Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Pengertian

"Tidak. Kami hanya bicara biasa"

"...tapi kami sempat mendengar Kak Rendy mengatakan akan memeluk loe" kata Sinta dengan tersenyum.

"Karena teman loe masih marah. Tidak mau berhenti marah" jawab Rendy dengan tersenyum.

"Kenapa marah?" tanya Sofi dengan merasa heran.

"Sejak kemarin" jawab Rendy.

"Aku sudah tidak marah. Cepat kembali ke kelas. Sebentar lagi akan bel masuk" kata Saski.

"Benar. Jika loe terlambat masuk kelas maka loe dianggap tidak memberikan contoh yang baik sebagai ketua OSIS" sambung Sofi.

"Baiklah. Ketika pulang aku tunggu kamu di tempat parkir" kata Rendy kepada Saski.

Saski tidak menjawab apapun.

"Saski, jawab" kata Sinta menyuruh Saski.

"Jika tidak dijawab maka..."

Rendy berkata dengan tersenyum tetapi Saski segera memotong perkataan Rendy dengan merasa sebal.

"...baiklah. Aku akan datang ke tempat parkir"

"Saski galak" kata Sofi dengan tersenyum.

Saski melihat Sofi dengan merasa sebal dan berjalan masuk ke dalam kelas. Rendy melihat sebentar kepergian Saski.

"Kalian jangan jauh dari Saski karena tadi dia digoda sangat parah dengan beberapa siswa" kata Rendy.

Sinta terkejut.

"Apa benar?" tanya Sinta.

Sinta segera mengangguk.

"Baiklah. Gue akan menjaga Saski" lanjut Sinta.

"Terima kasih"

Sinta dan Sofi mengangguk. Rendy berjalan pergi. Sofi dan Sinta berjalan menghampiri Saski lalu berdiri di samping Saski dan Saski menoleh kepada Sofi dan Sinta.

"Saski, apa loe tidak ingat gue pernah berbicara kepada loe?" kata Sofi.

"Apa? Kenapa gue tidak pernah tahu?" tanya Sinta.

"Tentang sikap Saski yang harus baik kepada Rendy" kata Sofi.

Sinta mengangguk tanda setuju.

"Benar juga. Loe tidak boleh mudah marah kepada Kak Rendy" lanjut Sinta.

"Rendy tidak senang dengan pacar yang mudah marah" kata Sofi.

"Gue ingat" kata Saski dengan mengerutkan dahi.

"Kenapa tadi loe mudah marah? Hati-hati loe jika bersikap di hadapan Rendy. Gue mengingatkan loe untuk kepentingan loe" kata Sofi.

"Benar kata Sofi" kata Sinta membela Sofi.

Mereka berhenti bicara karena bel tanda masuk berbunyi. Mereka berjalan menuju kursi masing masing dan duduk. Semua murid masuk ke dalam kelas. Guru berjalan masuk dan memulai pelajaran. Saski mengingat kembali perkataan Sofi. Hari tersebut pelajaran matematika lalu diberi soal oleh guru dan jika ada siswa yang bisa mengerjakan maka tidak perlu mengikuti ulangan.

"Seandainya gue bisa mengerjakan" pikir Saski.

Sofi berebut dengan siswa lain yang pintar. Guru memilih siswa lain lalu siswa tersebut salah mengerjakan dan Sofi segera mengacungkan tangannya. Guru menunjuk Sofi. Akhirnya Sofi berhasil mengerjakan dan tidak perlu mengikuti ulangan. Pukul 13.30 pulang sekolah. Saski berpikir keras.

"Ayo kita jalan bersama ke tempat parkir" ajak Sofi.

"Kalian saja dulu" kata Saski.

"Saski, kenapa loe sejak tadi tidak mau bersama kita?" tanya Sinta dengan merasa heran.

"..."

"Kita TF jadi harus selalu bersama dan juga Rendy pasti menunggu loe" kata Sofi.

"Kami juga ingin melindungi loe dari semua siswa yang mengganggu loe. Ayo" ajak Sinta dengan memegang tangan Saski.

Saski berdiri dengan agak enggan. TF berjalan keluar dari kelas hingga tempat parkir dan Sofi tidak melihat Rendy. Mereka berhenti berjalan. Sofi dan Sinta mencari Rendy.

"Saski, kenapa loe hanya diam? Rendy tidak ada justru gue dan Sinta yang bingung" kata Sofi dengan merasa sebal.

Saski melihat Sofi dan Sinta.

"Kenapa kalian harus bingung? Sebentar lagi pasti datang" kata Saski.

"Gue dan Sofi ingin pulang cepat karena gue ingin minta diajarkan matematika. Sofi pasti merasa senang karena besok tidak perlu mengikuti ulangan" kata Sinta.

"Karena itu gue mau mengajarkan loe 24 jam" kata Sofi dengan tersenyum.

"Gue capek jika 24 jam" kata Sinta.

Rendy datang.

"Huft...akhirnya yang ditunggu datang juga" kata Sofi.

Rendy berdiri di samping Saski.

"Gue minta maaf terlambat tadi masih bicara dengan Pak Edwan. Apa kalian ingin pulang? Pulang saja" kata Rendy kepada Sofi dan SInta.

Rendy menoleh dan melihat Saski.

"Kenapa wajah kamu kusut?" tanya Rendy.

"Sebal karena matematika apalagi besok ulangan" jawab Sofi.

"Soal tadi memang sulit. Loe bisa karena pintar" kata Sinta.

"Apa soal yang dikeluarkan?" tanya Rendy.

"Saski, coba saja loe minta diajarkan kepada Rendy. Rendy sangat bisa jika pelajaran matematika" kata Sofi bersemangat.

"Baiklah. Jika sudah sampai rumah kamu maka aku akan segera mengajarkan kamu. Kita pulang dulu" kata Rendy.

Saski mengangguk pelan. Saski pamit pulang kepada Sofi dan Sinta lalu Rendy dan Saski berjalan menuju sepeda motor Rendy. Rendy naik ke atas sepeda motor lalu Saski naik dan Rendy menyetir sepeda motornya. Di tengah perjalanan Saski merasa heran karena Rendy menyetir tidak menuju jalan pulang tapi jalan lain.

"Sayang, ke mana kita? Bukankah ingin pulang?"

"Aku akan membawa kamu menuju tempat yang sangat cocok untuk belajar"

Saski merasa penasaran tetapi tidak bertanya lagi. Rendy tersenyum dan memegang tangan Saski dengan tangan satunya.

"Sudah tidak berada di lingkungan sekolah maka peluk pinggang aku" kata Rendy.

Saski memeluk pinggang Rendy dengan tersenyum. Rendy merasa senang lalu mengelus sebentar tangan Saski dan melepaskan tangan Saski. Pukul 14.20. Rendy dan Saski sampai pada tempat tersebut lalu Saski melepaskan pelukan dan turun dari sepeda motor Rendy.

"Di sini taman" kata Saski dengan menoleh dan melihat Rendy.

Rendy tersenyum dan melihat Saski.

"Bukankah cocok untuk belajar? ...tapi kita tidak akan berada di sini karena ramai. Ada tempat yang sepi. Ayo kita ke sana" ajak Rendy.

Rendy dan Saski berjalan dengan bergandengan tangan. Rendy berjalan menuju tempat yang sepi lalu Rendy dan Saski sampai. Rendy dan Saski berhenti berjalan lalu Saski melihat sekeliling taman tersebut dan tersenyum senang.

"Apa kamu merasa senang?"

Saski mengangguk dengan tersenyum.

"Suasana tenang dan udara sejuk" lanjut Saski.

Rendy tersenyum.

"Dari mana kamu tahu tempat di sini?"

"Aku ingin mencari tempat yang bagus untuk kita dan akhirnya menemukan di sini"

Saski tersenyum.

"Bagaimana jika juga menjadikan tempat kenangan kita?"

"Benar juga" kata Saski dengan tersenyum.

Rendy merasa senang lalu memeluk Saski dengan tangan satunya dan Saski memeluk pinggang Rendy dengan tangan satunya. Akhirnya Rendy mulai mengajarkan Saski pelajaran matematika terkadang Rendy mengajarkan dengan bersikap mesra dan Saski hanya tersenyum. Pukul 17.00. Rendy dan Saski ingin pulang lalu handphone Rendy berbunyi dan Rendy mengambil handphone dari dalam saku. Rendy melihat layar handphone dan Saski membereskan buku. Rendy membuka pesan tersebut. Saski melihat sebentar Rendy.

"Kenapa wajah kamu bingung?" tanya Saski dengan memasukkan buku ke dalam tas.

"Mendadak aku disuruh datang cepat ke ruang OSIS untuk rapat" kata Rendy dengan merasa bingung.

"Kenapa sore begini?" tanya Saski dengan merasa heran.

"Aku tidak tahu. Pesan dari Tiyo"

"Kamu datang saja. Itu pesan dari Tiyo. Tiyo adalah wakil OSIS pasti tidak berbohong. Aku bisa pulang dengan taxi"

"Aku mengantarkan kamu dulu"

"Jika mengantarkan aku dulu pasti sampai di sekolah lama sedangkan mereka membutuhkan kamu cepat datang"

"...tapi..."

"Aku tidak apa-apa. Pada saat dibutuhkan oleh OSIS maka aku harus mengerti apalagi kamu sebagai ketua OSIS harus datang sesuai waktu yang ditentukan" potong Saski.

"Kamu sangat pengertian" kata Rendy dengan tersenyum.

Rendy memegang sebentar tangan Saski dengan tangan satunya dan mencium dahi Saski. Saski tersenyum senang.

"Aku akan mencarikan kamu taxi"

Saski mengangguk.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel