Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

CDIM~04

Kelopak yang membungkus manik abu itu perlahan mulai berkedut hingga bergerak mengerjab. Pandangan yang hitam, memburam perlahan mulai fokus pada langit-langit kamar. Dua kelopak itu kembali bertemu saat merasakan cahaya yang masuk begitu terang. Setelah mengerjab perlahan kembali sebanyak dua kali, manik indah itu benar-benar terbuka menampilkan pesonanya yang begitu indah.

Retina abu tadi mulai berfungsi dengan baik. Kanan dan kiri perlahan ditelusuri. Langit-langit, dinding, benda sekitar yang bisa dijangkau diamati. Kinerja otak didalam sana perlahan mulai mencerna dengan baik. Ingatan yang tadi belum sepenuhnya kembali perlahan mulai muncul ke permukaan.

Pulang kerja, bersepeda, gang kecil, 4 pria berbada besar dengan seragam rapi, sedikit cek cok, dibekap dengan sapu tangan, gelap.

Gotcha!

Mata itu mendelik saat semua ingatannya sudah berfungsi dengan baik. 'Sial! Dirinya diculik' Itulah yang terlintas dibenak cantiknya saat ini. Ingin bergerak dan bersuara rasanya belum bisa dilakukan. Berapa lama dirinya tertidur hingga semuanya sedikit sulit digerakkan.

"Sudah bangun ternyata tikus kecil" Suara dingin dari arah selatan cukup menarik perhatian gadis yang terbujur itu. Penuh kekuatan tubuh itu perlahan bisa digerakkan hingga terangkat 45° dengan siku sebelah kanan menjadi tumpuan.

Matanya kembali membola melihat siapa gerangan yang tadi bersuara. Lelaki dengan kemeja navy dan celana bahan yang begitu pas melekat ditubuhnya tengah duduk disatu sofa yang tersedia dekat pintu balkon. Sial! Metta si gadis yang penuh kebingungan itu sadar. Lelaki arogan itu adalah lelaki yang ditemukannya tadi. Tidak, lebih tepatnya yang menjadi bahan gerutuannya tadi siang saat mengantarkan makanan ke perusahaan ternama itu.

Dengan cepat Metta mendudukkan penuh tubuhnya walau masih kesulitan. "Siapa kau keparat!" Gadis itu bersyukur suaranya sudah bisa digunakan disaat yang tepat. Lelaki disana tampak menunjukkan smirknya. Metta memanas hingga nafasnya tak teratur karena emosi. Mata gadis itu memandang acak sekitar. Jelas sekali ini bukan kamarnya. "Dimana gue sekarang?!" Sentak Metta lagi.

Axton mengetatkan wajahnya. Sepertinya amarah si arogan terpancing. Tubuhnya mulai bangkit dan menjulang hingga Metta disudut ranjang harus mendongak. Perlahan, langkah gagah itu mulai mendekat ke arah ranjang. Jujur Metta takut, tapi dengan sekuat tenaga gadis itu memasang wajah menantang.

Semakin dekat langkah lelaki dingin itu. Metta dibalik selimut mulai beringsut. Tubuhnya perlahan bergetar tanpa diintruksi. Tangannya menggenggam erat pinggiran selimut yang menutupi bagain kaki hingga pinggangnya. Keringat dingin mulai timbul dibagian dahi dan lehernya. Seram euy.

"Takut, heh?!" Smirk itu muncul lagi. Metta bergidik ngeri saat melihat sedekat ini. Axton sudah berdiri tepat dipinggir kasur. "Ternyata tikus kecil ini penakut" Suara nan datar kembali keluar. Kepala Metta sontak menggeleng keras.

"Heh! Mau apa lo" Sentak Metta saat Axton membungkuk dengan tatapan begitu tajam pada dirinya. Tubuh bagian belakang yang sudah bersandar pada kepala ranjang membuat Metta tak lagi bisa meringsut mundur. Alhasil wajah mereka berdua menjadi sangat dekat. Hanya berjarak 2 jari saja mungkin. Itu terbukti saat lelaki itu bernafas langsung menerpa wajah Metta.

"Berani mengatai saya. Berarti berani menanggung akibatnya" Metta mendelik saat Axton dengan kurang ajarnya menempelkan bibirnya ke arah bibir Metta. 'First kiss nya hilang' Berang Metta menjerit dalam hati. Mulutnya memilih bungkam karena rasa takut terus menggerayangi tubuhnya.

"Bibir ini sudah berani mengatai saya. Berarti bibir ini harus saya hukum sebagaimana semestinya" Bola mata si gadis yang tengah dilanda ketakutan itu semakin membola. Rasanya ingin saja Metta meneriaki lelaki sialan itu tepat diwajahnya. Namun sayang, keberanian Metta menciut saat ini.

Axton dengan cekatan meraih tengkuk Metta dengan kasar. Bibir mereka kembali menempel membuat Metta meronta. Gigitan, sesapan dilakukan dengan kasar oleh Axton. Tangan Metta yang berusaha meronta ditahan kuat dengan sebelah tangan Axton yang bebas. Tubuh gadis itu sudah terlempar kembali pada kasur nan empuk hingga tubuh besar Axton berada diatasnya.

Rasanya ingin saja Metta menangis karena merasa tengah dilecehkan dengan manusia yang sejujurnya Ia tak tahu siapa. Tapi dirinya bukan gadis cengeng yang mudah meitikkan air mata. Hatinya bagai diremas saat permainan lelaki itu semakin panas tanpa ampun. Bahakan pasokan oksigen dalam tubuh Metta terasa hampir habis. Ditambah lagi rontaan dalam kekangan yang dikeluarkannya semakin menguras tenaganya.

"Sialan kau keparat!" Hardik Metta saat Axton melepaskan ciuman gilanya tadi. Gadis itu langsung meraup udara dengan rakus. Tubuhnya sibuk meronta agar melepaskan tangan yang masih dalam genggaman besar Axton. "Kau akan menyesalan sialan!" Axton terkekeh mendengar perkataan Metta yang terdengar bagai candaan ditelinganya.

"Ternyata kau masih berani melawan tikus kecil" Axton memberikan kekehan. Tapi bagi Metta itu bukan kekehan melainkan hinaan. Mata lelaki itu meneliti dengan seksama tubuh Metta membuat gadis itu risih dan terus memberikan perlawanan. Kakinya dihentak-hentakkan sampai akhirnya diapit oleh kaki besar milik Axton. Kepalanya terus menggeleng hingga pusing menyerang. Tapi tak ada niatan sedikit pun untuk Metta memilih kata menyerah.

"Sebenarnya tubuhmu tak menarik sedikitpun. Tapi karena kau sudah berani mengataiku. Jadi aku berniat untuk merusak dan memusnahkanmu" Axton kembali memulai siksaannya. Metta meronta lebih keras. Bahkan tangisnya pecah sudah. Dirinya bukan anak TK yang tak mengerti arti dari ucapan lelaki bejat itu.

Axton membabi buta menciumi Metta. Permainan lainnya mulai dijalankan. Menggerayangi tubuh yang masih terbalut kaos, bermain dihal-hal sensitif hingga akhirnya masuk ke permainan inti. Axton tertawa jahat setelah melampiasakan amarahnya. Berbeda dengan Metta yang semakin menangis karena merasa gagal menjaga kehormatannya untuk sang suami nanti. Dirinya kotor sekarang.

Hentakan demi hentakan Axton lakukan dengan begitu kejinya hingga Metta yang sudah melemah tak lagi mampu lagi memberontak. Gadis itu tampak pasrah dengan wajah penuh air mata. Penampilannya pun sudah begitu acak tak lagi berbentuk. Nyeri fisik dan batin tengah dirasakannya begitu mendalam.

Axton yang berada diatas benar-benar tak perduli. Lelaki itu terus saja menggagahi si gadis periang hingga benar-benar puas. Bahkan Metta sampai kehilangan kesadaran pun Axton tak perduli. Malah rasa bangga memuncak dalam dirinya saat aksinya kembali terlaksanakan. Mematahkan siapa yang sudah mengganggu diirinya.

Setelah dirasa cukup dan puas dalam segala segi. Axton menghentikan siksaannya. Pakaian yang tadi berserakan dilantai kembali digunakan. Matanya menatap rendah pada tubuh Metta yang bisa dibilang tidak baik-baik saja. Smirknya kembali keluar sebelum lelaki itu memilih untuk pergi meninggalkan Metta yang sudah tak sadarkan diri.

Siapa sangka ruangan nan luas itu nantinya akan menjadi saksi untuk kelangsungan kehidupan dua manusia yang memiliki amarah dan dendam pada diri masing-masing itu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel