Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab.3. Terjebak Dalam Dilema

"Hentikan! Jangan menyentuhku dengan kurang ajar, Tuan!" Starla menggeliat melawan di bawah tubuh berotot kekar itu dengan mata tertutup kain hitam.

"Malam ini sang bintang jatuh di pelukanku, jangan harap kau bisa lolos, Starla! Menyerahlah dan mendesahlah untukku ... kau cepat sekali basah, hmm!" Jemari Brocklyn Hanson bermain di bagian lembut wanita itu dan ini baru permulaan dari segala kegilaannya.

Kepala Starla bergerak liar ke kanan dan ke kiri. Dia memang sudah menikah dengan Joe Leopard selama nyaris tiga tahun. Namun, mereka tidak pernah benar-benar melakukannya sejak awal pernikahan. Hubungannya bersama Joe hanya bagaikan potret couple goals bagi netizen. Hangat di luar, dingin dan kaku di dalam.

Kini, liang kewanitaannya yang belum pernah dimasuki oleh seorang pria pun harus dipaksa menerima Brocklyn Hanson. Dia tak tahu seperti apa rupa sang mafia yang dikatakan oleh Joe begitu kejam. Apa dia akan disiksa demi memenuhi hasrat pria itu?

Namun, sentuhan jemari besar nan panjang Brocklyn mulai tergantikan oleh sesuatu yang hangat dan basah. Mulut pria itu mencicipi bagian pribadi Starla sehingga tubuh ramping yang nyaris telanjang itu bergetar hebat.

"Aakhh ... jangan!" jerit Starla beringsut menjauh dengan emosi berkecamuk di dadanya.

Namun, telapak tangan Brocklyn menahan pinggul Starla. "Berhenti menolakku!" Suara bariton itu tidak membentak, tetapi penuh intimidasi menakutkan.

"Tuan ... hiks hiks ... aku mohon lepaskan saja aku. Urusanmu dengan Joe, aku tidak tahu apa-apa. Kasihanilah aku, Tuan!" ucap Starla mengiba. Dia mungkin pandai berakting adegan apa pun di depan lensa kamera. Namun, kali ini bukan tuntutan skenario melainkan situasi nyata yang akan disesalinya seumur hidup.

Brocklyn Hanson menindih tubuh Starla lalu memagut bibir wanita tawanannya dalam-dalam. Dia merasakan hasrat itu tak tertahankan lagi hingga menyakitkan.

Tangan Starla ditarik hingga menyentuh bagian keras memanjang milik pria mafia itu. "Aaww! Besar sekali!" cicitnya spontan. Jantungnya berdetak kencang bak derap kuda pacu.

"Itu milikmu malam ini, Darling. Kujamin kau pasti puas dan memohon agar aku tidak berhenti!" bujuk Brocklyn Hanson. Tatap matanya memindai wajah Starla yang mengenakan penutup mata hitam dan berhenti di bibir ranum berlipstick merah yang sedikit terbuka karena terengah-engah.

"Please, no!" bisik Starla ketakutan. Dia tak tahu apa artinya sebuah kepuasan hubungan fisik yang memang belum pernah dia rasakan.

Brocklyn menggeram kesal karena bujuk rayunya sia-sia. Dia segera merobek gaun tipis Starla lalu menyentuh apa pun yang dia inginkan. Bentuk fisik seorang wanita yang sempurna itu mengaburkan batas pertahanannya.

Kedua tangan Starla diikat dengan dasi sutra milik pria itu di atas kepala. "Tuan ... jangan ... kumohon!" ucapan mengiba Starla bagaikan mantra yang terucap berulang kali tanpa kekuatan menjadikan harapannya nyata.

Sentuhan Brocklyn justru semakin intens di setiap inchi tubuh wanita tawanannya dari ujung kepala hingga ujung jemari kaki Starla dia jelajahi dengan bibir dan lidahnya.

Bulu roma Starla meremang, dia merasakan pikirannya berkabut terseret oleh hasrat yang sulit untuk dia tolak. Hatinya bimbang antara ingin menolak atau membiarkan Brocklyn memilikinya saja malam ini. Namun, tak ada celah baginya untuk kabur.

"Buka tungkai kakimu yang indah itu untukku, Starla. Jangan sampai aku harus memaksamu!" titah Brocklyn Hanson dengan nada yang tak bisa ditolak.

Perlahan-lahan dalam keraguan, Starla menuruti perintah pria mafia itu. Dia merenggangkan kedua kakinya.

"Good girl!" ucap Brocklyn lalu dia mulai menyusupkan dua jarinya ke lipatan sempit yang mulai basah milik Starla.

Wanita itu terisak-isak dengan napas tercekat setiap kali Brocklyn mendorong masuk jemarinya. "Hentikan ... please!" isak Starla tak berdaya.

"Never! Kita baru akan memulai bagian yang paling menyenangkan, Darling!" balas Brocklyn dengan seringai iblis tanpa ampun.

Tiba-tiba pintu kamar diketok beberapa kali dari luar. Pria mafia itu segera memaki keras, "Shit! Berani sekali mengganggu malam indahku!"

"SIAPA DI SANA?!" teriak Brocklyn dengan nada penuh ancaman.

"Ini saya, Corby. M–maafkan saya, Tuan Hanson, ada persoalan penting yang harus saya laporkan!" jawab pria yang menjadi tangan kanan Brocklyn di sindikat kriminal yang dia pimpin.

"Hmm ... tunggu sebentar, Corby!" tukas Brocklyn lalu dia berpikir sejenak. Kemudian dia bangkit dari ranjang untuk mengambil kain pengikat pinggang gaun malam tipis Starla yang jatuh di lantai.

Sembari mengikat pergelangan tangan Starla ke tiang dipan, Brocklyn berkata, "Jangan pernah berpikir untuk kabur dari tempat ini, Starla. Urusan kita belum selesai, mengerti?!"

"Ta– tapi, aku takut sendirian!" ucap Starla karena matanya tertutup kain hitam dan kedua tangannya diikat ke tiang tempat tidur.

Brocklyn terkekeh. "Ohh, jadi lebih baik kalau aku menemanimu di sini ya? Sabar, Cantik ... kau aman di dalam rumahku. Akan kubunuh siapa pun yang berani menyentuhmu selain aku sendiri!"

Dada Starla naik turun cepat karena panik. Dia tak bisa membedakan mana yang lebih membuatnya ketakutan; kehadiran Brocklyn atau ditinggalkan sendiri tak berdaya di dalam kamar asing itu. Pilihan yang sama-sama buruk!

Telapak tangan lebar berpermukaan kasar itu membelai kulit wajah mulus Starla. Sesaat kemudian bibir Brocklyn memagut ganas dengan hasrat nyata hingga bibir Starla terasa kebas dan sedikit perih.

"Tunggu aku, okay. Jadilah wanita yang penurut, Starla!" pamit Brocklyn lalu dia mengenakan kembali pakaiannya yang teronggok di lantai tanpa peduli betapa kusut penampilannya.

Telinga Starla mendengar suara kain dan kulit beradu lalu langkah-langkah berat itu mulai menjauh darinya. Disusul suara pintu dibanting menutup dan anak kunci diputar dua kali.

Keheningan melingkupinya bersama kegelapan total tanpa seberkas cahaya malam itu. Batinnya bergolak dalam keputus asaan. Jikalau masih ada hari esok, dia sudah menentukan tindakan yang akan diambilnya terhadap pernikahannya bersama Joe.

Perceraian menjadi satu-satunya hal yang diinginkan Starla. Pria bedebah itu telah menjadikannya sebuah komoditi untuk diperjual belikan dengan barang haram narkotika. Entah di mana Joe menggadaikan otaknya?

Seharusnya sudah sejak lama dia menghempaskan pria benalu tak berguna itu. Semenjak menikahinya, Joe berubah 180° dari yang sebelumnya lembut, begitu perhatian, dan penyayang menjadi dingin, acuh tak acuh, bahkan kasar baik verbal maupun fisik.

Dia rupanya telah terjebak oleh pria manipulatif dan munafik yang melakukan love bombing di awal pertemanan mereka dulu. Bagi Starla, ini adalah akhir dari hubungannya bersama Joe Leopard.

Kamar itu masih saja sunyi setelah begitu lama terasa bagi Starla, dia mencoba melepaskan ikatan di pergelangan tangannya. Namun, Brocklyn mengikat dengan begitu erat. Tubuh Starla kelelahan dan menyerah untuk terlelap menantikan nasibnya yang di ujung tanduk karena jatuh ke pelukan sang mafia.

Hujan badai yang tadi menyapu kota telah mereda digantikan hawa dingin yang terbawa angin malam. Starla bergidik kedinginan tanpa busana, dalam tidurnya dia mengigau. Dia bermimpi bertemu Joe dan mengamuk pada pria itu karena telah mencelakakannya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel