Berbohong
"Apa hukuman untuk aku? Jangan sulit"
"Kita tidak bisa saling komunikasi lewat handphone selama 2 hari"
"Kamu sangat jahat. Bagaimana mungkin aku bisa tidak saling telepon dengan kamu? Sayang, jangan memberikan hukuman begitu kepada aku" kata Saski dengan merasa tidak menyangka.
Saski merasa sedih.
"Apa kamu tidak rindu aku? Bagaimana pun juga aku ingin mendengarkan suara kamu" lanjut Saski dengan memohon.
"Aku juga terpaksa agar kamu tidak berbohong lagi dan menjadi siswi rajin"
Saski cemberut.
"Kamu masih bisa mendengarkan suara aku di sekolah dan ketika kita jalan"
"...tapi setelah berada dalam rumah maka aku tidak mendengar lagi suara kamu" kata Saski.
Rendy hanya tersenyum.
"Kamu jahat" kata Saski dengan cemberut.
Rendy memegang kedua tangan Saski.
"Jadi jangan mengulang lagi. Sekarang kamu menurut saja hukuman dari aku"
"Kamu jahat" kata Saski dengan mengeluarkan sebentar air mata.
Rendy merasa heran.
"Sayang, kenapa menangis? Semua juga untuk kamu" kata Rendy.
Rendy melepaskan kedua tangan Saski dan memeluk Saski dengan meletakkan kepala Saski di dadanya lalu Saski bersandar dengan merasa sedih dan Rendy mengelus rambut Saski.
"Aku melakukan semua untuk kamu. Apa kamu tidak ingin nilai kamu menjadi baik? Jangan menangis lagi" kata Rendy dengan berhenti mengelus rambut Saski.
Saski menghapus sebentar air mata lalu Rendy melihat terus Saski dan Saski melepaskan pelukan Rendy.
"Aku minta maaf tapi aku harus membuat kamu berubah menjadi siswi rajin dan tidak berbohong. Bagaimana jika aku membiarkan kamu hingga akhirnya kamu juga melakukan semua kepada orang tua kamu? Apa kamu mengerti maksud aku?" kata Rendy dengan suara pelan.
Saski mengangguk pelan dan Rendy mengelus sebentar rambut Saski.
"Bagaimana pelajaran kamu? Apa ada PR atau ulangan?" tanya Rendy.
"Ada PR. Aku sudah mengerjakan tapi satu nomor tidak bisa dikerjakan"
"Apa PR kamu? Mana? Mungkin aku bisa membantu"
"PR Fisika. Aku mengambil dulu"
Rendy mengangguk pelan dan Saski berdiri lalu berjalan menuju kamar dan masuk. Saski mengambil handphone dan merasa sedih.
"Gue tidak bisa saling telepon dengan Rendy selama 2 hari. Gue tidak bisa jika tidak mendengar suara Rendy. Rendy selalu jahat kepada gue" pikir Saski dengan mengeluarkan air mata.
Saski meletakkan handphone di atas meja dan duduk di kursi belajar dengan mengeluarkan air mata. Rendy agak lama menunggu dan sesekali melihat handphone untuk melihat ada pesan atau tidak. Akhirnya Saski datang lalu duduk dan menunjukkan buku PR kepada Rendy.
"Aku yang tidak bisa" kata Saski dengan menunjuk sebentar soal pada buku.
"Kenapa kamu lama?" tanya Rendy meneliti wajah Saski.
"Masih..."
Saski berpikir dan Rendy melihat Saski.
"Kamu seperti baru menangis" kata Rendy dengan merasa heran.
"Tidak" kata Saski berbohong.
Saski menggeleng.
"Aku masih mencari soal yang tidak bisa sehingga aku lama" lanjut Saski dengan berhenti berpikir.
Rendy melihat terus Saski dengan curiga.
"Apa mungkin kamu bisa soal tersebut?" tanya Saski.
Saski berusaha mengalihkan perhatian Rendy lalu Rendy melihat dan membaca dalam hati soal tersebut. Pukul 21.30. Saski menyuruh Rendy pulang dengan alasan ingin istirahat dan Rendy menurut. Saski mengantarkan Rendy hingga di depan pintu gerbang.
"Hati-hati di jalan"
Rendy memeluk pinggang Saski.
"Apa yang kamu minta untuk membuat kamu tersenyum kembali? Bicara kepada aku maka aku akan melakukan untuk kamu asalkan jangan menyuruh untuk melepaskan hukuman tersebut" kata Rendy pelan.
Saski hanya diam.
"Sayang" panggil Rendy pelan.
Saski menggeleng pelan.
"Selamat malam" kata Saski dengan pelan.
Saski melepaskan pelukan Rendy lalu berjalan masuk dan Rendy melihat kepergian Saski. Rendy bukan tidak mau mengerti Saski.
"Aku minta maaf. Aku melakukan semua juga untuk kamu" pikir Rendy.
Ternyata ada seseorang yang melihat kejadian tersebut dari jarak agak jauh.
"Dasar perempuan manja. Rendy, seharusnya loe bersama gue. Loe sangat tersiksa dengan perempuan manja seperti Saski" pikir orang tersebut dengan merasa benci.
Rendy naik ke atas sepeda motor dan menyetir dengan pelan. Orang tersebut berada di balik pohon yang sejak tadi mengawasi Rendy dan Saski. Orang tersebut menggunakan topeng dengan baju serba hitam. Keesokan harinya. Pukul 09.15. Merupakan jam istirahat sekolah. TF berada di kantin. Saski sejak datang ke sekolah banyak diam dengan wajah tidak ceria. Sinta dan Sofi sudah tahu tentang hukuman Rendy kepada Saski.
"Sudahlah. Loe terima saja hukuman Rendy. Rendy memang begitu. Laki-laki yang tegas. Loe masih bisa jalan dan berangkat bersama Rendy. Menurut gue hukuman tersebut sangat ringan hanya 2 hari" kata Sofi.
"...tapi permasalahannya adalah Saski tidak bisa mendengar suara Kak Rendy. Loe juga harus mengerti perasaan Saski" kata Sinta.
Saski hanya diam.
"Saski, jika loe merasa kesepian bisa telepon gue" lanjut Sinta.
"Hukuman gue sangat berat" kata Saski dengan merasa sedih.
"Jadi loe harus rajin. Sejak dulu gue sudah bicara kepada loe bahwa Rendy tidak bisa membiarkan pacarnya malas" kata Sofi.
"Saski, ayo makan. Loe pasti lapar" ajak Sinta.
"Walaupun lapar gue tidak memiliki selera makan. Gue ingin datang ke kelas. Kalian makan saja" kata Saski.
Saski berdiri dan berjalan pergi.
"Saski" panggil Sinta dan berdiri.
"Sinta, sudahlah. Jika Saski mau begitu maka tidak bisa dicegah. Kita lapar jadi harus makan"
Sinta merasa bingung lalu duduk dengan memikirkan Saski dan Saski berhenti berjalan karena digoda oleh beberapa siswa. Saski semakin marah dan mau memukul laki-laki tersebut tapi tidak bisa karena dipegang oleh salah satu siswa tersebut. Saski berusaha melepaskan dengan marah.
"Saski, tangan loe sudah dipegang gue. Bagaimana jika gue merasakan harumnya tangan loe?" kata si siswa dengan tertawa.
"Lepaskan!" bentak Saski.
Siswa yang lain saling berebut untuk memegang tangan Saski dan Saski terus berusaha melepaskan tangan dari beberapa siswa tersebut dengan marah lalu siswa tersebut mau mencium tangan Saski dan Saski berusaha melepaskan.
"Lepaskan!" teriak Saski.
Mendadak Rendy berdiri di samping Saski lalu memegang dan menarik tangan Saski dengan pelan. Saski melihat Rendy dengan merasa tidak menyangka. Siswa tersebut terkejut dengan segera melepaskan tangan Saski lalu Rendy melihat terus siswa tersebut dengan pandangan tajam dan mengerutkan dahi.
"Kak, gue minta maaf. Sebenarnya tadi..."
Siswa tersebut segera berlari pergi dengan ketakutan sehingga tidak melanjutkan perkataannya. Siswa lain juga berlari ketakutan. Rendy menoleh dan melihat Saski.
"Di mana Sofi dan Sinta? Seandainya bersama mereka maka kamu tidak sampai diganggu seperti tadi"
"Mereka berada di kantin. Jangan menyalahkan mereka karena aku yang ingin pergi sendiri"
"Ke mana kamu ingin pergi?"
"Kelas"
"Baiklah. Ayo aku antar"
Rendy melepaskan tangan Saski lalu Rendy dan Saski berjalan.
"Kamu juga tidak mau ketika istirahat aku menemani. Seandainya bersama aku maka mereka tidak akan pernah menggoda kamu"
Saski terdiam. Rendy dan Saski sampai di depan kelas lalu berhenti berjalan dan Saski masih tidak bicara apapun. Saski berbicara hanya untuk menyuruh Rendy kembali ke kelas.
"Apa masih marah?"
"Aku tidak marah"
"Sebenarnya kamu marah tentang hukuman tersebut"
"Tidak"
"Buktinya kamu hanya singkat bicara kepada aku"
"Jika aku marah maka aku mengomel bukan hanya diam. Apa lupa dengan cara marah aku?" tanya Saski dengan mengerutkan dahi.
"...tapi kamu mulai mengomel" kata Rendy dengan tersenyum.
"Kenapa justru tersenyum?" kata Saski dengan merasa sebal.
"Kamu lucu jika marah" goda Rendy.
"Sejak dulu selalu tersenyum jika melihat aku sebal bukan justru menghibur"
Rendy melihat terus Saski dengan tersenyum.
"Kembali saja ke kelas" kata Saski dengan merasa sebal.
"Bagaimana jika ada yang menggoda kamu lagi?"
Saski mengangkat bahu dengan mengerutkan dahi.
"Sayang, aku tidak bermaksud membuat kamu sebal. Aku mau masuk ke kelas tapi jangan marah lagi"
"Aku tidak marah" kata Saski dengan mengerutkan dahi dan melihat ke arah lain.
"...tapi aku melihat kamu marah"
"..."
"Jika masih marah maka aku akan memeluk kamu"
Saski melihat Rendy dan menjadi semakin sebal.
"Rendy"
"Sayang bukan Rendy" goda Rendy.
Saski berusaha menghilangkan perasaan sebal.
"Baiklah. Aku sudah tidak marah lagi"
"Apa benar?"
"Benar. Sudah sana kembali ke kelas kamu" kata Saski dengan berusaha sabar.
Sinta dan Sofi datang.
"Ciee.. ada yang berpacaran" goda Sinta dan Sofi secara bersamaan.
Rendy dan Saski menoleh kepada Sofi dan Sinta.
