Kehormatan yang terenggut
Acara makan malam di kediaman keluarga Jaya Diningrat, untuk menjamu keluarga calon besan mereka terselenggara dengan sangat meriah, karena melibatkan dua keluarga besar dan berpengaruh sekaligus.
Pertemuan itu memang sengaja diadakan untuk membahas rencana pertunangan putra semata wayang Anggoro Jaya Diningrat dan Nirmala Jaya Diningrat, dengan seorang model terkenal yang sudah menjadi kekasih Angger sejak 2 tahun lalu.
Satu jam setelah acara makan malam dibuat, Bapak dan Ibu Jaya Diningrat sudah masuk ke dalam kamar utama. Sedangkan majikan muda langsung pergi dengan calon tunangannya setelah acara selesai. Dan sekarang tinggal para pekerja yang tampak sibuk berkutat dengan pekerjaan mereka masing-masing, selepas acara.
Mereka bergerak cepat membersihkan ruang makan agar terlihat bersih seperti sedia kala. Sebagian pula ada yang sedang berjibaku dengan pekerjaannya di dapur, seperti halnya dengan Bi Zaenab dan juga Bunga.
"Sudah Ibu istirahat saja. Biar Bunga yang cuci semua piringnya!" ucap Bunga kepada Ibunya.
Bunga merasa kasihan melihat Ibunya yang sudah bekerja keras sejak pagi tadi. Sehingga meminta Ibunya agar lekas istirahat. Kini Bunga bisa merasakan sendiri bagaimana sulitnya bekerja untuk mendapatkan uang. Selama tinggal di rumah ini, begitu banyak pelajaran yang Bunga terima dalam menjalani kehidupan.
"Piring - piring kotor itu sangat banyak Nak, biar Ibu membantumu sebentar!" jawab Bi Zaenab karena merasa tidak tega membiarkan putrinya menyelesaikan tugasnya seorang diri.
"Nggak papa Buk, Bunga bisa mengerjakannya sendiri. Wajah Ibu terlihat sudah sangat lelah, sebaiknya Ibu masuk kamar dan tidur. Karena sejak pagi Ibu sudah bekerja keras. Jadi sekarang biar Bunga saja yang meneruskan pekerjaan Ibu!" keukeh Bunga.
Karena desakan putrinya akhirnya Bi Zaenab pun menurut dan masuk ke dalam kamarnya. Tidak dapat dipungkiri jika dirinya sudah sangat lelah akibat bekerja selama seharian ini. Sejak pagi dirinya sudah melakukan pekerjaan yang begitu menguras tenaga. Karena seluruh makanan yang tersaji di acara makan malam tadi adalah hasil masakan Bi Zaenab semua.
Dengan tekun dan penuh hati - hati Bunga mencuci piring - piring kotor tersebut. Gadis itu juga tampak sibuk membersihkan dapur. Sebelum kemudian Nisa masuk dan berkata-
"Ruang depan dan ruang makan sudah bersih, Bunga. Semuanya sudah aku rapikan kembali. Sekarang aku mau istirahat dulu. Kalau kau sudah selesai istirahat juga ya, karena besok masih banyak pekerjaan yang menanti kita."
"Iya Mbak Nisa!"
"Ya sudah aku ke kamar dulu ya!"
Bunga hanya memberikan senyuman tipis sebagai jawaban, sebelum kemudian dirinya melanjutkan apa telah ia kerjakan tadi.
"Huh, akhirnya selesai juga!" desah Bunga merasa lega.
Setelah memastikan semua pekerjaannya beres, Bunga memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya, karena dirinya juga merasa lelah. Di rumah ini Bunga mendapatkan kamar sendiri. Kebetulan ada satu kamar kosong yang memang dikhususkan untuk pembantu. Bunga pun merasa sangat bersyukur, karena dengan begitu dia tidak perlu berdesak - desakan tidur dengan sang Ibu.
Jam di atas dinding sudah menujukan pukul satu dini hari. Namun, Bunga masih belum juga bisa memejamkan matanya. Sehingga ia memutuskan untuk pergi ke dapur dan membuat minuman hangat di sana.
"Teh anget enak kali ya diminum malam - malam begini. Ya sudah aku bikin saja dari pada nggak bisa tidur terus kayak gini!" gumamnya sebelum beranjak dari tempat tidur berukuran single itu.
Rumah besar Jaya Diningrat begitu sunyi dengan pencahayaan temaram, karena beberapa lampu utama banyak yang sudah dimatikan. Karena sudah sangat menghafal dengan letak dan posisi ruangan, Bunga pun tidak mengalami kesulitan untuk berjalan meskipun dalam kondisi pencahayaan minim.
Sesampainya di dapur Bunga langsung menyalakan kompor dan menaruh panci di atasnya untuk merebus air. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya air yang dipanaskan Bunga mendidih. Bunga pun segera menuangkannya ke dalam gelas yang sudah diberi gula dan teh celup sebelumnya. Jemari Bunga tampak lincah mengaduk teh manis yang masih mengepulkan uap panasnya itu. Hingga suara berat seseorang menginterupsi pendengarannya.
"Siapa kau? Kenapa kau berada di dapur rumah ku?!" hardik Angger saat mendapati perempuan asing berada di dalam dapur rumahnya.
Pria itu tampak memicingkan mata karena belum pernah melihat Bunga sebelumnya. Apakah gadis itu seorang penyusup? Begitu pikir Angger.
"Ma-maaf Mas, sa-saya Bunga. Saya ...."
"Mmmpphh ...!"
Belum sempat menyelesaikan penjelasannya, Bunga sudah mendapat serangan mendadak dari Angger. Pria itu tiba-tiba membungkam bibir Bunga dengan ciumannya.
Ciuman yang menggebu dan menuntut itu membuat Bunga tidak berdaya. Apalagi tercium aroma aneh dan menyengat yang menguar dari mulut anak majikannya itu.
"Tolong lepaskan saya, Mas. Jangan melakukan ini kepada saya. Saya mohon!" hibah Bunga di sela ciuman Angger.
Namun telinga Angger seakan menuli dengan terus menjadikan bibir Bunga santapannya. Gadis itu tidak dapat mengelak lagi apalagi tenaga Angger begitu besar menguasai tubuhnya.
"Mmmpphh ... jangan ... tolong lepas 'kan!"
Bunga sudah hampir bisa berlari seandainya saja Angger tidak mendekap tubuhnya dari belakang. Tidak ada cara lain Bunga harus berteriak. Namun baru saja Bunga membuka mulutnya tangan besar Angger sudah terlebih dulu membekapnya.
"Tol ...."
"Jangan berteriak atau aku akan membuat hidupmu sengsara. Sekarang layani aku, tubuhku panas sekali. Jika tidak, aku pasti akan mati!" ucap Angger dengan putus asa. Bunga dapat merasakan bahwa pria di belakangnya sekarang sedang menahan kesakitan. Namun karena apa Bunga juga tidak tahu.
"Tidak Mas saya mohon. Saya tidak mau melakukannya. Tolong lepaskan saya!"
Air mata semakin deras membasahi pipi Bunga. Terlalu banyak meronta membuat pertahanannya semakin melemah. Apalagi dirinya sudah payah akibat pekerjaan yang menumpuk sejak tadi sore. Sehingga membuat Bunga semakin tidak berdaya.
Angger sama sekali tidak menghiraukan permohonan Bunga. Karena di bawah sana sudah ada yang mendesak, meminta untuk segera dituntaskan atau dirinya sendiri yang akan tersiksa. Angger sendiri tidak mengerti apa yang sudah terjadi pada tubuhnya, sehingga bisa menggila seperti ini. Yang ada di benaknya sekarang hanyalah bagaimana dia bisa menyalurkan hasratnya dengan segera.
Angger mengangkat tubuh Bunga untuk dibawa ke atas meja dapur. Di sana Bunga ditidurkan dengan posisi telentang. Pria itu berdiri di antara kedua kaki Bunga yang sengaja ia renggangkan, Angger pun kembali mencium bibir merah alami Bunga. Tangannya juga tidak tinggal diam menjamah apapun yang dirinya inginkan.
Bunga tidak bisa berbuat apa - apa selain pasrah karena gadis itu sudah tidak berdaya. Mulutnya kembali dibekap erat, saat ciuman Angger terlepas dari bibirnya. Hanya buliran air mata yang menjadi saksi bagaimana Bunga membenci keadaannya saat ini.
Krek!
Bunyi kain yang terkoyak menandakan malam ini Bunga akan kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam dirinya. Kehormatan yang selama ini Bunga jaga dirampas tak tersisa oleh anak dari majikan Ibunya sendiri tanpa perikemanusiaan.
Bahkan Angger sama sekali tidak peduli rasa sakit yang Bunga rasakan. Ketika dengan penuh paksa dirinya melakukan penyatuan terhadap Bunga yang masih perawan. Seorang gadis desa lugu yang menjadi korban kebiadaban Angger Jaya Diningrat.
