Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3

Cerita baru ini baru saja dimulai.

Dokter yang tadi menangani masuk kembali ke ruang rawat, memeriksa tekanan darahku, menanyakan beberapa hal, lalu tersenyum kecil setelah memastikan semuanya stabil.

“Kondisinya sudah jauh lebih baik,” ujarnya sambil menutup map. “Saya sarankan istirahat total malam ini. Dan satu hal…” Dokter menatapku lebih lama. “Kalau ada yang kamu pendam sampai membuat stres, lebih baik diceritakan. Jangan menahan semuanya sendiri, itu tidak sehat.”

Putri langsung menoleh ke arahku dengan tatapan tuh-kan-dengar-sendiri. Aku cuma bisa pura-pura senyum.

“Untuk sekarang,” lanjut dokter, “kalian sudah boleh pulang.”

Setelah mengurus administrasi, kami bertiga keluar dari rumah sakit. Udara malam terasa lebih hangat daripada biasanya, entah karena aku baru saja bangun dari ketakutan panjang.

Endra menawari, “Aku antar kalian pulang. Biar lebih aman.”

Putri langsung mengangguk tanpa pikir panjang. “Iya, iya! Tolong banget.”

Aku hanya diam, tapi tidak menolak. Rasanya masih ada sesuatu yang menggantung antara aku dan Endra. Sesuatu yang belum berani kusentuh.

Perjalanan pulang berlangsung hening. Putri beberapa kali melirikku, memastikan aku tidak pingsan lagi. Endra fokus menyetir, namun sesekali matanya terpantul di kaca spion, memperhatikan keadaanku.

Begitu sampai di depan apartemenku, Putri turun lebih dulu. Aku hendak membuka pintu, tapi suara Endra memanggil pelan.

“Putri…”

Putri menoleh. “Ya?”

“Kita… akan ketemu lagi, kan?” tanyanya dengan nada ragu tapi tulus. Seakan dia takut jawabannya bukan yang dia harapkan.

Putri tersenyum kecil, meski wajahnya memerah sedikit. “Iya. Tentu. Makasih banyak… atas semuanya.”

Endra mengangguk, tersenyum tipis. “Kalau ada apa-apa, kabarin saja. Kalian hati-hati, ya.”

Setelah itu ia pergi, mobilnya perlahan menghilang di tikungan.

Putri menghela napas panjang. “Astaga… hari ini benar-benar roller coaster.”

Ia langsung membantuku naik ke apartemen, membantu membuka sepatu, mengambil selimut, lalu menuntunku berbaring.

“Sel,” katanya lembut sambil merapikan bantal. “Kalau kamu takut atau nggak nyaman sama apa pun yang terjadi tadi… kamu bilang ke aku, ya? Aku di sini.”

Aku tersenyum lemah. “Aku capek banget, Put…”

Putri mengangguk. “Istirahat dulu. Kamu butuh tidur.”

Lampu diredupkan. Putri duduk sebentar di sisi ranjang, memastikan aku nyaman. Saat mataku mulai terasa berat, sekelebat bayangan dari mimpi tadi kembali muncul: halaman sekolah… balon air… dan cowok berwajah samar.

Wajah yang…

entah kenapa…

mirip dengan Endra.

Aku buru-buru menutup mata, tetapi perasaan itu tetap menempel di dada—samar, menekan, dan terasa seperti kunci untuk sesuatu yang masih terkunci rapat.

Keesokan harinya, ketika matahari baru saja memanjat perlahan dari balik jendela apartemen kecil kami, aku sudah berdiri di dapur. Bau pisang yang sedang dihancurkan memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma mentega yang mulai meleleh di atas wajan panas. Aku membuat sarapan sederhana saja—pancake pisang ala kadarnya—tapi entah kenapa pagi itu terasa lebih hangat dari biasanya.

Dari arah kamar sebelah, terdengar langkah kaki pelan. Putri keluar dengan rambut masih sedikit berantakan, matanya yang sipit karena baru bangun membuatnya terlihat lebih lembut dari biasanya. Ketika ia melihatku berdiri di dapur, ia sempat berhenti sejenak, seakan memastikan aku benar-benar ada di sana.

“Selamat pagi,” kataku sambil tersenyum kecil.

Putri mendekat tanpa menjawab. Tatapannya menyimpan kekhawatiran yang tak sempat ia sembunyikan. Ia mengangkat tangannya, menyibak sedikit rambutku lalu mengecek keningku—gerakan refleks seperti kakak yang terlalu peduli, atau sahabat yang tak ingin kehilangan lagi.

“Kau baik saja?” tanyanya pelan, suaranya setengah berbisik.

Aku hanya mengangguk pelan. “Aku baik. Ayo sarapan.”

Ia menarik napas lega lalu tersenyum kecil, senyum yang muncul ketika seseorang akhirnya yakin bahwa yang ia khawatirkan masih baik-baik saja. Kami pun duduk bersama di meja kecil dekat jendela, menikmati pancake pisang hangat sambil mendengar suara kota yang mulai hidup di luar sana.

Dalam hati aku tahu—pagi ini mungkin sederhana, tapi ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang masih belum bisa kujelaskan… baik pada Putri maupun pada diriku sendiri.

Putri menatapku cukup lama sebelum akhirnya membuka suara. Ia tampak ragu-ragu—bahunya tegang, jarinya memainkan ujung lengan bajunya. Seakan ia sedang menyiapkan diri untuk mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuatku tidak nyaman.

“Aku… sebenarnya pengin nanya,” ucapnya perlahan, hati-hati sekali. “Tapi jangan marah dulu, ya?”

Aku mengangkat alis, memberi isyarat agar ia lanjut bicara.

Putri menarik napas panjang. “Semalam… kamu kelihatan aneh. Kayak kepikiran sesuatu. Dan… aku lihat kamu kayak cemas banget. Sebenarnya, ada apa?” Ia menunduk sesaat sebelum melanjutkan, “Ini tentang masa lalu kamu? Tentang… Endra?”

Nama itu membuat dada ku sedikit menegang. Bukan karena perasaan lama, tapi karena aku tidak menyangka Putri masih mengingatnya.

“Kalian… dulu dekat, kan?” lanjutnya lagi dengan suara sangat pelan. “Aku cuma… ingin tahu. Biar aku bisa ngerti kamu.”

Aku menggeleng pelan. “Kami cuma teman biasa, Put. Nggak lebih.”

Putri menatapku, mencoba membaca kejujuran dari wajahku. “Tapi kenapa semalam kamu kayak dihantui sesuatu?”

Aku menunduk, membiarkan keheningan sebentar jatuh di antara kami. Pikiran itu kembali menari-nari di kepala—ingatan yang muncul tiba-tiba, begitu jelas, begitu hidup, seolah aku sedang berdiri di masa itu lagi.

“Kamu mau tahu jujurnya?” tanyaku pelan.

Putri mengangguk, penuh perhatian.

“Tadi malam… aku nggak bisa tidur. Entah kenapa. Ada perasaan yang kayak… memanggil. Jadi aku bangun, dan aku cari buku diary lamaku—yang udah bertahun-tahun nggak pernah kusentuh.”

Aku bisa melihat mata Putri terbelalak sedikit, tanda ia mulai ikut masuk dalam ceritaku.

“Buku itu masih tersimpan rapi,” lanjutku. “Dan waktu aku buka… ada foto-foto lama. Foto waktu SMA. Foto aku sama temen-temen. Termasuk dia.”

Aku berhenti sejenak, merasakan sensasi aneh itu lagi—campuran nostalgia, kehilangan, dan sesuatu yang tak bisa dinamai.

“Dan tiba-tiba… semuanya balik. Kenangan itu. Yang manis. Yang aku kira sudah hilang.”

Putri tetap diam, tapi ia mendekat, memperlambat jarak, seperti takut melewatkan satu detik pun dari ceritaku.

“Aku nggak tahu kenapa… tapi rasanya kayak… ini bukan kebetulan. Kayak ada takdir yang sedang jalan. Benang-benangnya lagi ditarik pelan-pelan, nyambungin sesuatu dari masa lalu ke masa sekarang.”

Putri akhirnya berkata pelan, hampir berbisik, “Kamu… masih sayang dia?”

Aku tersenyum kecil, pahit tapi tenang. “Bukan. Itu bukan soal sayang atau nggak. Lebih ke… ada sesuatu yang harus aku ingat. Sesuatu yang belum selesai.”

Putri menunduk, lalu berkata jujur, “Aku cuma takut kamu terluka lagi.”

Aku menatapnya. “Aku nggak apa-apa, Put. Tapi… terima kasih karena kamu peduli.”

Ia tersenyum lega, meski matanya masih menyimpan sedikit kekhawatiran. Namun di balik itu, aku tahu hubungan kami baru saja berubah—menjadi sedikit lebih jujur, sedikit lebih dalam.

Takdir memang suka bermain aneh. Dan aku bisa merasakannya: ini baru permulaan.

Putri masih menatapku, seolah menunggu penjelasan tambahan. Aku menghela napas kecil lalu tersenyum—senyum yang mencoba menenangkan suasana yang mulai terlalu serius.“Put,” kataku sambil menopang dagu di meja, “kalau kamu benar-benar penasaran… aku izinin kok baca buku diary aku.”

Putri langsung terbelalak. “Hah? Yang bener? Diary? Yang itu? Yang penuh rahasia-rahasia masa remaja kamu?”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel