Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

CDIM~05

Kelopak mata nan sembab efek tertidur saat menangis itu sudah terbuka sejak 30 menit yang lalu. Gadis yang kini sudah menjadi wanita seutuhnya memiliki nasib begitu malang. Tubuh yang hanya ditutup dengan selimut berwarna coklat tua itupun tak sedikit pun terjadi gerakan sedari tadi. Hanya kedipan Mata yang terjadi beberapa menit sekali.

Benaknya terus memutar kejadian menjijikkan yang terjadi tadi malam hingga dirinya berakhir menyedihkan seperti sekarang. Tubuhnya terasa begitu remuk tapi tak seremuk hati dan perasaannya. Ingin sekali dirinya menangis dan marah tapi semuanya terasa percuma sekarang.

Batin dan firikannya berperang. Fikirannya berkata akan mengakhiri hidup saat ini juga. Tapi batinnya berkata jangan semakin memburuk apa yang sudah buruk.

Metta, si manusia malang itu hanya diam menatap kosong langit-langit kamar yang tampak gelap walau sinar matahari berlomba-lomba ingin menerpa area wajahnya yang terbuka lewat kain jelndela yang masih setia tertutup walau jam didinding sudah menunjukkan pukul 9 pagi waktu sekitar.

Tiba-tiba sekelebat bayangan bersama sang adik hadir dibenak yang tengah kacau itu. Tak terasa segumpal air mata lolor dari sudut mata Metta yang malang. Mata itu tertutup begitu rapat saat wajah sang Adik terlintas dengan jelas diingatan.

Ceklek

Suara pintu terdengar. Tapi tak sedikit pun menarik perhatian Metta yang sudah mulai menangis dalam diam. Tangan dibalik selimutnya kembali terkepal. Hatinya menerka apakah langkah kaki yang mulai terdengar mendekat itu adalah milik si lelaki brengsek.

"Maaf Nona, apakah anda sudah bangun" Terdengar suara perempuan begitu lembut mengalun indah masuk diindra pendengaran Metta. Perlahan kelopak mata itu kembali terbuka walau pandangan yang terlihat mengabur efek air mata.

Siluet perempuan dengan seragam berwarna hitam dan sedikit pita berwanra putih dibagian pinggang terlihat samar dari ekor mata Metta yang kembali menatap langit-langit kamar. Jarak wanita itu tak jauh dari ranjang yang ditiduri Metta.

"Nona. Saya Annie. Saya kemari diutus Tuan Bart untuk membantu anda membersihkan diri" Metta tak tahu siapa gerangan yang disebut oleh wanita itu. Tapi dirinya berharap itu bukanlah lelaki yang telah merusaknya tadi malam.

Perlahan Metta menggerakkan kepalanya mengarah pada wanita yang terlihat sekilas memiliki usia sekitar lima puluhan. Wanita itu tersenyum begitu teduh. Jiwa keibuannya begitu terasa dari aura yang dibawanya.

"Maaf. Apakah dibawah sana anda menggunakan pakaian?" Metta diam dengan tatapan hanya terpusat pada wanita itu. Ada raut tak tega terlihat disana. Setelah 5 menit diam akhirnya Metta menggeleng. Terdengar helaan nafas dari wanita tersebut. "Mari saya bantu. Saya juga sudah membawakan pakaian yang baru untuk anda" Wanita itu mulai mendekat.

Entah mengapa, Metta perlahan ikut bergerak bangkit. Matanya terpejam kuat saat rasa sakit teramat sangat terasa dibawah sana. Bibirnya bagian bawahnya digigit hingga rasa asin menyeruak didalam mulutnya. Kulit bibir itu sedikit mengeluarkan darah.

Wanita itu benar-benar membantu Metta hingga masuk ke dalam kamar mandi yang ada disana. Metta sempat melirik keadaan sekitar saat melihat kamar mandi itu begitu luas dengan interior-interior mahal mendominasi didalamnya.

~#~

"Nona tidak usah, biar saya saja" Metta yang sudah membungkuk kembali menegakkan tubuhnya. Pakaian dilantai yang tadi sudah hampir diraih undur. Pandangannya menoleh pada Annie yang tengah membuka kain yang menutupi jendela kaca nan luas disisi sebelah kanan ranjang.

Bibir yang tadi malam penuh umpatan perlahan menyunggingkan senyuman. "Biar saya saja. Anda bisa mengerjakan yang lain" Metta berusaha keluar dari aramahnya tadi malam. Semua sudah terjadi. Walau sakitnya tak akan pernah hilang. Tetapi, untuk memulai semuanya dengan hal yang lebih baik lagi tak masalahkan.

Annie tersenyum dan kembali melanjutkan kegiatan membuka kain jendela tadi. Membantu Metta bersih-bersih sudah selesai 5 menit lalu. Metta juga sudah menggunakan pakaian lengkap sekarang.

Ceklek

Pintu kembali terbuka dari luar. Metta yang tengah memungut kembali pakaian-pakaiannya yang berserakan dilantai mengangkat tubuhnya. Pandangannya terpusat pada pintu yang sudah terbuka. Disana masuk seorang lelaki tampan dengan stelan jas rapinya.

Lelaki itu melangkah mendekat pada Metta. Metta dibuat terpukau saat lelaki itu memberikan senyuman tipisnya. "Metta. Saya Bart, asisten Tuan Axton. Saya kemari ingin mengambil ponsel Tuan Axton yang tertinggal, katanya" Metta masih diam ditempatnya. Matanya terus terfokus pada tatapan Bart yang begitu teduh. Tapi dirinya dapat menangkap tatapan prihatin untuknya disana.

"Metta?" Bart melambaikan telapak tangannya satu jengkel dari wajah Metta. Perempuan itu sedikit tersentak. Raut tak enah diberikannya. "Maaf, saya sedikit melamun" Seru Metta merasa sungkan. Bart terkekeh dan menggeleng. "Tak apa. Saya harus mencari ponselnya dan pergi. Semoga hari-harimu bisa lebih baik" Dua tepukan Bart tinggalkan dibahu Metta. Perempuan itu kembali terdiam dan terpaku. Ada yang tersirat dalam kalimat tadi.

"Nona Metta?!" Metta kembali tersentak. Kali ini Annie yang mengagetkannya. "Ah ya, ada apa?" Tanya Metta heran menatap Annie bertanya. Annie menyerngit "Saya bilang. Apakah anda ingin memesan makanan? Karena saya akan kembali ke dapur untuk mengambilkan sarapan anda" Alis Metta menukik dengan kepala sedikit digelengkan. Tatapan melirik sekitar "Tuan Bart sudah keluar Nona. Kalau begitu saya ke dapur dulu untuk mengambil sarapan anda, permisi" Annie berlalu setelah menjawab tatapan bingung Metta tadi. Sebegitu terbacanyakah tatapannya tadi?

~#~

"Memang saya sudah cukup lama bekerja dimension ini untuk Tuan Axton. Tapi untuk melanggar perintahnya saya tak berani " Metta mengehela nafas. Pandangannya dibuang jauh pada lapangan golf yang terlihat dengan jelas dari balkon kamar yang sejak kemarin malam sudah dihuninya.

Langit sudah berganti menjadi gelap kembali. Tapi tak sedetik pun Metta bisa menginjakkan kaki keluar dari kamar itu. Sedari tadi siang Metta terus meminta bantuan pada Annie untuk mengeluarkan dirinya dari kamar bahkan tempat yang tidak diketahuinya itu. Metta ingin bebas, kembali pada kehidupannya selama ini. Ada adiknya yang harus Ia lihat bagaimana keadaannya. Tapi Annie terus saja menolak dengan kalimat yang sama.

"Kalau kamu mau tahu. Saya punya sedikit rahasia yang membuat kami para maid untuk tidak berbuat ulah sedikit pun" Suara Annie begitu kecil. Mata wanita itu sekilas melirik ke arah pintu masuk yang terlihat dari balkon ini. Metta sedikit tertarik. Tubuhnya sedikit dicondongkan. Mereka tengah duduk saling bersebelahan.

Annie kembali melirik ke arah pintu sebelum memandang penuh Metta. "Tuan Axton itu kejam sesuai yang diberitakan publik. Siapa saja yang mengusiknya akan hilang tanpa jejak. Ya, kami para pekerja tak tahu apa yang diperbuanya hingga keesokan hari orang-orang itu tak akan terlihat lagi" Metta tertarik. Tubuhnya semakin dicondongkan.

Annie kembali melirik sekilas pada pintu yang masih tertutup rapat. "Disini, ada ruang bawah tanah yang hanya boleh dimasuki oleh Tuan Axton dan orang-orangnya. Kami para pekerja bahkan tk ada yang dibolehkan ke sana walau hanya sekedar untuk membersihkan saja" Annie kembali menjeda kalimatnya. Jujur saja jantungnya tengah memompa dengan kuat didalam sana. Bahkan keringat dingin sudah membasahi telapak tangannya.

"Hingga satu hari. Salah satu pekerja yang benar-benar sudah penasaran dengan tempat itu dengan berani mendatangi tempat itu. Ternyata disana, dia melihat satu gadis cantik yang sudah terkulai lemas. Keadaannya mengenaskan dengan luka diseluruh sisi tubuhnya" Metta bergidik.

"Gadis itu yang menyadari ada orang langsung meminta bantuan. Karena kasihan, pekerja itu menbantu. Tapi sayang, perlakuannya ketahuan hingga sejak saat itu kami tak lagi melihat pekerja itu" Metta membengkap mulutnya. Matanya membulat tak percaya.

"Kalau kamu mau tahu lagi. Biasanya, siapapun perempuan yang sudah dibawa ke kamar ini pasti tak akan pernah kelur lagi dalam artian juga hilang tak berjejak" Metta meneguk kasar liurnya. "Tapi ada yang aneh" Perempuan itu kembali tertarik. "Entah mengapa, kamu masi bisa terlihat sampai sekarang" Ingin saja Metta hilang dari permukaan detik ini juga.

Ceklek

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel