Bab 3 Meninggalkan Dunia Model
"Kamu sudah tidak waras ya, menyetujui Hanna tinggal bersama Nando," Ucap Ronaldo di meja makan saat mereka berkumpul untuk sarapan pagi.
Ruth merahasiakan kejadian semalam dari suaminya. Dia tidak ingin permasalahan kecil menjadi tidak terkendali. Zaman sudah berubah dan Ruth yakin, jika Ronaldo tahu kalau selama ini Hanna menjalin hubungan terlarang dengan sang supir pribadi, maka Hansen, pria muda yang diangkat suaminya dari panti asuhan, sudah mengkhianati kepercayaan mereka. Ruth yakin Ronaldo tidak akan segan segan untuk menjebloskan Hansen ke balik jeruji besi.
"Sayang, kamu pasti gembira sekali bisa tinggal di rumah keluarga Widjaja. Tolong jaga sikapmu ya. Jangan melakukan hal di luar batas. Daddy tidak mau mendengar kamu hamil di luar nikah walaupun kamu sudah bertunangan dengan Nando. Daddy takut dia akan meninggalkan dirimu saat kamu berbadan dua atau bahkan tidak mau mengakui anak di perutmu. Kamu paham?" Ronaldo menatap tajam ke arah Hanna yang pagi ini memakai gaun seksi. Ronaldo sangat mencintai putrinya sehingga dia tidak pernah melarang apa pun yang putrinya lakukan.
Tangan Hanna sedang meraih sandwich sebagai menu sarapan paginya. Ya sejak semalam dia tidak bisa tidur karena malu ketahuan berbuat hal tak senonoh dengan supir pribadinya.
Hasrat sialan
"Iya Dad. Aku sudah siap berangkat ke rumah calon suamiku." Hanna meraih gelas susu dan meneguknya hingga habis.
Ronaldo pun melakukan hal yang sama, dia menyeruput habis kopi susu dalam cangkir di genggamannya.
Ruth merasa lega mengetahui suaminya setuju melepas Hanna tinggal di rumah calon suami Hanna. Ruth sangat mengenal anaknya. Anaknya yang masih berusia remaja, memiliki hasrat terpendam, dan tidak bisa dikekang.
"Terima kasih, Mom."
Ruth hanya tersenyum menanggapi ucapan terima kasih dari putri tercintanya. Fiuh... dia takut Hanna akan tetap tersakiti pada akhirnya.
#$#$#
Pagi ini Nando terbangun dari tidur nyenyak karena bermimpi basah setelah melihat foto vulgar tunangannya. Ya... sudah seminggu ini, dia setiap malam mengalami mimpi yang mungkin akan segera terwujud jika dia cukup meminta pada Hanna. Tapi dia masih merasa enggan.
Nando bangkit dari tempat tidur dan melangkah ke arah kamar mandi.
Dia meraih sabun cuci wajah lalu menggosok wajahnya di depan cermin.
Setelah itu dia menggosok giginya. dan menyikat rambut cokelat tebal miliknya. Dia memperhatikan pantulan dirinya di depan cermin, tampak wajah pemuda yang tampan, dengan alis mata tebal, pipi yang cukup chubby, hidung yang mancung, dengan iris mata berwarna biru langit. Tubuhnya pun tergolong macho walaupun masih belum terbentuk sempurna.
"Amora lagi sedang apa ya?" Tiba tiba Nando merasa kangen pada Amora. Gadis cilik yang sudah berada di pikirannya sejak 3 bulan yang lalu. Di saat, dia kehilangan Mommy, Amora yang memberi pelipur lara dengan mengatakan, "Tuhan mengambil dan akan memberikan pengganti sosok Mommy, Mommy mencintai Kak Nando selamanya."
Walaupun hanya kata penguat seperti itu, namun Nando merasa dikuatkan. Bahkan Amora yang memberikan koyo untuk menurunkan demam dan menemani Nando supaya tidak kesepian sepanjang malam.
#$#$#
"Amora, Kamu kalau mau mengunjungi Kak Hanna, telepon Kak Hanna saja ya. Biar pun Kak Hanna tidak tinggal serumah lagi, tapi Kak Hanna bisa kamu telepon kapan pun." Hanna memeluk adik angkatnya dengan rasa sayang.
"Menurut Kak Hanna, aku lebih baik ikut les musik?"
"Musik akan memperindah duniamu. Kak Hanna sendiri menyukai bermain piano. Jangan jadikan musik itu sebagai kewajibanmu, kamu suka mendengar suara musik?" Tanya Hanna.
Ruth kadang terkesima melihat dan mendengar sendiri betapa bijaknya sang Putri. Seusia belia sudah bijak dalam berpikir walaupun tidak diiringi dalam hal tindakan.
"Amora tidak suka mendengar musik. Tapi suka mendengar Kak Hanna menyanyi. Boleh kah Amora menelepon Kak Hanna sebelum tidur untuk mendengar suara Kak Hanna?" Pinta Amora dengan manja.
"Tentu saja boleh. Kak Hanna akan selalu ada untukmu sayang."
Hanna mengecup kedua pipi Amora dengan rasa sayang. Dia merindukan memiliki saudara. Tuhan memberikannya melalui Amora. Gadis Ceria, Cantik, dan Manja.
"Mommy kok merasa seperti kamu ibunya Amora," ledek Ruth.
"Mommy tetap Mommy Amora," Amora memeluk pinggang Ruth.
"Udah sayang, sana berangkat." Ucap Ruth lagi.
"Bye bye semua."
Hanna melambaikan tangan ke arah Mommy Ruth, Amora, Baby sitter Amora, beberapa pelayan rumah tangga, dan Hansen.
Hansen melepas senyum lebar atas kepergian nona mudanya. Akhirnya impian Nona Hanna akan menjadi kenyataan. Menjadi istri Tuan Vernando Widjaja. Hansen yakin kalau Vernando akan tergila gila pada Nona Hanna. Sudah cantik, Ramah, Royal, dan Budak Cinta. Betapa beruntungnya Tuan Vernando mendapatkan gadis pujaan para lelaki.
#$#$$
"Selamat pagi Papa." Sapa Nando. Nando menarik kursi di samping papanya di ruang makan. Papanya sedang menikmati semangkuk Cereal dan secangkir kopi. Sarapan harian Charles.
"Pagi. Papa mau kasih kabar terbaru ya mengenai Hanna. Orangtuanya menyetujui Hanna tinggal bersama kita selama beberapa waktu. Mungkin sampai kamu dewasa dan melamarnya." Kekeh Charles.
"Papa sudah tidak sabar mempunyai cucu?" tanya Nando menggoda.
"Kamu itu ya. Papa tidak meminta cucu. Usiamu masih remaja. Papa tidak mau kamu menyesal karena menikah muda. Nikmati masa mudamu. Hanna sangat mencintaimu jadi dia milikmu seutuhnya. Jangan pernah percaya gosip di luaran. Papa yakin kalau dia cinta mati padamu. Padahal papa merasa anak papa tidak ada kelebihan apa pun. Sedangkan Hanna bisa mendapatkan pasangan siapa pun itu."
Nando mencebik. Dia kadang tidak suka kalau papa sudah memuji Hanna setinggi langit. Bisa apa si "Dewi Seks" selain mahir di ranjang. Lama lama juga para lelaki akan bosan jika terus bersama hanya dengan satu perempuan saja. Nando terkekeh sendiri saat membayangkan dia bosan dan memutuskan pertunangan dengan Hanna.
"Aku tidak mau dia melanjutkan karirnya di dunia model. Dia selalu berbuat ulah di luar sana. Aku ingin dia sepulang sekolah di rumah saja. Belajar menjadi gadis yang baik. Gadis rumahan." Ucap Nando tiba-tiba.
Hanna yang saat itu sudah melangkah masuk ke dalam rumah melalui pintu samping, dekat dapur, mendengar ucapan Nando dengan Papa Charles. Hanna melangkah santai menuju ke arah meja makan.
"Kamu sudah tak sabar menjadikan aku istrimu?" Goda Hanna, menarik kursi di samping Nando dan duduk di sana.
Nando menoleh dengan wajah kaget mendapati kehadiran Hanna yang selalu tiba-tiba.
"Ehm... kamu mau kujadikan istri? Mau menunggu 20 tahun lagi?" ucap Nando dengan suara cuek.
"Menunggu ratusan tahun pun aku bersedia. Selamanya aku adalah milikmu." Hanna mengecup pipi Nando tanpa izin.
"Ish..pagi pagi udah mengesalkan saja."
Charles hanya tertawa melihat tingkah dua anak muda di depannya. Ada rasa kangen terhadap sosok istri tercinta.
#$#$$
