Bab 2 Hubungan terlarang
Ruth baru saja pulang dari perusahaan miliknya. Suaminya, Ronaldo juga baru saja tiba dan duduk di sofa ruang keluarga dengan pakaian kerja yang masih menempel di tubuhnya.
"Hai, Bagaimana kabar kamu hari ini di kantor?" Tanya Ronaldo mengecup bibir sang istri. Istri yang sudah dia nikahi 20 tahun yang lalu.
"Kami sedang mengerjakan proyek apartemen di pusat kota. Lumayan capek juga." Ruth memberikan senyum manis pada Ronaldo.
"Kamu sendiri bagaimana di perusahaan otomotif ?" Ruth balik bertanya.
"Cukup sibuk, sayang. Apalagi Charles berencana meluncurkan model mobil terbaru. Aku harus siap siap mengeluarkan modal lagi. Hehehe," Ucap Ronaldo.
"Kas kita cukup kan ? atau butuh modal dari brankas? " tanya Ruth.
"Cukup. Masih ada lebih. Rumah kita di New York kapan mau kita tempati? "
Ruth tampak berpikir tentang rumah mewah di kawasan elite yang sudah mereka beli beberapa tahun ini. Rumah yang mereka beli untuk hadiah ulang tahun Hanna ke 17. Namun masih mereka rahasiakan.
"Sepertinya kita saja yang akan pindah. Hanna menyukai kota ini dan dia tidak akan mau berpisah dari Nando."
"Anak itu suatu saat akan sadar kalau cinta bertepuk sebelah tangan itu melelahkan. Daddy tidak mau Hanna menyia-nyiakan masa mudanya hanya demi pemuda itu," ucap Ronaldo dengan nada kesal.
Ruth menyentuh lengan suaminya tanpa menanggapi lebih lanjut percakapan mereka. Pikiran Ruth melayang mengingat bahwa butuh beberapa tahun menikah, mereka baru bisa mendapatkan Hanna. Ruth bahkan mengorbankan rahimnya demi mempertahankan Hanna agar terlahir ke dunia. Ronaldo sangat mencintai istrinya yang lebih muda 10 tahun darinya.
"Dia permata hati kita." Ucap Ruth dengan suara pelan.
#$#$#
Hanna sudah melepas baju tidurnya ketika naik ke atas ranjang. Menunggu tengah malam tiba. Dia menanti kedatangan Hansen, pria pertama yang mengajarkan dia cara "bermain" untuk menuntaskan hasrat.
Sembari menunggu dengan berbaring tanpa sehelai benang membalut tubuhnya, Hanna memfoto tubuh telanjangnya untuk dikirimkan ke pesan pribadi Nando. Hampir setiap malam selama seminggu terakhir ini, Hanna memfoto tubuhnya yang telanjang ke nomor ponsel Nando.
Ya, sejak dia mengetahui bahwa Nando tidak pernah mencintainya. Sudah 3 bulan mereka bertunangan dan tidak ada kemajuan sama sekali dalam hubungan mereka. Semuanya stuck di tempat.
Sementara di kamar lain dan di rumah lain,
Pemuda yang sudah bersiap untuk tidur, mendengar ada pesan masuk ke ponselnya. Dia sudah dapat menebak siapa sang pengirim pesan. Walaupun setiap kali dia membuka pesan berupa foto vulgar dari Hanna, Nando menjadi tegang sendiri.
Dia sudah tidak sabar menjalankan rencananya untuk menjadikan Hanna, budak seks miliknya pribadi. Sampai Nando bosan. Sampai Amora dewasa. 12 tahun. Dia akan memanfaatkan Hanna untuk menuntaskan hasrat pemuda seusianya sekaligus membuat Hanna pergi meninggalkannya dengan sukarela.
#$#$#
Hansen berjalan dengan langkah ringan sambil sesekali matanya melirik suasana sekitar kamarnya. Kamarnya ada di lantai dasar paling ujung dekat kamar Jenny, asisten dapur yang baru mulai bekerja minggu lalu. Hansen bahkan sudah melancarkan serangan awal pada Jenny, karena Jenny memiliki tubuh montok dan lumayan cantik. Dia meninggalkan Jenny yang sudah tertidur pulas setelah menghabiskan 3 jam di ranjang bersama dirinya. Hansen bukanlah pria suci dan tolol yang mengharapkan cinta sang nona muda. Dia juga sering menghabiskan malam panas bersama gadis muda lain.
Hansen bisa bernapas lega saat sudah berdiri di depan pintu kamar Hanna. Tanpa perlu mengetuk dan bersuara, dia membuka pintu kamar Hanna. Hanna yang saat itu sedang menonton video film melalui ponselnya, cukup terkejut mendapati Hansen sudah tiba.
"Hanna, apa kamu sudah lama menungguku?" Hansen langsung melepas kaos dan celana pendeknya. Berjalan dengan tergesa menghampiri Hanna yang sudah duduk dengan pose menggiurkan.
"Aku sedang menonton film drama klasik, apa kamu baru saja bercinta dengan Jenny?" Hidung Hanna mengendus aroma Jenny di tubuh Hansen.
Hans hanya tersenyum menanggapi pertanyaan sang nona muda.
"Mandi saja dulu. Jangan terlalu lama ya. Aku mau segera tidur setelah selesai bermain."
Hansen langsung berjalan menuju kamar mandi.
Sementara menunggu Hansen mandi, Hanna mengeluarkan tali dari dalam laci meja di samping tempat tidur. Hanna tidak mau Hansen yang mengendalikan permainan seperti sebelumnya. Dia sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama Hansen. Namun dia tidak lupa bahwa Hansen terakhir kali pernah mencoba untuk bermain kasar padanya.
Beberapa menit kemudian, suara keran air berhenti berbunyi, dan Hansen melangkah keluar dengan tubuh polosnya. Wajah Hanna bersinar ceria, menanti malam yang akan mereka lewatkan.
"Apa harus aku diikat tangannya? " Tanya Hansen dengan nada tidak suka.
Dia merasa dia pria dewasa dan seharusnya dia yang memimpin permainan walaupun memang terakhir kali bermain, Hansen ingin membuat Hanna hamil anaknya.
"Ayolah Hans, aku tahu kamu tidak mencintaiku. Kamu hanya iba dan menjadikan aku tempat menyalurkan hasratmu Kan?" bujuk Hanna dengan suara lembut.
Sialan gadis ini. Dia tahu rencanaku dulu.
"Ehm... baiklah. Cepat ikat tanganku," ucap Hansen.
Hanna tersenyum sumringah menyambut malam yang menyenangkan hari ini.
#$#$#
"Hanna...." teriak Ruth begitu masuk ke dalam kamar Hanna.
Hanna dalam keadaan tanpa busana dan sedang mengulum Mr.P milik Hansen.
Wajah Hanna berubah pucat saat mendapati sang mama yang tiba tiba masuk ke dalam kamarnya di tengah malam. Mendapati dirinya sedang berbuat hal tidak senonoh pada Hansen.
Mati aku, Ucap Hanna dalam hati.
Sementara Hansen melepas kedua tangannya dari atas payudara milik nona mudanya.
"Kalian berani beraninya melakukan hal tak senonoh di rumah ini. Dan kamu Hansen, mulai hari ini kamu saya pecat." Bentak Ruth.
"Pakai kembali baju tidur kalian masing masing. Mommy tunggu di ruang keluarga." Ruth menatap kecewa ke arah Hanna.
Sekalipun Hanna sudah terkenal menjadi model majalah pakaian dalam dan suka keluar masuk hotel bersama para pemuda, dia masih bisa memakluminya. Namun ini melakukan hubungan intim di dalam kamar bersama supir yang usianya jauh di atas putrinya, membuat Ruth tidak bisa memaklumi lagi tingkah nakal putrinya.
Ronaldo masih tertidur pulas di kamarnya.
"Sudah berapa lama kalian bersama?" Tanya Ruth to the point.
"Awal mulanya 3 tahun yang lalu nyonya." Sahut Hansen
"Sudah selama itu kalian menjalin hubungan gelap di rumah ini? Dan kamu tahu kalau Hanna ini tunangan Nando. Masih berani kamu menyentuhnya?" Tanya Ruth
"Kami melakukannya atas kemauan kami. Lagipula Non Hanna juga tidak saya paksa melakukannya Nyonya," Sahut Hansen kembali.
Ruth tak habis pikir dengan pola pikir Hanna. Mengaku cinta mati pada Nando, tapi malah bertingkah liar dengan para pemuda bahkan pria yang berusia lebih tua jauh darinya.
"Hansen, mulai besok, kamu akan menjadi supir pribadi tuan. Sedangkan kamu Hanna, mama akan kirim kamu untuk tinggal di rumah Nando. Kalau memang kamu tak bisa membendung hasrat seksualmu itu, lakukan saja dengan Nando. Toh alasan Nando mau bertunangan denganmu karena kalian sudah tidur bersama."
Ucapan Ruth bagaikan berkah bagi Hanna. Menginap semalam dua malam saja, Hanna sampai memohon sama Daddy dan Mommy. Ini Mommy malah menyuruhnya merayu Nando, yang tentu saja pasti akan Hanna lakukan tanpa disuruh.
"Ingat di rumah ini ada anak kecil. Amora. Dia tidak boleh mencontoh kelakuan burukmu."
Hanna mengangguk tanda setuju. Dia memang tidak pernah menunjukkan hal intim pada saat bersama Amora.
"Hansen, kamu resmi dipecat dari jabatan supir di rumah ini. Jadi, kemasi barang barangmu dan kamu akan tinggal di mess karyawan. Tugasmu hanya mengantar jemput tuan. Tapi tidak berhak tinggal di dalam rumah ini lagi. Apa kamu mengerti?"
"Baik Nyonya. Saya mengerti. Maafkan kelakuan saya Nyonya. Nona muda tidak salah, kami hanya bersenang senang saja. Saya tidak merusak masa depan Nona Hanna."
"Jika saya tahu kamu merusak masa depan Hanna dengan menghamilinya, maka kami akan memasukkan kamu ke dalam jeruji besi. Paham?"
"Iya."
#$#$#
