Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 1 Masa Kini

Tahun 2026.

Akhir pekan selalu terasa lebih sunyi di apartemen kecilku di lantai enam belas—sunyi yang menyenangkan sekaligus mengganggu. Di depan meja kerja, laptop masih menyala menampilkan halaman kosong calon sampul buku yang sedang kususun. Aku menatapnya lama, berharap ada inspirasi yang jatuh dari langit, tapi tidak ada apa pun kecuali dengung AC.

Aku meraih pensil, mencoba menggambar sebuah sketsa. Tidak sampai tiga garis, suara pintu kamarku tiba-tiba terbuka brak! seperti tersenggol angin besar.

“HEY! Kau masih hidup atau sudah jadi fosil kreatif?”

Aku tidak perlu menengok. Suara itu hanya dimiliki satu orang—perempuan paling bawel yang pernah kutemui. Ia melenggang masuk tanpa permisi, tanpa rasa bersalah sedikit pun. Rambut panjangnya yang diikat asal berayun mengikuti langkah cepatnya.

Dia adalah sahabat penaku. Orang yang dulu hanya kukenal lewat komentar-komentar di forum penulis, lalu beranjak menjadi teman curhat, teman debat ide, dan tanpa kusadari, teman yang selalu muncul di momen tak terduga… seperti sekarang.

“Astaga, kenapa masuk tanpa ketuk?” protesku sambil memegang dadaku dramatis.

Dia menjawab sambil menjatuhkan tubuhnya ke kasurku, memeluk bantal seolah itu adalah wilayah kekuasaannya. “Kalau aku ketuk dulu, kamu bakal bilang ‘sebentar’ dan itu bisa berarti lima jam. Aku menyelamatkan proyek bukumu, tahu?”

Aku mengembus napas panjang. “Aku sedang mencari ide buat sampul.”

“Dan kamu gagal, I can see that.” Dia menunjuk layar laptopku yang kosong. “Makanya aku datang. Anggap ini intervensi kreatif.”

Aku mengangkat alis. “Atau kamu cuma bosan.”

Dia tersenyum kecil—senyum tipis yang sulit dibaca, seolah ada sesuatu yang disembunyikannya hari ini. “Mungkin. Mungkin juga aku datang karena ada... sesuatu yang ingin kubilang. Tapi nanti.”

Aku sempat terdiam. Ada getaran aneh di kalimatnya, seperti ada pintu yang sebentar lagi terbuka dalam hidupku.

Ia bangkit, mendekat ke meja kerjaku, menatap layar laptop itu dengan penuh minat. “Ayo. Kita buat sampul buku paling gila yang pernah kamu rancang.”

Aku tak tahu saat itu bahwa akhir pekan biasa ini akan menjadi awal dari perubahan besar—baik dalam hidupku maupun hidupnya. Bahwa kedatangannya tanpa permisi ternyata membawa sesuatu yang lebih berat dari sekadar obrolan bawel dan ide sampul.

Tiga puluh menit berlalu tanpa kami sadari. Meja penuh dengan kertas coret-coretan, pensil patah, dan dua cangkir kopi yang sudah mulai dingin. Putri Cantika—sesuai namanya, cantik dan bawelnya setara level sirine ambulans—sedang sibuk mewarnai sketsa terakhir ketika tiba-tiba ponselnya berteriak dengan nada notifikasi yang super dramatis.

“Aaaaa!!” jeritnya sambil langsung loncat dari kursi.

Aku, yang sedang menajamkan pensil, hampir tersedak napas sendiri. “Astaga, Putri! Apa lagi?! Kamu lihat kecoak raksasa?”

Dia tidak menjawab. Matanya membesar, bibirnya terbuka, lalu ia menatapku dengan ekspresi campuran antara terkejut, senang, dan sedikit… panik.

“Dia ngajak ketemu!!!” teriaknya.

“Siapa?” tanyaku, walaupun aku sudah punya firasat.

Putri mendekat ke aku sambil menggoyang-goyangkan ponselnya seakan itu tiket konser. “Cowok dari dating app itu. Yang aku bilang kemarin. Yang rambutnya agak ikal—yang hobinya baca novel thriller—yang punya senyum manis itu, ingat?!”

Aku mengerjap. “Oh… yang kamu cuma match tiga menit lalu langsung kamu panik sendiri?”

“YA ITU!” katanya sambil menepuk bahuku. “Dan dia ngajak ketemu sore ini! KITA HARUS PERGI!”

Aku menunjuk diriku sendiri. “Kita?”

“Kamu ikut,” katanya ketus, tanpa ruang negosiasi. “Sebagai pendamping mental, bodyguard emosional, dan saksi hidup kalau dia ternyata psikopat. Ayo siap-siap!”

Aku mendengus. “Jadi aku dipaksa?”

Dia mengangkat dagu dan tersenyum manis, tapi nada suaranya tetap bossy. “Sedikit.”

Aku hanya bisa tertawa kecil. Beginilah Putri Cantika. Cantik, bawel, dramatis, dan selalu menyeretku ke petualangan-petualangan yang tak pernah masuk rencana hidupku.

“Oh iya,” katanya sambil merapikan rambutnya di layar ponsel, “Kamu lupa belum kenalin aku di cerita kamu.”

Aku meliriknya. “Biar aku perjelas di kepala pembaca: ini Putri Cantika. Namanya Cantika karena dia memang cantik… walaupun kadang suaranya bisa bikin kuping meronta minta perlindungan.”

Putri melempar bantal ke arahku. “Dasar!”

Aku tertawa, lalu melihat jam. Pertemuannya tinggal beberapa jam lagi. Entah kenapa, dada aku ikut berdebar. Bukan karena cowok itu… tapi karena firasat. Firasat bahwa pertemuan ini akan membawa sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kencan pertama.

Sesederhana itu awalnya. Tapi kadang, hal yang tampak sepele justru mengubah segalanya.

Waktu berlalu lebih cepat dari dugaan. Setelah sedikit ribut karena memilih baju, kami akhirnya memesan taksi dan meluncur menuju mall besar di pusat Singapura. Putri duduk di sebelahku sambil terus memeriksa chat cowok itu, setiap lima detik bergumam geli sendiri.

“Aku deg-degan!” katanya sambil tertawa.

“Ya jelas,” jawabku. “Kamu mau ketemu orang baru… dan aku dipaksa ikut jadi tameng hidup.”

Putri mencubit lenganku tanpa ampun. “Bajingan halus. Sudah diem.”

Akhirnya kami hanya tertawa sepanjang perjalanan, membicarakan hal-hal konyol yang seolah meredakan ketegangan sore itu. Taksi berhenti dengan halus di depan mall. Suasana akhir pekan membuat tempat itu ramai, penuh lampu, penuh suara—kontras dengan ketenangan apartemenku tadi.

Cowok itu sudah menunggu di restoran lantai tiga. Jadi kami berjalan menuju lift.

Namun saat pintu lift terbuka… sesuatu yang aneh langsung menusuk perasaanku.

Sepotong rasa pernah melihat ini.

Aroma ruangan.

Pantulan cahaya neon di lantai.

Warna baju seseorang di dalam lift.

Deja vu.

Aku tertegun, kakiku seolah berat. Hawa dingin mengalir dari tengkuk hingga tulang punggung.

“Eh? Kamu kenapa?” tanya Putri sambil masuk ke lift.

“Ngg… nggak tahu. Rasanya… aneh.”

Lift bergerak naik. Lantai 2. Lalu 3.

Begitu pintu terbuka, dunia tiba-tiba seperti membelok dari jalurnya.

Cowok itu berdiri tak jauh dari pintu restoran—ramah, kelihatan sedikit gugup. Putri hendak melambai, tapi aku tidak mendengar suaranya lagi.

Karena begitu aku menatap cowok itu…

Kepalaku seperti meledak dari dalam.

Seketika rasa sakit menghantam, tajam seperti pecahan kaca yang menusuk otak. Jauh lebih kuat dari sakit kepala biasa—ini seperti ada dua zaman bertabrakan di dalam benakku.

Aku terhuyung, memegang kepala dengan kedua tangan.

“A—ak—” suaraku terputus.

Cowok itu melihatku. Mata membelalak. Nafasnya tertahan.

“…Selin?” katanya dengan nada terkejut, hampir tidak percaya.

Suaranya menembus kepalaku seperti dentuman. Dunia berputar. Semua suara jadi jauh, bergema dan saling tumpang tindih.

Putri langsung panik. “Selin?! Hei! Hei! Kamu nggak apa-apa?!”

Aku ingin menjawab, tapi rasanya lidahku lenyap. Ketika aku mengangkat sedikit wajahku, aku melihat setitik merah jatuh ke lantai marmer.

Darah.

Hidungku mimisan deras.

Cowok itu datang mendekat dari arah kiri Putri, wajahnya pucat melihat kondisiku. “Tolong! Panggil ambulans!” serunya lantang.

Orang-orang mulai berkerumun. Suara-suara jadi kabur. Aku mencoba fokus, tapi sakitnya terlalu hebat… dan ada sesuatu di balik rasa sakit itu. Sesuatu seperti bayangan wajah… atau kenangan yang hampir terjangkau… tapi berkedip dan hilang.

Sebelum semuanya gelap, suara terakhir yang kudengar:

“Ambulans sudah dihubungi! Bertahan, Selin! Hei!”

Lalu panas di kepala berubah menjadi hampa.

Tubuhku terasa jatuh jauh ke belakang.

Dan kemudian, aku pingsan.

Sirene ambulans meraung memecah hiruk pikuk mall. Petugas medis dengan cepat menggotongku ke atas tandu, memasang oksigen, dan mengecek tekanan darah.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel