Dihukum
SMA Berkembang. SMA tersebut terkenal dengan siswa dan siswi yang cantik, tampan, dan kaya. Sebuah kelompok terdiri dari tiga perempuan cantik yang bernama Saski, Sofi dan Sinta. Mereka memberi nama kelompok tersebut yaitu Three Flower disingkat menjadi TF yang artinya tiga perempuan cantik diibaratkan seperti bunga. Salah satu dari anggota kelompok tersebut yaitu Saski sudah memiliki pacar bernama Rendy. Rendy merupakan senior pada sekolah tersebut. Selisih satu tahun dengan Saski. Mereka berpacaran sejak Saski kelas X pertengahan. Semua siswa sangat ingin menjadi pacar mereka sehingga mereka selalu digoda. Hari tersebut. Mereka berjalan menuju kelas dan mereka digoda dengan semua siswa yang melihat mereka berjalan. Mereka berjalan dengan bersikap acuh. Ada juga yang ingin menyentuh tangan Saski. Saski segera marah.
"Kurang ajar" kata Saski dengan mendorong keras siswa tersebut dan mengerutkan dahi.
Siswa tersebut terkejut dan hampir jatuh lalu mereka sampai di kelas dan masuk ke dalam kelas. Mereka saling membicarakan tentang kekurangajaran beberapa siswa tersebut.
"Permasalahannya adalah gue lebih banyak digoda daripada kalian. Kurang ajar tuh anak" kata Saski dengan merasa sebal.
"Kita juga banyak digoda" kata Sofi dengan mengerutkan dahi.
"...tapi benar juga yang terlihat sangat cantik adalah loe daripada kita" kata Sinta.
"Apa?" kata Saski dengan merasa heran.
Saski protes.
"Sinta, kita sama. Sempurna" lanjut Saski dengan merasa percaya diri.
"TF adalah tiga perempuan cantik layaknya bunga" kata Saski, Sofi dan Sinta secara bersamaan dan tertawa sebentar.
Bel masuk berbunyi tanda pelajaran dimulai kembali. Semua murid masuk dan TF duduk di kursi masing masing. Mereka tidak duduk satu tempat karena semua guru tahu jika duduk bersama maka mereka akan saling bicara. Pukul 13.30. Bel pulang berbunyi dan semua siswa merasa senang.
"Anak-anak, PR di rumah halaman 55" kata guru.
Guru membereskan buku di meja dan berjalan keluar. Semua siswa berjalan keluar dari kelas dengan cepat. TF menunggu dengan saling bicara. Saski mulai menggerutu.
"Pokoknya gue tidak bisa" kata Saski dengan merasa sebal.
"Sejak tadi loe marah terus. Loe bisa belajar bersama Rendy atau jika tidak bersama gue dan Sinta" kata Sofi.
"Kapan gue bermesraan dengan Rendy jika gue membahas tentang pelajaran?" kata Saski dengan mengerutkan dahi.
"Loe memang pikiran selalu berpacaran"
"Sudahlah. Jika begitu kita bersama saja. Kapan loe ada waktu untuk bersama gue dan Sofi?" tanya Sinta.
"Gue menyontoh kalian saja" jawab Saski.
Rendy datang dan berdiri di samping Saski.
"Apa yang menyontoh?" sambung Rendy.
TF menoleh dan melihat Rendy.
"Tidak ada. Kamu salah dengar" kata Saski dengan berusaha bersikap tenang.
"Sofi, apa benar gue hanya salah mendengar? Apa mungkin baru saja kalian diberikan PR oleh guru?" tanya Rendy kepada Sofi.
Sofi melihat Rendy dengan merasa ragu dan melihat sekilas Saski lalu Saski segera menggeleng kepada Sofi dengan wajah panik agar Sofi tidak mengatakan apa pun kepada Rendy dan Sofi berusaha tidak merasa bingung.
"Tidak ada. Loe memang salah dengar" kata Sofi.
"Aduh, gue terpaksa berbohong. Rendy, gue minta maaf" pikir Sofi.
Rendy merasa tidak percaya dan melihat Sinta yang sibuk memandangi kukunya sendiri.
"Kenapa loe melihat gue begitu? Benar tidak ada PR" lanjut Sofi dengan berusaha tidak panik.
"Baiklah" kata Rendy berusaha percaya.
"Apa kamu datang ke sini untuk menjemput aku?" tanya Saski dengan berusaha tersenyum.
"Rendy. Saski. Kami pulang dulu" kata Sofi.
"Baiklah" jawab Rendy.
"Kalian hati-hati" kata Saski.
Sinta mengangguk lalu Sofi dan Sinta berjalan keluar dari kelas.
"Siapa yang akan aku jemput selain kamu? Kita jalan dulu" kata Rendy.
"Baiklah" kata Saski dengan merasa senang.
Rendy menggandeng tangan Saski dan Saski melepaskan tangan Rendy.
"Apakah kamu lupa peraturan sekolah?"
"Peraturan sekolah mengatakan bahwa tidak boleh ketika masih dalam jam sekolah. Sekarang sudah jam pulang"
"...tapi tetap saja di lingkungan sekolah" kata Saski dengan merasa ragu.
"Baiklah. Sejak dulu kamu selalu tidak mau digandeng aku"
"Tapi aku tidak pernah menolak jika di luar sekolah"
"Baiklah, Sayang. Aku akan selalu menurut perkataan kamu" kata Rendy dengan tersenyum.
Saski tersenyum. Rendy dan Saski berjalan keluar dari kelas hingga tempat parkir. Mereka berjalan menuju sepeda motor Rendy lalu Rendy naik ke atas sepeda motor dan Saski pun naik. Rendy menyetir sepeda motor. Rendy dan Saski jalan ke mall. Seperti yang Saski kenal bahwa Rendy tidak pernah membiarkan Saski jalan dengan memiliki jarak jauh dari Rendy. Pukul 15.30.
"Sayang, ayo kita makan dulu sebelum pulang" kata Rendy.
Saski mengangguk. Rendy dan Saski berjalan menuju kedai dalam mall tersebut dengan bergandengan tangan. Pukul 17.00. Rendy dan Saski baru sampai di rumah Saski karena setelah makan mereka masih berdua di tempat lain. Saski turun dari sepeda motor Rendy.
"Ayo masuk dulu"
"Lain waktu saja"
"Baiklah. Kamu hati-hati di jalan"
Rendy mencium pipi Saski.
"Kamu masuk dulu" kata Rendy dengan tersenyum.
Saski mengangguk lalu tersenyum dan berjalan masuk ke dalam rumah. Rendy menyetir sepeda motor. Pukul 20.00. Saski berusaha untuk mengerjakan PR. Saski hanya bisa beberapa dan handphone Saski berbunyi. Saski mengambil handphone lalu melihat layar handphone dan menerima telepon. Akhirnya Saski tidak menghiraukan PR justru banyak bicara dengan Rendy melewati telepon. Keesokan harinya. Pukul 06.30. Rendy sudah datang di rumah Saski dan Saski keluar dari rumah bersama mama Saski. Rendy menyapa mama Saski dengan sopan lalu Saski pamit pergi ke sekolah kepada mamanya dan naik sepeda motor Rendy. Rendy tersenyum sopan kepada mama Saski dan menyetir sepeda motor. Sekolah seperti biasa hanya saja Saski dihukum karena tidak mengerjakan PR. Rendy tidak bisa mengantarkan Saski pulang karena Rendy harus rapat OSIS akhirnya Saski menyuruh supir untuk menjemput. Sinta dan Sofi tidak membawa mobil sehingga mereka satu sepeda motor tidak bisa bersama Saski. Pukul 19.00. Saski diganggu oleh siswa di sekolah lewat handphone sehingga handphone Saski selalu berbunyi. Awalnya Saski berpikir bahwa Rendy telepon tapi ternyata pengganggu. Saski juga tidak bisa mengerjakan PR karena diganggu. Saski marah dan mengnonaktifkan handphone. Pukul 20.00. Saski tidak bisa mengerjakan satu soal akhirnya Saski ingin telepon Rendy tapi tidak jadi.
"Jika mengaktifkan handphone pasti gue diganggu kembali" pikir Saski.
Suara bel pintu terdengar dan Saski menyuruh pembantu untuk membukakan tapi pembantu tidak datang. Akhirnya Saski yang berjalan keluar dari kamar untuk membukakan pintu depan.
"Awas saja jika pengganggu yang datang" pikir Saski dengan merasa sebal.
Saski membuka pintu dengan mengerutkan dahi dan melihat Rendy.
"Sayang" panggil Saski.
Seketika wajah Saski berubah menjadi senang. Saski juga tersenyum.
"Kenapa tadi wajah kamu sempat sebal?" tanya Rendy dengan tersenyum heran.
"Aku diganggu terus dan berpikir yang datang mungkin pengganggu"
"Sekarang tidak sebal lagi karena ada aku" kata Rendy dengan tersenyum.
"Ayo masuk" ajak Saski dengan tersenyum.
Rendy dan Saski berjalan masuk lalu Saski mempersilahkan Rendy duduk dan mereka duduk.
"Apa handphone kamu tidak aktif untuk menghindar dari mereka yang mengganggu kamu?"
Saski mengangguk.
"Mereka menyebalkan" kata Saski dengan merasa sebal.
"Siapa tadi yang mengantarkan kamu pulang?"
"Supir. Sinta dan Sofi hanya membawa sepeda motor. Bagaimana rapat OSIS? Apa yang dibicarakan?"
"Sekolah akan mengadakan acara. Sekolah kita menjadi tuan rumah untuk acara tersebut dan OSIS sebagai panitia"
"Apa acara tersebut?"
"Peragaan busana dan setiap sekolah SMA dipilih untuk memperagakan busana tersebut"
"Berarti aku bisa tampil" kata Saski dengan tersenyum semangat.
"Jika OSIS yang memilih maka aku pasti pilih kamu tapi yang memilih pembina OSIS yaitu Pak Edwan"
"Biasanya ketua OSIS yang memilih"
"Benar tapi sekarang yang memilih adalah pembina OSIS"
"Tidak apa-apa jika aku tidak tampil"
"Kapan kamu mulai pesimis? Kamu pasti dipilih karena penampilan kamu selalu menarik" kata Rendy dengan memegang kedua lengan Saski.
"Ada juga yang bagus. Murid kelas 2C"
Rendy mengangguk.
"...tapi yang utama adalah kamu. Semua juga mengaku hal tersebut" kata Rendy.
Rendy melihat terus Saski dengan tersenyum dan Saski tersenyum. Rendy melepaskan kedua lengan Saski.
"Sayang, bagaimana pelajaran tadi? Aku dengar kamu dihukum karena tidak mengerjakan PR"
"Siapa yang berani mengatakan kepada kamu?" tanya Saski dengan merasa sebal.
"Aku mendengar percakapan mereka"
Saski terdiam.
"Karena kamu berbohong kepada aku berarti kamu harus dihukum"
