Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 malam pertama

Bagaimana Hanna bisa rela melepas hobinya bergaya di depan kamera demi permintaan Nando? Hanna bahkan rela jika Nando memintanya untuk menjadi istrinya di usianya yang masih 15 tahun. Entahlah, Hanna rela melakukan apa saja demi Nando.

Hanna memilih tidur di kamar sebelah milik Nando. Kamar di loteng teratas. Memiliki pemandangan kaca di hadapan depan dan langit yang dapat di lihat dari kaca di atas kepala Hanna.

Di lantai ketiga memang hanya ada 2 kamar. Tadinya kamar yang Hanna tempati, akan ditempati adik Nando, namun adik Nando meninggal saat Clara hamil 8 bulan. Meninggal di dalam kandungan.

Hanna sedang menata buku buku ke dalam rak buku, menyukai motif princess di sepanjang dinding.

Setelah rampung, Hanna memilih untuk mandi di kamar mandi yang terletak di dalam kamar.

Jam dinding di kamar sudah menunjukkan pukul 19:00, sudah seharian Hanna membereskan pakaiannya di gantungan dan buku buku sekolahnya. Hanna membawa 2 koper dan 5 dus saat pindah ke rumah ini. Rumah ini lebih mewah dari rumah yang dia tempati. Pelayan di rumah ini pun mencapai 10 orang. Tidak ada supir di rumah ini. Sejak Mama Clara meninggal supir diberhentikan. Karena supir teledor sehingga menyebabkan mobil Mama Clara kecelakaan di jalan.

"Kenapa kamu tidak menggunakan bantuan pelayan untuk membereskan pakaianmu?" Nando berdecak sebal karena melihat barang milik Hanna.

Hanna mengangkat kepalanya dari bawah meja belajar. Tersenyum lebar melihat sosok sang pujaan hati.

"Aku sudah biasa mandiri. Di rumah aku juga jarang meminta bantuan pelayan. Maklum pelayan di rumahku hanya beberapa orang saja. Tidak sebanyak di sini."

Nando tertawa mendengar ucapan Hanna. Nando tidak percaya kalau Hanna bukan gadis manja.

"Keluargaku lebih kaya dari kamu. Jadi, wajar saja jika rumahku dan pelayanku lebih banyak. Kamu jangan terlalu manja tinggal di sini. Urus dirimu sendiri."

Hanna mengangguk mengerti. Sudah sejak beberapa tahun silam, dia sendiri yang mengurus dirinya sendiri.

"Aku boleh mengatur keadaan rumah ini?"

Nando tampak terdiam sejenak sebelum mengangguk tanda setuju.

"Toh kamu memang tidak ada kerjaan selain belajar. Ingat, pulang pergi kamu akan aku jemput. Jangan lelet. Segera turun ke ruang makan. Aku tidak suka menunggu."

$$#$#

Charles sedang menikmati makan malamnya. Hari ini dia sangat senang karena mendapat menu makanan kesukaannya. Charles tahu, diam-diam tadi siang, Hanna turun ke dapur untuk meminta koki untuk menyiapkan menu makan malam dengan menu kesukaannya.

"Tadi siang kamu makan apa? kok tidak turun makan siang?" Tanya Charles.

"Hanna tadi makan makanan fast food Pa. Tadi Hanna sibuk beberes jadi belum sempat masak. Maaf ya Pa."

Nando mendengar semua percakapan antara papanya dengan Hanna namun dia diam saja tidak ikut menyahut. Masak? yang benar saja.

"Besok Papa akan menyerahkan kartu kredit untukmu berbelanja dengan koki kami."

"Untuk apa kartu kredit? Hanna biasa berbelanja di pasar tradisional."

"Lokasinya jauh dari sini An. Kamu bisa berbelanja ke supermarket besar di ujung jalan ini."

"Tapi tidak perlu pakai kartu kredit segala Pa. Hanna minta uang tunai saja. Nanti struk belanja akan Hanna kasih setiap Hanna pulang belanja."

"Boleh juga pakai uang tunai. Papa kasih kamu uang jajan juga ya buat di sekolah."

"Ehm, Papa tidak perlu kasih Hanna uang jajan. Dia masih ada orangtua. Kita sudah kasih dia makan gratis, tidur gratis, apa perlu digaji juga?" Celutuk Nando tidak suka atas perhatian Papa kepada Hanna.

Hanna jadi malu karena dicap hanya numpang tinggal. Dia memang hanya calon menantu. Tapi dia kan tidak tinggal gratis di sini. Dia akan mengurus rumah ini juga.

"Hanna ini serba bisa. Dia sosok istri sempurna. Walaupun masih usia muda." Puji Charles. Pujian yang membuat wajah Hanna memerah karena tersanjung.

Nando tak mau menanggapi ucapan Charles lebih lanjut. Bisa bisa mood makannya hancur.

#&#&$

Hanna sudah berganti pakaian santainya tadi dengan lingerie favoritnya. Berwarna putih, tipis, dan bersilang. Bahannya yang ringan dan halus membuat Hanna seperti tidak memakai apa pun.

Malam pertama

Hanna membuka pintu kamar Nando yang selalu tidak pernah terkunci.

Hanna melangkah masuk dan mengunci pintunya dari dalam kamar.

"Akhirnya kamu datang juga." Ucap Nando yang muncul dari dalam kamar mandi.

Nando melempar botol obat ke arah Hanna. Untung saja Hanna gesit dan berhasil menangkap botol plastik tersebut.

Hanna membolak balik botol tersebut dan masih tidak mengerti itu botol obat untuk apa.

"Itu aku dapat dari apotek. Pil pencegah kehamilan. Di dalamnya berisi 60 butir. Setiap hari minum 1 butir. Sebelum kamu datang ke kamarku setiap malam, kamu HARUS meminumnya. Bila habis, laporkan padaku. Aku akan membeli lagi. Jika kamu sampai hamil, aku tidak akan mau mengakui anak itu atau harus kamu gugurkan. Paham?" Nando menekan kalimat harus. Seakan itu kalimat mutlak yang wajib dituruti Hanna.

Pipi Hanna bersemu merah mendengar setiap malam. Dia tidak menyangka bahwa pemuda yang dia cintai akhirnya mau menjadi miliknya.

"Baiklah Nando. Aku tidak akan lupa meminum pil ini. Show must go on."

Hanna meletakkan botol obat beserta kunci kamar ke atas nakas. Dan naik ke atas ranjang.

XcXCX

Sakit, perih, dan buat ketagihan. Itu rasa malam pertama Hanna. Benar benar malam pertama, karena Hanna baru saja melepas keperawanannya malam ini bersama kekasih hati.

Sementara itu, Nando merasa ditipu oleh Hanna. Anggapan Nando tentang kejadian beberapa bulan yang lalu adalah salah besar. Nando tidak menyentuh Hanna walaupun dalam kondisi pengaruh minuman dan obat.

Nando berpura tidak mengetahui bahwa malam ini mahkota suci Hanna dia miliki. Dia memperlakukan Hanna seperti gadis murahan seperti anggapannya selama ini.

Tindakan kasar, cepat, dan tanpa perasaan. Menyebut nama Amora setiap Nando merasakan pelepasan hasrat.

Dia membiarkan Hanna bermain dengan tubuhnya karena Nando tahu kalau Hanna adalah pemain pro di atas ranjang.

XcXCX

Selepas kedua insan manusia menuntaskan hasrat, sang mentari pun mulai muncul di atas langit. Hanna meneteskan air mata saat melihat semburat warna oren kemerahan di balik kaca. Dengan diiringi suara dengkuran halus sang calon suami.

Tidak puas menyiksa Hanna secara fisik, setiap kalimat yang Nando ucapkan yang paling melukai Hanna. Nando menyebut nama Amora berulang kali dan menyebutnya jalang setiap Hanna meminta istirahat.

6 jam menghabiskan waktu bersama dengan Nando tidak memberikan rasa puas dan bahagia. Air mata yang Hanna teteskan setiap kali nama Amora yang disebut.

Hanna perlahan bangkit dari ranjang besar milik Nando, dan meraih lingerie miliknya yang teronggok di bawah ranjang. Celana dalamnya yang terkoyak, dia lemparkan ke dalam tong sampah kamar Nando. Biar saja pelayan menemukan benda tersebut. Hanna sudah tidak peduli.

Perlahan dia mengambil pil di dalam botol dan meraih gelas air di atas nakas. Setelah meminum pil anti hamil, Hanna mengambil kunci dan botol obat, berjalan meninggalkan kamar tidur Nando.

Hanna tidak membalikkan tubuh sama sekali menatap sosok tubuh Nando, dia merasa kotor dan marah pada diri sendiri karena menyesali pengalaman pertamanya yang begitu mengenaskan.

#$#$#

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel