Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 Apa salahku

Setelah tiba di parkiran, Ken Anyu segera menarik lengannya dari genggaman Gea.

“Nona Gea, urusan pekerjaan jangan dicampur adukkan dengan masalah pribadi,” ujarnya seraya menatap penampilan Gea di sampingnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ken Anyu tidak tahan terus berjalan di sisinya, wanita yang seharusnya terlihat lebih cantik dengan penampilan sederhana sekarang memakai riasan terlalu tebal dan wajahnya lebih mirip seperti ondel-ondel yang menari di pinggir jalan untuk menghibur pengguna jalan.

“Kakak, sekarang sedang hujan, aku ingin menumpang di mobilmu,” bujuknya dengan raut wajah memelas.

Ken Anyu tertawa mendengar rayuannya. “Nona Gea, aku akan memberikan payung untukmu, kalau tidak salah keluargamu juga tidak mungkin kekurangan mobil. Mereka bahkan memberikan hadiah keluaran terbaru di ulang tahunmu kemarin!” sindirnya.

Gea hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ken tidak memberikan kesempatan sama sekali, dia ingin protes tapi kata-kata itu hanya bisa dia tahan di dalam hatinya.

Ken Anyu dan Lufi masuk ke dalam mobil, sopir segera mengemudikannya pergi meninggalkan perusahaan.

“Lufi, kamu selidiki apa sebenarnya yang terjadi dengan keluarga Ariana!”

Lufi menganggukkan kepalanya, mobil mewah hitam itu perlahan meluncur pergi meninggalkan jalan depan perusahaan.

Tidak lama kemudian, mobil lain datang dan seseorang keluar dari dalam dengan sebuah payung di tangannya.

“Pelankan mobilnya!” perintah Ken Anyu pada sopir.

Pemandangan itu tidak luput dari perhatian Ken Anyu.

Ariana dibawa olehnya masuk ke dalam mobil, Ken Anyu meremas kepalan tinjunya. Hatinya masih sakit dan semakin membenci Ariana.

“Pria itu? Siapa dia? Apakah karena pria itu dia memutuskan hubungan kami beberapa tahun lalu?”

“Tuan, apakah Anda juga ingin menyelidikinya?” Lufi bertanya dari kursi depan sambil menoleh ke belakang.

“Ya! Aku ingin tahu semua informasi terkait Ariana!”

***

Pada keesokan paginya, Ariana kembali datang ke perusahaan ENCEN. Secara pribadi Lufi menghubunginya kemarin sore dan memintanya datang ke perusahaan untuk melakukan wawancara terkait pekerjaan.

Pikir Ariana dia akan bertemu dengan calon karyawan lain yang juga melamar pekerjaan sama sepertinya. Akan tetapi ruangan tempatnya menunggu sekarang adalah sebuah ruangan yang sangat luas tanpa memiliki tanda nama di atas pintu berbeda dengan ruang-ruangan lain.

Ariana diantarkan oleh penjaga lobi. “Nona silakan masuk ke dalam, Presdir meminta Anda untuk menunggu.”

Ariana mengikuti perintahnya lalu duduk di dalam dan menunggu.

Satu jam kemudian, Ken Anyu masuk ke dalam dan melihat Ariana duduk di sofa dalam ruangan kerjanya.

Ariana segera berdiri dan berjalan mendekatinya.

“Aku datang untuk melakukan wawancara!”

Ken Anyu berdiri di depan meja kerjanya, memunggungi Ariana. Membuka halaman dokumen sambil meliriknya dari kaca dinding.

Ariana meremas tali tasnya, hatinya terasa pahit, mungkin besok akan terasa lebih pahit dan semakin getir.

“Pre-presdir?” panggilnya lagi.

“Hem,” Ken Anyu menjawab tapi tidak menoleh.

“Aku datang untuk melakukan wawancara.” Ariana merendahkan nada suaranya.

Ken Anyu menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.

“Apa menurutmu kamu pantas?”

Mendengar jawaban Ken Anyu, perasaan Ariana terasa semakin hancur dan tambah pahit berkali-kali lipat.

Ariana tertawa tanpa suara, kedua bola matanya sudah berair dan jika dia terus bertahan beberapa menit lagi mungkin tangisnya akan pecah di dalam ruangan kerja Ken Anyu. Ariana mengepalkan kedua tangannya, menahan segala perasaan getir di dalam hati.

Hatinya sangat kacau dan hancur sampai tidak bisa diperbaiki lagi. Ya, jika dia tahu hasilnya seperti ini maka dia tidak akan pernah datang!

“Baiklah,” Ariana bersiap memutar badan dan pergi.

“Ariana!” tahan Ken Anyu.

Ariana menarik napas dalam-dalam lalu menyeka air mata di kedua pipinya baru berbalik.

“Katakan alasannya!” perintah Ken Anyu.

Ariana maju satu langkah ke depan.

“Aku tidak memiliki alasan untuk dikatakan, aku datang untuk wawancara jika Tuan tidak menerimaku maka seharusnya aku tidak dipanggil untuk datang ke sini hari ini. Aku dengar dari orang-orang Presiden direktur ENCEN sangat profesional dalam urusan pekerjaan, apakah itu hanya omong kosong belaka? Karena Presiden direktur yang aku temui sekarang lebih memikirkan masalah pribadi yang sudah berlalu dan tetap berdiri di masa lalu.”

Ken Anyu berkacak pinggang, dia sangat kesal dan marah. Wanita yang dia kenal dulu dan sekarang sama sekali tidak berubah. Ariana masih keras kepala dan tidak bisa bersikap lebih lunak padanya. Mengingat betapa manisnya hubungan mereka di masa lalu, Ken Anyu masih tidak percaya dengan jawaban Ariana sekarang.

“Kamu ingin aku menerimamu bekerja di sini, dan aku mengajukan pertanyaan untukmu! Apa hakmu memutuskan apa yang akan aku tanyakan padamu? Ariana kamu hanya wanita sentimental yang bahkan tidak memiliki harapan untuk maju ke depan! Aku bertanya dan aku ingin mendengar alasanmu, apa hak mu memutuskan apa yang akan aku tanyakan padamu? Jika kamu tidak terikat dalam perasaan bersalah tentang masa lalu kita, kenapa kamu tidak menjawabnya dengan jujur saja? Kamu menolak menjawabnya? Oke!”

Ariana mengerutkan alisnya. Dia hanya tidak menyangka wawancara yang diinginkan Ken Anyu adalah alasan dan keputusan Ariana di masa lalu.

“Itu, karena, perusahaan keluargaku bangkrut, aku harus pindah dari Kota Bulan. Mamaku sakit parah dan harus dirawat, aku tidak bisa memikirkan hal lain kecuali fokus belajar.”

Ken Anyu mendengarkan jawaban yang sama dengan yang dia dengar di masa lalu. Menurutnya keputusan Ariana tetap saja salah dan tidak masuk akal sama sekali.

“Apakah memiliki perasaan cinta padamu juga salah? Apakah itu sebuah beban berat dalam hatimu?”

Ariana menyeka kedua pipinya, dia memang memiliki perasaan mendalam tapi pada saat itu dia harus pergi dan pindah ke kota lain, menurutnya dia tidak akan pernah melanjutkan lagi hubungan cintanya karena terhalang dengan jarak yang terlalu jauh.

“Maafkan aku ....” Ariana hanya bisa merasakan rasa getir di dalam hati. Semua yang dibahas dan ingin didengar Ken Anyu adalah masa lalu pahit yang ingin dia kubur dan ingin dia lupakan.

Ketika menatap kedua mata Ken Anyu, dia melihat perasaan getir dan pahit sama seperti yang dia rasakan sekarang.

“Maaf? Ariana kamu sangat tidak masuk akal! Katakan apa salahku? Ya, setidaknya aku mendengar apa kesalahan yang sudah aku lakukan sehingga kamu memutuskan untuk meninggalkanku!”

Bahu Ariana digenggam erat dan diguncangkannya.

“Ken, aku tahu aku salah! Tolong, lepaskan aku!” Ariana mendorongnya menjauh dan Ken Anyu hampir menabrak meja di belakangnya.

“Aku tahu aku salah, kamu juga sudah hampir bertunangan dengan Gea, masa lalu antara kita aku harap tidak akan dibahas lagi di masa depan, jika kamu menolakku bekerja di sini, oke aku akan pergi sekarang!” pamitnya dengan terburu-buru.

Ken Anyu sangat kesal ketika mendengar Ariana menyebut nama Gea.

Ondel-ondel itu, apa dia layak disebut sebagai calon istriku! Sialan! Sejak kapan seleraku begitu rendahan?

“Ariana! Kita belum selesai wawancara! Apa kamu sudah tidak ingin bekerja di sini lagi?”

Ariana menahan langkahnya, dia sudah mencapai pintu keluar. Terdengar suara langkah kaki di belakangnya. Semakin lama semakin dekat.

Ariana menahan napasnya, Ken Anyu mengulurkan tangannya dari belakang lalu memutar kunci dan mengambil kunci tersebut lalu memasukkannya ke dalam saku celananya.

Ariana menoleh dengan bibir bergetar dia menyebut namanya. “Ken ....”

Bibir Ken Anyu menyentuh bibirnya, mirip seperti satu kecupan yang tidak disengaja tapi juga disengaja untuk menghukumnya.

Ariana kamu harus membayar mahal karena sudah memutuskan hubungan denganku di masa lalu!

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel