Bab 2
Sirene ambulans meraung memecah hiruk pikuk mall. Petugas medis dengan cepat menggotongku ke atas tandu, memasang oksigen, dan mengecek tekanan darah. Putri ikut masuk ke dalam ambulans dengan wajah panik, sementara cowok itu berdiri di depan pintu, napasnya tampak berat.
“Aku nyusul kalian,” katanya cepat. “Kalian pergi dulu. Saya akan menyusul ke rumah sakit.”
Putri, yang shock namun masih berusaha tegar, hanya bisa mengangguk. Mobil ambulans pun melesat, meninggalkan cahaya neon mall dan suara-suara kerumunan yang masih sibuk membicarakan apa yang baru saja mereka lihat.
---
Perjalanan hanya memakan waktu sepuluh menit, tapi bagi Putri terasa seperti satu jam. Saat gawat darurat terbuka, petugas membawa tubuhku masuk ke ruang pemeriksaan. Putri dibiarkan di ruang tunggu, duduk dengan kedua tangan gemetar, jantung berdegup seperti ingin pecah.
Setiap detik terasa menghukum.
Ia menunduk, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Ya Tuhan… kenapa tiba-tiba begini…?”
Pintu otomatis rumah sakit terbuka. Cowok itu datang dengan langkah cepat, matanya langsung mencari Putri. Begitu melihatnya duduk sendirian di bangku panjang, ia langsung menghampiri.
“Bagaimana kondisinya?” suaranya rendah tapi tergesa, mencoba terdengar tenang padahal jelas ia sangat khawatir.
Putri mendongak pelan.
Begitu matanya bertemu dengan matanya, seluruh perasaan yang ia tahan sejak mall runtuh begitu saja. Air matanya jatuh, deras, tanpa bisa dihentikan.
“Aku… aku nggak tahu…” suaranya pecah. “Tadi dia kesakitan banget… terus darahnya… aku takut banget…”
Cowok itu spontan berjongkok di hadapannya, lalu tanpa ragu ia menarik Putri ke dalam pelukannya. Lengan hangat dan kuat membungkus bahunya, membuat tangis Putri pecah lebih keras.
“Ssshh…” bisiknya. “It’s okay. Tenang dulu.”
Putri menggenggam ujung bajunya, menangis di dadanya, seluruh tubuhnya bergetar. Cowok itu menepuk punggungnya pelan, tetap memeluknya dengan kokoh seolah mencoba memindahkan sedikit tenang ke tubuh Putri yang hampir roboh.
“Dia di tangan dokter sekarang,” katanya lembut. “Kamu nggak sendiri di sini. Aku di sini.”
Untuk sesaat, waktu seperti berhenti. Suara rumah sakit yang sibuk terasa jauh. Hanya ada suara napas, degupan jantung yang bergetar, dan rasa takut yang coba mereka bagi bersama.
Cowok itu menatap ke arah ruang darurat tempat aku dibawa masuk, matanya meruncing antara cemas dan bingung. “Aku… aku juga nggak ngerti,” gumamnya nyaris tak terdengar. “Kenapa dia bereaksi begitu waktu lihat aku…”
Putri mendongak, masih dengan sisa air mata. “K-kamu beneran kenal dia?”
Cowok itu diam sejenak… lalu mengangguk pelan.
“Mungkin… lebih dari yang kamu kira.”
Dan ucapan itu, tanpa Putri sadari, adalah pintu pertama menuju misteri yang jauh lebih besar.
Tidak lama setelah itu, pintu ruang tunggu terbuka, dan dokter wanita keluar. Putri langsung berdiri, langkahnya cepat namun tetap tenang.
“Apakah ini temannya?” tanya dokter sambil menatap Putri dengan wajah profesional namun lembut.
Putri hanya mengangguk. “Iya, Bu Dok, ini sahabatnya.”
Dokter mengangguk dan menatapku sebentar melalui pintu ruang perawatan. “Temanmu mengalami tekanan darah tinggi. Sepertinya… dia sedang stres berat.”
Putri menelan ludah, wajahnya sedikit pucat. “Sebelumnya, dia sering mengalami ini, Dok?”
Putri menjawab cepat, dengan nada ragu tapi jujur. “Tidak, Dok. Ini pertama kalinya saya melihatnya seperti itu.”
Dokter mengangguk lagi, menepuk meja. “Baik. Kalian boleh masuk. Teman kalian sedang beristirahat, mungkin sebentar lagi akan bangun.”
Dengan langkah ringan tapi hati penuh kekhawatiran, Putri masuk ke ruang perawatan, diikuti cowok itu. Mereka melihatku terbaring di ranjang, wajah pucat, napas pelan, tangan masih menggenggam selimut.
Mereka tidak tahu, di balik ketenangan itu, aku sedang terseret ke dalam mimpi.
Aku kembali ke sekolah lama, halaman yang luas, suara tawa teman-teman, dan aroma musim semi yang hangat. Tanganku basah karena bermain balon air. Sebuah balon meluncur ke arahku, dan tiba-tiba seorang cowok dengan rambut sedikit acak-acakan mengambil balon itu. Mukanya samar—aku tidak bisa mengenalinya—tapi hatiku melonjak senang. Aku berlari mengejarnya, tertawa tanpa peduli dunia di sekitarku.
Lalu, dari kejauhan, terdengar suara yang familiar, lembut tapi menembus hatiku: “Selin…”
Seketika rasa hangat dan nyata menyebar di seluruh tubuhku. Mimpi dan realita mulai bersentuhan. Perlahan, aku membuka mata.
Di hadapanku, Putri berdiri dengan mata berkaca-kaca, dan di sampingnya, cowok itu menatapku dengan ekspresi campur aduk antara lega dan penasaran. Mata kami bertemu sekejap, dan aku tahu—sesuatu baru saja dimulai, sesuatu yang akan mengubah segalanya.
Saat kelopak mata terbuka sepenuhnya, cahaya lampu rumah sakit tampak begitu putih sampai membuatku harus berkedip beberapa kali. Dunia terasa berat, tapi perlahan mulai fokus: bau antiseptik, suara monitor detak jantung, dan dua sosok yang berdiri di samping ranjangku.
Putri.
Dan… cowok itu.
Putri langsung mendekat begitu melihatku bangun. “Sel, kamu sadar? Ya ampun, akhirnya… kamu bikin aku takut setengah mati!” Suaranya bergetar, tapi ia mencoba tersenyum.
Cowok itu berdiri sedikit di belakangnya, wajahnya campuran lega dan khawatir. Begitu aku menatapnya lebih lama, memori itu akhirnya menggulung masuk seperti ombak: wajah masa SMA… di Sulteng… kelas yang sama… tawa yang dulu kuingat samar.
“A-are you okay?” tanyanya pelan, suaranya lembut tapi canggung.
Aku mengangguk lemah. “Iya… sedikit pusing, tapi aku okay.”
Putri tampak masih panik. “Kamu tadi pingsan, tahu?! Terus mimisan pula. Aku sampai mau ikutan pingsan rasanya…”
Aku tersenyum tipis untuk menenangkannya, lalu perlahan mendorong tubuhku untuk duduk. Putri langsung membantu menyangga bahuku. “Pelan-pelan, Sel.”
Setelah duduk, aku menghirup napas dalam-dalam. Suasana ruangan tiba-tiba terasa canggung, aneh, dan sedikit menekan. Putri melihat cowok itu, cowok itu melihat aku, aku melihat Putri—seperti segitiga kebingungan.
Akhirnya aku memecah keheningan.
“Put… dia…” Aku menatap cowok itu sejenak. “Dia temen SMA-ku. Dulu di Sulawesi.”
Putri langsung melongo. “SERIOUSLY?! Dunia sekecil itukah?!”
Cowok itu tersenyum malu, menggaruk tengkuknya. “Hmm… iya. Nama aku Muhammad Endra. Panggil aja Endra… kalau masih ingat.”
Putri langsung mengulurkan tangan ke arahnya. “Oke Endra, aku Putri Cantika. Temennya Selin yang paling bawel.”
Endra tertawa kecil. “Aku bisa lihat.”
Putri pura-pura manyun. “Hei!”
Aku hanya tersenyum melihat interaksi mereka. Namun jauh di dalam, di balik perutku yang masih mual dan kepala yang masih berat, ada sesuatu yang terasa… aneh.
Karena meskipun Endra bilang kami teman SMA, dan aku juga merasa begitu, ada sesuatu yang tidak tersusun rapi di kepalaku.
Seperti ada kenangan yang seharusnya ada—tapi hilang.
Seperti ada sesuatu tentang dia… yang aku pernah tahu… tapi lupa.
Dan Endra terus menatapku dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan. Seolah ia menyimpan sesuatu yang tidak berani ia buka sekarang.
Sebelum aku bertanya lebih jauh, langkah kaki dokter terdengar mendekat.
Dokter yang tadi menangani masuk kembali ke ruang rawat, memeriksa tekanan darahku, menanyakan beberapa hal, lalu tersenyum kecil setelah memastikan semuanya stabil.
“Kondisinya sudah jauh lebih baik,” ujarnya sambil menutup map. “Saya sarankan istirahat total malam ini. Dan satu hal…” Dokter menatapku lebih lama. “Kalau ada yang kamu pendam sampai membuat stres, lebih baik diceritakan. Jangan menahan semuanya sendiri, itu tidak sehat.”
Putri langsung menoleh ke arahku dengan tatapan tuh-kan-dengar-sendiri. Aku cuma bisa pura-pura senyum.
