Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5 Awal Masa lalu

Keesokan paginya, matahari belum terlalu tinggi ketika aku dan bunda sudah berada di dalam mobil, menuju sekolah yang selama ini hanya bisa kulihat lewat brosur dan cerita orang-orang. Jantungku berdebar pelan, bukan karena takut, tapi karena ada rasa antusias aneh yang tidak bisa kujelaskan. Rasanya seperti memulai lembaran baru—yang entah akan membawaku ke mana.

“Sudah siap, Sel?” tanya bunda sambil melirikku dari kaca spion.

Aku mengangguk. “Siap, Bun. Semoga diterima di kelas IPA.”

Bunda tersenyum kecil, senyum yang selalu membuatku tenang. “InsyaAllah diterima. Bunda sama Bu Wanda sudah ngobrol banyak tentang sekolah ini. Kamu pasti cocok.”

Yah… Bu Wanda. Perempuan yang sejak kecil sering kupanggil “Tante Wanda.” Sahabat dekat bunda, orang yang keras tapi perhatian, dan selalu punya pendapat tentang pendidikan. Kadang aku merasa beliau punya andil besar sekali terhadap hidupku—bahkan untuk hal yang sederhana sekalipun.

Saat sampai di halaman sekolah, aku sempat terpaku. Bangunannya tidak semegah sekolah-sekolah yang sering kulihat di TV, tapi terasa bersih, rapi, dan hangat. Banyak siswa berseragam berjalan—ada yang terburu-buru, ada yang santai sambil tertawa kecil.

Kami masuk ke ruang pendaftaran. Seorang guru perempuan menyambut dan memberikan formulir pilihan jurusan.

“Pilihan pertama?” tanya guru itu.

“IPA,” jawabku cepat.

Bunda mengangguk puas.

Lalu sampai ke bagian “Pilihan Kedua”. Aku menulis cepat: IPS. Rasanya natural saja. Tapi sebelum formulir itu masuk sepenuhnya ke tangan guru, bunda menyentuh tanganku.

“Wan… kata Bu Wanda, di sini ada kelas agama. Kamu ambil itu saja, ya?”

Aku spontan menoleh. “Kelas agama, Bun? Tapi aku—”

Bunda hanya menatapku dengan cara yang membuatku tidak bisa membantah. Tatapan seorang ibu yang yakin sedang memilihkan jalan terbaik.

“Mau tidak mau,” gumamku dalam hati sambil menghapus tulisan “IPS” dan menggantinya: Agama.

Guru itu tersenyum ramah. “Ooh, pilihan yang bagus. Kelas agama di sini memang kuat programnya.”

Aku hanya tersenyum kaku.

Setelah formulir selesai diproses, aku dan bunda keluar dari ruangan. Di teras, kami bertemu Bu Wanda yang ternyata sudah datang duluan. Ia mengenakan kerudung biru gelap dan senyum lebarnya langsung menyapaku.

“Selin! Duh, sudah besar sekali kamu. Bentar lagi SMA aja,” ujarnya sambil mencubit pipiku pelan.

Aku hanya tertawa sopan. “Iya, Tante.”

“Sudah ambil kelas agama, kan?” tanyanya dengan nada yang seolah-olah aku pasti sudah mengikutinya.

Aku melirik bunda. “Iya… sudah.”

Bu Wanda terlihat begitu puas seolah baru saja memenangkan pertandingan kecil.

“Kamu cocok kok di kelas agama. Karaktermu tenang, observatif, dan… ya, ibu lihat kamu punya kedalaman sendiri,” katanya sambil menatapku penuh makna.

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Tapi ada rasa aneh di dadaku—seperti pintu besar baru saja terbuka dan aku tidak tahu apa yang ada di baliknya.

Saat kembali menuju mobil, aku memandangi gedung sekolah itu sekali lagi. Ada getaran kecil yang belum bisa kutafsir.

Mungkin… ini adalah awal sesuatu.

Awal yang bahkan belum kusadari akan membawaku bertemu dengan orang-orang—dan perasaan—yang mengubah seluruh hidupku.

Sore itu, aku kembali ke sekolah untuk mengambil seragam. Matahari sudah mulai turun, sinarnya memantul di lantai keramik koridor sekolah, membuat bayanganku memanjang seperti sedang berlari ke masa depan yang belum kukenal.

Tubuhku masih pegal karena OSPEK yang baru selesai sehari sebelumnya. Dan jujur saja, OSPEK itu membuatku ingin menendang kepala beberapa kakak kelas yang sok berkuasa. Masa iya, hanya karena satu temanku tidak bisa menjawab pertanyaan, aku—aku!—yang disuruh memegang air comberan? Bau, hitam, dan pasti dipenuhi entah apa.

Saat itu aku benar-benar ingin mengatakan: “Aku datang buat sekolah, bukan buat ikut Fear Factor gratisan.”

Tapi tentu saja semua itu hanya aku teriakkan dalam hati. OSPEK membuat mulutku harus lebih pintar memilih waktu untuk bicara.

Tapi dari OSPEK itu juga aku dapat sesuatu yang tidak kuduga: seorang teman baru.

Namanya Nini.

Kulitnya putih bersih seperti bunga melati, wajahnya cantik dan lembut, tapi tatapannya tegas dan selalu berani menghadapi kakak kelas. Entah bagaimana, sejak insiden comberan itu, kami jadi saling menolong dan akhirnya dekat.

Dan sore itu—di hari pengambilan seragam—kami masuk ke ruangan yang sama, tertawa kecil saat sama-sama memilih ukuran terkecil: ukuran M.

“Yah jelas M dong,” kata Nini sambil mengedip. “Aku kalo pakai L bisa jadi kemeja kebesaran bapak-bapak.”

Aku tertawa. “Sama. Nanti aku dibilang pakai baju gorden sekolah.”

Kami mengambil barang masing-masing dan keluar dari ruangan bersamaan. Koridor sedikit gelap karena lampu belum semuanya dinyalakan. Suara sepatu murid lain menggema, bercampur suara kipas angin tua di langit-langit.

Aku baru mau memanggil bundaku lewat telepon ketika BRAK!—sesuatu menghantam badanku dari samping.

Bukan sesuatu. Seseorang.

Seorang cowok menabrak sisi bajuku, hampir membuat plastik berisi seragamku jatuh.

Refleks, emosiku langsung naik.

“WOI! Kamu nggak punya mata, hah?!” seruku lantang, sampai beberapa anak di dekat kantin menoleh.

Tapi anehnya, cowok itu tidak menoleh sama sekali. Ia hanya terus berjalan lurus, seolah aku transparan. Rambutnya sedikit berantakan, langkahnya cepat, dan bahunya naik-turun seolah ia sedang terburu-buru menuju sesuatu yang bukan urusanku.

“Wah, sombong banget,” gumamku, masih kesal.

Nini langsung menenangkan. “Sudah, Sel… mungkin dia nggak dengar atau lagi ada masalah.”

“Ada masalah kok dari tadi—masalah dengan matanya,” protesku sambil memelototi punggung cowok itu sampai hilang di tikungan.

Nini hanya tertawa kecil sambil menepuk bahuku.

Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya datang dengan mobil putih—ayahnya. Nini melambaikan tangan padaku.

“Sel, aku duluan ya! Kamu hati-hati.”

“Iya, Nin. Sampai besok!”

Ia pergi sambil tersenyum, meninggalkan aroma parfum bunga yang samar-samar tertiup angin sore.

Aku menunggu sebentar sampai Bu Wanda muncul dari arah parkiran motor.

Sel! Yuk pulang bareng. Bunda kamu sudah bilang,” kata beliau dengan suara akrabnya.

Aku mengangguk dan berjalan di sampingnya. Tapi pikiran dan emosiku masih belum lepas dari cowok yang menabrakku tadi.

Entah kenapa, langkahnya yang cuek, caranya mengabaikanku, dan tatapannya yang tak kulihat… terasa seperti petunjuk dari sesuatu yang akan datang.

Sesuatu yang…

Mungkin mengubah ceritaku di sekolah ini.

Begitu sampai di depan motor dan turun, aku langsung menatap Bu Wanda dan mengucap, “Makasih banyak ya, Bu Wanda, sudah nganterin.”

Bu Wanda tersenyum ramah, seperti biasa. “Iya, Sel. Belajar yang rajin ya. Sampaikan salam untuk ayah dan bunda.”

Aku mengangguk, lalu berlari kecil masuk ke rumah sambil berteriak dari pintu depan.

“Assalamu’alaikum, Ayah! Aku pulang!”

Suara ayah langsung terdengar dari arah belakang rumah.

“Wa’alaikumussalam! Di sini, Nak!”

Aku mendekat ke pintu belakang, melihat ayah sedang menjaga tanaman-tanaman kecil di perkebunan kami. Tidak besar, hanya deretan pohon cabai, tomat, dan beberapa sayuran lainnya. Tapi suasananya selalu bikin nyaman—bau tanah basah yang khas, suara jangkrik mulai terdengar karena sudah mendekati malam, dan angin yang membawa aroma dedaunan.

Setelah naik ke kamar untuk menaruh tas dan seragam baruku, aku turun dan menemui ayah di ruang tamu.

Ayah menatapku sebentar dengan mata yang agak sendu, lalu berkata, “Sel, siap-siap ya. Kita ke rumah nenek. Malam ini ayah berangkat lagi.”

Hatiku langsung mencelos.

Aku tahu ayah harus bekerja jauh… tapi setiap kali mendengar kata “berangkat”, rasanya tetap saja ada ruang kosong di dadaku.

“Tiga bulan, Yah?” tanyaku pelan.

Ayah mengangguk sambil merapikan tas hitamnya yang sudah mulai kusam. “Iya, sekitar itu. Kamu jaga bunda, ya?”

Aku menahan napas sebentar lalu mengangguk. “Iya, Yah.”

Tanpa banyak bicara lagi, aku naik ke kamar dan mulai mengemasi pakaian seadanya: beberapa baju santai, seragam sekolah, satu jaket kesayangan, dan buku catatanku. Tidak banyak… karena aku tahu rumah nenekku tidak jauh, dan aku hanya akan tinggal di sana beberapa hari sampai semuanya tenang.

Tak lama kemudian, aku dan ayah bersiap. Motor ayah sudah menyala, suara mesinnya memenuhi halaman depan rumah.

“Yuk, Sel,” katanya.

Aku memeluk tas kecilku dan naik ke jok belakang. Angin sore berubah menjadi angin malam, dingin tapi lembut menerpa wajahku saat motor bergerak meninggalkan halaman rumah.

Di belakang kami, perkebunan kecil ayah perlahan hilang dari pandangan, berganti dengan jalanan desa yang temaram diterangi lampu jalan yang jarang-jarang.

Dalam perjalanan, aku memeluk jaketku erat-erat.

Entah kenapa… ada perasaan aneh.

Perasaan seperti dunia remajaku baru saja mulai berubah.

Dan tanpa kusadari, semua perubahan itu dimulai dari sekolah baru, teman baru, cowok misterius yang menabrakku… dan kini, perpisahan kecil dengan ayah.

Semua terasa seperti bagian dari cerita besar yang belum sepenuhnya kupahami.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel