Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Pengalaman baru

"Tidak mau kenapa, Nak? Kau tidak akan pindah ke mana-mana. Kau hanya akan tinggal di kamar suamimu."

Bi Zaenab mengucapkannya dengan penuh kelembutan saat melihat wajah Bunga sudah berubah menjadi ketakutan. Rupanya rasa trauma akibat pemaksaan yang pernah Angger lakukan kepada Bunga, masih membekas dalam ingatan gadis itu hingga saat ini. Sehingga membuat Bunga merasa tidak nyaman jika harus berdekatan dengan seorang Angger. Meski mereka sudah menikah sekalipun.

"Tidak bisakah Bunga tetap tinggal di kamar ini, Bu? Bunga masih ingin bersama Ibu dan Mbak Nisa. Setidaknya malam ini saja," mohon Bunga kepada Ibunya.

Sebenarnya Bi Zaenab merasa tidak tega jika harus memaksa putrinya. Pernikahan ini memang terkesan sangat mendadak, tentu sang putri belum terlalu siap untuk menerimanya. Namun, semuanya sudah terjadi. Kini Bunganya sudah menjadi istri orang lain. Sehingga membuat Bi Zaenab mau tidak mau harus merelakannya. Walau jujur hatinya belum bisa menerima.

Bi Zaenab tampak mengusap lembut kepala putrinya. Dengan penuh rasa kasih sayang dia berusaha untuk membujuk sang putri.

"Nak, Ibu tau ini memang tidak mudah. Tapi sekarang kau sudah menjadi seorang istri. Jadi sudah seharusnya kau menjalankan kewajibanmu dengan baik. Ibu tahu kau pasti bisa melakukannya, seperti janjimu kepada Ibu tadi. Percayalah Ibu akan terus mendoakanmu."

Bi Zaenab berusaha untuk memberikan pengertian kepada putrinya.

"Tapi Bu, Bunga belum siap. Bunga ...."

Gadis itu tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya. Hanya air mata yang dapat menggambarkan perasaannya saat ini. Tapi Bunga tidak akan pernah bisa mengecewakan Ibunya. Bagaimanapun hidupnya dengan Angger nanti, biarlah dia yang akan menelannya sendiri. Sudah cukup dia mengecewakan sang Ibu dengan berita kehamilannya.

"Ibu mohon Nak. Ibu percaya kepadamu, kau pasti bisa menjadi istri yang baik untuk Den Angger," ucap Bi Zaenab dengan penuh keyakinan.

"Ibumu benar Bunga. Kau pasti bisa membuat Den Angger jatuh cinta kepadamu dan melupakan Nona Laura. Karena hanya kau yang berhak atas diri Den Angger, kalian sudah sah menjadi suami istri sekarang." Nisa ikut menyuarakan pendapatnya.

Saat ini Bunga tidak bisa egois. Karena ada calon anak yang membutuhkan kasih sayang seorang Ayah. Sejak Bunga menyetujui untuk menikah dengan Angger. Dia sudah mempersiapkan diri dan mentalnya dengan cukup baik, untuk menerima segala keadaan yang akan terjadi nanti.

"Baiklah ayo berkemas. Kita akan segera mengantarkanmu ke kamar atas!" sahut Bi Zaenab karena tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan.

Wanita paruh baya itu hanya bisa berdoa. Semoga saja majikan mudanya tidak membawa sang putri untuk ikut pindah ke apartemen. Agar mereka bisa tetap bersama dalam satu rumah. Karena selama ini Angger lebih suka tinggal seorang diri di apartemennya dari pada tinggal di rumah orang tuanya sendiri.

Karena tidak punya pilihan lain, Bunga pun akhirnya menurut untuk pindah ke kamar suaminya yang berada di lantai atas. Seperti perintah dari Ibu mertuanya tadi. Bi Zaenab dan Nisa turut mengantarkan Bunga hingga ke kamarnya.

Bunga merasa takjub melihat interior kamar yang sangat megah setelah pintu terbuka. Meskipun ini bukan untuk pertama kalinya, karena dulu Bunga pernah tidak sengaja masuk ke dalam kamar ini. Dan siapa yang menyangka jika sekarang dirinya yang akan menempati kamar ini.

Lamunan Bunga atas kekagumannya melihat keindahan kamar seketika buyar, saat terdengar suara Ibunya menginterupsi.

"Istirahatlah Nak. Ibu dan Mbak Nisa harus segera kembali ke belakang. Jangan ragu untuk mengatakan jika kau butuh sesuatu atau butuh pertolongan dari Ibu," ucap Bi Zaenab.

"Iya Bunga. Kami harus segera pergi, ini sudah malam. Kau juga harus istirahat 'kan?" sahut Nisa.

Meskipun berat, tidak ada yang bisa Bunga lakukan selain mengangguk. Bunga menutup kembali pintu kamar setelah mengucapkan terima kasih kepada dua orang wanita yang sudah menemaninya seharian ini. Gadis itu berjalan mendekat ke arah ranjang. Kemudian mendudukkan dirinya di sana.

Ekor mata Bunga kembali menjelajahi keadaan di sekitar kamar. Semuanya masih tampak sama, seperti saat dia tidak sengaja melihatnya dulu. Semburat senyum tiba-tiba terbit, ketika Bunga teringat kembali dengan pengalaman pertamanya datang ke kota ini.

Tiga bulan yang lalu saat gadis itu berhasil mendapatkan ijazah kelulusannya dengan nilai terbaik, sang Ibu langsung menelepon agar Bunga menyusul ke Jakarta dan melanjutkan pendidikannya di sana.

Senyuman bahagia tak lepas dari bibir seorang gadis cantik, yang sekarang sedang duduk di salah satu kursi penumpang kereta malam dari Malang menuju ke Jakarta. Sebuah perjalanan panjang yang akan menjadi pengalaman pertama untuk gadis itu.

Sebentar lagi gadis bernama Bunga itu akan bertemu dengan Ibu kandungnya, yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga keluarga kaya di Ibu kota. Setelah sekian lamanya mereka tidak berjumpa. Maklum Ibu Zaenab adalah orang tua tunggal yang harus menghidupi Bunga seorang diri. Setelah kepergian suaminya sewaktu Bunga masih berada di dalam kandungan.

Demi menyambung hidup, Ibu Zaenab terpaksa hijrah ke kota besar untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga meninggalkan Bunga yang masih bayi untuk di asuh Neneknya.

Sekarang Nenek sudah tua dan Bunga juga sudah lulus dari SMA. Mendengar sang putri lulus dengan nilai memuaskan membuat Bi Zaenab sangat bangga dan berharap Bunga bisa melanjutkan pendidikannya di kota. Apalagi majikan tempat Ibunya bekerja adalah orang yang sangat baik. Mereka bersedia untuk membantu biaya kuliah Bunga hingga lulus dari universitas.

Tentu saja kesempatan ini tidak akan dilewatkan oleh Bi Zaenab yang menginginkan agar putrinya memiliki Pendidikan yang tinggi. Bi Zaenab ingin melihat putrinya sukses, tidak seperti dirinya yang hanya seorang pembantu rumah tangga.

Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, Bunga sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Karena ini untuk pertama kali dirinya bepergian jauh setelah bertahun - tahun hidup di desa. Apalagi yang didatanginya saat ini adalah kota besar dengan segala gemerlapnya.

Jika biasanya Bunga hanya bisa melihat pemandangan kota Jakarta hanya melalui layar televisi. Maka sebentar lagi dirinya akan segera menginjakkan kaki di kota yang kata orang tidak pernah tidur itu. Sungguh seperti mimpi yang menjadi nyata.

Bunga berjanji pada dirinya sendiri akan rajin membantu Ibunya bekerja di rumah keluarga Jaya Diningrat, sebagai bentuk rasa terima kasihnya kepada majikan sang Ibu yang sudah berbaik hati menguliahkannya. Bunga pun akan rajin belajar agar menjadi orang sukses dan membuat bangga Ibu serta Neneknya.

Orang tua tunggal yang sudah rela berkorban banyak hal untuk kebahagiaannya. Bahkan sejak kepergian Ayahnya, Ibu Zaenab tidak pernah berniat untuk menikah lagi, demi bisa membiayai Bunga hingga dewasa dan menjadi orang sukses.

Sekitar pukul 8 pagi Bunga sudah tiba di stasiun Gambir dan segera mencari keberadaan Ibunya yang telah berjanji datang menjemput. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah. Kemudian memanggil sosok yang begitu dirindukannya.

"Ibu ...!"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel