Bab 4 Flashback
Putri masih menatapku, seolah menunggu penjelasan tambahan. Aku menghela napas kecil lalu tersenyum—senyum yang mencoba menenangkan suasana yang mulai terlalu serius.
“Put,” kataku sambil menopang dagu di meja, “kalau kamu benar-benar penasaran… aku izinin kok baca buku diary aku.”
Putri langsung terbelalak. “Hah? Yang bener? Diary? Yang itu? Yang penuh rahasia-rahasia masa remaja kamu?”
Aku nyengir. “Iya. Tapi jangan kaget kalau isinya banyak keluhan tugas sekolah dan drama kantin.”
Putri memajukan bibir, mencoba menahan tawa. “Halah, pasti ada nama-nama cowok juga.”
Aku pura-pura mendengus. “Sedikit. Tapi ya… kalau soal Endra, kamu juga boleh baca. Nggak ada yang aku sembunyiin.”
Putri masih tak percaya. “Serius? Kamu nggak takut aku bongkar semuanya?”
Aku mengangkat bahu. “Dulu aku cukup terkenal di kalangan adik kelas sebagai ‘penulis handal papan mading’, tahu nggak? Jadi kalau kamu baca… anggap aja kamu lagi baca karya klasik SMA aku.”
Putri spontan tertawa. “Oh jadi ibu best writer se-Sulawesi, gitu?”
Aku ikut tertawa kecil. “Nggak juga… cuma biar kamu ngerti konteks aja. Biar kita masuk ke cerita inti tanpa muter-muter.”
Putri menatapku, senyum perlahan menghangat. “Kalau begitu… nanti malam kasih lihat ya? Aku pengen tahu apa yang sebenarnya terjadi waktu itu.”
Aku mengangguk. “Boleh. Tapi jangan kaget kalau tulisan aku lebay. Namanya juga remaja.”
Putri tersenyum lebih lebar. “Oke. Aku siap baca karya besar masa mudamu.”
Dan di momen itu, aku bisa merasakan sesuatu berubah—bukan cuma antara aku dan Putri, tapi juga pintu kecil menuju masa lalu yang mulai terbuka… perlahan, tapi pasti.
Malam itu kamar terasa lebih hangat dari biasanya. Lampu meja kuning temaram, suara AC rendah, dan Putri duduk bersila di ujung kasur sambil memegang diary-ku yang sudah agak menguning di pinggirannya.
“Aku mulai dari awal ya…” katanya pelan.
Aku hanya mengangguk, setengah gugup setengah geli, karena rasanya seperti membuka mesin waktu yang sudah lama terkunci.
Putri membuka halaman pertama. Tulisan tanganku masih sama: sedikit miring ke kanan, huruf-hurufnya rapat seolah aku takut ruang kertas nggak cukup untuk seluruh dramaku.
Hari itu rumah ramai. Ayah dan Bunda di ruang tamu, membahas sekolah. Aku pengin banget masuk ke SMA kota bareng gengku—kami berlima sudah berjanji sejak kelas 8. Tapi seperti biasa, rencana hidupku diputuskan orang lain. Ayah bilang sekolah agama lebih baik. Bunda setuju. Dan aku… ya, aku cuma bisa patuh.
Putri mengangkat wajah. “Kamu sedih banget waktu nulis ini ya?”
Aku mengangguk kecil. “Banget. Itu pertama kali aku ngerasa masa depan aku dipilih orang lain.”
Putri kembali membaca.
Waktu kukabarin gengku, mereka malah ngetawain nasibku. Katanya aku ‘anak pesantren dadakan’. Aku ketawa sih… tapi rasanya perih juga. Kami masih satu kota, tapi jaraknya kayak beda dunia. Mereka di pusat kota, aku di kabupaten. Mereka bareng-bareng, sementara aku harus mulai semuanya sendiri.
Putri terdiam beberapa detik. Matanya memanjang, mencoba membayangkan versi remajaku yang sedang bingung dan pasrah.
“Ini lucu sih… tapi kasihan juga,” katanya akhirnya. “Aku bisa bayangin kamu yang cuma ‘iya iya’ tapi hatinya remuk.”
Aku tertawa hambar. “Iya, aku anaknya manut banget dulu.”
Putri melanjutkan membaca, dan wajahnya berubah lebih serius.
Tapi entah kenapa… di antara semua kekesalan dan ketakutan itu, aku merasa ada sesuatu yang menunggu di sana. Kayak… aku harus ke sekolah itu. Kayak benang takdir narik aku ke arah yang aku sendiri nggak ngerti.
Putri berhenti tepat di kalimat itu. Ia menutup diary perlahan dan menatapku dalam-dalam.
“Ini… bagian yang kamu maksud, kan? Benang yang kamu bilang kemarin?”
Aku mengangguk pelan. “Iya. Dan ternyata… benang itu salah satunya ketarik ke Endra.”
Putri membulatkan mata. “Jadi… dia ada di awal-awal cerita kamu? Di sekolah itu?”
Aku tersenyum samar. “Dia bukan geng aku. Bukan prioritas aku. Bukan siapa-siapa. Tapi… dia ada.”
Putri menggigit bibir, semakin penasaran. “Oke. Aku mau baca bagian dia. Yang pertama kali kamu ketemu Endra.”
Aku hanya tertawa melihat bagaimana Putri sudah seperti detektif yang siap menginterogasi tersangka.
“Put… serius deh, bagian Endra itu cuma secuil,” kataku sambil menarik bantal untuk kupeluk. “Nggak ada drama romance kayak di Wattpad. Dia cuma… ya, salah satu sahabat dari orang yang aku perhatiin dulu.”
Putri memicingkan mata. “Sahabat dari orang yang kamu perhatiin? Ohooo… berarti kamu dulu perhatian sama orang lain? Hmm… siapa tuh?”
Aku langsung melempar bantal ke arahnya. “Bukan itu maksudnya! Maksud aku… dia ada di lingkaran pertemanan yang sering aku lihat. You know… anak-anak yang nyante tapi rame.”
Putri menahan tawanya sambil membolak-balik halaman diary tanpa benar-benar membaca. “Tapi kamu nulis tentang dia, kan? Berarti dia cukup penting buat kamu waktu itu.”
Aku menghela napas, bukan karena kesal, tapi karena lucu. “Put… kalau kamu baca nanti, kamu bakal ngerti. Waktu itu aku cuma anak baru yang kaget masuk lingkungan yang sangat berbeda. Semua orang baru. Semua kebiasaan baru. Dan… aku cenderung memperhatikan suasana di sekitar. Termasuk orang-orang yang ada di dalamnya.”
Putri pun mendekat sedikit, menatapku dengan senyum penuh arti. “Tapi kamu inget Endra paling jelas, kan?”
Aku terdiam sejenak. Lalu tersenyum tipis, jujur, tanpa defensif.
“Bukan karena dia spesial saat itu… tapi karena dia termasuk orang yang nggak pernah bikin aku merasa terintimidasi. Dia nggak heboh, nggak sok, nggak aneh-aneh. Dia cuma… ada. Dan kadang, keberadaan yang tenang itu lebih nempel.”
Putri akhirnya benar-benar membuka halaman berikutnya. “Oke, oke. Aku ngerti maksudmu. Biar aku baca sendiri deh. Tapi sumpah ya, gaya kamu nulis dulu lucu banget.”
Aku mendekat, melihat tulisan tangan masa remajaku, dan mendadak ingin menepuk kepala versi lamaku.
Dan di halaman itulah akan muncul nama Endra untuk pertama kali.
Halaman yang selama ini tidak pernah kupedulikan… tapi ternyata jadi benang kecil menuju hari ketika aku pingsan di restoran di Singapura.
Putri menghela napas panjang. “Oke, Selin. Aku siap. Ini resmi masuk ke chapter masa lalu ya.”
Aku tertawa. “Bacalah. Tapi jangan nge-judge aku yang dulu.”
Putri menjawab sambil membuka halaman yang mulai menguning.
“Siap, best writer se-Sulawesi.”
