Bab 6
Kami akhirnya tiba di rumah nenek. Lampu teras rumahnya selalu hangat, seperti pelukan yang tidak pernah berubah sejak aku kecil. Begitu turun dari motor, aku langsung berlari kecil ke pintu dan memanggil pelan tapi ceria:
“Omaa… aku datang!”
Oma keluar sambil tersenyum lebar, memakai daster favoritnya yang bermotif bunga. Wajahnya selalu membuatku merasa aman. Belum sempat aku memeluknya, ayah masuk dan berkata dengan suara tenang namun berat:
“Ma… aku berangkat malam ini. Mungkin sekitar tiga bulan.”
Oma mengangguk pelan, wajahnya menahan rindu seperti orang yang sudah terlalu sering melepas orang yang ia sayang. “Baik, Nak. Hati-hati. Jaga kesehatan.”
Ayah menaruh tasnya, lalu berbalik ke arahku. Saat itu, suasana berubah. Waktu seperti melambat, membuatku sadar kalau momen ini… bukan momen biasa.
Ayah mendekat, menatapku dengan mata yang hangat namun sedikit berkaca-kaca. “Wan… rajin sekolah, ya, sayang?”
Aku menggigit bibir bawahku. Aku mengangguk, tapi suaraku sulit keluar. “Iya, Yah…”
Sedihnya datang perlahan. Datang dari dada, merangkak ke tenggorokan, lalu ke mata.
Ayah tampaknya tahu aku sudah mulai goyah. Ia membungkuk sedikit, lalu mendekat dan berbisik di telingaku, pelan banget:
“Jangan sedih… ayah sudah kirimin kamu uang jajan.”
Refleks aku langsung mengambil HPku dan menyalakan layarnya.
Mataku membesar.
“Ya ampun… Yah… sebanyak ini?” suaraku tercampur syok dan hampir ketawa.
Untuk tiga bulan… jumlahnya benar-benar banyak. Terlalu banyak. Campuran bahagia dan sedih membuat dadaku sesak.
Ayah tertawa kecil. “Buat jaga-jaga, ya. Jangan dihabisin buat beli jajanan pedes mulu.”
Aku akhirnya tak tahan lagi. Air mataku jatuh juga.
Aku memeluk ayah erat-erat, memeluk sekuat yang kutahan sejak tadi. Kehangatan tubuh ayah selalu jadi tempat paling aman di dunia.
Aku mencium pipinya dan berkata dengan suara serak tapi penuh cinta,
“I love you… Ayah…”
Ayah mengusap rambutku pelan, lalu berbalik. Langkahnya mantap menuju motor, tapi aku tahu… berat juga untuknya.
Aku berdiri di depan rumah oma, memeluk tas kecilku, menatap punggungnya sampai motor itu perlahan hilang di tikungan.
Angin malam terasa lebih dingin.
Rumah terasa lebih sepi.
Tapi satu hal pasti:
Aku selalu membawa cinta ayahku… dalam cara yang mungkin hanya kami berdua yang mengerti.
Keesokan harinya, udara pagi terasa dingin tapi segar. Itu hari Senin—hari pertama sekolah dimulai setelah OSPEK selesai. Rumah oma sudah ramai sejak subuh; suara panci, aroma teh hangat, dan langkah-langkah kecil di dapur membuat pagi terasa lebih hidup.
Aku berdiri di depan cermin, merapikan seragam baruku yang masih kaku dan wangi khas kain baru.
Dalam hati, aku cuma berdoa satu: Semoga aku masuk IPA.
Setelah sarapan terburu-buru dan pamit pada oma, aku berangkat ke sekolah. Perutku sedikit mulas, campuran gugup dan excited. Semua murid baru sudah memenuhi halaman—ada yang sibuk foto OOTD, ada yang nempel terus sama orangtuanya, ada juga yang cuek seperti mau lomba jalan cepat.
Suasana sekolah lebih ramai daripada biasanya. Kertas pengumuman kelas ditempel di papan besar dekat lapangan. Aku menelan ludah.
Bu Wanda sudah menungguku di dekat pagar sekolah sambil tersenyum bangga.
“Wan, cek dulu kelas IPA ya. Di sekolah ini ada tiga kelas IPA. Arahkan pandanganmu satu-satu. Kalau namamu tidak ada, ya berarti kamu masuk kelas agama,” katanya sambil menepuk bahuku.
Aku mengangguk cepat. Jantungku langsung berdentum cepat.
IPA 1. Mataku mengikuti daftar nama satu per satu.
Tidak ada.
IPA 2. Aku menahan napas.
Tidak ada juga.
IPA 3. Harapanku yang tinggal setipis kertas tiba-tiba serasa jatuh.
Nama itu…
Namaku…
Tetap tidak ada.
Aku berdiri terpaku beberapa detik. Dunia rasanya mengecil, dan semua suara di sekitar jadi samar-samar.
Bu Wanda yang memperhatikan dari jauh kemudian berjalan mendekat.
“Kamu cek kelas agama, Wan?” suaranya lembut, tapi aku bisa merasakan nada “sudah kuduga”-nya.
Dengan langkah berat, aku berjalan ke papan kelas agama. Aku bahkan tidak mau berharap apa-apa lagi.
Dan di sana…
Nama itu ada.
Namaku.
Di daftar paling tengah.
Di kelas AGAMA.
Aku menatap huruf-huruf namaku yang terpampang jelas seperti takdir yang dipaku di kertas itu.
Lututku rasanya mau goyah.
“Serius…?” gumamku pelan, hampir tidak terdengar.
Sakitnya bukan karena kelas agama buruk. Bukan juga karena aku tidak suka. Tapi karena aku ingin IPA. Aku sudah membayangkan duduk di lab kimia, belajar biologi, bareng anak-anak yang kupikir satu frekuensi denganku.
Bu Wanda berdiri di sampingku, tersenyum lebar—senyum orang dewasa yang yakin ia membuat keputusan paling benar untukku.
“Selamat ya, Wan. Kamu di sini. Kelasnya bagus, kok.”
Aku mengangguk kecil, tapi hatiku masih menolak.
Dadaku terasa berat.
Seakan-akan dunia remajaku dipaksa belok mendadak ke arah berbeda.
Padahal…
Aku hanya ingin memilih sendiri untuk sekali ini.
Tapi pada akhirnya, inilah yang terjadi.
Aku berdiri di depan daftar itu, membaca namaku lagi dan lagi.
Kelas Agama.
Takdir yang tidak kupilih…
Tapi mungkin—entah bagaimana—akan membawaku pada hal-hal yang sama sekali tidak kuduga.
Termasuk… orang-orang baru.
Teman-teman baru.
Dan dia.
Cowok misterius yang pernah menabrakku.
Aku belum tahu saat itu…
Tapi hari ini akan jadi awal dari cerita yang jauh lebih besar dari sekadar salah jurusan.
Setelah Bu Wanda pergi entah ke mana, aku masih berdiri saja di depan papan pengumuman itu. Rasanya seperti baru diputusin padahal belum sempat pacaran.
Aku masuk sebentar ke ruang kelas agama, melihat deretan bangku yang masih kosong. Aku membayangkan aku duduk di bangku kedua dari depan, dekat jendela.
Tapi entah kenapa… suasananya nggak klik.
Aku meratapi nasibku sambil menghela napas panjang.
Tiba-tiba dari luar, terdengar suara gaduh.
“Aku nggak mau di kelas agamaaa!”
“Pindahin aku ke IPA lah!”
“Kenapa sih nilai segini masuk agama?! Harusnya bisa IPA!”
Lalu terdengar juga suara cewek menangis, histeris kayak habis ditinggal kabur pacarnya.
Penasaran, aku keluar.
Dan benar saja—di luar, ada tiga cewek sedang marah-marah sambil mata berkaca-kaca. Ada juga satu yang nangis sambil ngelap ingus pakai lengan seragam.
Aku yang melihatnya cuma bisa menahan tawa kecil. Bukan karena jahat, tapi karena dramanya tuh… lebay banget untuk hari pertama sekolah.
Saat aku lagi memperhatikan mereka, aku merasa ada tatapan.
Aku menoleh.
Ada seorang siswa cowok berdiri agak jauh, melihat ke arahku.
Ia tersenyum tipis—senyum singkat yang hampir nggak terlihat.
Tatapannya sebentar, tapi entah kenapa… terasa cukup untuk membuatku ngerasa diperhatikan.
Lalu dia berbalik dan pergi.
Temannya memanggil, “Eh, mau ke mana?”
Cowok itu menjawab santai, “Ke ruang guru.”
Aku yang tidak punya siapa-siapa di kelas itu akhirnya memutuskan ikut saja. Daripada bengong sendirian, kan?
Begitu sampai di depan ruang guru…
KAUDEWA.
Isinya chaos.
Siswa-siswa rame banget. Ada yang megang map, ada yang mencak-mencak sambil menunjuk papan nilai, ada yang curhat sambil nangis ke orang tua. Kepala guru-guru pasti pusing tujuh keliling.
Dan di tengah keramaian itu—siapa lagi kalau bukan Bu Wanda.
Wajahnya datar tapi tegas, sibuk menerima protes dari kanan kiri.
“Bu, saya mau pindah IPA!”
“Bu, nilai saya cukup loh!”
“Bu, masa aku di agama sih?!”
Semua orang mengerubungi beliau kayak penggemar mengejar idol K-pop.
Aku berdiri agak jauh, canggung. Tapi tidak lama kemudian, Bu Wanda melihatku.
“Wan?” panggilnya sambil mengangkat alis.
Aku refleks maju sedikit. “Iya, Bu…”
Bu Wanda menatapku beberapa detik seolah sedang memikirkan sesuatu. Lalu ia memanggil seseorang, mempelajari daftar nilai, dan bicara sebentar dengan salah satu guru.
Beberapa menit kemudian, beliau menepuk pundakku.
“Nah, ini dia. Keputusan rolling sudah selesai,” katanya sambil tersenyum kecil.
“Rolling, Bu?” tanyaku bingung.
“Iya. Karena banyak yang protes, sekolah memutuskan buka IPA 4. Jadi ada satu kelas tambahan.”
Aku mengangguk. Masih belum paham apakah ini kabar baik atau buruk.
Lalu Bu Wanda menambahkan dengan nada yang lebih lembut:
“Nama kamu masuk ke kelas IPA 4.”
Aku membeku.
“Serius, Bu? Aku… IPA?”
Bu Wanda mengangguk pasti. “Iya. Nilai biologi kamu waktu tes itu lumayan tinggi. Karena itu… sepertinya kamu lebih cocok di IPA daripada agama.”
Jantungku berdetak cepat.
Rasanya seperti tiba-tiba diseret keluar dari jurang ke puncak bukit.
Aku melongo beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum—senyum lega, senyum bahagia, senyum “akhirnya dunia adil lagi”.
“Terima kasih, Bu… benar-benar terima kasih,” kataku sambil menunduk.
Dalam hati aku bilang:
Ya Allah… terima kasih. Aku kembali ke jalanku.
Aku menoleh sedikit dan mencari-cari cowok yang tadi tersenyum tipis ke arahku. Tapi dia sudah tidak ada.
Aku tidak tahu kenapa…
Tapi tiba-tiba aku ingin tahu—dia sebenarnya siapa?
