Bab 1 Kota Bulan
22 Januari, ENCEN grup.
Ariana berdiri menatap gedung tinggi menjulang tepat di depan matanya. Dokumen untuk melamar pekerjaan digenggamnya dengan erat dalam pelukan. Keringatnya mengucur di pelipisnya, matahari bersinar terlalu terik dan menyengat kulit.
“Mereka pernah bilang di media, perusahaan ini adalah pemimpin perusahaan menengah ke bawah di Kota Bulan. Masuk ke perusahaan ini adalah jalan satu-satunya untuk mengembangkan karierku! Ya! Aku harus berusaha untuk menjejakkan kakiku di bidang ini! Aku harus berusaha untuk mendapatkan NEW kembali, aku pasti bisa!”
Ariana memiliki harapan besar untuk bisa berkembang dengan bekerja di perusahaan besar.
Begitu menjejakkan kakinya di pintu perusahaan dua orang satpam tiba-tiba menahannya dan mendorongnya ke samping. Tubuh Ariana jatuh tersungkur di lantai, dia menggigit bibirnya dan mengepalkan tangannya.
“Ariana? Hahaha! Kamu begitu lusuh dan jelek sekarang, apakah kamu pikir kamu bisa masuk ke perusahaan ENCEN? Lihatlah penampilanmu sekarang! Seharusnya kamu bercermin dulu sebelum datang ke sini!”
Gea, saudara sepupunya berdandan dengan sangat menor. Wanita muda itu sebaya dengan usianya, dulunya Gea adalah salah satu anggota saudaranya yang sering mengemis bantuan dari keluarga Ariana. Sekarang keluarga Gea berhasil duduk di level menengah ke atas, dan merendahkannya.
Ariana sangat malas mendengar ocehannya, dia tidak ingin mendengar omong-kosong dari mulut Gea.
Gea semakin marah ketika Ariana mengabaikannya, Ariana mengemas dokumennya kembali dari lantai dan berniat berdiri tapi Gea mendorongnya lagi hingga Ariana terjatuh.
“Gea! Kamu sangat keterlaluan!” Ariana menatapnya dengan penuh kemarahan.
“Hahahaha! Kenapa? Sebentar lagi aku akan bertunangan dengan Presiden Direktur di perusahaan ini! Kamu ingin masuk ke perusahaan ENCEN, kamu harus menunjukkan sikap baik padaku! Lagi pula lihatlah penampilanmu ini, apa kamu pikir kamu cocok untuk menjadi salah satu karyawan di sini? Kamu sekarang terlihat seperti seorang pengemis!”
Ariana bangun dan berdiri dengan hati-hati. Kaki kanannya terkilir saat Gea mendorongnya terakhir kali.
Ken Anyu bersiap untuk pergi dalam pertemuan penting. Dia melihat keributan di pintu lobi lalu bertanya pada asistennya Lufi.
“Lufi, apa yang terjadi? Kenapa ribut sekali?”
“Tuan, Nona Gea sepertinya sedang bertengkar dengan seseorang.”
Ken Anyu menghela napas panjang. “Wanita itu kenapa tidak bisa tenang sehari saja!” keluhnya.
“Belakangan ini Nona Gea sering membahas pertunangannya dengan Tuan, dia-”
“Cukup! Aku sudah mengerti sekarang!” Ken Anyu menyunggingkan senyum di salah satu sudut bibirnya. Dia menatap Gea yang kini berkacak pinggang dan terus memarahi seseorang di pintu lobi. “Dia terus menggembor-gemborkan hubungan antara kami, padahal hubungan ini tidak lebih hanya kerja sama antar perusahaan.”
Ken Anyu berjalan dengan langkah lebar menuju ke pintu keluar. Di pintu lobi dia melihat Ariana, gadis yang pernah meninggalkannya dengan segudang alasan tidak masuk akal. Dan sekarang Ariana berdiri di luar pintu lobi. Ariana tidak melihatnya karena posisi Ken Anyu masih berada di dalam dan terhalang dengan pintu kaca.
Tatapan mata Ken Anyu tertuju pada berkas di tangan kanan Ariana.
Apa jangan-jangan dia adalah wanita yang mengirimkan presentasi dalam email perusahaan? Kemampuannya lumayan bagus dalam pengembangan proyek perusahaan, hari ini aku memanggil orang itu datang ke perusahaan.
Ken Anyu memiliki pertanyaan dalam hati, dia tidak melihat siapa orang yang mengirimkan presentasi singkat tentang pengembangan proyek satu pekan lalu. Semua urusan penerimaan dan pemanggilan karyawan yang masuk kualifikasi diurus oleh Lufi, asistennya.
“Lufi, apakah orang yang mengirimkan formulir itu adalah Nona Ariana?”
Lufi melihat ponselnya sebentar lalu menunjukkan berkas surat lamaran serta presentasi singkat yang dikirimkan oleh Ariana di web perusahaan.
“Benar, Tuan!”
Ken Anyu mengepalkan tangannya, dia sangat marah hingga meremas kepalan tangannya.
Di luar pintu Gea masih terus menindas dan mendorong Ariana hingga Ariana hampir jatuh menabrak pot besar di belakang punggungnya.
Ken Anyu tidak ingin menolongnya akan tetapi secara otomatis tubuhnya bergerak maju dan menangkap pinggang Ariana, meraihnya ke dalam pelukannya.
Ariana menatap wajahnya, ini pertama kalinya dia bertemu dengan Ken Anyu setelah putus hubungan. Ariana masih tidak percaya dengan sosok yang kini menangkap dan menahan tubuhnya hingga dia tidak terjatuh.
“Ken ....”
Ken Anyu menatap kedua mata Ariana. Dia terpaku melihat pesonanya. Ariana masih cantik sama seperti ketika gadis itu pergi meninggalkannya beberapa tahun lalu. Hanya saja kondisinya sekarang tidak terlihat baik-baik saja seperti tahun-tahun awal mereka berpacaran. Baju yang dipakai Ariana juga terlihat sangat sederhana dan polos.
“Kakak Ken! Kakak!”
Gea memanggil nama Ken Anyu dengan nada yang sangat manja. Ariana mendengarnya dan dia menyadari satu hal, Ken Anyu adalah pria yang dimaksud oleh Gea dan akan bertunangan dengan Gea.
Jadi pemilik perusahaan ENCEN adalah Ken Anyu? Lalu Gea? Adalah calon tunangannya? Sekarang aku mencoba melamar pekerjaan di sini, apakah aku akan didiskualifikasi karena masalah sebelumnya? Haruskah aku mundur dan pergi saja? Lalu bagaimana dengan karier dan cita-citaku? Aku harus membuat NEW bangkit kembali!
Ariana langsung melepaskan diri dari pelukannya dan melangkah mundur beberapa langkah.
Baru beberapa langkah Ariana menjauh, Ken Anyu langsung menarik lengannya mendekat lalu berbisik di telinga Ariana.
“Apakah kamu sudah mengambil keputusan? Berkas di tanganmu bukankah harus diserahkan pada asistenku? Aku belum meninjaunya, Nona Ariana! Jangan-jangan, kamu ingin kabur lagi?”
Ken Anyu sengaja mengejeknya.
Bibir Ariana tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Lengannya diremas dan digenggam dengan sangat erat oleh Ken Anyu. Tatapan dari kedua mata Ken Anyu jelas-jelas mengintimidasinya.
Tubuh Ariana terasa tersengat listrik, kedua kakinya membeku di tempat.
Gea melihat pemandangan Ken Anyu begitu dekat dengan Ariana merasa hatinya terbakar api cemburu.
“Kakak! Kak ....” panggilnya lagi dengan suara lebih manja.
Ken Anyu mengangkat tangan kanannya, isyarat tersebut ditujukan pada Gea jika dia sampai melangkah maju selangkah maka dia harus menanggung akibatnya!
Gea menundukkan kepalanya, dia semakin marah dan membenci Ariana karena masalah ini.
Lufi segera maju untuk meminta dokumen dari Ariana. “Nona, dokumennya bisakah Anda serahkan sekarang? Tuan harus meninjaunya untuk mempertimbangkan kembali,” ujarnya pada Ariana.
Ariana menggigit bibirnya, dia menganggukkan kepalanya lalu menyerahkan dokumen tersebut.
Begitu dokumen berpindah tangan, Ken Anyu dan Lufi juga berlalu dari hadapannya. Ariana masih berdiri dan menundukkan kepalanya. Bumi terasa hancur dan langit terasa runtuh jatuh menimpa di atas kepalanya.
Gea berjalan mengekor mereka lalu berusaha menyentuh dan mengamit lengan Ken Anyu. Melihat keduanya begitu dekat Ariana hanya bisa tertawa dalam perasaan putus asa, Airana pikir ini adalah akhir pahit yang harus dia terima dengan lapang dada akibat keputusannya di masa lalu.
“Apa artinya tidak ada harapan lagi sekarang? Apakah masih ada harapan untuk memperjuangkan NEW? Papa ... Mama ... Jika kali ini aku masih gagal, aku tidak tahu lagi. Pemilik perusahaan induk terbesar di Kota Bulan adalah Ken Anyu, dia adalah pria yang pernah aku cintai dan sudah aku dorong pergi. Ken Anyu sangat membenciku, dan sekaranng aku harus menerima apa pun keputusan darinya. Aku tidak mungkin merayunya agar dia sudi menerimaku di ENCEN. Aku tahu betul sifat Ken Anyu, dia bukan tipe pria yang mudah untuk dirayu.”
Ariana berjalan lesu meninggalkan gedung. Ketika tiba di pagar gedung hujan turun dengan sangat lebat. Ariana berlari menuju ke halte terdekat. Baju dan sekujur tubuhnya basah kuyup.
Di dalam mobil, Ken Anyu menatap sosoknya. Ariana adalah satu-satunya wanita yang pernah mengikat hatinya dan membuatnya mengerti apa itu cinta.
