CDIM~02
BRUKK
"Shit!" Umpatan kasar itu menggema diseluruh penjuru lantai dasar perusahaan. Seluruh manusia yang tengah berada disana sontak memandang pada pusat keributan. Hampir semua manusia disana mendelik tak percaya dengan apa yang tengah terjadi. Bos besar, CEO Eylarnd Company tengah murka. Para bodyguard yang berada disekelilingnya panik.
"Siapa kau sialan?!" Berang sang CEO benar-benar mendidih. Pakaian mahalnya kotor oleh tumpahan makanan yang tadi dibawa oleh si biang kerok. Gadis berseragam salah satu restauran yang menimbulkan kesalahan menunduk takut. Benar-benar takut sampai tubuhnya bergetar.
"Mengapa manusia seceroboh ini bisa berada diperusahaan ini keparat!" Wajah sang CEO mengetat dengan warna merah menjalar hingga bagian telinga. "Bawa dia jauh dari perusahaan saya!" Perintah penuh ketegasan itu terlontar. Dua bodyguard yang mengelilinya langsung bergegas menarik gadis yang menjadi dalang dari amarah sang CEO.
Mahveen Axton Eylarnd, lelaki 25 tahun yang kerap disapa Axton. Dingin, kejam, arogan, bossy mendarah daging menjadi sifatnya. Tapi entah mengapa lelaki itu malah gencar menjadi idaman gadis-gadis diluar sana. Ya, mungkin karena ketampanannya yang turun temurun. Rahang tegas, tatapan tajam nan menghunus. Hidung bengir, alis tebal. Tubuh gagah dengan otot-otot yang sedikit menonjol dibalik balutan jas yang selalu melekat ditubuhnya. Tinggi 180cm. Rambut yang selalu tertata rapi berwarna hitam pekat.
Lelaki pemilik prinsip "Siapa yang mencari masalah sama saja tengah mencari mati" itu lumayan menjadi lawan yang mengerikan didunia pembisnis. Walau usianya masih bisa dibilang cukup muda. Namu lelaki itu bisa membuktikan kalau dirinya mampu meneruskan perusahaan peninggalan kedua orang tuanya.
"Apa yang kalian lihat sialan! Balik ke pekerjaan masing-masing" Berang Axton saat dirinya sadar tengah menjadi bahan tontonan. Para karyawan yang tertangkap basah berhamburan pada pekerjaan masing-masing karena takut semakin mengundang amarah sang CEO.
Axton yang masih diliputi amarah kembali mengambil langkah lebar menuju lift khusus dirinya agar bisa segera sampai ke ruangannya dan bisa mengganti pakaian yang sudah rusak itu. Para bodyguard masih setia mengawal lelaki itu.
"Ih, sombong banget sih. Kan tadi engga sengaja itu si Zeira" Dumel salah satu gadis didepan pintu lift yang tertutup disudut lorong khusus lift berada. Metta, sang gadis yang merasa geram karena salah satu rekan kerjanya menjadi lampiasan amarah si lelaki yang tadi menjadi bahan tontonan. Lelaki itu orang yang sama dengan orang yang tadi dilihatnya saat didepan. Metta memang melihat kejadian keributan tadi dari mula awal. Dikiranya tampan terus baik, ternyata hanya tampan tanpa baik.
Tanpa Metta sadari. Orang yang menjadi bahan gerutuannya mendengar dengan baik perkataan gadis itu walau jarah mereka lumayan jauh. Mata yang berada dibalik kacamata hitam itu sedikit melirik ke arah sang gadis. Satu smirk mematikan terpatri dibibirnya.
~#~
"Gue engga mau tau. Dia harus ada didepan gue malam ini" Seorang lelaki yang mendengar nada penuh perintah itu menarik nafas dalam sebelum dihempas kasar. Bart Denzel Ackerley, asisten pribadi CEO diperusahaan Eylarnd Company yang tak lain adalah asisten pribadi Axton. Lelaki yang biasa disapa Bart itu adalah teman dekat Axton dimasa SMA dulu. Karena kepintaran dan memiliki rasa tanggung jawab yang cukup baik itu membuat Axton yakin untuk menerima Bart menjadi tangan kanannya.
Ramah, murah senyum, baik, sopan, itulah sifat Bart yang banyak disenangi orang lain. Berbanding terbalik dengan Axton. Bart memiliki tinggi yang sama dengan Axton. Wajahnya lebih kalem dan teduh dari lelaki dingin itu.
"Tapi Axton, lo buat apa sih nyuruh gue buat nyari tuh cewek" Bart sedikit kesal. Matanya fokus memandang layar laptop yang berada diatas meja milik Axton. Gambar dari rekaman CCTV bagian lorong lift terpampang disana. Rekaman itu berhenti tepat saat menampilkan gambar satu gadis yang menggunakan seragam restauran tempat mereka memesan makanan untuk meeting tadi. Bart ingat karena tadi saat mengecek ruang meeting dirinya sempat berpas-pas dengan karyawan yang restauran itu.
Axton singgah sananya kembali menerbitkan smirkmya. "Lo engga perlu tau. Yang penting keinginan gue tercapai entar malam" Bart kembali berdecak. Inilah yang tidak disukainya dari Axton. Terlalu bossy dan penuh rahasia. "Nanti gue kerjain. Ini tolong ditanda tangani dulu. Entar gue ambil, permisi" Kadang memang mereka kalau sedang bersama jarang menggunakan panggilan Bos dan lainnya.
Sepeninggalan Bart, Axton tak langsung menandatangi apa yang diminta lelaki itu. Axton malah sibuk dengan rencana-rencana licik yang terpatri didalan isi kepalanya. Satu, dua rencana sudah disusunnya dengan rapi untuk nanti malam. "Tunggu saja permainanku tikus kecil" Gumamnya kembali menyunggingkan senyuman mematikan.
~#~
Para pekerja bagian delivery berdiri bersebelahan sambil menunduk takut. Tak ada yang berani mengangkat pandang sedikit pun termasuk Metta, si gadis periang. Ruangan Bos besar yang biasa terasa mengayomi mendadak berubah suhu menjadi panas dan mencekam.
Sudah lebih dari 5 kali terdengar helaan nafas dari Orland yang berdiri bersandar didepan mejanya. Ini pekara masalah salah satu karyawan yang tak sengaja menabrak Bos besar diperusahaan ternama yang terjadi siang tadi.
"Apa ada yang bisa menceritakan bagaimana kronologi sebenarnya?" Orland bersuara setelah merasa emosinya tak lagi mencapai ubun-ubun. Siapa juga yang tak emosi saat mendengar salah satu karyawannya berurusan dengan CEO disalah satu perusahaan terbesar. Mana dampak yang dibawa terlalu merugikan lagi.
Kelima manusia didepan masih terus menunduk tanpa ada yang berani angkat bicara termasuk Metta. Orland kembali menghela nafas. Dirinya yakin tak ada yang akan angkat bicara kalau tak dipancing. "Metta" Si polos yang dipanggil tersentak. Kepalanya terangkat dan sedikit cengengesan. "Coba jelaskan" Pinta Orland terdengar tegas namun tak menghunus.
Metta memasang wajah serius. "Jadi sebenarnya tuh Bos si Zindy mah engga salah. Dia jalannya bener kok. Tapi itu aja tuh si CEO jalannya suka-suka. Jadi Zindy yang memang sedikit terburu-buru ditabraknya. Eh maksudnya gini Bos, waktu Zindy lewat tu CEO juga maju. Jadi ya gitu deh. Kan tu manusia seram jalannya kelewat lebar, jadi engga bisa terhindar deh" Jujur saja keempat rekan Metta ingin sekali terbahak saat melirik Metta yang menjelaskan. Gadis itu menjelaskan dengan begitu semangat hingga tangannya ikut memperagakan.
Bos besar pun yang tadi berapi-api merasa reda emosinya melihat si polos. "Baik, kalau begitu kalian tidak saya kasih hukuman yang berat. Bagaimanapun disini terjadi kesalah saat kalian yang bekerja hingga perusahaan itu yang termasuk langganan direstauran kita memutuskan untuk tidak lagi memesan apapun dari sini. Jadi sebagai dispensasinya gaji kalian saya potong 200.000 untuk bulan ini" Semua tercengan. Bukan masalah gaji dipotong. Tapi masalah pemutusan kerja sama.
Zindy yang bisa disebut sebagai dalang memasang wajah bersalah. "Bos maafkan saya yang tidak hati-hati. Kalau Bos mau Bos bisa kok hukum saya yang berat" Orland kembali menghela nafas panjang. "Tidak perlu. Sekarang kalian bisa kembali pada pekerjaan masing-masing" Satu persatu dari kelima pekerja itu meninggalkan ruangan Orland.
Setelah semuanya berada sedikit jauh jari ruangan sang Bos, Zindy menahan keempat rekannya. "Ada apa Zin?" Tanya Metta. Zindy kembali memasang wajah sedih. "Maafin aku ya. Gara-gara aku kalian kena imbasnya. Bagaimana kalau gaji kalian yang dipotong itu aku gantiin nanti" Keempat manusia didepan saling pandang dan tersenyum. Metta menoleh pada Zindy lebih dulu. "Engga usah Zindy. Lagian kita fine-fine aja kalau cuma 200. Kecuali kalau engga gajian, baru deh kita musuhin kamu. Hahaha...." Mereka semua ikut tertawa dan saling berpelukan.
