CDIM~01
"Kak, pihak sekolah menanyakanku kembali tentang uang sekolah yang nunggak. Kalau aku tak membayarnya, aku divonis tidak bisa mengikuti ujian akhir" Baru saja menginjakkan kaki dipintu utama. Bukannya disambut dengan kehangatan malah disambut dengan masalah uang, uang dan uang lagi.
"Hufft" Gadis yang tadi langkahnya sempat terhenti dipintu masuk menghela nafas sebelum kembali melanjutkan langkahnya mendekati sang adik yang duduk disatu-satunya sofa diruang tamu mereka. Bokongnya didaratkan tepat disebelah sang adik yang memasang wajah sendu.
"Ada dikasih waktu tidak?" Tanya gadis itu begitu lembut. Tangannya sudah bergerak mengelus rambut sepunggung sang adik. Yang ditanya mengangguk "Tiga hari dari sekarang" Gadis tadi kembali menghela nafas tanpa sadar. Tapi dengan cepat senyumnya dilebarkan. "Yaudah, besok atau lusa uangnya Kakak kasih. Sekarang kamu tidur ya. Jangan lupa berdo'a sebelum tidur" Si Adik mengangguk dan berlalu menuju kamarnya sebelum tak lupa untuk meninggalkan satu kecupan dipipi sang Kakak. "Good night Kak" Si gadis tersenyum.
Setelah sang Adik tak terlihat lagi. Sang gadis mengusap wajah kasar dan berkali-kali menghela nafas lelah. Rambutnya disugar kebelakang dan sedikit diacak. Poni yang panjangnya sedikit dibawah alis itu itu acak-acakan. "Dimana lagi gue bisa dapatin uang" Gumamnya menggigit kuku ibu jarinya. Tubuhnya sedikit dicondongkan kedepan dengan kedua siku yang bertumpu dikedua lututnya. Wajahnya dimasukkan kedalam telapak tangan yang saling menempel. Isi kepalanya benar-benar pusing dan terasa ingin meledak.
Caera Mettashy Awziby, gadis 19 tahun yang kerap disapa Metta. Pembawaan sehari-harinya begitu periang. Memiliki rambut sebahu berwarna sedikit kecoklatan, dengan poni sedikit dibawah alis. Kulit sawo matang. Tinggi 157cm. Mata bulat, bulu mata nan lentik dan alis sedikit tebal. Kalau dipandang dengan lekat, netranya tampak berwarna abu gelap. Bibir bagian atasnya lebih tipis dari pada bibir bawah yang berwarna chery. Hidungnya tak mancung dan tak juga pesek.
Metta hanya tinggal berdua dengan sang Adik dirumah kumuh pinggir kota. Adhita Arasely Mashel atau biasa dipanggil Ara. Sifat Ara sedikit berbeda dengan Metta. Gadis itu sedikit lebih kalem dan murah senyum. Usianya baru menginjak 18 tahun 3 hari lalu. Gadis itu masih mengeyam pendidikan semester akhir disalah satu SMA dikota itu.
Banyak orang berkata Ara lebih cantik dari pada Metta. Wajar, bahkan Metta membenarkan opini tersebut. Ara tumbuh menjadi gadis yang memiliki kulit berwarna putih bersih. Wajahnya lebih ayu dengan mata sedikit sipit. Alisnya benar-benar tebal dengan bulu mata lentik nan panjang. Rambutnya dibiarkan panjang sepunggung dengan warna hitam pekat. Bibirnya tipisnya tampak menggoda dengan warna delima. Pipinya sedikit chubby dengan hidung mancung. Urusan tinggi, Ara lebih tinggi 3cm dari sang Kakak.
Kedua orang tua mereka meninggal dunia setahun yang lalu tepat saat Metta merayakan kelulusannya. Kecelakaan beruntun yang mampu merenggut nyawa pasangan suami istri itu. Jelas saja Metta dan Ara syok. 2 bulan mereka harus larut dalam kesedihan.
Tapi Metta dengan cepat sadar untuk bangkit dari keterpurukan mereka. Hidup sederhana dan penuh kecupukan sejak dulu membuat gadis itu sadar kalau dirinya sekarang harus matia-matian bekerja keras untuk kehidupannya dan sang Adik. Tak ada satupun keluarga yang mereka miliki. Hanya sedikit bantuan dari para tetangga yang membantu mereka menjalankan kelangsungan hidup 2 bulan itu.
Harta yang ditinggalkan orang tua mereka ya hanya rumah petak dipinggir kota ini. Ruangannya pun terbatas. Dua kamar kecil, satu ruang tamu yang langsung terhubung dengan dapur. 1 kamar mandi kecil dibagian belakang.
Sejak saat itu Metta mencari pekerjaan kesana kemari sampai akhirnya gadis itu diterima menjadi salah pelayan restauran. Gajinya lumayan dengan kerja dari pukul 8 pagi hingga pukul 4 sore. Karena merasa memiliki waktu yang masih lumayan banyak. Metta memutuskan untuk mengambil kerja menjadi pelayan disalah satu bar ternama, salah satu temannya yang menyarankan. Metta sedikit tertarik karena gajinya yang bisa dibilang banyak. Wajar, yang mengunjungi tempat itu hanyalah orang-orang dari kelas atas saja. Pekerjaan juga tak berat. Mengantarkan minuman yang dipesan. Waktu kerjanya dari pukul 6 hingga pukul 12 malam.
"Apa gue pinjam ke bos aja ya. Kan seminggu lagi juga waktunya gajian dibar" Senyum cerah terbit dibibir Metta. Kepenatan dan kepusingannya tadi langsung enyah entah kemana. Dengan langkah girang gadis itu mengayunkan kakinya menuju kamar yang tepat bersebelahan dengan kamar sang Adik. Membersihkan tubuh dan istirahat adalah hal yang paling dibutuhkan Metta saat ini setelah waktu sehariannya dihabiskan untuk bekerja.
~#~
"Selamat pagi Pak Bos" Sapa Metta girang menyambut kedatangan sang pemilik restauran tempatnya bekerja. Pria paruh baya itu tersenyum. "Pagi juga. Girang banget keliatannya kamu hari ini" Seru Lelaki itu, Orland namanya. "Si Bapak bisa aja. Kan saya selalu girang kalau bekerja. Silahkan masuk Pak" Orland berlalu menuju ruangannya dengan sedikit terkikik melihat tingkah salah satu pelayannya.
"Lagu-lagunya lagi ada yang nyusun rencana cantik nih" Metta terkekeh saat salah satu teman kerjanya menyindir dirinya. "Jelas dong. Kamu mah peka banget sama aku" Seru Metta melanjutkan kegiatan mengelap meja sebelum para pelanggan nanti singgah ke sana. "Apa tuh, pingin tau dong" Zindy, salah satu teman dekatnya direstauran tersebut kembali bertanya. "Ah kamu mah kepoan. Dadah, aku mau kebelakang dulu" Metta melambaikan tangannya berlalu menuju dapur. Zindy menggeleng melihat tingkah Metta yang tak pernah berubah.
"Metta, dipanggil bos noh. Katanya penting" Metta yang tengah mencuci tangannya menoleh ke arah pintu masuk dapur dan menyerngit. "Ohokey" Serunya. Tangan yang tadi masih basah dikeringkan pada alat pengering yang tersedia didinding wastafel. Kaki pendeknya mengayun dengan riang menuju ruangan bos dilantai 3.
Tok.. Tok..
"Masuk" Sahutan dari dalam memberi izin untuk Metta memutar hendel pintu. "Eh Metta, silahkan duduk" Pak Orland menunjukkan kursi yang ada disebrang mejanya. Dengan penuh sopan Metta duduk disana. "Maaf, ada apa ya Bapak memanggil saya kemari" Ya walau sedekat apapun dengan sang Bos. Metta tetaplah gadis yang takut saat dipanggil dengan pria itu. Wajar dong, Bos loh yang manggil. Dipecat pasti hal yang langsung bersarang diotak cantiknya. Jelas Metta takut karena dia masih butuh uang disini.
"Kenapa wajah kamu tegang banget sih Metta" Tegur Orland sedikit terkikik melihat raut si karyawan. Metta tersenyum kikuk. "Takut Bos" Cicitnya jujur. Jari-jarinya dibawah meja sana saling berlomba untuk memilin ujung seragam yang digunakan. Perkataan Metta tadi langsung mengundang tawa Orland yang tak bisa ditahan. "Kamu ini ada-ada aja sih. Memangnya saya makan orang apa" Ujar Orland setelah meredakan tawanya yang mampu membuat perutnya keram. Metta cengengesan ditempatnya.
"Ekhem" Orland berdehem untuk menetralkan dirinya. "Ini serius ya. Lelah saya tertawa dari tadi" Metta langsung mengangguk. "Jadi gini. Nanti siang restauran kita mendapatkan pesanan yang lumayan banyak untuk meeting disalah satu perusahaan ternama. Dan pihak delivery berkata kekurangan 1 orang untuk membantu mereka disana nanti. Jadi karena itu saya memanggil kamu kemari" Alis Metta menukik. Jujur dirinya tak paham. Metta itu bisa dibilang sedikit lola.
Orland mengehela nafas lelah. Dirinya tahu pasti Metta tak mengerti dengan apa yang dijelaskannya. Kadang dirinya bingung, kenapa gadis didepannya itu memiliki daya tangkap yang rendah namun saat melakukan pekerjaan begitu gesit dan bagus. "Metta. Intinya nanti sekitar jam 11 kamu ikut pihak delivery ke kantor yang sudah memesan makanan direstauran kita" Metta mengangguk lamban. "Siap Bos" Serunya berusaha menampilkan wajah seakan-akan mengerti.
Orland mengendus. "Sudah-sudah, sana kamu balik kerja. Pusing saya liat kamu lama-lama kalau lagi lola" Metta meringis dan sedikit terkekeh sebelum berpamitan meninggalkan ruangan sang Bos.
"Wahhh.. Besar banget kantornya. Ini kantor apa rusun" Metta berkacak pinggang terkagum melihat bangungan bertingkat nan tinggi didepannya. Matanya turun melihat penampilannya. Jeans panjang hitam, kaos lengan pendek hitam dengan bagian dada tertera nama restauran tempatnya mencari nafkah. "Kira-kira gadis kaya gue bisa engga ya kerja ditempat begini. Kan lumayan, pasti gajinya besar" Gadis itu terkikik dengan perkataannya sendiri.
Metta memutar tubuhnya 360°. "Ck. Mana sih mereka. Kata Pak Bos jam 11. Tau gitu tadi gue ngaret juga" Dumelnya kesal. Gadis itu menghentak-hentak kakinya kesal dan berjalan lebih dalam. Antisipasi, dirinya tak mau tertabrak karena tadi berdiri tepat ditengah halaman kantor. Kan bahaya kalau ada mobil yang lewat. Dirinya belum siap mati, masih ada Ara yang membutuhkannya.
Citt...
Metta terkesiap. Tubuhnya berbalik dengan cepat saat mendengar suara mobil berhenti dengan keras. Matanya membola. Disana, tepatnya didepan pintu masuk baru saja berhenti 3 mobil dengan merk ternama. Mengkilap dan mahal pastinya. Beberapa pria berjas hitam nan rapi keluar dari dua mobil paling depan dan belakang. Pria-pria itu memakai kacamata hitam dan satu alat disebelah telinga masing-masing. Tubuhnya terlihat kekar dibalik jas yang dikenakan.
Salah satu pria berjas itu membukakan pintu untuk penumpang dimobil bagian tengah. Mata Metta kembali membola saat melihat seorang lelaki yang baru saja keluar dari mobil tersebut. Gagah dan tampan mampu membuat Metta tercengang. Tubuhnya gagah dibalut jas berwarna maroon dengan kacamata hitam setia bertengger dihidung bengirnya.
Para pria berjas hitam tadi langsung membentuk jajaran dibagian kanan kiri lelaki berjas maroon. Sepertinya itu petinggi nan penting. Keliatan sekali kemana-mana harus didampingi oleh bodyguard.
"Metta" Metta terlonjak kaget saat seseorang memukul pundaknya dari belakang. Tangannya bertengger pada bagian dada saat merasakan jantungnya didalam sana menggila. "Heh, malah bengong" Metta menoleh. Ternyata disana salah satu pegawai bagian delivery berdiri. "Maaf" Cicit Metta padahal tak salah sama sekali. "Udah ayo masuk. Yang lain udah duluan tau. Kamu malah nengkreng disini" Rekan Metta langsung menggandengnya memasuki gedung tinggi itu.
