Bab 3 Sangat berdebar-debar
Tubuh Ariana membeku di tempat, dia takut bergerak, wajah Ken Anyu begitu dekat dengan wajahnya sekarang. Salah bergerak sedikit saja mungkin bibirnya bisa tinggal lebih lama dan tidak hanya kecupan biasa yang akan dia terima. Degup jantungnya berdetak semakin kencang. Ariana mengepalkan tangannya dan dia memutuskan untuk memejamkan kedua matanya.
Di dalam hati, dia menyerah untuk saat ini. Tidak ada gunanya lagi berdebat dengan Ken.
“Ariana! Apa kamu kira kamu masih pantas untukku? Apa yang kamu tunggu dengan berdiri sambil memejamkan mata di sana? Apa sentuhan yang tidak sengaja tadi sungguh membuatmu berpikir aku sengaja ingin mencium bibirmu? Kemarilah, kamu datang untuk wawancara bukan untuk menggoda pria!”
Ariana gagal memahami situasi dan dia dipermalukan oleh Ken. Wajah Ariana langsung memerah mendengar cibiran Ken Anyu.
Ken mengambil berkas dan membawanya menuju ke kursi sofa. Dia membuka lembarannya dan mulai meninjaunya.
Ariana merasa kata-kata Ken Anyu begitu pedas. Entah kenapa dia ingin sekali memukul wajah tampannya itu. Penampilan Ken Anyu lebih tampan dan semakin terlihat tampan dan dewasa, hanya saja sikapnya masih sedikit kekanakan dan pendendam. Memang seperti itulah Ken Anyu yang dia kenal.
Ragu-ragu Ariana berjalan ke sofa dan duduk di seberang meja Ken. Ken membuka lembar demi lembar dan bertanya padanya. Di dalam berkas tertulis bahwa Ariana tidak pernah bekerja di instansi mana pun.
“Jadi kamu belum pernah bekerja sebelumnya?”
Lagi-lagi Ariana melihat senyum penuh ejekan di bibir tipis Ken Anyu.
“Ya, benar.”
Ken Anyu melihat Ariana memasang wajah masam, kening wanita itu berkerut seolah-olah dia sudah menindasnya. Di bidang yang Ken Anyu tekuni pada saat ini, semua orang harus tahan banting untuk bisa tetap berdiri di posisinya. Jangankan cemoohan, penghinaan, perebutan posisi juga pasti akan datang jika mereka tidak berhati-hati suatu hari nanti.
“Jika kamu tidak siap untuk bekerja di sini tarik saja surat lamaranmu!” Ken menyodorkan berkas milik Ariana kembali ke arahnya.
Ariana melotot kaget. “Aku siap!” jawabnya cepat. Apa pun yang terjadi Ariana tidak akan mundur, dia sudah bertekad untuk masuk ke perusahaan untuk merintis kariernya. Untuk mengangkat status keluarganya yang sudah lama tenggelam ke dasar dan tidak diakui lagi.
Ken Anyu menghela napas panjang lalu berdiri dari sofa untuk menghubungi Lufi dengan telepon di meja kerjanya.
“Lufi, datanglah ke ruanganku, bawakan berkas yang belum aku selesaikan kemarin ke sini!” perintahnya.
Tidak lama setelah itu Lufi datang ke ruangan Ken Anyu dengan berkas yang diminta.
“Ini, Tuan!”
Ken mengambilnya lalu menyerahkan pada Ariana. “Kamu tinjau berkasnya, lalu kerjakan! Jika ada pertanyaan yang tidak kamu mengerti di dalam berkas ini, kamu bisa bertanya padaku!”
Ariana mendengarnya dan dia menganggukkan kepala. Ariana membuka berkas itu, masalah di dalamnya secara umum sudah dia pelajari dan dia ketahui sebelumnya, hanya saja masalah di dalam perusahaan ENCEN tidak banyak yang dia ketahui.
“Presdir, aku perlu meninjau masalah pembukuan inti untuk mengerjakannya,” ujarnya dengan ragu-ragu. Ariana menunjukkan poin yang tidak dia mengerti, sebelum mengambil keputusan untuk mengisinya dia harus tahu masalahnya.
Pikir Ken Anyu, Ariana hanya membesar-besarkan diri sendiri dan mencoba melamar di ENCEN ternyata Ariana memang mengetahui poin-poin masalah dan karena itu adalah berkas yang tidak bisa dia isi dengan asal-asalan tanpa mengetahui permasalahannya dengan jelas Ariana memintanya untuk diberikan izin meninjau berkas pembukuan inti.
“Mulai sekarang kamu akan mengurus masalah seperti ini!” Ken Anyu menatapnya dan berkata dengan serius. “Lufi, Ariana akan membantumu!”
Lufi mengukir senyum senang, karena biasanya dia akan menyelesaikan semua ini seorang diri, belum lagi dia harus menemani Ken Anyu ke mana pun pria itu pergi.
Lufi segera pergi untuk mengambil dua tumpuk berkas lalu dia letakkan di meja tepat di depan Ariana.
Ariana menatap dua pria itu dengan lega. Akhirnya dia diterima dan berhasil mendapatkan pekerjaan. Ariana sangat bersyukur di dalam hati.
“Nona, ini berkas yang harus Anda kerjakan hari ini, dan ini adalah pembukuan yang Anda minta sebelumnya. Semua yang ingin Anda gunakan sebagai acuan sudah ada di sini, jika ada hal lain yang Anda butuh kan, di sebelah ruangan ini ada ruang asisten. Nona bisa meminta berkas pada karyawan di sana!”
Senyum di bibir Ariana langsung sirna, dia menatap begitu banyak berkas di meja.
Ken Anyu berdiri dari kursinya, dia harus memenuhi jadwal pertemuan dengan klien.
Lufi segera mengambil berkas lain dari meja Ken Anyu.
“Nona, kami akan pergi memenuhi jadwal hari ini. Sebelum kami tiba setelah jam makan siang Nona harus menyelesaikannya dan meletakkannya di meja Presdir!”
Ariana menganggukkan kepalanya, dia datang memang untuk bekerja jadi dia tidak mengeluh dengan pekerjaan yang diberikan oleh Ken Anyu. Ariana mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, dia membutuhkan beberapa berkas lain jadi dia keluar dan memintanya di ruangan yang dikatakan oleh Lufi sebelumnya. Dari sana Ariana diambilkan berkas oleh karyawan yang bertugas pada pagi hari. Saat siang hari petugas lain memintanya untuk mencarinya sendiri.
Pekerjaannya masih tersisa sedikit dan dia harus menyelesaikannya sebelum Ken Anyu dan asistennya tiba di kantor.
Ariana tidak ingin mundur dari pekerjaan ini. Ini adalah hari pertamanya bekerja, dia harus memberikan kesal baik pada atasannya.
***
Di sisi lain, Ken Anyu dan Lufi sudah kembali dari pertemuan. Keduanya masih berada di dalam mobil dalam perjalanan kembali ke ENCEN.
“Apa kamu sudah menemukan informasi yang aku minta kemarin?”
“Sudah, Tuan!”
Lufi menyerahkan map berisi informasi terkait tentang Ariana. Di sana tercatat bahwa Ariana memang pindah ke kota lain pada beberapa tahun lalu, kuliahnya sempat tertunda selama beberapa tahun. Dan setelah Ariana memutuskan untuk putus di masa lalu mereka memang tidak pernah melakukan kontak apa pun lagi. Ariana menghilang bersama keluarganya dari Kota Bulan. Dan di sana juga tercatat Ariana telah kembali tiga bulan lalu. Ariana juga menghubungi beberapa instansi untuk melamar pekerjaan tapi belum diterima. Perusahaan tempat Ariana melamar, semuanya merupakan perusahaan kelas menengah ke atas salah satunya adalah ENCEN.
Melihat Ariana saat bertemu kembali kemarin, Ken Anyu menduga sepertinya Ariana tidak tahu kalau ENCEN adalah perusahaan milik keluarga Ken Anyu.
Di dalam dokumen itu juga tercatat bahwa keluarga Ariana sebelumnya adalah pemilik NEW, gedung tersebut telah diakuisisi karena bangkrut dan ENCEN adalah salah satu perusahaan yang menjadi pembeli saham terbesar. Sejak NEW bangkrut ENCEN mulai berkembang pesat dan mendirikan banyak anak cabang di ibukota.
Sementara perusahaan cabang NEW sekarang telah berpindah tangan menjadi milik Zaneta– ibu Gea.
“Papa Ariana kenapa mewariskan anak cabang pada Nyonya Zaneta? Bukankah dia saudara iparnya? Adik dari ibu Ariana?”
Lufi membisikkan jawabannya di telinga Ken Anyu.
“Mereka sebenarnya berselingkuh di belakang, Papa dari Nona Ariana memberikan anak cabang perusahaan di masa lalu karena Nyonya Zaneta memintanya.”
