Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

CDIM~09

"Sial! Kenapa tu cewek udah berani sama gue" Berang Axton setelah kembali ke kamarnya. Melihat wajah ketakutan Metta adalah kesenangannya. Tapi kalau begini ceritanya, permainannya tak akan seru lagi. Baru saja dua hari ditinggalkan, tetapi perempuan itu sudah berani dengan dirinya.

"Wait, kira-kira tadi siapa yang tengah dibicarakannya?" Fikiran Axton berbalik pada racauan Metta tadi saat dirinya tak sengaja menguping. "Apa itu gue? Tapi" Axton bergegas keluar dari kamarnya dengan langkah tergesa dan lebar.

Tujuannya bodyguard yang menjaga didepan kamar Metta. Ada yang perlu diketahuinya. Ya, walaupun dirinya sendiri tak tahu sejak kapan disana ada yang menjaga dan alasan mengapa mereka disuruh menjaga disana. Memang sih, bagaimana pun para bodyguard itu bekerja atas dirinya.

"Tuan" Sapa dua bodyguard itu saat langkah Axton berdiri tepat didepan mereka. Mata lelaki itu memandang dua bodyguard didepan bergantian. "Siapa yang memerintahkan kalian disini?" Mungkin cari tau dari dasar lebih bagus bukan? Dua bodyguard itu saling pandang. "Tuan Bart, Tuan" Jawab salah satu bodyguard.

Alis Axton menukik. Ada apa gerangan teman baik yang merangkap menjadi asistennya itu mengerjakan bodyguard berjaga disana. "Alasan dia menyuruh kalian disini?" Dua bodyguard itu bukan orang bodoh. Jadi sesingkat apapun perkataan Axton, mereka sudah otomatis mengerti.

"Dari yang kami tahu. Beberapa hari yang lalu Nona Metta hampir saja melakukan aksi bunuh diri, tapi ketahuan dengan Tuan Bart. Sejak saat itu beliau memerintahkan kami menjaga disini" Axton mendelik. Tunggu, kenapa berita seperti ini dirinya tak tahu.

Tiba-tiba saja fikirannya melayang pada kejadian dimana Bart mendatanginya dengan segala umpatan. Ooww, berarti ini biang keroknya. Smirk kembali hadir diwajah Axton. Kedua bodyguard didepan bergidik melihat itu. Menyeramkan saat dipandang.

Ekspresi lelaki itu langsung diubah kembali menjadi, datar. Pandangannya kembali fokus pada dua pria berbadan kekar didepan. "Apa saja yang saya tidak tahu lagi?" Kedua bodyguard itu saling pandang. Tampak kegelisahan dari tatapan keduanya. "Jujur atau kalian saya pecat" Tegas Axton.

Dua bodyguard itu bergidik. "Tadi siang, sebelum Tuan kembali. Tuan Bart mengajak Nona Metta keluar mengelilingi mension dsn berakhir ditaman belakang" Terang satu bodyguard dengan takut-takut. "Sial!" Umpat Axton dingin. Matanya kembali menghunus pada dua pria itu saat mereka kembali saling pandang. "Apa lagi yang saya tidak tahu" Seru Axton menuntut. "Tuan Bart sedikit menceritakan sejarah taman belakang dibuat" Axton menggeram marah mendengarnya. Sial! Ternyata racauan Metta tadi untuk dirinya. Axton paling benci dikasihani.

Axton berlalu dari sana kembali melangkah lebar. Kakinya mengayun menuju luar mension. Tangannya terkepal erat dengan rahang mengetat. Giginya mulai terdengar bergemeletuk.

~#~

BRAKK

Bart yang tengah menonton televisi kaget saat dengan tak berperasaaan seseorang mendobrak pintu utama rumahnya. Dengan langkah lebar lelaki itu menuju pintu utama. Matanya mendelik saat melihat pintunya sudah rusak. Matanya ingin saja keluar saat mendapati siapa gerangan yang membuat keributan, Axton.

"Sial! Apa maksud lo malam-malam datang terus ngancurin pintu gue hah?!" Murka Bart dengan nada kesalnya. Urusan atasan itu ya hanya dikantor. Kalau dirumah ya tetap teman lama. Hey, pintunya rusak. Dimana mencari tukang malam-malam begini. Axton si sialan itu membuat kerjaan saja.

Axton yang masih berdiri diluar mengangkat dagunya dengan angkuh. "Itu balasannya karena lo udah berani macam-macam dengan tahanan gue" Sarkas Axton begitu pongah. Bart menyerngit bingung. Dirinya tak tahu kali ini kemana maksud Axton. Tahu kalau yang tengah dibahas Metta. Tapi tentang apanya dirinya tak tahu.

Axton berdecih melihat raut Bart. "Membawa dia keluar, menceritakan tentangku. Apa itu hak mu hah?!" Ketus Axton. Bart paham sekarang kenapa Axton semurka itu. "Ya bukan. Tapi aku hanya kasihan melihat dia dikurung saja. Sudah dikurung, terus-terusan disiksa pula. Tak jauh dari binatang dia diperlakukan. Jadi apa salahnya aku hanya sekedar membawa dia keluar untuk melihat suasana baru dan tak harus mendekam terus dikamar itu. Untuk memberitahu sedikit tentangmu, hanya tak sengaja. Toh, hanya sedikit saja. 0,001% mungkin" Axton menggeram saat melihat Bart menjelaskan begitu santai. Lelaki itu merasa tersindir dengan kalimat panjang tadi.

"Sialan kau! Kalau bukan mengingat teman lama dan bawahanku. Mungkin esok kau sudah tak lagi bisa melihat mentari terbit" Desis Axton memutar tubuhnya cepat kembali menuju mobilnya yang terparkir asal didepan rumah Bart.

Bart mengedikkan bahu acuh melihat Axton pergi dengan mobil mahalnya. Setelah memastikan Axton benar-benar pergi, Bart kembali menoleh pada pintunya. Matanya menatap nanar pintu yang sungguh menyedihkan itu. Ponsel disakunya dikeluarkan untuk menghubungi tukang. Gila saja malam hari pintu utama rusak begini. Bisa-bisa maling merajalela dengan mudahnya masuk. Mana mau Bart sedekah dengan cuma-cuma dengan maling.

~#~

BRUKK

Metta yang sudah terlelap kembali tersentak. Matanya dikucek saat merasakan ranjang disebelahnya terhempas tadi. Manik itu mendelik saat melihat Axton disana. Tapi ada yang aneh, Axton hanya tengkurap dengan wajah mengarah pada dirinya. Matanya tertutup dengan nafas teratur. Bau alkohol menyeruak dalam indra pemciuman Metta.

Sepertinya Axton terlalu banyak minum. Terlihat dari lelaki itu yang tepar. Metta mendudukkan tubuhnya perlahan. Matanya memandang fokus pada Axton. Sepertinya lelaki itu salah kamar atau bagaimana. Biasanyakan kalau dia ke sini buat main-main. Tetapi kenapa sekarang sepertinya tertidur dengan pulas.

Mata itu semakin lekat memandang Axton yang terlelap. Kalau dipandang-pandang ketampanan Axton itu berbanding terbalik dengan kelakuannya. Kalau untuk wajah, penampilan, harta, semuanya berlebihan. Tapi untuk sikap, berbicara, semuanya kekurangan.

Entah sadar atau tidak. Tangan kiri Metta perlahan terangkat menuju kepala Axton. Jari-jemari itu mulai bergerak mengusap rambut nan tebal yang sedikit acak. Tak serapi biasanya. "Mom, i miss you" Gerakan tangan Metta terhenti. Matanya mendelik saat samar-samar telinganya mendengar Axton berbicara. Suaranya sangat pelan bahkan nyaris tak terdengar. Pandangannya fokus kembali pada mata lelaki itu. Masih tidur, apa tadi Axton hanya mengigau?

Gerakan usapan tadi Metta lanjutkan. Ada rasa nyaman yang Metta rasakan saat mengusap kepala Axton. Tak ada rasa takut yang mencengkam untuk saat ini ketika mereka berada disatu ranjang yang sama. Mungkin karena keadaannya seperti ini.

"Mom, aku sangat membenci kehidupan ini" Metta kembali mendelik. Dengan gerakan pelan namun gesit wanita itu menunduk wajahnya memandang wajah Axton dengan lebih dekat saat mendengar lelaki itu kembali meracau. Dirinya kepo. Karena kata orang, kalau seseorang meracau dalam igauan ataupun dibawah pengaruh alkohol itu semua yang dikatakannya adalah benar isi hati orang tersebut.

"Ax, tau kalau Mommy dari sana pasti marah melihat kelakuan Ax sekarang. Tapi Mom, mereka saja dengan beraninya berlaku kejam dengan kau dan Dad" Metta menegakkan tubuhnya. Matanya benar-benar ingin keluar sebenarnya, kaget. Ternyata alam bawah sadar lelaki itu semenyedihkan itu hingga berdampak pada kehidupan sehari-harinya.

"Mom" Metta dengan cepat menoleh saat mendengar nada suara Axton berubah. Matanya kembali membola saat melihat lelaki itu sudah merubah posisi tidur menjadi terlentang. Gerakannya begitu gelisah. Keringat dingin mulai bercucuran diarea dahinya.

"Tuan, anda kenapa" Metta panik. Tangannya menepuk-nepuk cepat bahu Axton untuk membangukan lelaki itu. Dirinya takut melihat Axton gelisah begitu.

Grepp

Metta meneguk kasar ludahnya saat tangannya ditarik kasar dan tubuhnya langsung dihimpit keras dalam pelukan lelaki itu. Nafasnya sampai sesak karena Axton memeluknya begitu erat. "Mom, Ax takut" Nada itu kembali berubah. Sedikit bergetar langsung menarik perhatian Metta untuk mendongak. Perempuan itu kembali kaget saat melihat satu linangan air mata mengalir dari sudut mata Axton yang masih setia tertutup.

Pemikiran perempuan itu langsung melayang pada penjelasan Bart tentang kisah hidup Axton. Apakah kisah hidupnya semenyedihkan itu hingga harus terbawa ke alam bawah sadar ini. Metta terus larut dalam fikirannya. Suara Axton pun sudah tak lagi terdengar. Perlahan rasa kantuk kembali menyerang Metta hingga perlahan kelopaknya kembali menutup.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel