Hari Jadi
Keesokan harinya. Pukul 06.30. Rendy menjemput Saski lalu Saski mengembalikan jaket Rendy kepada Rendy dan Rendy mengambil. Saski naik ke sepeda motor Rendy dan memeluk pinggang Rendy. Rendy menyetir sepeda motor.
"Apa kamu sudah merasa baik?"
Saski mengangguk. Pukul 06.50. Rendy dan Saski sampai di sekolah lalu Saski turun dari sepeda motor dan Rendy juga turun dari sepeda motor. Beberapa siswa laki-laki yang menggoda Saski berjalan pergi dengan takut karena ada Rendy. Mereka memang selalu begitu tetapi jika Rendy tidak bersama Saski pasti mereka berani menggoda Saski.
"Kenapa mereka takut ketika hanya ada kamu?"
Rendy tersenyum karena melihat Saski merasa sebal.
"Aku antar kamu hingga ke kelas" kata Rendy.
"Tidak perlu"
"Nanti kamu diganggu. Kamu menurut aku, Sayang"
"Baiklah" kata Saski pasrah.
Rendy dan Saski berjalan keluar dari tempat parkir hingga ke kelas Saski lalu sampai dan berhenti berjalan.
"Apa kamu yakin aku pergi?"
Saski mengangguk.
"Ada siswi di dalam kelas" lanjut Saski.
"Baiklah"
Rendy menatap Saski dengan merasa senang
"Muacchh" bisik Rendy dan tersenyum.
"Muacchh" balas Saski dengan bisikan.
Rendy tersenyum dan berjalan pergi. Saski berjalan masuk ke dalam kelas dan duduk. Pukul 09.15. TF saling bicara di depan kelas. Sofi dan Sinta terkejut mendengarkan cerita Saski tentang kejadian kemarin.
"Siapa yang berani melakukan hal tersebut kepada loe?" tanya Sofi.
Saski hanya diam.
"Untung saja Kak Rendy cepat datang" komentar Sinta.
Saski masih terdiam.
"Benar kata Sinta" kata Sofi dengan mengangguk.
"Rendy memang selalu melindungi gue. Gue tidak sanggup jika tanpa Rendy" kata Saski.
"Kata-kata loe sangat berkesan" kata Sinta dengan tersenyum.
Sofi tersenyum.
"Sofi, terima kasih" kata Saski dengan tersenyum.
"Kenapa berterima kasih kepada gue? Seharusnya kepada Rendy" tanya Sofi dengan merasa heran.
Sinta mendengarkan.
"Tanpa loe gue tidak akan mengenal Rendy" kata Saski dengan merasa senang.
"Tidak juga. Loe kenal Rendy karena Rendy sahabat gue lalu SMA gue bersama loe dan Sinta. Akhirnya berkenalan" kata Sofi dengan tersenyum.
"Awalnya kenal dari loe" kata Saski.
"Gue jadi ingat dulu cerita Sofi bahwa banyak yang menyukai Kak Rendy" kata Sinta dengan mengenang.
"Loe dan Rendy disebut pasangan serasi. Rendy adalah laki-laki tampan dan Saski adalah perempuan cantik" kata Sofi memuji.
"Sangat cocok" kata Sinta bersemangat.
"Kalian sangat berlebihan" kata Saski dengan tersenyum.
Pukul 11.30. Bel pulang berbunyi lalu guru mengakhiri pelajaran dan berjalan keluar dari kelas. Semua siswa dan siswi keluar dari kelas dengan cepat. Akhirnya TF berjalan keluar dengan saling bicara tentang ulangan matematika dan bertemu Rendy. Mereka berhenti berjalan.
"Baru sekarang gue bisa mengerjakan. Gue yakin bahwa gue akan mendapatkan nilai baik dan tidak perlu mengulang. Sofi, semua karena loe. Terima kasih" kata Sinta dengan merasa senang.
Sofi hanya tersenyum.
"Bagaimana dengan kamu?" tanya Rendy kepada Saski.
"Lumayan bisa tapi pasti aku kalah dengan Sinta karena tidak semuanya aku bisa menjawab. Waktunya cepat. Memang jika aku mengerjakan ulangan matematika kurang cepat" kata Saski pelan.
"Apa nomor yang lain bisa?"
"Bisa"
"Jika begitu pasti kamu juga mendapat nilai baik" kata Rendy dengan tersenyum.
"Gue pulang dulu" kata Sofi.
Rendy dan Saski mengangguk.
"Saski, sampai bertemu besok" kata Sinta dengan tersenyum.
Saski mengangguk dengan tersenyum. Sofi dan Sinta berjalan pergi. Saski melihat Rendy.
"...tapi karena belajar dengan kamu juga aku lumayan bisa mengerjakan" kata Saski dengan tersenyum.
"Jadi optimis saja" kata Rendy dengan merasa senang.
Saski mengangguk dengan tersenyum. Pukul 20.00. Saski merasa bosan karena tidak bisa telepon Rendy. Hukuman Saski terakhir adalah malam tersebut.
"Gue harus bertahan. Gue tidak boleh terlalu manja" pikir Saski dengan memikirkan perkataan Sofi ketika kelas X.
(Apa loe bisa berubah menjadi pintar? Tipe pacar Rendy adalah perempuan pintar dan rajin)
"Memang gue kalah dengan Sofi" pikir Saski dengan merasa sedih.
Saski melihat buku pelajaran dan mengambil dengan pelan.
"Apa gue perlu belajar agar menjadi perempuan pintar?" pikir Saski dengan tidak bersemangat.
Rendy memikirkan Saski dan mengambil foto Saski pada pigura kecil di atas meja belajar. Rendy melihat terus foto Saski.
"Seandainya hukuman tersebut sudah berakhir pasti aku akan telepon kamu. Besok adalah hari jadi kita. Aku harus memberikan sesuatu untuk kamu" pikir Rendy dengan tersenyum dan berpikir.
Keesokan harinya. Pukul 06.30. Rendy datang ke rumah Saski untuk berangkat bersama ke sekolah. Saski datang dan melihat Rendy. Saski tersenyum senang dan memeluk Rendy. Rendy memeluk Saski dengan tersenyum senang.
"Pasti senang karena hari ini adalah hari jadi kita" kata Rendy.
Saski terkejut.
"Apa?" pikir Saski.
Saski mengingat agak lama.
"Benar. Sekarang adalah hari jadi Rendy dan gue. Kenapa gue jadi lupa? Pasti karena sangat senang terlepas dari hukuman" pikir Saski.
"Sayang" panggil Rendy.
Rendy merasa heran karena Saski tidak merespon apapun lalu melepaskan pelukan dan melihat Saski dengan curiga.
"Melihat reaksi wajah kamu jangan bicara kamu lupa" kata Rendy.
"Tidak" kata Saski berusaha menutupi kebohongannya.
Saski melepaskan pelukan dan berpikir.
"Aku ingat. Satu tahun" lanjut Saski dengan berusaha tersenyum.
Rendy mengangguk dengan tersenyum.
"Baiklah ayo naik" kata Rendy.
Rendy naik ke atas sepeda motor dan Saski berpikir. Rendy menoleh dan melihat Saski.
"Ayo naik"
"Sayang, aku minta maaf" kata Saski dengan merasa bersalah.
"Kenapa?" tanya Rendy dengan merasa heran.
"Gue tidak tega mengatakan bahwa gue lupa tapi gue sudah janji tidak akan pernah berbohong kepada Rendy. Rendy terlihat sangat senang hari ini" pikir Saski dengan merasa tidak enak.
Saski melihat terus Rendy dan Rendy semakin merasa heran.
"Sayang, kenapa?" tanya Rendy dengan pelan dan memegang tangan Saski menggunakan tangan satunya.
"Selama kita bersama aku selalu membuat kamu lelah dengan sifat aku" kata Saski dengan pelan dan berpikir.
Rendy berpikir untuk mencerna perkataan Saski.
"Sifat aku yang sangat manja, malas belajar, mudah marah,..."
"Aku senang dengan kemanjaan kamu" potong Rendy.
Rendy berhenti berpikir.
"...karena aku merasa bisa memanjakan pacar aku" lanjut Rendy.
"...tapi sebenarnya kamu tidak senang dengan perempuan manja" kata Saski pelan.
"Perempuan, bukan?"
Rendy menatap Saski.
"...tapi jika pacar beda lagi..."
Rendy tersenyum lembut.
"...jika pacar manja aku senang saja dan di balik sifat buruk kamu selalu mengerti keadaan aku. Ketika aku tidak bisa bersama kamu bukannya memaksa aku untuk harus bersama kamu. Aku menginginkan pacar yang bisa mengerti keadaan aku. Kamu adalah kriteria aku" kata Rendy dengan merasa senang.
Saski berhenti berpikir dengan tersenyum senang.
"Kenapa gue harus membandingkan diri gue dengan Sofi? Rendy menerima gue apa adanya" pikir Saski.
"Sekarang kamu naik lalu kita berangkat ke sekolah"
Rendy melepaskan tangan Saski dan Saski naik ke atas sepeda motor lalu memeluk pinggang Rendy dan Rendy menyetir. Pukul 06.55. Rendy dan Saski sampai di sekolah lalu Saski melepaskan pelukan dan turun dari sepeda motor. Rendy juga turun dari sepeda motor. Rendy dan Saski berjalan keluar dari parkir lalu bertemu Sinta dan Sofi.
"Kamu ke kelas saja. Aku bersama Sinta dan Sofi"
Rendy mengangguk dan berjalan menuju ke kelas sedangkan TF juga. Seperti sebelumnya jika TF lewat maka semua siswa menggoda. Pukul 09.15. TF berada di kantin.
"Saski, bukankah hari ini adalah hari jadi loe dengan Rendy?" tanya Sofi.
Saski mengangguk dengan merasa senang.
"Ternyata di balik sifat loe yang sedikit acuh ada sifat perhatian juga terhadap gue" lanjut Saski.
"Gue saja tidak tahu" kata Sinta.
"Bagaimana pun juga gue sahabat loe jadi semua tentang loe gue tahu" kata Sofi.
"Loe juga sahabat terbaik gue" kata Saski kepada Sinta dan tersenyum.
"Kalian sahabat terbaik gue" kata Sinta dengan riang.
Sofi dan Saski tersenyum.
"Bukankah sekarang hari Sabtu? Berarti tepat dengan hari jadi kalian" kata Sinta bersemangat.
"Benar juga kata loe. Gue baru merasa" kata Saski.
"Semakin mengasyikkan. Malam minggu. Apa rencana kalian?" tanya Sofi.
"Sepertinya tidak ada rencana" jawab Saski.
"Mustahil jika Rendy tidak melakukan sesuatu untuk loe" kata Sinta manyun.
