CDIM~08
"Kamu harus minum obatnya dulu baru saya akan menceritakan apa yang saya tahu nanti" Metta tampak mencibik kesal dibangku dekat pembatas balkon. Sedangkan Bart yang tadi bersuara duduk dikursi sebelah.
2 hari berlalu sejak insiden Metta tak sadarkan diri. Sejak saat itu juga Axton tak terlihat batang hidungnya. Ternyata kabar dari Bart, lelaki keji itu tengah menghadari acara rekannya diluar Negeri. Metta merasa sedikit senang. Minimal untuk beberapa hari ini dirinya bisa beristirahat.
Hari ini weekend. Bart memilih bermain ke mension ini untuk menemui Metta. Dirinya masih berhutang informasi rahasia bukan? Informasi yang akan disampaikan 2 hari lewat sebenarnya. Tapi sepertinya akan bisa terealisasikan hari ini.
"Udah nih, sekarang ayo cerita" Bart terkekeh. Tangannya tanpa sadar terangkat untuk mengusak rambut Metta. Perempuan itu tampak menegang. Matanya memandang wajah Bart tanpa ekspresi. Bart menarik cepat tangannya saat menyadari perlakuannya. "Maaf" Serunya. Metta mengangguk kaku dan langsung membuang pandangannya. Bibirnya dalamnya digigit saat rasa ingin tersenyum hadir. Kenapa perutnya terasa menggelitik sekarang.
"Ekhem" Bart berdehem. Metta kaget. Kepalanya kembali menoleh cepat dengan wajah polos. Bart kembali terkekeh. Rasa canggung yang tadi sekejap dirasa, enyah entah kemana. "Kenapa ketawa mulu sih" Entah keberanian dari mana Metta membantah tapi nadanya terdengar begitu manja. Bart bukannya diam malah benar-benar tertawa hingga sudut matanya berair. Metta mendengkus dan bersikedap dada.
"Okey, okey" Bart mengatur nafas dan sisa tawanya saat melihat ekspresi kesal semakin kentara diwajah Metta. Metta yang memang kesal pura-pura bodo amat. Bart sedikit panik melihat Metta yang tak ingin lagi memandang dirinya. Sifat jahilnya tiba-tiba muncul. "Okey, saya balik saja jika kamu tak ingin mendengarkan informasinya" Seru Bart. Dalam hatinya terkikik geli saat melihat Metta langsung menoleh. "Ih, mana boleh gitu. Kan udah buat aku penasaran" Metta kembali menyela dan berdecak. Kali ini Bart hanya tersenyum tak ingin lagi terkekeh.
"Okey, okey serius" Metta memasang wajah serius juga. Bart menoleh sepenuhnya pada perempuan itu. "Jadi gini. Saya tahu kamu disini merasa tersiksa dan tertekan" Bart menggantungkan kalimatnya. Matanya menoleh ke arah pintu memastikan tak ada yang masuk. Untuk urusan suara lelaki itu tak takut. Karena yang setahunya semua ruangan dimension ini kedap suara.
Bart kembali menoleh pada Metta yang tampak menunggu kelanjutan kalimatnya. "Kamu harus sabar-sabar okey dengan apapun yang terjadi. Jangan fikirkan keadaan luar, terutama Adik kamu" Metta mendelik dan ingin protes tetapi berhenti saat Bart mengangkat tangan kirinya. "Dengerin dulu, jangan langsung ngebantah" Metta mengangguk cepat.
"Soal Adik kamu. Dia bahagia kok diluar sana. Malah ujiannya sudah terlaksanakan dengan baik. Namanya juga sudah terdaftar disalah satu universitas luar Negeri sesuai keinginannya" Metta mendelik. "Bagaimana bisa?" Tanyanya penasaran. Bart tersenyum. "Bisa dong, kan saya yang urus semuanya. Ya walau atas perintah Axton sih" Metta mendelik. Axton? Sebaik itu? Mencengangkan.
"Jadi gini. Axton itu memang keji. Tapi sebelum memusnahkan orang-orang yang menganggunya. Dia akan memberi sedikit ganti rugi dulu pada keluarga mereka yang akan ditinggalkan. Ya contohnya Adik kamu. Adik kamu cuma tahu kalau kamu ada kerjaan ditempat terpencil gitu. Ya Adik kamu percaya. Terus dia sudah diberi uang yang banyak untuk biaya hidupnya dan juga kuliahnya nanti. Jadi kamu bisa tenang disini" Metta tanpa sadar menghela nafas lega. Tubuhnya dihempaskan pada sandaran kursi yang didudukinya. Ternyata walau brengsek, Axton tak sebrengsek itu juga.
Ada rasa bahagia yang membuncah mendengar tentang penjelasan Bart tadi. Ternyata Adiknya diluar sana tak sengsara hidupnya. Metta bersyukur, walaupun disini dirinya menderita tapi diluar sana Adiknya bahagia. Itu sudah cukup untuk membuat dirinya tenang.
"Metta" Yang dipanggil tersentak. "Ya?" Metta menoleh kaku. "Mau keluar engga? Saya tahu kamu selama dikurung disini tak pernah keluarkan?" Tanpa sadar Metta langsung mengangguk cepat dan antusias. Bart tersenyum melihatnya. "Ayo kita liat keadaan mension ini gimana. Kalau keluar dari sini saya belum berani bawanya" Metta terkekeh. "Engga papa, disini juga udah cukup kok" Bart tersenyum. Mereka kompak bangkit. Dengan cepat Bart merangkul bahu Metta. Perempuan itu sontak kaget dan sedikit nenoleh ke arah bahunya.
"Maaf Tuan, anda akan membawa Dia kemana?" Tahan bodyguard yang berada diluar kamar. "Tenang, hanya didalam mension" Kedua bodyguard itu saling pandang. "Kalian ikuti saja kami biar semuanya jelas" Kedua bodyguard itu mengangguk. Bart kembali melanjutkan langkahnya membawa Metta diikuti dua bodyguard itu dibelakang.
"Ini berapa lantai sampai ada liftnya?" Metta bertanya saat mereka berempat sudah masuk ke dalam lift yang terdapat disudut lantai. "5" Jawab Bart santai. Metta mendelik dan hampir saja tersedak liurnya sendiri. Otaknya mulai memikirkan, sekaya apa Axton hingga memiliki mension sebesar itu. Bukan hanya rumah biasa loh. Interior-interiornya saja sudah terlihat mahal-mahal. Gubuk miliknya dipinggir kota sana tak ada apa-apanya.
Ruangan demi ruangan, lorong demi lorong mereka lewati. Tak ada rasa lain yang Metta suarakan selain rasa takjub dan kagum. "Mau liat taman belakang engga? Bagus banget loh" Metta kembali mengangguk begitu antusias. Bart membawa langkah mereka ke arah taman belakang sesuai yang tadi disampaikannya.
"Wahh... Indah banget" Seru Metta begitu antusias. Kakinya tanpa sadar berlari kecil menuju taman bunga yang terhampar luas disana. Berbagai macam dan warna bunga ada disana. Metta sangat senang melihatnya.
"Dulu, Mommy nya Axton itu paling suka dengan bunnga. Dimension beliau juga begini, bunga dimana-mana. Sampai Daddy yang alergi bunga aja suka bunga jadinya" Metta mendekati Bart kembali. Perkataan lelaki itu menarik rasa penasaran Metta. "Terus mereka dimana?" Tanya Metta penasaran. "Mereka sudah lama meninggal. Ya namanya juga pembis, jalan mautnya dimana-mana" Perempuan itu mendelik. Tak percaya saja kalau Axton memiliki kisah hidup yang sedikit menyedihkan.
~#~
Malam harinya, Metta kembali sendiri termenung dibalkon kamar. Kali ini bukan merenungkan kisah hidupnya tertapi merenungkan kisah hidup Axton. Orang tuanya harus pergi karena kekejaman dunia bisnis pasti lebih sakit dari pada dirinya yang kehilangan orang tua karena kecelakaan yang memang takdir tanpa ada campur tangan manusia.
"Ternyata hidupnya kasian. Apa dia jahat gitu juga karena kisah hidupnya ya" Gumam Metta. Dagunya ditumpukan pada tangan yang berlipat dipembatas balkon. "Kasian sih, tapi kejam. Gimana sih" Perempuan itu terus berceloteh riang tanpa sadar kalau dibelakangnya sudah ada seseorang berdiri menjulang.
"Kejam, tapi baik. Buktinya bantu Ara masuk universitas mahal. Ya walaupun gue disiksa tiap hari sih. Tapi ya setidaknya kan memang dia baik" Metta masih tak menyadari orang dibelakangnya. "Tapi gimana pun kan dia ke-" Metta berbalik dan terkesiap. Kalimatnya menggantung. Tanpa sadar perempuan itu menahan nafasnya. Matanya hampir melompat saat melihat siapa gerangan yang menjulang tinggi ditengah pintu balkon dengan tangan bersikedap dan wajah datar. Mana auranya dingin banget lagi.
"Siapa yang kejam?" Metta gelagapan. Axton, yang berdiri diambang pintu balkon berjalan perlahan. Kepala Metta langsung menggeleng kerasa. "Engga.. Ada" Gugup sekali. Sejak kapan lelaki itu berdiri disana fikirannya. "Sejak kau berceloteh ria" Bukan hanya mata, rasanya jantung perempuan itupun ingin melompat setelah mendapat jawaban dari pertanyaan yang bersarang diotaknya. Apa lelaki didepannya itu cenayang bisa menebak dengan benar.
Tangan Metta yang mulai mendingin menggenggam erat pinggiran kursi yang didudukinya. Langkah itu semakin dekat dan aura dinginnya masih terasa. Mungkin dirinya akan jadi es kalau aura dingin itu berwujud.
"Mau dihukum dengan apa heh?!" Lelaki itu membungkukkan tubuhnya hingga wajahnya tepat berada didepan wajah Metta yang menciut. "Apa aja, tapi jangan kasar-kasar boleh?" Tanpa sadar Metta berbicara seperti itu dengan wajah begitu polos. Axton kaget, tubuhnya kembali ditegakkan. Alisnya menukik, ada apa gerangan dengan perempuan itu. "Lupakan, saya jenuh bermain dengan kamu" Lelaki itu berlalu meninggalkan kamar dengan fikiran melayang kemana-mana. Terutama perkataan Metta tadi.
