CDIM~07
"Ax, lo gila apa gimana sih?!" Axton menarik pulpen yang digunakannya. Kedua tangannya saling bertaut setelah meletakkan pulpen tersebut dimeja. Punggungnya dihempas pada sandaran kursi kerjanya yang terasa begitu empuk. Pembubuhan tanda tangan didokumen-dokumen penting dihentikan saat mendengar nada serius dari perkataan Bart yang baru saja masuk ke ruangannya.
Matanya menatap dingin pada Bart yang sudah berdiri tepat didepan mejanya. Wajah lelaki itu yang biasanya teduh saat dipandang kini tersirat amarah. Rahang bawahnya pun mengetat mampu menarik kebingungan Axton. Jarang sekali Bart seperti itu.
"Gue tau lo brengsek. Suka ganti-ganti pelacur dimana-mana. Tapi apa lo engga kasian apa dengan tahanan lo itu. Dia cuma gadis malang yang sialnya ketemu sama lo. Cuma ngatain doang sekarang lo nyiksa jiwa dan raganya. Mending lo bunuh dia seperti orang-orang yang ngusik lo selama ini dari pada lo buat dia begitu!" Axton menyerngit saat Bart memakainya begitu keji.
Axton hanya heran saja. Jarang sekali, bahkan tak pernah Bart mengurus kekejamannya selama ini. Tapi kenapa dengan perempuan muda itu Bart bisa berusaha seperti ini. Sebelah alis Axton naik " Lo suka dia, heh?!" Nada merendahkan terdengar kentara dari Axton.
Bart mengepalkan tangannya. Giginya saling bergemeletuk. Wajahnya memerah karena amarah. Entahlah, mendengar perkataan Axton tadi mampu menaikkan amarahnya. Bart memilih meninggalkan ruangan sang atasan dari pada harus meledakkan amarahnya yang berakhir salih pukul.
Bart memilih meninggalkan kantor menuju tempat ternyamannya selama ini. Sebuah danau dipinggir hutan ujung kota. Persetan soal kantor yang belum jam istirahat. Dirinya butuh ketenangan sekarang.
Berbeda dengan Bart. Si dingin Axton menunjukkan smirknya disinggah sananya. Sepertinya ini permainan yang menyenangkan untuk dimainkan sebnatar lagi. Benaknya mulai menyusun rencana-rencana keji lainnya.
Dokumen-dokumen yang belum disentuh dibiarkan berserakan. Kegiatan menandatangi tadi dibiarkan terbengkalai. Persetan dengan kertas-kertas sialan itu. Yang penting sekarang bermain-main sedikit dengan perempuan sekapannya terlihat menggiurkan.
Axton bangkit dan sedikit merapikan jas yang dikenakannya. Ponsel yang tergeletak dimeja langsung dirampas cepat dan mengayunkan langkahnya lebar keluar dari ruangan menuju basement menuju mobilnya yang terparkir disana.
~#~
BRAKK!!
Metta yang tengah terfokus pada televisi menyala didepan terlonjak kaget. Kepalanya langsung menoleh ke arah pintu yang terbuka dengan kasar. Tubuhnya mulai bergetar saat melihat siapa gerangan yang masuk. Ternyata Axton lagi. Wajah lelaki itu tampak mengerikan dengan smirknya. Langkahnya yang lebar perlahan mendekat pada kasur.
"Kenapa kau memasang wajah begitu tikus kecil?!" Metta beringsut saat Axton semakin dekat dengan dirinya. "Kau masih saja takut denganku sayang" Bulu kuduk Metta meremang. Tangannya sudah menggenggam erat pinggiran selimut. Kakinya menekuk dengan lutut yang sudah melemas dibalik selimut yang sudah acak-acakan.
Kepala perempuan itu menggeleng keras saat Axton sudah mulai merangkak naik ke kasur. Jas mahal yang tadi dikenakan sudah dicampak asal hingga mendarat dengan buruk dilantai. "Mmpphh" Metta memberontak. Tangan besar Axton sudah mencengkram kasar pipi Metta. Perempuan itu terus memberontak.
"Sepertinya permainan kita harus lebih sering. Karena bau-baunya akan ada yang melindungi tikus kecil kesayanganku" Air mata mulai mengalir membasahi wajah Metta. "Akh" Erang perempuan itu saat tubuhnya sudah dihempas kasar oleh Axton.
Metta kembali memberontak. Tangan dan kakinta ikut bermain. Axton yang geram langsung menahan kedua tanga Metta diatas kepala perempuan itu. Kepala Metta menggeleng keras saat Axton mulai mendekati wajahnya. Axton memberikan smirknya kembali.
Kepala perempuan itu terus meronta walau tangan dan kakinya sudah tak bisa berontak lagi. Tiba-tiba saja pusing mendera Metta sampai kepalanya berhenti berontak. Terdengar Axton tertawa keji "Kau lelah, heh?!" Serunya sakarstik. Metta diam. Matanya terus dikedipkan saat pandangannya terasa mengabur. Apa yang dilihat seakan berputar. Axton yang sudah mendekatkan wajahnya menghentikan gerakannya saat melihat gelagat aneh dari gadis dibawah kukungannya. Metta terus berusaha memfokuskan kembali pandangannya hingga akhirnya semua menggelap.
Axton sedikit kaget saat melihat perempuan sekapannya menutup mata. Tubuh yang sedari tadi begitu dikeraskan pun mulai melemah. Tangan kirinya yang menggenggam kedua pergelangan tangan gadis itu langsung dilepaskan. Tangan kanannya menepuk-nepuk pelan pipi Metta yang semakin tirus dengan dan kiri menumpu dikasur.
"Hei, jangan berani membohongi saya kamu. Saya akan menyiksamu lebih keji jika itu terjadi" Tak ada sedikit pun gerakan yang diberikan Metta. "Sial!" Axton langsung turun dari ranjang dan kembali memungut jasnya.
Langkahnya diayun lebar menuju pintu. "Panggilkan Dokter. Dan urus perempuan itu" Perintahnya dingin pada salah satu bodyguard yang berjaga diluar pintu. Tanpa menunggu jawaban, Axton kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja.
~#~
"Kenapa bisa begini sih?!" Kesal lelaki yang tengah menyetir kendaraannya dengan kecepatan diatas rata-rata. Bart, lelaki dibalik kemudi itu kembali memukul setir yang tengah dikendarainya. Gas yang diinjak semakin ditekan lebih dalam hingga laju mobil benar-benar tinggi.
Semuanya terasa begitu kalut. Saat tengah menikmati sejuknya udara pinggiran danau yang sangat menenangkan tadi. Axton memberi kabar kalau Metta dimensionnya tak sadarkan diri. Entahlah, mendengar itu dirinya langsung kembali merasakan amarah yang memuncak.
Mobil berwarna silver dengan kilatan mewah itu sudah terparkir tepat didepan teras mension. Tanpa menunggu lama lagi, Bart langsung berlari keluar dari mobil ingin mengetahui keadaan Metta.
"Bagaimana keadaannya?" Hanya Annie yang ada didalam kamar menemani perempuan yang masih setia menutup matanya diranjang. Wajahnya begitu sayu dengan mata cekung dan pipi tirus. Berbeda sekali dengan awal Bart melihat Metta.
"Dokter berkata kalau Nona Metta sudah terkena gejala depresi Tuan. Untuk usianya yang masih terlampau muda, gejala yang diderita sudah lumayan buruk yaitu stadium dua" Bart mengusap wajahnya kasar. Entahlah, amarahnya semakin naik mendengar penjelasan Annie.
Lelaki yang masih berdiri jauh dari ranjang itu kembali melanjutkan langkahnya menuju sisian ranjang yang terdapat Metta diatasnya. "Kamu bisa keluar" Annie mengangguk dan berlalu. Wanita itu berjalan dengan menipiskan bibirnya. Dari sorot Bart terpancar sekali kalau lelaki itu ada rasa dengan Metta.
Bart bersikedap dada dengan pandangan fokus pada wajah Metta yang masih setia menutup matanya. "Saya tidak tahu kenapa. Tapi semakin kesini rasa kasihan saya untuk kamu semakin memuncak. Rasa ingin membawa kamu kabur dari sini semakin tumbuh" Bart berbicara dengan nada begitu rendah karena takut ada yang mendengarnya dan melaporkan pada Axton.
"Entahlah. Entah saya mulai punya rasa dengan kamu atau ini hanya sekedar rasa kasihan. Tapi rasa untuk mengeluarkan kamu dari sini itu adalah keinginan terbesar saya saat ini" Imbuh Bart. Apa yang diucapkan sedari tadi benar adanya bukan hanya kalimat sampah semata.
