CDIM~12
Tok.. Tok..
Axton yang masih menyelam dalam alam mimpinya merasa terganggu dengan gedoran menuntut pada pintu kamarnya. Matanya terbuka cepat dengan tatapan sengit mengarah pada pintu kamarnya yang berwarna hitam pekat.
Kakinya yang sudah turun dari ranjang langsung melangkah lebar setelah menggunakan sendal yang tersedia dibawah ranjang sisiannya tidur. Lelaki itu kesal ketika tengah istirahat tetapi diganggu.
Ceklek
"Bisa tidak kau tak mengganggu tidurku sialan! " Serbunya dengan suara tinggi setelah pintu dibuka dengan kasar. Annie, si pengetuk pintu menunduk takut mendengar amarah sang Tuan. Tapi ini keadaannya genting. Jadi Annie memang harus mau tak mau membangunkan Tuannya dipagi weekend ini.
"Sial! Setelah kau membangunkanku. Sekarang kau diam saja hah?!" Sentak Axton lagi. Annie yang takut perlahan mengangkat wajahnya. "Maaf Tuan saya sudah mengganggu waktu istirahat anda" Serunya dengan nada bergetar. Axton diam dengan tatapan sengit dan rahang mengeras. "Tujuan saya kemari ingin memberitahukan kalau Nona Metta tak sadarkan diri dikamarnya Tuan" Axton mendelik. Apa-apaan ini, seingatnya tadi malam dirinya tak ada bermain dengan perempuan itu. Tapi kenapa dia bisa tak sadarkan diri?
Axton mengambil langkah lebar menuju lantai tempat kamar Metta berada. Lelaki itu sampai melupakan kalau dirinya masih menggunakan kaos dan celana panjang yang digunakannya untuk tidur.
Pintu yang tadi hanya terbuka sedikit langsung dibuka dengan lebar. Satu bodyguard berdiri disisian ranjang yang ada Metta disebelahnya. "Kenapa kau disini?" Tanya Axton dingin mendekati bodyguard tersebut. Lelaki berbadan kekar itu sedikit menunduk. "Saya baru saja mengangkat Nona Metta ke ranjang Tuan. Karena tadi Nona Metta pingsan dikamar mandi" Axton sedikit kaget. Bodyguard tadi permisi keluar.
"Tuan, Dokter sedang menuju kemari" Lapor Annie yang tadi diminta untuk menghubungi Dokter keluarga oleh Axton. Lelaki itu mengangguk dan kembali memandang wajah Metta yang tampak begitu pucat hingga bibirnya terlihat memutih. Tangannya bersikedap dengan mata fokus pada perempuan itu.
Tak sampai 20 menit Dokter yang ditunggu datang. Meiry namanya, Dokter muda dengan wajah ayu dan pembawaan yang selalu lembut. "Maaf saya sedikit lama Tuan" Serunya ramah setelah tiba disebelah Axton. Axton hanya memberi sekali anggukan. Meiry sudah paham dan tak ambil pusing dengan respon Axton. Toh sudah terbiasa juga.
Meiry mulai mengeluarkan alat yang akan digunakan. Stetoskop yang sudah siap digunakan mulai digerakkan pada bagian dada Metta. Axton yang berdiri 2 langkah disebelah Meiry setia memandangi wajah perempuan itu. Bukan karena tertarik tapi karena ada gelagat aneh dari wajah itu.
"Dia kenapa?" Tanya Axton to the point setelah melihat Meiry sudah menyelesaikan tugasnya. Perempuan itu tak langsung menjawab. Pandangannya fokus pada wajah Axton beberapa detik. Ada yang ingin dipertanyakan tapi ragu.
"Kau kenapa?" Axton menaiki sebelah alisnya melihat Meiry yang juga tengah memandangnya lamat. "Apa dia istrimu?" Axton menukikkan alisnya. "Ah bukan. Maksudku, apakah perempuan muda ini sudah menikah?" Meiry meralat pertanyaan saat menangkap dengan jelas raut Axton diawal tadi.
Dengan bingung Axton menggeleng. Terdengar helaan nafas dari Meiry. "Perempuan ini hamil" 3 kata, satu kalimat itu mampu membuat Axton kaget. Jantungnya seakan melarut pada usus. Berita gila apa itu. "Sepertinya dia terlalu banyak fikiran hingga kondisinya buruk" Imbuh Meiry tetap menatap lekat raut Axton yang kentara sekali tengah kaget. Tapi dirinya tak harus ikut campurkan? Karena itu bukan tugasnya.
"Ini resep untuk perempuan ini. Kau bisa menebusnya nanti. Sudah ku tuliskan aturan konsumsinya. Jaga dia baik-baik. Usia kandungannya masih rentan karena baru berusia satu bulan" Meiry menyerahkan selembar kertas resep sebelum berlalu setelah pamit.
Sepeninggalan Meiry, Axton masih membeku ditenpatnya. Matanya memandang dalam Metta yang masih setia menutup matanya. Pandangangan itu turun ke perut perempuan didepan dan beralih menatap kertas ditangannya.
'Hamil' Kata itu terus terngiang dibenaknya. Lelaki itu tak tau harus bereaksi seperti apa. Axton yakin 100% kalau benih yang tumbuh itu dari hasil perbuatannya. Karena saat permainna pertama dulu, dirinya sempat mememukan bercak darah dikasur. Dan sepanjang permainan, dirinya pun tak pernah memakai pengaman.
Otaknya mencerna apa yang harus dilakukan sekarang. Memiliki anak, siapa yang tak ingin. Tapi kalau ditanya sekarang, dirinya akan menjawab dengan lantang 'BELUM SIAP'. Jangankan memiliki anak, memiliki istri saja belum terfikirkan.
Kenapa juga selama ini dirinya tak terfikirkan bermain dengan pengaman seperti dengan wanita-wanita diluaran sana. Kalau sudah seperti sekarang tindakan apa yang harus diambilnya. Menerima anak itu dan menikahi Metta? Tidak, tidak, itu bukan keputusan yang benar untuk sekarang.
"Ngghh" Atensi Axton ditarik kembali ke alam sadarnya. Pandangannya merotasi ke arah ranjang. Perlahan perempuan yang menjadi objek fikirannya mengerjab mata disana. Tanpa diundang, rasa gugup menggerogotinya. Entah karena apa, tapi takut saja tiba-tiba. Dimana pula perginya sikap dinginnya sekarang.
"Tuan Axton" Suara lemah itu terdengar dari bibir pucat yang mulai kembali pada warna semulanya. Axton diam, dirinya masih bingung harus apa sekarang. "Tuan?" Panggil Metta saat melihat Axton malah melamun. Axton mengerjab 2 kali. "Apa?" Suara datarnya keluar. "Saya kenapa disini?" Tanya Metta saat melihat dirinya sedang rebahan dikasur. Seingatnya tadi terakhir kali dirinya tengah berada dikamar mandi.
Axton bungkam. Apa sekarang yang harus dikatakannya? 'Kamu hamil' atau 'Tadi kamu pingsan' Arghh.. Ingin sekali dirinya mengumpat sekarang. Kenapa disaat seperti ini melawan musuh untuk memenangkan tender lebih mudah rasanya dari pada harus menjawab pertanyaan itu.
"Tuan" Axton jengah. Matanya merotasi dan menatap dingin Metta yang mulai menggerakkan tubuhnya untuk disandarkan. "Diam!" Sentaknya keras hingga Metta terlonjak. "Stop bertanya! Karena kamu, waktu istirahat saya terganggu" Ketusnya sebelum berlalu meninggalkan Metta yang menatapnya nanar. Persetan! Sekarang fikirannya tengah mumet.
Prangg
Cermin yang tak tahu apa-apa hancur lebur dengan sekali bugeman dari Axton. Resep yang tadi masih ditangannya terkepal erat hingga remuk. Lelaki itu kalut. Harus apa dirinya sekarang? Apa saja yang terlihat dimata hancur seketika. Kamar nan luas itu mulai berantakan dengan beling-beling dan barang yang sudah berserakan. Darah segar mulai bercucuran melalui punggung tangannya. Tapi tak sedikit pun dihiraukan.
Ceklek
"Ooowww" Seorang pemuda yang membuka pintu sembarangan tanpa izin kaget. Axton hanya menoleh sekilas dan tak memberikan reaksi apapun. Mata pemuda itu membola melihat seisi kamar yang tidak bisa dibilang kamar lagi sebenarnya. Langkah lelaki yang usianya terlihat lebih muda dari Axton itu mulai mengayun dengan penuh hati-hati. Takut saja kaki yang berbalut sepatu mahal iytu terkena beling
"Kenapa sih?" Tanyanya penuh kebingungan saat langkahnya sudah berhenti tepat 2 langkah disamping Axton yang sudah terduduk dipinggir ranjang dengan kepala ditumpukan pada telapak tangan. "Ck" Decak pemuda itu saat merasa dihiraukan. "Kalah tender sebesar apa sih sampai buat lo kacau bro?" Tangan bersikedap dengan sebelah alis terangkat.
Drake Ardolph Eylarnd. Satu-satunya keluarga yang dimiliki Axton. Drake adalah adik yang terpaut 3 tahun dibawah Axton. Perlakuan mereka sangat berbanding terbalik dalam hal apapun. Sedari kecil, Drake lebih dikenal bar-bar dan nakal. Lebih mudah dekat dengan siapaun karena sifatnya yang mengayomi. Tampanya imbang dengan Axton. Wajar, satu rahim beda waktu keluar saja.
Sifat minusnya sih, ceroboh dan tak suka terikat dengan hal apapun. Julukan yang cocok buat pemuda itu 'Si pengangguran yang sialnya tampan dan kaya'. Wajar, diusianya yang sudah menginjak 22 tahun itu, Drake lebih senang berkelana dan rebahan. Urusan kerjaan? Drake menyerahkan seluruhnya pada Axton. Dirinya hanya butuh suntikan dananya saja. Tapi walau begitu, Axton tak marah sedikit pun pada sang Adik. Yang penting baginya Drake tak membuat ulah saja diluar sana.
Drake sangat jarang berada dirumah. Paling sebulan hanya 3 sampai 5 hari. Sisanya berkelana dari kota ke kota atau negera ke negara. Maklum, holang kaya mah bebas. Untuk status? Lagi jomblo sejak tadi malam. Wajar, baru putus dengan pacarnya yang kesekian tadi malam saat ingin terbang kembali ke habitatnya.
