Setelah pindah
Terhitung sudah lima hari, Bunga berada di Jakarta dan tinggal di rumah majikan Ibunya. Selama tinggal di rumah keluarga Jaya Diningrat Bunga sangat rajin membantu sang Ibu untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, sembari menunggu mendaftar kuliah di kampus yang dia inginkan.
Sebenarnya sudah ada beberapa kampus yang direkomendasikan oleh Pak Anggoro kepada Bunga. Namun Bunga masih belum menentukan pilihannya, dan ingin melihat secara langsung kampus yang akan menjadi tempat mencarinya ilmu nanti.
Namun yang membuat Bunga heran adalah rumah yang begitu besar ini hanya dihuni oleh dua orang suami istri dan para pekerjanya saja. Sedangkan di mana anak dari Pak Anggoro dan Ibu Nirmala selama ini? Karena Ibunya pernah bercerita jika kedua majikan mereka sebenarnya memiliki seorang anak laki-laki yang sudah berusia dewasa.
Bahkan itu diperkuat dengan adanya foto keluarga berukuran besar yang menempel di dinding ruang tamu. Bunga baru mengetahuinya setelah 2 hari tinggal di rumah besar ini. Ketika dia sedang membersihkan ruangan tersebut. Karena tidak sembarangan orang bisa masuk ke dalam ruang tamu keluarga Jaya Diningrat apalagi jika dia hanya seorang pembantu. Sedangkan jalan khusus untuk para pembantu sebagai akses keluar masuk rumah ini ada di samping dan belakang rumah.
"Bunga, bantu Ibu mengiris wortel ini ya, Nak. Ibu harus mengerjakan pekerjaan lain!" seru Bi Zaenab setelah melihat kedatangan putrinya ke dalam dapur.
Gadis itu terlihat membawa alat pel di tangannya. Sebelum kemudian dia menyimpan benda tersebut ke tempatnya semula.
"Pekerjaan kamu sudah selesai 'kan, Bunga?!" imbuh sang Ibu.
Bi Zaenab tampak sibuk dengan banyaknya pekerjaan yang ada di dapur. Sama seperti teman seprofesinya yang lain. Tidak ada yang terlihat menganggur, mereka semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Rupanya akan ada jamuan penting yang akan dilakukan di kediaman keluarga Jaya Diningrat.
"Sudah Bu!"
Bunga pun mendekat ke arah Bi Zaenab. Kemudian mengambil alih pisau dan wortel yang sudah siap untuk dipotong itu dari tangan Ibunya.
"Memang mau ada acara apa sih, Buk? Kelihatannya sibuk banget dari kemarin!" tanya Bunga penasaran karena melihat Ibunya masak lebih banyak dari biasanya.
"Calon besan juragan mau datang berkunjung, Bunga. Jadi Ibu yang harus menyiapkan makanan buat mereka!" jawab Ibu Zaenab sambil mengaduk kuah soto di depannya.
"Memang selalu seperti itu ya, Bu?" tanya Bunga lagi.
"Iya, awalnya Ibu Mala memesan dari koki khusus. Tapi ternyata calon besannya lebih menyukai masakan Ibu. Jadinya sekarang Ibu yang harus memasak setiap kali mereka datang berkunjung ke rumah ini," jelas wanita itu.
"Wah berarti masakan Ibu lebih enak daripada koki-koki di luar sana. Buktinya mereka lebih suka makanan Ibu dari pada koki itu!" ucap Bunga bangga.
"Ya tidak juga, Ibu merasa masakan Ibu biasa saja. Cuma mungkin lidah mereka lebih menyukai cita rasa nusantara, sehingga lebih menyukai masakan rumahan yang Ibu buat!" jawab Bi Zaenab.
Wanita itu hanya ingin mengajarkan kepada Bunga apa arti kerendahan hati, agar tidak ada keseombongan di dalam hati putrinya. Bunga terlihat cuma menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti. Sebelum kemudian seorang pembantu lain datang dan berkata-
"Bi Zaenab, juragan muda minta dibuatkan kopi!"
"Iya Nis, sebentar lagi aku buatkan," jawab Ibu Zaenab.
"Bisa nanti minta tolong Bunga saja yang anterin soalnya pekerjaan ku masih belum selesai," ucap perempuan bernama Nisa itu.
"Boleh Mbak Nisa, sekalian biar saya saja yang membuatkan kopinya!" saut Bunga penuh semangat.
"Ya udah makasih ya Bunga. Aku lanjutkan sisa pekerjaan ku dulu."
Perempuan itu pun keluar dari dapur dan meninggalkan Bunga dan Ibunya.
"Letakkan dulu wortelnya, Nduk. Buatkan kopi untuk juragan muda dulu," titah Ibu Zaenab.
"Memang juragan muda ada di sini ya, Buk. Bunga kok nggak pernah lihat dia?" tanya Bunga sembari mengambil panci untuk merebus air.
"Iya memang Den Angger jarang tinggal lama di rumah ini, karena sudah memiliki apartemen sendiri. Jadi beliau hanya sesekali berkunjung untuk menemui juragan besar dan juragan putri," jelas Ibu Zaenab.
"Wah enak ya Bu, jadi orang kaya rumahnya banyak jadi bingung mau pilih tinggal di mana," ucap Bunga yang tampak begitu mengagumi kehidupan keluarga Jaya Diningrat.
"Udah sih bersyukur saja atas semua yang kita punya. Hidup itu sawang sinawang, Nduk. Yang tampak indah di depan belum tentu nyaman dirasakan!" Bi Zaenab memberikan nasehat kepada putrinya.
"Iya, seperti Bunga yang selalu bersyukur, karena punya Ibu dan Nenek hebat seperti kalian!" jawabnya bangga.
***
Bunga tengah membawa baki di tangannya dengan secangkir kopi hitam pesanan sang majikan yang berada di atasnya. Kini, gadis itu sudah berdiri di depan kamar milik anak sang majikan yang jarang ditempati. Dengan sedikit ragu ia pun segera mengetuk pintu bermaterial kayu di hadapannya.
Suara ketukan pintu pun terdengar hingga beberapa kali. Tetapi, Bunga tidak mendengar sahutan apa pun dari dalam kamar. Sehingga dia pun teringat dengan perkataan Ibunya tadi.
"Tadi Ibu bilang kalo nggak ada jawaban suruh langsung masuk dan taruh kopinya di atas meja!" gumamnya pada diri sendiri. Sehingga Bunga memberanikan diri untuk mendorong pintu tersebut agar terbuka.
Perlahan tapi pasti Bunga melangkah masuk lebih dalam ke ruangan bernuansa abu - abu itu untuk segera meletakkan kopi yang dibawanya ke atas nakas, sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh Ibunya tadi. Samar Bunga mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Mungkin juragan muda sedang mandi jadi tidak mendengar dia mengetuk pintu tadi, begitu pikir Bunga. Sebelum kemudian gadis itu bergegas keluar dari kamar anak majikannya.
Setelah menutup pintu kamar tersebut Bunga tidak langsung pergi, gadis itu malah menyandarkan punggungnya di balik pintu.
"Sayang sekali ya kamar segede dan sebagus itu jarang ditempati. Mana bersih, rapi dan wangi lagi. Anak majikan Ibu bener - bener sangat menjaga kebersihan. Pantes Ibu bilang dia tidak suka ada orang yang sembarangan masuk ke dalam kamarnya," ucap Bunga kagum sebelum dia kembali tersadar dan berkata- "Kenapa aku malah asik - asikan di sini? Padahal di belakang masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan. Dasar kau Bunga!"
Bunga menepuk keningnya sendiri merutuki kebodohannya. Sebelum kemudian bergegas kembali ke dapur tempat seharusnya dia berada.
Sedangkan di dalam kamar, Angger baru saja keluar dari kamar mandi. Bahkan ia sempat mendengar suara pintu ditutup. Siapa? Begitu pikirnya. Namun setelah melihat di atas nakas sudah ada secangkir kopi yang masih mengepulkan uap panas, dirinya bisa menebak bahwa yang datang tadi adalah Bi Zaenab, asisten rumah tangga keluarganya.
Sehingga tanpa berpikir lagi, Angger pun segera mengambil kopi tersebut kemudian sedikit menyesapnya karena masih terlalu panas.
Nikmat! Begitulah yang ada di dalam fikiran Angger. Tapi kenapa tidak terasa seperti biasanya? Bahkan terlalu nikmat dari yang biasa Bi Zaenab buatkan.
