CDIM~06
Pintu kamar terbuka. Disana Axton datang dengan wajah dinginnya dengan pakaian kerja masih lengkap melekat pada tubuh tegapnya. Annie tanpa sadar menghela nafas lega karena ceritanya sudah selesai sebelum sang Tuan masuk. Berbeda dengan Metta, gadis itu tanpa sadar menahan nafasnya. Kedua tangannya meremas gaun selutut yang digunakan.
Annie mengangguk dan bangkit dari duduknya berlalu meninggalkan kamar saat melihat kode dari Axton melalui matanya. Axton memang terkenal dengan manusia irit bicaranya. Para pekerja sudah sangat paham dengan hal itu.
Metta kaget saat melihat Annie meninggalkan kamar. Matanya mulai panik memandang acak. Dirinya masih takut dengan manusia ganas yang sudah menjulang dipintu balkon itu. Perkataan Annie sedikit terngiang dalam benaknya.
"Saya kira kamu akan terus-terusan menangis seperti bayi setelah saya lihat noda darah diseprai tadi malam. Ternyata kamu cukup tegar juga tikus kecil" Terdengar nada kekehan diakhir kalimat. Tapi kekehan itu terdengar begitu mengerikan dipendengaran Metta hingga perempuan itu bergidik ditempatnya.
Remasan digaun semakin kuat saat langkah Axton kembali terdengar. Sial! Jantung Metta rasanya turun ke perut saat dilihat siluet Axton sudah berdiri disebelahnya. Perempuan itu sedikit memundurkan tubuhnya spontan saat bau menyengat alkohol menyeruak dari Axton. Metta memang tak pernah minum. Tapi bekerja paruh waktu di bar membuatnya sangat hapal dengan bau-bau minuman laknat itu.
"Kemana perginya ketegaran yang saya lihat tadi" Metta menggigit bibir bagian dalamnya saat kuku dari jari telunjuk Axton mulai membelai pipinya. "Saya akan buat kamu memilih mengakhiri hidup dengan sendirinya tanpa harus saya sendiri yang mengakhiri hidup kamu" Perempuan itu meneguk liur kasar. Debaran jantungnya semakin menggila. Perkataan itu terdengar begitu serius tanpa ada ragu didalamnya.
"Akh" Metta memekik saat tangannya ditarik kasar oleh Axton. Langkah perempuan itu sedikit sempoyongan saat Axton terus menariknya dengan langkah lebar menuju ke dalam kamar.
BRUKK
Tubuh Metta dihempas kasar pada ranjang tempat tadi malam mereka bergulat. Sedikit ringisan keluar dari Metta saat tubuhnya terasa sedikit sakit terhempas tadi. Mana sakit yang tadi malam saja belum hilang.
"Lo mau apa hah!" Sentak Metta saat melihatnya Axton mulai mendekat. Tangan lelaki itu mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang digunakannya. "Saya sudah jelaskan tadi hingga rongga mulut saya lelah karena terlalu banyak berbicara" Metta menutup rapat matanya. Axton mulai menjalankan akhirnya dibawah kepasrahan Metta. Menolak juga percumakan dengan keadaan sekarang?
~#~
Tatapan kosong kembali terpancar dari si malang Metta. Sudah seminggu dirinya bak pelacur dirumah ini. Tak ada yang bisa dikatakan baik-baik saja disini. Tapi entah mengapa dari dalam dirinya Metta merasakan semangat hidup yang semakin memuncak. Mungkin karena ada sang Adik yang harus dipastikan baik-baik saja diluar sana.
"Nona Metta, ini sarapannya saya letak dimeja ya" Annie kembali datang dipagi ini dengan nampan berisi sarapannya. Metta yang duduk diranjang menatap wanita itu. "Terima kasih" Ujarnya memaksakan senyuman yang jujur mulai berat untuk dikeluarkan.
Annie yang masih berdiri didekat meja sofa memandang sendu Metta. Rasa kasihan begitu nyata dari wanita itu. Rasa ingin mengeluarkan Metta dari tempat ini begitu besar. Tapi nyalinya saja yang begitu menciut mengingat sang Tuan rumah.
"Nona, saya permisi ya. Ada kerjaan yang harus diekerjakan segera" Metta disana hanya mengangguk. Setelah hari itu, memang Annie tak pernah menemaninya lagi. Hanya sekedar mengantarkan makanan dan pakaian saja. Jelas, Axton yang melarangnya.
Seminggu berlalu, tapi Metta semakin merasa putus asa. Jangankan untuk keluar dari tempat sialan itu. Untuk keluar dari kamar saja tak bisa. Pernah berniat melompat dari balkon. Tapi begitu dipandang, balkon itu terlampau tinggi. Dirinya tak tahu tengah berada dilantai berapa. Yang pastinya lebih tinggi dari lantai dua.
Pernah Metta berencana untuk kabur melalui ikatan-ikatan kain seperti diacara tv yang sering ditayangkan. Tapi sayang, dikamar itu tak ada kain yang bisa ditemui selain helaian baju miliknya yang semakin bertambah setiap harinya.
Entah perintah dari mana, Metta perlahan turun dari ranjang. Kakinya yang mungil langsung melangkah tanpa berniat menggunakan sendal rumah yang berada dipinggir ranjang. Tatapannya kosong dengan langkah perlahan menuju pintu balkon.
Pintu berlapis kaca itu perlahan dibuka hingga angin pagi menerpa dengan penuh kesejukannya. Perempuan malang itu menghentikan langkahnya tepat ditengah pintu yang sudah terbuka. Matanya tertutup menikmati angin yang menggelitik wajahnya yang perlahan mulai berubah karena tak pernah dirawat seperti dulu.
Entah sadar atau tidak. Kaki yang hanya berlapis jeans sebatas lutut itu kembali berayun mendekati pinggiran balkon yang hanya terdapat pembatas setinggi pinggang orang dewasa. Matanya masih setia tertutup rapat. Bibirnya terkatup tanpa ada mengeluarkan kata apapun.
Kedua tangan Metta terbentang saat bagian depan tubuhnya mulai terasa membentur pembatas balkon. Angin yang berhembus pagi ini sedikit terlalu dingin karena tadi malam sempat turun hujan begitu lama.
"Sela- METTA!" Bart yang baru saja membuka pintu ingin bertemu dengan sipenghuni kamar dibuat terkejut saat arah pandangannya menatap balkon. Kaki berlapis celana behan itu langsung berlari dengan Langkah lebar.
Hap
Tubuh kecil Metta langsung ditarik kasar dengan sekali hentakan dari Bart. Mata gadis itu perlahan terbuka saat bagian belakang tubuhnya terasa menabrak benda yang cukup keras. Ternyata itu adalah dada bidang Bart.
Mata Metta langsung bertemu dengan mata jernih Bart. Mereka saling pandang beberapa saat. Sangat kentara sekali kalau lelaki itu tengah menetralkan emosinya terasa dari dadanya yang naik turun begitu cepat disandaran Metta.
"Kamu mau apa hah?!" Sebenarnya kalimat itu ingin dikeluarkan dengan bahasa lembut. Tapi karena masih sedikit panik, jadi Bart mengeluarkannya dengan sedikit bentakan. Bukannya kesal karena apa. Tapi dirinya hanya tak ingin saja melihat kejadian bunuh diri secara langsung dengan mata kepalanya sendiri.
Kepala Metta menggeleng ke kanan dan kiri dengan tatapan masih menyelami mata lelaki yang menjulang didepannya. Bart menghela nafas. Tangannya yang sedari tadi melilit dipinggang ramping milik Metta dengan cepat dilepas. Tubuh Metta mundur beberapa langkah.
Lelaki itu mengusap wajah kasar. Wajahnya kembali menoleh pada Metta yang tampak tak berkutik sedikit pun ditempat. "Metta dengarkan saya" Kedua tangan Bart didaratkan pada kedua bahu Metta. Mata perempuan itu masih fokus pada retina Bart.
"Jangan berbuat macam-macam yang nantinya akan buat kamu menyesal. Masih ada Adik kamu diluar sana yang ingin bertemu kamu lagi. Sekarang kamu masuk dan jangan bertingkah aneh lagi. Makan sarapan kamu, tadi saya sempat melihat sarapan yang belum tersentuh dimeja" Metta menutup matanya saat merasakan suara Bart mengalun dengan merdu ditelinganya. Kelopak itu kembali terbuka saat dirasakan tangan besar yang tadi sedikit meremas bahunya menghilang.
"Saya engga tau ini salah atau tidak. Tapi nanti sore saya akan kembali ke sini untuk memberikan beberapa informasi yang menurut saya bisa membuat kamu tidak terpuruk lagi. Ya, semoga" Tersirat keseriusan disana.
Bart langsung membawa Metta kembali ke kamar. Tubuh ringkih itu didudukkan pada sofa tepat didepan makanan yang tersedia. Setelah memastikan Metta mulai melahap sarapannya. Bart mulai meninggalkan kamar itu.
Lelaki itu berjalan keluar dari mension mencari beberapa bodyguard. Setelah ketemu, Bart menugaskan dua orang bodyguard untuk menjaga tepat dibawah balkon kamar yang ditempati Metta. Dan dua laginya diutus menjaga tepat didepan pintu kamar itu.
Entah kenapa, karena kejadian tadi ada rasa was-was yang Bart rasakan. Hati kecilnya seperti berkata tak ingin lagi kejadian tadi terjadi. Ada setitik direlung hatinya rasa ingin melindungi perempuan malang itu. Entahlah, Bart tak ingin terlalu memikirkan hal tersebut.
