mengatur sendiri. 

Setelah mendapatkan pesan dari seseorang yang lain mengenai perempuan yang berani menolak tawarannya di kantor. Pria itu langsung tancap gas. Pergi dari apartement. 

***

Arum merasa was-was dan tidak tahu siapa pemilik mobil di belakang yang mengikuti dirinya sedari tadi. Terlihat dari kaca spion mobil hitam itu mengikuti arahnya. Dia berdecak sebal. 

'Ck, mobil siapa itu?'

'Kenapa terus mengikutiku?'

Saat sudah hampir tiba di kampus, mobil tersebut menyela. Arum terkejut saat mobil itu berhenti di depannya. "Ck! Menyebalkan sekali. Siapa dia?" Arum geram. 

Saat membuka kaca helm, seorang pria yang tak asing itu keluar dari mobil. Pria itu menghampirinya. 

"Mau apa kau ke sini?" tanya Arum. Jangan bilang kalau dia meminta uang motor yang sudah diberikan?

"Aku butuh bantuanmu."

"Haha, bantuan? Memangnya aku pembantu?" ucap Arum terkekeh. 

"Sungguh...," Jagat mengacak rambutnya frustrasi. Kalau tidak akan dijodohkan. Dia tidak pernah mau mengemis seperti ini. 

"Jadi pacarku. Hanya untuk pura-pura saja. Dan aku akan mengabulkan 3 permintaanmu." Jagat terpaksa melakukan itu. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. 

'3 permintaan? Aku lagi ingin nonton konser, sih...' 

"Tidak. Aku tidak mengenalmu dan juga tidak percaya modus pria sepertimu!" tolak Arum. 

Jagat menghela napas. Oke. Sabar dulu. Tenang dulu. "Aku serius. Aku akan bayar juga. Kau sedang kuliah kan? Di Galaxy?"

"Da-dari mana kau tahu?!" kejut Arum. "Kau penguntit?" tuduh Arum. "Terserah kau mau bilang apa. Yang jelas aku tidak minta cuma-cuma. Kau jadi pacar pura-pura dan aku akan kabulkan apa saja permintaanmu, bagaimana?" tawar Jagat. 

Arum sedikit berpikir. Terlebih sangat disayangkan jika ditolak. Tetapi, dia juga takut kalau pria itu hanya modus belaka. 

"Sudahlah. Aku tidak percaya padamu. Minggir! Aku sudah telat ke kampus!" usirnya. 

Dia melotot agar pria itu pergi dari hadapannya. Dan motornya sudah menyala akan maju. 

"Apa yang kau butuhkan?" 

"Uang? 10 juta? 20 juta? Sebulan?" ucap Jagat. Deg. Arum terdiam. Siapa yang tidak tertarik dengan jumlah uang sebesar itu untuk anak kuliahan sepertinya. Dan tugasnya hanya jadi pacar pura-pura. 

"Bagaimana? Tertarik?" tanya Jagat. 

***

Sepertinya, memang dia sedikit gila. Bukannya belajar untuk ujian nanti, Arum justru sibuk mendengar musik. Sumi hanya bisa menggeleng melihat sahabatnya yang terlihat santai. Padahal ujian di depan mata.

"Rum, Rum, kenapa gak belajar? Jangan mentang-mentang capek lupa belajar!" celoteh Sumi. 

"Hm," sahut Arum ogah-ogahan. 

"Btw, motormu baru." Tutur Sumi, dia melihat tadi di tempat parkir. 

Dan yap! 

Arum seketika membenarkan posisi duduk. 

"Aku harus cerita," kata Arum. "Apa?" tanya Sumi. 

Arum membuka earphone. 

"Percaya gak kalau ada cowok tiba-tiba kasih uang dan ajak pura-pura pacaran?"

"Percaya. Kalau di drakor kan banyak."

"Sumi, tapi ini asli. Aku alamin sendiri." Ujar Arum, gadis itu menghela napas. "Aku nggak tahu pria itu cuma modul atau gimana. Tapi, kamu tahu gak motor baru itu dari cowok yang sudah tabrak aku dan minta aku jadi pacar pura-puranya. Menurutmu, aku harus bagaimana?"

"Serius? Siapa namanya?"

"Oh, ya. Sebentar, aku ingat-ingat. Jafar. Bukan... Hm... Ja... Jagat! Ya, Jagat!" ucap Arum mengingat-ingat nama di kartu yang sempat diberikan pria itu.

"Duarius loh, Sum," sahut Arum. 

"Please, cariin solusi. Dia orang kaya dan punya perusahaan. Bayangkan saja," tutur Arum, bimbang. Dia tertarik sama tawaran yang baginya cukup fantastis. 

"Bukankah kau juga butuh untuk bayar uang kuliah, Rum?" ucap Sumi. "Ta-tapi, apa memang aku harus menerima tawaran darinya?" ucap Arum, bingung. 

Sumi mengangguk singkat. Sementara Arum bergeming, tampak memikirkan sesuatu. 

***

Arum berjalan cepat menuju parkir. Dia seperti sedang dikejar DC. Padahal tidak. Bahkan, sampai mengabaikan orang-orang yang menyapanya. Termasuk meninggalkan Sumi dan Dion sahabatnya. 

Arum tiba di tempat parkir. Namun, kehadiran seseorang membuatnya terkejut. Ia terdiam. Sejak kapan pria dengan setelan jas mengkilat, memakai jam tangan Rolex di pergelangan tangan kiri, memakai kacamata tiba di kampusnya? Sungguh benar dugaannya. Kalau pria itu sedang mengikuti dirinya!

"Hei, mau apa kau di motorku?" ucap Arum. Tak terima pria itu dengan santai duduk di atas motor miliknya. 

Pria itu bangkit. Semua pasang mata tertuju. Dia tampan, tinggi, memiliki karisma yang kuat. Dan itu membuat orang-orang tertarik. Banyak sekali tatapan mata tertuju pada Arum juga yang bertanya apa hubungan mereka berdua. Dan siapa pria itu? 

"Aku akan menemuimu terus sampai kau setuju dengan tawaranku," tuturnya. Benar-benar keras kepala. Padahal Arum sudah menolak. 

"Aku sama sekali tidak tertarik. Kalau kau mau cari saja perempuan lain," suruhnya. "Dan sekarang, pergi dari motorku!"

"Aku akan mengirim tiket konser K-pop seperti impianmu," tawarnya tanpa Arum beritahu. Darimana pria itu tahu impiannya? Dia sama sekali tak cerita soal keinginan besarnya yang belum terwujud itu? 

Pria itu memberanikan mendekat, lalu berbisik, "kau juga butuh uang kan untuk bayar kuliahmu?" 

Perlahan dia mundur. Ia bisa menebak kalau Arum kebingungan. Semua yang dikatakan bukanlah hal yang cuma-cuma. Dia juga butuh gadis itu. Dengan menjadi kekasihnya, walaupun pura-pura setidaknya dapat meyakinkan orangtuanya.

Dan yang pasti dia tak ingin dijodohkan. 

"Kau pilih mana, menolak atau menerima tawaranku?"

Dengan senyum miring, Jagat merasa puas, "kalau tidak, kau kehilangan kesempatan. Dan mungkin kau akan menunggak biaya kuliahmu," ucapnya pelan. 

Arum makin terdesak. Dia tak dapat mengatakan apapun. Apakah mesti dia menyetujui tawaran pria itu? 

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel