Beruntung
Rendy dan Saski berjalan menuju sepeda motor Rendy lalu berdiri di dekat sepeda motor dan Rendy mencarikan Saski taxi. Taxi lewat lalu Rendy memanggil taxi dan taxi tersebut berhenti.
"Sayang, jika sudah sampai di rumah memberi kabar aku"
Saski mengangguk.
"Hati-hati di jalan" lanjut Saski.
Rendy mengangguk lalu mencium dahi Saski dan Saski mencium pipi Rendy. Rendy dan Saski tersenyum. Saski masuk ke dalam taxi dan supir taxi menyetir. Rendy selalu merasa khawatir jika Saski hanya sendiri di luar rumah. Rendy berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa Saski akan baik saja.
"Harus yakin bahwa Saski sampai di rumah dengan selamat" pikir Rendy dengan menenangkan diri.
Rendy naik ke atas sepeda motor dan menyetir sepeda motor menuju sekolah. Pukul 17.35. Rendy sampai di sekolah dan merasa heran karena pintu gerbang sekolah masih tutup. Rendy turun dari sepeda motor dan bertemu satpam.
"Kenapa kamu belum pulang? Apa ada yang ketinggalan?" tanya satpam.
"Saya disuruh datang ke sekolah untuk rapat OSIS"
"Tidak ada rapat OSIS" kata satpam dengan merasa heran.
"Apa?" kata Rendy dengan merasa heran.
"Tidak ada juga yang datang ke sini"
"...tapi saya diberitahu lewat pesan bahwa ada rapat OSIS"
"Mungkin ada yang ingin usil dengan kamu"
Rendy mengeluarkan handphone dari dalam saku dan telepon Tiyo lalu Tiyo yang asyik bermain PS merasa sebal karena handphone berbunyi dan Tiyo melihat layar handphone. Tiyo berhenti bermain dan menerima telepon.
"Apa?"
"Di mana loe? Bukankah ada rapat OSIS?"
"Apa yang dibicarakan loe? Siapa yang bicara bahwa ada rapat OSIS?"
"Loe mengirimkan pesan kepada gue bahwa ada rapat OSIS"
"Loe jangan bicara sembarangan. Gue tidak mengirim sekali pun pesan kepada loe. Apa nomor handphone gue?"
"Memang bukan tapi dalam pesan tersebut ada tulisan dari nama loe"
"Rendy, dia mengatasnamakan gue. Dia pasti ingin usil dengan loe dan juga peraturan sekolah mengatakan bahwa kegiatan sekolah tidak boleh lebih dari pukul 15.00"
Rendy berpikir.
"Bukankah loe selalu tahu peraturan sekolah? Apa loe lupa?" kata Tiyo.
Mendadak Rendy teringat Saski.
"Saski" pikir Rendy.
Rendy mengakhiri telepon dan berhenti berpikir.
"Pasti Saski dalam bahaya. Perasaan gue tidak enak dan pesan tersebut tidak mungkin hanya untuk usil" pikir Rendy.
"Kenapa segera diakhiri?" pikir Tiyo.
Rendy segera naik ke sepeda motor lalu menyetir dengan cepat dan Saski menunggu dengan sebal karena sudah hampir malam. Taxi tidak bisa berjalan sehingga supir taxi perlu memperbaiki. Saski keluar dari taxi.
"Saski tidak mengirim pesan kepada gue bahwa sudah sampai di rumah. Seharusnya jam segini Saski sudah pulang" pikir Rendy dengan merasa khawatir.
Rendy telepon Saski dengan menyetir tetapi tidak ada jawaban. Rendy terus telepon tapi tetap tidak ada jawaban. Rendy menyetir dengan semakin cepat.
"Pak, apa masih lama? Jika masih lama maka saya akan pulang dengan taxi lain" kata Saski dengan mengerutkan dahi.
Supir taxi menoleh dan melihat terus Saski.
"Pak, cepat diperbaiki jangan terus melihat saya" kata Saski dengan merasa tidak sabar.
Mendadak supir taxi tersebut memegang dan menarik tangan Saski lalu berjalan cepat dan Saski terkejut.
"Pak, apa yang mau dilakukan? Jangan macam macam" kata Saski mengancam.
Saski berteriak dengan berusaha melepaskan tangannya dari supir tersebut. Saski serentak berteriak minta tolong.
"Tolong!!"
Supir tersebut terus memaksa Saski untuk berjalan. Saski semakin terkejut dan terus meminta pertolongan. Mereka berada di tempat sepi lalu supir melepaskan tangan Saski dan mau memeluk Saski. Saski takut dan jatuh. Saski terus berteriak dengan mengeluarkan air mata. Supir segera menutup mulut Saski dengan tangan satunya. Saski tidak bisa berteriak lagi tapi masih terdengar sisa teriakan Saski. Supir tersebut mau membuka kancing seragam Saski. Saski menangis tapi supir tersebut tidak jadi karena mendadak ada seseorang yang datang yaitu Rendy dan segera memegang baju supir tersebut. Saski merasa ketakutan. Rendy memukul wajah supir tersebut dengan marah. Saski berdiri lalu berjalan cepat menuju pohon dan duduk di dekat pohon dengan menangis. Rendy terus memukul hingga supir tersebut jatuh dan pingsan lalu Rendy berhenti memukul dan mata Rendy mencari Saski. Rendy melihat Saski duduk di dekat pohon. Rendy berjalan cepat menghampiri Saski.
"Sayang" panggil Rendy dengan duduk di sebelah Saski dan memeluk Saski dengan merasa khawatir.
Saski memeluk Rendy dengan menangis dan Rendy mengelus rambut Saski.
"Sayang, di sini sudah ada aku. Kamu tenang" kata Rendy pelan.
Pukul 18.30. Rendy dan Saski berada di dekat sepeda motor Rendy lalu melepaskan pelukan dan Rendy membuka tasnya. Rendy mengambil jaket dan memakaikan kepada Saski.
Saski memakai dengan pelan lalu Rendy selesai memakaikan jaketnya kepada Saski lalu menutup tas dan naik ke atas sepeda motor. Saski naik ke atas sepeda motor lalu memeluk pinggang Rendy dengan erat dan Rendy menyetir sepeda motor.
"Sayang, aku beruntung memiliki kamu. Kamu memang pelindung aku" pikir Saski.
Saski bersandar pada punggung Rendy dan memejamkan kedua mata. Pukul 18.50. Rendy dan Saski sampai di rumah Saski lalu Rendy menyuruh Saski turun tapi Saski tidak turun dan Rendy menoleh ke belakang. Rendy melihat Saski tertidur. Rendy memanggil satpam yang berdiri di dekat pintu gerbang dan menyuruh satpam untuk memegang tangan Saski agar tidak jatuh. Rendy melepaskan pelukan Saski dan turun dari sepeda motor. Rendy mau menggendong Saski lalu tidak jadi karena Saski segera bangun dan melepaskan tangan Rendy dengan berteriak ketakutan.
"Sayang, ini aku" kata Rendy.
Saski melihat Rendy.
"Aku minta...maaf. Aku berpikir bahwa..."
Saski berbicara dengan berusaha menghilangkan perasaan takutnya.
"Aku mengerti" potong Rendy.
Rendy tidak tega melihat keadaan Saski.
"Aku ingin menggendong kamu karena kamu tertidur" kata Rendy pelan dan memegang tangan Saski.
Satpam melepaskan tangan Saski.
"Maaf, saya tidak bermaksud bersikap lancang. Saya membantu Tuan Rendy memegang tangan Nyonya Saski agar tidak jatuh dari sepeda motor" kata satpam dengan merasa tidak enak.
Saski mengangguk pelan.
"Terima kasih" kata Saski.
Saski turun dari sepeda motor dan Rendy mengantarkan Saski hingga dalam kamar Saski. Saski duduk di atas tempat tidur dengan pelan dan Rendy mengambil gelas berisi minuman dari atas nakas lalu memberikan kepada Saski dan Saski minum sebentar. Rendy meletakkan kembali gelas di atas nakas.
"Kamu istirahat"
"Aku masih ingin mandi"
"Baiklah. Setelah mandi kamu istirahat. Aku pulang dulu"
"..."
"Kamu sudah aman jika di sini. Apa kamu masih teringat kejadian tadi?"
"Sudah mulai lupa"
Rendy duduk di atas tempat tidur dan memegang kedua tangan Saski.
"Sayang, jangan terus mengingat nanti kamu menjadi trauma dan aku akan selalu bersama kamu. Jika tidak maka kamu harus selalu bersama Sofi dan Sinta"
Saski mengangguk pelan.
"Bagaimana rapat OSIS?" tanya Saski.
Rendy melepaskan kedua tangan Saski dan melihat ke depan.
"Ternyata tidak ada dan aku curiga ada kaitan dengan musibah yang menimpa kamu" kata Rendy.
"Sekarang bukan waktunya aku menceritakan masalah aku kepada kamu" pikir Saski.
"Sehingga aku janji akan terus bersama kamu" lanjut Rendy.
Saski mengangguk pelan.
"Baiklah aku pulang dulu. Kamu mandi, makan dan istirahat"
"Kamu hati-hati di jalan"
Rendy mengangguk lalu mengelus sebentar rambut Saski dan berjalan keluar dari kamar Saski. Saski melihat kepergian Rendy.
