Kediaman Jaya Diningrat
"Ibuk ...!" panggilnya saat melihat seorang wanita paruh baya menoleh ke sana kemari seperti mencari sesuatu.
"Bunga ...!" balas Bi Zaenab saat sudah menyadari keberadaannya.
Bunga pun berlari ke arah sang Ibu kemudian memeluknya dengan begitu erat. Meluapkan segala kerinduan yang selama ini sudah menumpuk. Setelah sekian lamanya mereka tidak bertemu. Karena jarak yang membentang di antara mereka berdua.
"Bunga kangen Bu?!" ucapnya manja kepada wanita yang telah melahirkannya itu.
"Sudah besar kau rupanya, Nak. Dan kamu terlihat cantik sekali. Ibu juga sangat merindukanmu!" Bi Zaenab memberikan kecupan di selebar wajah putrinya.
Bunga pun memeluk kembali sang Ibu karena masih merasa kangen. "Bunga seneng bisa ketemu Ibu lagi."
Bi Zaenab tersenyum mendengar suara manja putrinya. "Mulai sekarang kita akan tinggal bersama. Jadi kita bisa bertemu setiap hari. Apa kau senang?"
"Iya Bu, Bunga sangat senang karena sekarang Bunga bisa tinggal bareng Ibu."
Selama ini Bunga hanya bisa bertemu dengan Ibunya setahun sekali, saat liburan hari raya karena di waktu itulah Bi Zaenab bisa pulang kampung halaman, karena mendapatkan cuti tahunan dari majikannya.
"Bagaimana kabar Nenek di sana?" tanya Bi Zaenab.
"Seperti biasa, Nenek masih aktif pergi ke sawah untuk membantu para tetangga. Badannya juga masih bugar melebihi teman seusianya. Beliau hanya sesekali mengeluh sakit pinggang," jelas Bunga saat menceritakan bagaimana kondisi Neneknya di desa.
"Alhamdulillah kalau begitu. Ibu senang mendengarnya."
Wanita itu tampak menyelipkan anak rambut putrinya ke belakang telinga. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya, karena sekarang Bi Zaenab tidak perlu lagi tinggal berjauhan dengan Bunga.
"Ya sudah Nduk. Kita pulang ya. Ibu akan mengenalkanmu kepada majikan Ibu yang baik hati itu!" ucap Bi Zaenab sembari menggiring Bunga menuju mobil milik majikannya.
"Itu mobil siapa Buk? Bagus sekali?!" Mata Bunga berbinar senang, saat melihat kendaraan mewah terparkir di depannya.
"Itu mobil majikan Ibu. Mereka yang meminjamkannya, agar bisa Ibu gunakan untuk menjemputmu. Ayo masuk!" ucap Bi Zaenab.
"Ini toh yang namanya Neng Bunga?!" Suara pria dewasa menginterupsi pendengaran kedua perempuan itu.
"Eh Pak Komar. Iya Pak ini kenalkan Bunga putri saya!" jawab Bi Zaenab. "Bunga, salim dulu sama Pak Komar, Nduk!"
"Halo Pak Komar saya Bunga!" Bunga pun mencium punggung tangan pria bernama Komar itu.
"Neng Bunga cantik banget ya. Saya Komar sopir pribadi keluarga Jaya Diningrat!" ucap Pak Komar memperkenalkan diri.
Ketiga orang itupun langsung memasuki mobil dan segera meninggalkan stasiun kereta menuju rumah kediaman keluarga Jaya Diningrat tempat Bi Zaenab bekerja.
Bunga kembali takjub dengan apa yang dialaminya saat ini, karena dirinya masih tak percaya jika dia telah menaiki mobil mewah yang bahkan belum pernah ia rasakan dalam mimpi sekalipun.
Bokong dan punggungnya merasakan kenyamanan saat duduk di atas jok yang terasa lembut dan empuk. Aroma bunga yang menguar dari pengharum mobil sebenarnya telah membuat Bunga mengantuk. Tetapi dia bertahan agar tidak tertidur mengingat pemandangan di luar sangatlah indah. Apalagi saat manik matanya menangkap pemandangan yang menampakkan jejeran gedung - gedung tinggi dan bertingkat yang tidak pernah ada di desanya.
'Ya Tuhan ternyata Jakarta lebih keren dari perkiraan ku!' tuturnya membatin.
Cukup lama mereka berkendara hingga mobil yang dikemudikan oleh Pak Komar memasuki areal perumahan mewah, hunian orang - orang kaya pada umumnya.
Mobil Alphard itu berhenti tepat di pelataran rumah megah, bercat putih dan emas milik keluarga Jaya Diningrat.
Tampak kekaguman yang begitu kentara dari gadis yang bernama Bunga itu saat melihat bangunan di hadapannya.
"MasyaAllah rumahnya bagus banget Buk. Gede kayak istana!" decak kagum Bunga. Sedangkan Bi Zaenab hanya tersenyum maklum melihat tingkah laku putrinya.
"Bagus ya Neng? Bentar lagi Neng Bunga juga tinggal di rumah ini sama Ibuk!" sahut Pak Komar.
"Iya Nduk, sekarang kita masuk dulu ya!" ucap Bi Zaenab.
Bunga pun menganggukkan kepalanya tanda setuju. Namun saat akan mengambil tas besar miliknya, Pak Komar langsung berkata-
"Biar nanti Bapak yang bantu bawa ke dalam Bunga. Kamu masuk dulu saja sama Ibu kamu!" tukas Pak Komar kepada Ibu dan anak itu.
"Makasih Pak Komar!" jawab Bunga dengan raut wajah bahagia.
"Makasih Pak Komar, kalo begitu saya ajak Bunga masuk ke dalam dulu ya!" pamit Bi Zaenab yang hanya diangguki oleh pria itu.
Bi Zaenab membimbing Bunga untuk masuk ke dalam rumah keluarga Jaya Diningrat, melalui pintu samping yang memang khusus untuk para pekerja.
"Kamu istirahat dulu ya, Nduk. Nanti sore Ibu kenalkan sama majikan Ibu. Sekarang Ibu mau ke dapur dulu!" ucap Bi Zaenab setelah mereka tiba di dalam kamar pembantu.
"Baik Bu!"
Setelah kepergian Ibunya, Bunga segera menata baju - baju miliknya ke dalam lemari dengan cukup rapi. Karena Bunga adalah tipe gadis yang sangat menjaga kebersihan dan kerapihan atas ajaran Nenek di desanya dulu.
"Sekarang Nenek lagi apa ya? Belum lama berpisah sama Nenek, ternyata aku sudah kangen," menolognya pada diri sendiri.
Malam harinya Bunga membantu menyiapkan sajian makan malam keluarga Jaya Diningrat. Di saat itulah Bi Zaenab memperkenalkan putri semata wayangnya kepada Tuan dan Nyonya rumah ini.
"Nama kamu siapa, Nak?!" tanya wanita anggun yang tak lain adalah Nyonya rumah ini, Nirmala Jaya Diningrat.
"Bunga Bu!" jawab Bunga sopan.
"Bunga, umur kamu berapa Nak? Sudah lulus SMA 'kan? Ibumu bilang kau berniat kuliah di sini?!" Kali ini suara berat Pak Anggoro yang terdengar menginterupsi.
"Iya Pak, saya sengaja datang ke kota ini karena ingin melanjutkan pendidikan saya. Saya ingin menjadi orang sukses agar bisa mengangkat derajat Ibu dan Nenek," jawab Bunga penuh percaya diri.
"Bagus, masih mudah sudah memiliki cita - cita tinggi. Kau bisa tinggal di sini bersama Ibumu. Dan untuk biaya kuliahmu nanti, saya yang akan menanggungnya. Kebetulan sebentar lagi acara pertunangan Angger dilangsungkan. Kau bisa membantu pekerjaan Ibumu di sini," ucap Pak Anggoro.
"Baik Pak terima kasih banyak!" ucap Bunga tulus.
"Terima kasih banyak juragan!" ucap Bi Zaenab kepada kedua majikannya itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam saat Bunga sudah selesai membersihkan ruang tengah atas inisiatifnya sendiri. Majikannya sudah masuk kamar sejak tadi dan Ibunya juga sudah tidur. Bunga sengaja membersihkan ruangan di waktu malam, agar besok bisa meringankan tugas Ibunya. Bahkan Bunga menunggu sampai Ibunya tertidur dulu. Karena jika tidak, Ibunya pasti akan melarang apa yang sedang dia kerjakan sekarang.
Saat melintasi ruang atas, Bunga tidak sengaja melihat ada pintu terbuka dan Bunga pun memberanikan diri untuk masuk ke dalamnya.
Bunga yang tidak tahu siapa pemilik kamar ini hanya bisa melihat-lihat dan mengagumi isi di dalam ruangan tersebut, sebelum manik matanya menangkap figura besar yang tergantung di atas dinding dengan begitu gagah.
"Foto siapa itu. Tampan sekali?"
