Bab 1 Gadis Seksi
"Gila, body goals banget tuh Hanna. Aku jadi iri lihat tubuhnya yang berlekuk. Makan sebanyak apa pun badannya tetap tak berubah," Celutuk Betty, salah satu rekan model di agensi yang sama dengan Hanna.
"Dia itu gadis yang dijuluki Dewi Seks. Semua pria yang pernah menghabiskan malam bersamanya selalu ingin menjadi kekasih Hanna. Dia itu sempurna banget," Sahut Annabel.
"Tapi dengar dari gosip, tunangannya tidak begitu peduli pada Hanna. Padahal Hanna itu sudah cantik, kaya, ramah, baik, dan hebat di ranjang. Nando malah abai sama tunangannya."
Para gadis yang duduk di depan sebuah meja bundar sedang bergosip tentang model ternama Margaretha Hanna. Idola mereka. Tidak perlu ditanya kenapa mereka mengidolakan Hanna. Baik pemuda maupun gadis di agensi model yang sama dengan Hanna, semua mengagumi Hanna. Terutama Hanna sangat royal pada mereka. Sering membawa makanan untuk mereka.
"Dasar Nando saja yang bodoh. Gadis seksi seperti Hanna disia siakan. Aku jamin Nando bakal menyesal kalau sudah melepas Hanna," Ucap Annabel dengan semangat 45 membela idolanya di dunia modelling.
Kepala para gadis mengangguk setuju.
#####
"Nando, antar aku ke agensi yuk," Pinta Hanna saat melihat Nando di ruang tamu rumahnya. Nando sedang menemani Amora belajar. Sang adik angkat.
"Kamu pergi sendiri saja, aku mau menemani Amora," jawab Nando dengan nada suara ketus.
Nando melirik pun enggan ke arah Hanna. Padahal Hanna sudah pernah menghabiskan malam beberapa bulan yang lalu bersama Nando.
Eits... bukan malam panas antara wanita dan pria yang selama ini Hanna lakukan, namun malam sedih saat Nando kehilangan Mommy tercinta.
"Kak Hanna keren gaunnya. Amora pengin punya gaun seperti itu," tunjuk Amora ke arah gaun pendek berwarna peach yang saat ini Hanna pakai.
Hanna selalu memakai pakaian modis dan merias wajahnya. Walaupun hanya riasan tipis.
Nando dengan enggan melirik ke gaun Hanna. Nando menelan ludah melihat gaun seksi milik si "Dewi seks".
"Gaun itu tidak cocok untukmu, sayang," Nando mengelus rambut pirang milik Amora dengan rasa sayang.
"Dasar pedofil," cetus Hanna dan berjalan menjauh.
Hanna merasa kesal karena diabaikan tunangannya.
"Kak Hanna anggun ya, aku ingin seperti Kak Hanna bila sudah dewasa," puji Amora dengan senyum cerianya.
"Kamu jauh lebih cantik dibanding Kakakmu itu."
"Ish....Kak Nando, Amora jadi malu," ucap Amora menutup wajahnya dengan telapak tangan.
Tingkah sederhana, celotehan anak kecil, ini yang membuat dunia Nando kembali berwarna setelah ditinggal pergi Mommy tercinta.
"Ingin rasanya aku mengikatmu menjadi milikku saat kamu dewasa nanti." Ucap Nando dalam pikirannya.
#####
Ah.....faster.... faster...
Dua orang yang berbeda jenis kelamin sedang melampiaskan hasrat seksualnya di dalam kamar hotel berbintang di pusat kota. Hanna sedang menghabiskan waktu luangnya dengan pemuda tampan yang menjadi kakak kelasnya di sekolah.
Beberapa jam kemudian.....
Hanna sedang memakai kembali gaun berwarna peach di depan cermin kamar mandi, dengan diawasi tatapan mata lapar pemuda yang baru saja menghabiskan beberapa jam bersamanya.
Hanna membalikkan tubuh dan tersenyum lebar pada Leon, pemuda itu.
"Sayang, terima kasih ya sudah mau bersamaku. Aku menyayangimu," pemuda itu mencium bibir Hanna dengan mesra. Hanna pun membalas ciuman Leon.
"Kak Leon masih mau "bermain" ? Aku nanti ada jadwal pemotretan. Besok kita bisa atur janji bertemu lagi," Ucap Hanna dengan suara lembut.
"Tentu saja Hanna. Aku bersedia kapan pun kamu ingin aku temani," Ucap Leon dengan wajah bersinar.
Leon patut bangga karena dia yang dipilih Hanna untuk bersama walaupun dalam hubungan terlarang. Leon adalah salah satu senior di sekolah Hanna. Dia adalah ketua dari para siswa dan dia dikagumi para guru maupun siswa karena menjadi pemimpin para siswa. Leon mengetahui kalau Hanna sudah bertunangan dengan mahasiswa jurusan arsitektur yang juga merupakan putra tunggal pengusaha otomotif terkaya di dunia saat ini.
Leon meninggalkan bekas gigitan di leher Hanna dengan sengaja. Dia seakan ingin memberi tahu dunia bahwa Hanna pernah menjadi miliknya walaupun untuk sementara.
"Kamu sengaja ya mau meninggalkan bekas di leherku," goda Hanna yang tidak marah atas perbuatan Leon.
Leon mengangguk dan mengedipkan mata. Hanna hanya tertawa melihat tingkah usil Leon.
"Untuk biaya hotel ini akan aku bayar. Lain kali lakukan di rumahmu saja Leon," Celutuk Hanna.
Wajah Leon terperangah tidak menduga Hanna senekat itu. Di rumah Leon, ada sejumlah pembantu dan orang tuanya. Serta kedua Kakak laki lakinya.
"Di kamarku semalaman?" Tanya Leon
"Ha.ha.ha..ha... Kamu mau menyekap aku seharian? Nanti orangtua aku akan mencariku, " sahut Hanna dengan senyuman menggoda. Seakan meminta Leon untuk mencium bibirnya lagi.
"Kamu sering menginap di rumah tunanganmu, orangtuamu hanya akan mengira kamu sedang menginap di rumah Dia." Leon membujuk Hanna untuk menghabiskan malam di rumahnya.
"Aku belum pernah sampai senekat itu. Tapi aku suka hal yang baru. Aku mau bersamamu malam ini."
"Yes... akhirnya kamu bersedia. Aku akan menjemputmu di agensi. Mumpung hari ini Minggu." Leon terlihat bersemangat mengambil kunci mobil di atas meja dan mengandeng Hanna keluar dari kamar hotel.
#$#$#
Nando sedang menatap marah pada artikel di koran yang saat ini dibacanya. Topik utama di kolom hiburan,
" Model Margaretha Hanna kedapatan baru saja keluar dari hotel berbintang Star dengan seorang pemuda. Mereka baru saja menghabiskan waktu bersama di dalam kamar selama 5 jam."
"Sialan. Dia kembali berulah. Dasar gadis murahan. Kalau bukan karena dia menjebakku, aku tidak Sudi bertunangan dengannya."
"Sabar Sob, dia masih gadis belia. Dia hanya sedang menikmati masa mudanya saja. Kamu saja yang bodoh tidak mau memanfaatkan rasa cintanya padamu. Dia hanya sedang dalam masa puber, lagi haus belaian," sahut Marco salah satu sahabat Nando.
"Cih... gegara dia, aku kehilangan keperjakaanku. Dia menjebak aku saat aku sedang frustasi di malam aku kehilangan Mommy. Dia sengaja. Bahkan sebelum malam itu, dia pernah menggodaku di kamar. Bayangkan. Dia hanya memakai lingerie seksi di tengah malam di usianya ke 12, dan datang ke kamarku. Untung otakku masih waras untuk tidak menyentuhnya. Dia sudah gila sejak belia."
"Dia hanya gadis yang tergila gila padamu. Walaupun usianya saat itu baru 12 tahun, aku yakin bentuk tubuhnya sudah seperti remaja usia 17 tahun."
"Dasar playboy. Sudah kamu ambil saja Hanna, sekalian ikat dia jadi istrimu, barangkali dia tidak akan ke pelukan pria lain," ucap Nando dengan jengkel.
"Andai dia mau bersamaku semalam saja. Aku yakin, dia tidak akan berpaling dariku."
Nando hanya mengangkat bahu cuek. Dia meraih ponselnya dan menekan panggilan ke nomor Daddy.
Setelah menunggu beberapa saat, panggilan tersambung.
"Dad..." kalimat Nando terpotong karena Daddy yang langsung berbicara.
"Ada apa ? Kamu mau mempermasalahkan berita di koran hari ini? Itu risiko dari tingkahku sendiri Nando. Dia masih gadis belia yang butuh perhatian, namun selalu kamu abaikan."
"Ehm.... maksud Daddy apa?" Tanya Nando dengan nada suara ketus.
"Perlakukan Hanna dengan lebih baik. Jika kamu memberinya kepuasan, dia tidak akan mencari pria lain di luar sana."
"Apa Daddy tidak sadar kalau aku TIDAK MENCINTAI DIA," teriak Nando murka.
Daddy hanya tertawa mengejek ucapan Nando. Dia tidak mempercayai ucapan putranya.
"Kamu hanya belum sadar kalau kamu mencintainya. Kamu sendiri yang minta Hanna menjadi tunanganmu."
"Dia menjebak aku malam itu Daddy, " ucap Nando.
"Dia sudah menjadi milikmu bukan pemuda lain. Ingat itu, tidak ada pembatalan kecuali dari pihak Hanna sendiri. Daddy tidak mau membuat hubungan Daddy rusak gegara kamu. "
Nando memikirkan cara agar Hanna mau memutuskan pertunangan mereka.
"Hei..." tepukan Marco di pundak Nando.
Nando terkejut karena ada satu ide gila melintas di kepalanya.
"Dia akan aku jadikan budak seks aku, sampai Amora dewasa," ucapan pelan Nando masih mampu ditangkap indera pendengaran Marco. Marco bergidik mendengarnya. Budak Seks. Sobatnya sudah gila.
##$$$
Hanna sedang memakai pakaian dalam bermerek terkenal dan sedang berpose seronok di depan kamera sang fotografer. Tanpa berpose seksi pun, sang fotografer, sudah merasa wajah sang model cocok dengan kamera.
Beberapa model yang menunggu giliran berpose, menatap Hanna dengan tatapan kagum. Setiap gaya Hanna seolah membuat para model ingin meniru gaya tersebut. Namun saat mereka meniru, sang fotografer akan berkata tidak cocok, atau ganti gaya.
Mendapat tatapan memuja dari orang di sekitarnya sudah hal yang biasa bagi Hanna. Justru pemuda yang dia sukai, enggan menatap dirinya.
"Oke, Hanna sudah selesai ya pengambilan gambar hari ini. " Ucap sang fotografer.
"Makasih Om, " Hanna memberikan senyum ramah pada sang fotografer.
&&&&&
Di ruang ganti ....
Hanna tanpa malu melepas celana dalam yang masih dipakainya di depan para teman model yang berjenis kelamin perempuan. Dengan percaya diri, Hanna mengganti pakaiannya dengan gaun biru muda. Bahan kain yang halus, membuat Hanna menyukai gaun ternama yang dia beli di salah satu butik bersama sang Mama.
"Kamu mau ke mana Han? " tanya salah satu teman model.
"Mau makan siang, kamu mau ikut? Ayo yang mau ikut, aku dijemput supir."
Beberapa gadis yang sudah selesai menjalani pemotretan, ikut keluar bersama Hanna.
"Kita berlima ikut ya Han, " Celutuk Sophia.
"Mobil aku sepertinya muat, ayo," Hanna memimpin para gadis yang duduk di kursi belakang, Hanna sendiri memilih duduk di samping supir.
"Pak Hans tolong antar kami ke restoran crown ya, kami mau makan siang," Ucap Hanna.
Pria yang disapa Pak Hans ini menganggukkan kepala. Pria yang berusia 30 tahun ini yang mengenalkan gairah pada nona mudanya. Ya. Dia yang pertama menyentuh tubuh Nona Hanna di malam Nona Hanna menangis karena ditolak Tuan Nando di usia 12 tahun. Pak Hans merasa kasihan dan bergairah saat melihat Nona Hanna membangunkannya di tengah malam untuk mengantarnya pulang ke rumah.
"Supirmu saja seganteng ini, Han, " Celutuk Annabel.
"Ya. Dia sudah bekerja dengan keluargaku sejak aku bayi. Dia bernama Hansen. Pak Hans, mereka teman teman modelku, " ucap Hanna mengenalkan Hans pada para rekan modelnya.
Hans menoleh sekilas ke belakang dan memberikan senyuman.
Hans belum menikah sampai saat ini, dia bahkan masih menjadi selingan Hanna di waktu Hanna butuh belaian. Hasrat Hanna yang luar biasa terkadang membuat Hans sampai lepas kendali. Beberapa kali, Hans mengajak Hanna "bermain" di kamarnya. Kamar sang supir.
$$$$$
Hanna memperlakukan semua orang sederajat meskipun Hanna terlahir dari keluarga kaya raya. Hanna tidak angkuh dan royal terhadap orang lain. Semua orang menyukai Hanna. Baik lelaki maupun perempuan.
"Silahkan duduk juga Pak Hans. Kita makan bersama. Ini buku menu, silahkan kalian pilih saja yang kalian suka. Kalau aku suka menu sop asparagus dan Iga sapi. Pak Hans seperti biasa ya?"
Hanna menyerahkan dua buku menu kepada gadis yang duduk di sebelah kiri dan kanannya.
Hanna mencoba menghubungi Leon, seniornya. Semalam mereka sudah janjian untuk menghabiskan malam bersama lagi malam ini. Tapi di tempat berbeda. Kamar tidur Hanna. Ya. ide tergila yang pernah Hanna lakukan selama 3 tahun di dunia maksiat.
"Sayang, jangan lupa ya, " Ucap Hanna saat telepon tersambung di ujung lawan bicaranya.
"Ah.... " terdengar suara desahan Leon.
"Shit, kamu lagi sama siapa? " Hanna ini tipe pencemburu. Dia sering merasa posesif jika sedang menjalin suatu hubungan "khusus" dengan para pemuda, dia tidak suka jika pemuda tersebut sedang menjalin hubungan dengan gadis lain. Dia tidak mau menjadi perusak hubungan orang lain.
"Lepas dulu, " maki Leon pada orang yang berada di atasnya. Wanita itu melepas Leon, tapi masih duduk di atas tubuh Leon.
"Dengar dulu Han, aku hanya sedang bersenang senang dengan guru lesku. Ini tidak seperti anggapan di kepalamu." Suara napas Leon masih terengah.
"Ya sudah, lanjutkan saja. Aku mau makan siang dulu"
Hanna menutup sambungan teleponnya dan memblokir nomor Leon.
"Kenapa Han? wajahmu kok bete?" tanya Annabel yang duduk di sebelah kanan Hanna.
"Oh tidak, aku hanya kecewa pada seseorang," mata Hanna melirik Hans. Dan kepala Hans mengangguk.
Mereka menukar sandi yang hanya Hanna dan Hans ketahui.
XXXXX
