Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

CDIM~11

"Kenapa sih Tuan Bart tak kunjung datang. Kan masih penasaran nih. Kapan nanyanya kalau engga nongol-nongol" Gerutu Metta dengan tatapan mengarah pada pemandangan hutan nan hijau dari balkon kamarnya.

"Ngapain kamu nungguin Bart?" Metta terlonjak. Tubuhnya langsung berbalik ingin melihat siapa yang tadi bertanya. Ternyata itu Axton dengan wajah dingin yang setia terpampang dengan nyata. Tangannya tanpa sadar menyentuh dadanya berniat menetralkan detak jantung yang berdentum begitu kuat didalam sana.

Axton yang tadi datar tanpa sadar memincing saat tak sengaja melihat gerakan tangan perempuan didepannya. Ah tidak, lebih tepat bagian dada Metta yang bercap saat tangan itu mengusap. Kenapa kalau dipandang dengan jeli benda yang tersimpang dibalik kaos itu sedikit lebih menonjol ya. Jangan kalian berfikir dirinya tengah berfikir kotor sekarang. Tapi rasa penasaran itu muncul saat melihatnya.

Seingatnya dulu, pertama kali Metta menjadi mainannya. Dada perempuan itu tak seberisi sekarang. Tapi kenapa sekarang lebih berisi seperti itu. Axton merasakan keganjalan. Wajar sih, karena hampir beberapa minggu ini dirinya puasa dan memilih bermain dengan wanita lain diluar sana karena Metta tengah dimasa penyembuhan pinggangnya yang sempat keseleo waktu itu. Lagi pula urusan kantornya lumayan padat hingga bisa dibilang mereka jarang sekali bertemu belakangan ini.

Alis Metta menukik saat melihat Axton menatapnya tanpa kedip. Ah ralat, menatap dadanya tanpa kedip. Saat tersadar, kedua tangannya langsung menyilang didepan dada "Heh! Liatin apa?!" Hardiknya ganas. Sebelah alis Axton terangkat saat dirinya merasa tertangkap basah. Matanya merotasi asal.

Axton harus memastikan sesuatu. Langkahnya yang tadi berhenti tepat ditengah pintu balkon perlahan maju. Metta mendelik dan semakin merapat bagian belakang tubuhnya pada pembatas balkon. "Minggir" Perintah Axton terdengar tak ingin dibantah. Metta menurut, tubuhnya digeser selangkah ke kanan.

Axton menyerngit. "Ck. Bodoh. Tanganmu singkirkan" Metta mengangguk dua kali dengan mulut membentuk hurup O. Bilang dong, ngomong singkat-singkat. Kan dirinya tak paham. Kedua tangan perempuan itu langsung turun. "Akh" Tanpa sadar Metta memekik saat dengan tak berperasaannya Axton meremas payudara kirinya.

"Kenapa diremas huh!" Berang Metta dengan tangan kembali memegang dadanya yang terasa nyeri. Matanya mendelik garang pada Axton. Axton yang melihat amarah Metta malah menaiki sebelah alisnya. "Benar dugaanku. Apa yang kau konsumsi hingga dadamu semakin berisi. Apa kau berniat menggodaku hah?" Tanya Axton dengan pandangan meremehkan.

Mata Metta kembali membulat. Enak saja dirinya dikatai seperti itu. Jelas dirinya tak terima walau sesungguhnya dirinya juga merasakan kalau dadanya semakin membesar. Karena bra yang dipakainya sekarang mulai terasa sesak. Metta menundukkan kepalanya. "Aku tak seperti yang kau katakan. Tapi ya memang aku juga merasakannya kalau itu semakin berisi sekarang" Gumamnya perlahan.

Axton mengangguk, dugaannya tak salah. "Sejak kapan kau menyadari itu?" Telunjuknya bergerak menarik dagu Metta untuk kembali mendongak menatap dirinya. Tak suka saja kalau berbicara tapi tak dipandang.

Metta menggeleng "Entahlah, mungkin sekitar satu atau dua minggu yang lalu" Ujarnya tak yakin. "Kenapa kau menyadarinya" Metta berdecak. Kenapa banyak tanya sih. "Bra yang ku gunakan mulain menyesakkan saat dipakai. Jadi aku sadar akan hal itu" Gerutu Metta tanpa sadar sedikit meninggikan nada bicaranya.

Axton menyerngit, kenapa perempuan itu seakan emosi. Aneh sekali fikirannya. "Kau, kenapa?" Ini serius bertanya. Karena setelah hampir tinggal satu rumah hampir dua bulan. Metta tak pernah aneh seperti ini kalau berbicara.

Yang ditanya menutup rapat bibirnya. Metta baru sadar kalau tadi suaranya sedikit meninggi. Kepalanya menggeleng keras. "Tak apa" Serunya cepat. Axton memincing dan sedikit menundukkan wajahnya sejajar dengan wajah perempuan itu. "Benar?" Tanyanya dengan suara rendah. "Akh" Metta kembali memekik saat tangan Axton kembali meremas dadanya.

Tanpa sadar Axton terkekeh dan menarik kembali tubuhnya. Metta yang kembali ingin mendumel terhenti. Matanya terpana melihat lelaki berperawak dingin didepannya ternyata bisa terkekeh. Mata itu mengerjab beberapa kali menyadarkan kalau yang dilihatnya tak salah.

"Waw" Tanpa sadar Metta berceletuk kagum.

Axton yang mendengarnya menghentikan cepat kekehan yang tak sadar dikeluarkannya tadi. Lelaki itu berdehem saat merasakan suasana menjadi awkward. Tangannya bergerak menggaruk tengkuk dengan pandangan dibuang acak. Sekarang dirinya harus apa? Axton bingung. Ingin saja lelaki itu log out dari bumi saat ini.

"Tuan, kenapa telinga dan wajahmu merah?" Tanya Metta dengan wajah begitu polos saat melihat wajah Axton memerah. Apa lelaki itu sakit? Axton mendelik tak percaya mendengar pertanyaan perempuan didepannya. Sial! Dirinya malu hingga mendarah daging kalau begitu. "Hei Tuan? Kau mau kemana? Apa kau sakit?" Teriak Metta saat melihat Axton pergi dengan langkah lebar meninggalkan kamarnya. "Aneh sekali dia" Gumamnya melihat pintu yang sudah tertutup dengan sedikit bantingan tadi.

~#~

Axton kembali ke kamar dengan mulut terus mengumpat dan merutuk. Dirinya kesal, sungguh-sungguh kesal. Kenapa setiap bertemu dengan Metta, dirinya mudah tak terlontrol dalam hal apapun.

"Tapi bentar" Serunya dengan tangan bersikedap. "Kenapa tadi dia nyariin Bart? Apa perempuan itu memiliki urusan dengan Bart?" Tanya Axton saat mengingat perkataan Metta yang tadi tak sengaja didengarnya.

Bart memang jarang mengunjungi mension ini karena Axton sering menyuruhnya dinas luar belakangan ini. Entah mengapa lelaki itu melakukannya. Tapi salah satu alasannya agar Bart tak bertemu dengan Metta. Entah karena apa, tapi itulah salah satu alasan kuatnya.

"Wait, apa mereka pacaran?" Tanya Axton lagi. Kakinya mondar mandir depan ranjangnya nan luas. "Tapi sepertinya belum. Tadi ada kata-kata penasaran. Masa iya sama pacar penasaran. Apa ada urusan lain" Axton terus meracau ingin mencari tahu sebenarnya ada apa gerangan Metta sampai mencari Bart.

Langkah lelaki itu berhenti. Rautnya seperti tengah memikirkan sesuatu. "Salah satu bodyguard yang menjaga dipintu kamar tempat perempuan itu pernah berkata kakau Bart pernah membawa dia keluar dan sedikit memberitahu tentangku. Apa dia mau bertanya lebih lanjut sekarang?" Otak Axton mencerna semuanya dengan begitu baik. Tak salah kalau banyak pesaing bisnis yang berkata kalau Axton salah satu pembisni muda yang tingkat kepintarannya diatas rata-rata.

"Sial! Kenapa juga Bart harus memiliki hubungan baik dengan perempuan itu" Umpat Axton saat hatinya sedikit merasa tak senang saat mengingat kalau Bart dan Metta lumayan dekat.

Axton diam. Tubuhnya dihempaskan pada sofa. Otaknya mulai memekirkan sesuatu. Sepertinya lelaki itu mulai menyadari satu hal. Kalau difikir-fikir, kenapa sampai saat ini dirinya masih membiarkan Metta hidup? Bukankah dulu perempuan itu diculik karena sudah mengganggunya?

"Shit! Ini semua tak beres" Umpatnya dengan rahang mengeras. "Gila! Ini semua udah gila" Makinya lagi dengan wajah dingin. Giginya mulai bergemeletuk. Tangannya saling menggenggam erat.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel