Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

CDIM~03

"Kalian siapa?!" Tanya Metta sedikit takut saat melihat 2 orang pria berbadan kekar menghadang sepedanya yang tengah melaju. Sial! Mana gang ini terkenal sepi lagi. Kenapa juga tadi dirinya memilih jalan ini, kan berabe. "Eh, eh, eh, kalian mau apa keparat!" Sentak Metta saat salah satu dari dua pria itu mendekatinya.

"Sepeda gue" Teriak Metta saat sepedanya ditarik paksa dan dibawa menjauh. Metta kesal, dengan cepat dirinya berbalik berniat berlari dengan kencang. "Waw" Dirinya terkesiap saat ingin berbalik ternyata sudah ada dua orang lagi dibelakangnya.

"Kalian mau apa hah?! Jangan macam-macam" Seru Metta berada ditengah-tengah dan merentangkan kedua tangannya seakan memberi intruksi untuk menyuruh ketiga manusia tadi berhenti melangkah. Ralat, empat karena yang tadi membawa sepedanya sudah kembali.

"Kami tidak berniat jahat. Anda menurut untuk ikut dengan kami maka anda kami yakini akan baik-baik saja" Metta melotot. Perbincangan preman macam apa itu. Preman? Metta sedikit tak yakin sih mengakui mereka preman. Karena penampilan mereka itu cukup rapi dengan jas dan celana bahan yang terlihat disetrika hingga benar-benar licin.

"Gue engga mau ikut kalian. Siapa kalian coba gue harus ikut" Tolak Metta. Wajahnya saja terlihat berani. Padahal dengkul berlapis jeans dibawah sana sudah bergetar. Bahkan jari-jari kaki dibalik sepatunya sudah bergerak gelisah.

"Sulit sekali gadis ini. Mengapa juga Bos berkata jangan bermain kasar" Mata Metta membola saat mendengar bisikan salah satu pria itu. "Heh! Siapa Bos yang anda maksud Tuan?" Tanya Metta berang. Ternyata benar ini bukan preman, tapi orang-orang suruhan.

"Anda tidak perlu tau Nona. Yang sekarang anda harus lakukan hanya menurut dan mengikuti kami, maka semuanya akan selesai" Metta mendengus dan mengepal erat tangannya. "Engga! Gimana kalau nanti kalian perkosa saya. Terus kalian bunuh saya. Terus kalian mutilasi saya dan dibuang ke laut. Engga! Saya engga mau. Kasian tau Adik saya dirumah tak ada yang jagain lagi" Keempat lelaki itu saling pandang walau mata mereka ditutup dengan kacamata hitam. Kenapa juga gadis ini bisa berfikir aneh dan mengeluarkan curhatan.

"Tidak. Itu tidak benar. Kami orang baik dan akan berperilaku baik dengan orang-orang yang bisa menurut" Salah satu dari mereka masih berusaha sabar menghadapi Metta. Kasian juga kalau gadis sekecil itu harus dikasari.

"Engga! Gue engga mau. Minggir, biarin gue pergi atau gue teriak" Sebenarnya itu kalimat yang sedari tadi ingin Metta lontarkan. Tapi sayang, mau teriak dengan pengeras suara pun tak ada yang mendengarnya karena ini jalanan yang jauh dari keramian. "Teriak saja kalau berani. Toh tak bakal ada yang akan mendengarmu" Kan benar. Mereka saja tahu kalau disana tak ada orang.

"Gini deh, biar sama-sama enak. Bagaimana kalau kita kerja sama. Gue bakal ikut kalian, tapi kalian harus kasih tahu dulu siapa yang menyuruh kalian" Keempat pria itu kembali saling pandang. Mereka berfikir gadis yang terlihat seperti remaja itu akan bodoh dan penurut. Tapi ternyata pintar juga. "Eh, eh, lo mau ap-mpphh.. Mmpphh" Metta tak bisa lagi bersuara saat salah satu pria itu maju dan mengeluarkan sapu tangan yang sudah diberi obat bius. Metta juga sudah tak sadarkan diri karena hidungnya ditutup dengan sapu tangan itu.

"Kenapa juga engga dari tadi sih. Muak juga ngeladenin bocah banyak cerita gini. Sia-sia saja waktu kita terbuang banyak" Gerutu salah satu dari 4 pria tadi. Mereka, lebih tempatnya satu pria yang menggendong tubuh Metta yang kelewat ringan itu membawa tubuh gadis itu pada mobil yang mereka gunakan tadi.

~#~

Tok.. Tok...

"Ye sebentar" Ara yang merasa pintu utama rumahnya diketuk berjalan keluar dari kamar. "Ada apa ya Pak?" Tanya gadis itu saat melihat seorang kurir bediri didepan pintu rumahnya. "Ini Nona, ada kiriman atas nama Adhita Arasely Mashel. Apakah benar anda orangnya?" Ara mengangguk ragu. "Namanya sih benar Pak. Tapi seingat saya, saya tidak ada pesan apa-apa" Terang ara polos.

"Tapi ini benar alamat dan atas nama Nona. Tolong diterima dan tanda tangannya Nona" Ara masih dengan kebingungannya mengambil amplop dan pulpen yang disodorkan. Setelah membubuhi tanda tangan, kurir tadi pergi dan Ara kembali menutup pintu rumahnya.

"Dari siapa ya kira-kira" Gumam Ara membolak balik amplop ditangannya. Memang sih untuk namanya tertera disana. Tapi siapa pengirimnya kenapa tak ada tertulis. Aneh, tapi rasa penasaran juga membuncah dalam dirinya.

Amplop tadi diletakkan pada meja dan bokongnya didaratkan pada sofa. 5 menit gadis itu tak ada melakukan hal apapun selain menatap amplop yang tadi diterimanya. "Buka aja kali ya" Gumamnya kembali. Tangannya mengambil amplop tadi dan perlahan membuka.

Mata Ara melotot bahkan kalau mudah terlepas bola mata itu sudah melompat keluar. "Gila, duit siapa ini sebanyak ini" Hebohnya dengan gemetaran. Didalam amplop itu terdapat beberapa ikat uang seratus ribuan dengan jumlah yang Ara tak tahu berapa. Dan ada juga satu amplop didalamnya. Ara bergegas mengeluarkan amplop itu. Siapa tau kan dirinya bisa mengetahui seluk beluk asal dari uang gepokan itu.

'Dear Ara,

Hai Adik tersayangnya Kakak. Maaf ya kalau Kakak engga bisa ngasih tau kamu secara langsung. Jadi gini, Kakak disuruh Bos untuk menjalankan satu misi gitu. Misinya kamu engga perlu tau apa. Yang penting Kakak harus pergi ke satu daerah yang benar-benar terpencil sampai-sampai disana tuh engga ada sinyal. Jadi Kakak engga bisa hubungi kamu.

Misi ini buru-buru banget sampai kakak engga bisa mampir ke rumah lagi. Jadi ini Kakak kasih kamu uang untuk biaya kehidupan kamu sampai nanti Kakak balik. Belum tau pasti sih kapan. Tapi mungkin uang itu cukup untuk kelangsungan hidup kamu.

Tenang, kamu jangan mikir macam-macam ya. Itu tuh uang yang dikasih sama Bos Kakak sebagai ganti Kakak harus pergi jalankan misinya. Ohiya, didalam amplop itu juga ada berkas-berkas. Kamu masih ingat engga cita-cita kamu mau kuliah diluar negeri? Nah, disana ada beberapa berkas formulir penerimaan mahasiswa baru. Nanti kamu isi aja apa yang kamu pilih. 2 hari lagi bakal ada temen Kakak yang ngambilnya dan ngirim langsung.

Udah dulu ya Adik manis. Kakak lagi ada kerjaan. Ingat! Belajar yang rajin dan bayar uang sekolahnya biar kamu bisa ikut ujian akhir. Masa iya udah kaya engga bisa bayar uang ujian.

Jaga diri baik-baik biar bisa banggain Kakak dan orang tua kita yang udah tenang disurga sana. Uangnya dimasukin bank aja kalau kamu takut pegangnya. Dirumah aja kalau tak ada keperluan.

Bye kesayangan Kak Metta, love you'

Begitulah kira-kira isi suratnya. Tanpa sadar air mata Ara berlinang. Tangannya memeluk erat surat itu sebelum kembali membuka amplop itu. Ternyata benar, ada beberapa lembar formulir disana. Ara langsung membaca dengan seksama satu persatu.

~#~

"Aneh, masa iya sih Bos Metta tiba-tiba pergi tanpa kasih tau kita. Kan dia tadi baru aja selesai kerja. Masa sampai harus ngabarin lewat surat gini" Zidny berceloteh saat membaca surat yang tadi dibawakan Orland. Si Bos besar juga mengangguk setuju. "Tapi bisa aja sih memang ada yang darurat" Timpal satu karyawan lainnya.

"Tapi perasaan belakangan ini Metta baisa-biasa aja tuh. Engga ada yang aneh-aneh juga" Satu lainnya bersuara. "Iya. Dia juga tadi masih riang-riang aja kaya engga ada beban" Yang lain ikut menimpali.

Suasana restauran sudah sepi karena jam tutup sudah tiba setengah jam lalu. Tapi saat mereka tengah bersih-bersih tadi ada kurir yang datang dan menyerahkan satu surat dari Metta yang ditujukan untuk Orland. Dan isinya lumayan mengejutkan, surat pengunduran diri dari gadis itu. Alasannya sih Metta dan sang Adik harus pindah ke kota lain karena ada yang harus diurus.

"Sudah-sudah. Kita bhanya bisa mendo'akan agar Metta baik-baik saja ditempat barunya" Orland menengahi agar tak ada spesifikulasi-spesifokulasi lagi yang akan tercetus dari para karyawannya.

Dilain tempat. Di bar tempat Metta kerja pun tak jauh berbeda. Mereka mendapati satu surat yang sama dari gadis itu. Rasa aneh juga tercipta dari rekan-rekan Metta ditempat itu. Wajar sih, karena dimanapun berada Metta akan disambut dengan baik karena sifat gadis itu yang cukup baik.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel