CDIM~10
Kelopak mata Axton yang masih setia menutup mulai berkedut saat merasakan waktu tidurnya sudah cukup. Tangannya mengeratkan pelukan saat kenyamanan dapat dirasakannya. Sepertinya lelaki itu belum sadar dengan apa yang tengah dilakukannya.
Setelah 30 detik berlalu, agaknya Axton menyadari sesuatu. Dirinya tidur tak pernah memeluk apapun, tapi sekarang apa? Matanya sepersekian detik terbuka saat sadar kalau dirinya tengah memeluk sesuatu. "Sial!" Umpatnya saat melihat tangannya memeluk erat Metta yang terlelap. Tangan itu langsung ditarik cepat hingga tubuh Metta yang kecil terguling keras.
BRUKK!!
"Akh" Erang perempuan setengah sadar itu saat tubuhnya mendarat dengan tak etis dimarmer yang begitu dingin. Tubuh mungilnya perlahan didudukkan dengan ringisan-ringisan kecil terdengar. Mata Metta yang masih terasa rapat sedikit terbuka walau masih menyipit. Tangannya mengelus punggung dan bokongnya yang terasa nyeri. Maniknya memandang sekitar sebelum terhenti pada satu titik. Axton yang menjulang diujung ranjang bagian sebrang.
Axton yang juga tengah menelisik sekitar tak sengaja bersitatap dengan Metta. Fikirannya bekerja keras memikirkan apa yang terjadi sebenarnya. Ini kali pertama dirinya tidur dikamar ini. Pandangannya dengan cepat berpindah pada tubuhnya setelah tadi sempat menelisik keadaan perempuan yang masih setia duduk dilantai. Keadaan mereka aman, pakaian yang digunakan utuh. Berarti tadi malam tak terjadi apa-apa. Tapi mengapa dirinya bisa disini sekarang.
"Tuan, apakah anda tak berniat membantu saya?" Pertanyaan dari sebrang mampu menarik Axton kembali pada alam sadarnya. Matanya datar memandang perempuan diujung sana. Tanpa mengeluarkan kata, Axton berbalik dan mengayunkan kakinya menuju pintu. Fikiran masih melayang memikirkan apa yang terjadi tadi malam.
"Ish, kenapa malah keluar sih" Metta perlahan mencoba bangkit. Namun sayang, bokongnya. Tidak sih, lebih tepat pinggangnya terasa begitu nyeri saat digerakkan. "Kok sakit banget sih" Gerutu menggigit bibir bagian dalamnya dengan terus berusaha bangkit.
Penuh perjuangan hingga bokongnya kembali mendarat dengan aman dikasur nan empuk itu. Tapi sayang, sakit dipinggangnya tak kunjung reda. Apa pinggangmya bermasalah ya karena benturan tadi? Ah sial, kalau bener ini adalah ulah si dingin itu.
Tapi sekelebat kejadian tadi malam terputar kembali dibenak perempuan itu, Axton yang mengigau. Tangannya dengan perlahan dibelakang sana mengurut bagian dengan fikiran fokus mengingat perkataan-perkataan yang tadi malam Axton keluarkan dengan tak sadar.
"Sepertinya ada yang kurang beres. Tapi gimana mau cari taunya coba?" Racau Metta. "Ck, kenapa sih harus buat penasaran" Imbuhnya kesal. "Ah, Tuan Bart. Sepertinya dia tau banyak tentang lelaki itu" Seru perempuan itu diikuti dengan bibirnya yang perlahan menyunggingkan senyuman.
~#~
Dilain tempat, Axton terus merutuki dirinya. Sekarang Ia ingat sudah. Tadi malam, setelah dari rumah Bart, dirinya memilih singgah dibar. Sempat minum beberapa botol dan memilih pulang. Sialnya, setengah perjalanan kesadarannya benar-benar hampir lenyap sehingga kakinya mengayun hingga salah langkah dan berakhir dikamar si tahanan.
"Sial! Kenapa harus meluk juga sih" Rutuknya kesal saat mengingat kembali tadi tangannya sempat memeluk erat perempuan itu. Mana alam bawah sadarnya menikmati rasa nyaman yang tercipta lagi. Dimana harga dirinya coba.
Tapi yang lebih menjadi fikirannya sekarang adalah, apakah tadi malam alam bawah sadarnya bermain seperti biasa? Axton tahu kalau setiap malam dirinya sering mengigau hal-hal yang aneh. Bart pernah memberitahunya saat dulu mereka pernah beberapa kali tidur dalam satu ruangan. Lelaki itu berkata kalau dirinya sering berbicara hal-hal tentang kepedihan yang selama ini dipendamnya tentang keluarganya saat tertidur.
Kalau benar itu terjadi tadi malam. Berarti secara tak langsung dirinya sudah membuat orang asing mengetahui kepahitan yang dirasakannya selama ini. Ya walaupun bisa dibilang hanya sedikit. Dirinya berharap kalau memang itu benar terjadi. Metta hanyalah orang bodoh yang terfikir itu hanyalah igauan semata, tidak lebih.
Axton tak ingin ambil pusing lagi. Kakinya melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh sebelum harus kembali pada rutinitas biasanya. Pakai semalam yang masih melekat ditubuhnya langsung diletakkan pada keranjang pakaian kotor sebelum lelaki itu benar-benar mengguyur tubuhnya dengan air dari shower.
Sisa mabuk tadi malam masih sedikit terasa efeknya. Pusing dan mual masih tersisa. Walau sudah terbiasa, tapi efek dari mabuk selalu Axton rasakan setiap bangun tidur. Tapi tak ada sedikit pun niatan untuk meninggalkan alkohol dalam hidupnya.
Setelah selesai dengan jas rapi berwarna navy dan tatanan rambut yang menambah ketampanannya. Axton melangkahkan kakinya keluar dari kamar utama menuju dapur. Cacing diperutnya sudah meronta minta diisi.
Maniknya berputar saat melihat Bart sudah duduk disalah satu kursi meja makannya. Tangan lelaki itu bersikedap dengan tatapan tajam dan memincing memandang gerak geriknya. Bukannya merasa terintimidasi, Axton malah acuh dan langsung mendaratkan bokongnya pada kursi yang biasa diduduknya.
"Mau lo apa sih?!" Axton mulai menyendokkan satu suapan kemulutnya tanpa menhiraukan pertanyaan Bart yang dilayangkan begitu dingin. "Ck. Sialan! Geram gue lama-lama sama lo" Bart berdecak. Lelaki itu sudah kembali diuji kesabarannya pagi-pagi begini.
Axton mengakhiri sarapannya yang baru mencapai 2 sendok. Lelaki itu paling tak suka diributkan jika sedang makan. Bart tahu itu, tapi entah apalagi yang mengundangnya hingga pagi-pagi begini sudah merusak suasana sarapan dirinya. Yang pasti, dirinya ikut kesal pada Bart.
Matanya melirik sinis pada Bart yang masih melayangkan tatapan tak bersahabat. "Apa lagi kali ini?" Tanya Axton datar. Bart ditempatnya menggeram. "Apa lo bilang?". Lelaki itu berdecih. "Ulah apalagi yang lo buat sampai pinggang Metta bisa keseleo?" Tuding Bart.
Sebelah alis Axton terngkat. Hey, dirinya tak tahu masalah ini. Kenapa sekarang malah disalahkan? Wait, pinggang keseleo? Matanya membulat saat mengingat kejadian tadi pagi dimana Metta jatuh dengan suara begitu keras ke lantai. Ekspresinya secepat kilat dirubah saat menyadari apa yang terjadi.
Bart memincing saat tadi menangkap satu ekspresi aneh Axton. "Pasti ini ulah lo kan?" Wajahnya dimajukan dengan tangan terlipat diatas meja. "Apa lagi yang lo buat gila?" Sentaknya geram. Punggungnya sudah kembali dihempaskan. Jari-jemarinya menyugar rambut saat merasa pusing mendera melihat tingkah Axton yang mampu memancing amarah belakang ini.
Kursi Axton berdecit saat tubuhnya berdiri. Tangannya merapikan kancing jas yang tadi dibuka untuk ditutup kembali. "Itu bukan urusan lo karena dia tahanan gue. Gue tunggu didepan kalau lo masih niat bekerja jadi bawahan gue" Seru Axton dengan dingin dan tatapan menghunus tajam tepat dimanik Bart sebelum berlalu pergi.
Bart kembali menggeram melihat kepergian Axton. "Sial!" Umpatnya untuk yang kesekian kalinya pagi ini. Kenapa sih urusan pekerjaan harus sekarang. Kan dirinya tak bisa membantah lagi kali ini. Bart mendengus dan mengikuti langkah Axton. Sebelum benar-benar keluar, lelaki itu memilih masuk ke lift untuk sekedar menghampiri Metta yang tengah diurut.
Ya memang, tadi saat datang Bart langsung menemui Metta untuk sekedar menanyakan kabar perempuan itu. Tapi siapa sangka saat tiba disana dirinya malah disajikan dengan gerakan aneh perempuan itu. Berjalan dengan berpegangan pada dinding dengan satu tangan lainnya berada dipinggang. Saat ditanya, Metta hanya memeberi alasan kalau dirinya tak sengaja jatuh dari tempat tidur tadi pagi.
Tapi Bart jelas tak mungkin percaya begitu saja. Dibenaknya langsung terlintas nama Axton tanpa diundang. Makanya tadi setelah memanggilkan tukang urut. Bart langsung menunggu lelaki dingin itu untuk mempertanyakan apa yang sebenarnya sudah terjadi. Tapi ya Axton tetap Axton yang akan bungkam jika ditanya.
