Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab.4. Pertukaran yang Mahal

"Corby, katakan cepat apa yang jadi masalah. Perempuan itu menungguku di ranjang, hmm!" geram Brocklyn Hanson kesal karena kesenangannya diinterupsi tiba-tiba.

Salah satu pentolan di klan Hawk King itu berdehem lalu mengatakan dengan lugas persoalan besar yang dia dapat dari informan. "Tuan, Joe Leopard menjajakan barang kita di pesta Bradley Lawrence. Sialnya, ada polisi yang menyamar di acara penuh selebritis dan kaum jetsetter itu!" lapor Corby Killians.

"BRAK!" Tinju kepalan Brocklyn menghantam meja kayu sehingga menimbulkan ketegangan di antara para bawahannya yang menghadapnya malam itu.

"Apa yang harus kami lakukan, Tuan?" tanya Ernest Young, lawyer klan mafia yang dipimpin oleh Brocklyn.

Brocklyn berpikir keras, dia merasa konyol saja membiarkan barang dagangannya yang berharga terbuang sia-sia disita oleh pihak kepolisian. Akan tetapi, bila dia menyuruh anak buahnya justru membahayakan mereka karena bersinggungan dengan aparat penegak hukum di luar dunia bawah tanah tempat kekuasaannya.

Maka dia pun berkata, "Corby, tempatkan mata-mata agar barang kita tetap terpantau di mana lokasinya. Dan ... Ernest, pastikan pria tolol bernama Joe Leopard itu tidak menuntut ganti rugi Angel Dust yang telah dia pasarkan sendiri dengan sembarangan lalu disita polisi!"

"Siap, Mr. Hanson. Joe telah menanda tangani surat perjanjian pertukaran Angel Dust dengan pelayanan istrinya untuk Anda malam ini seharusnya dia tidak mencari gara-gara!" sahut Ernest Young.

"Ohh ... yeah, amankan posisiku agar Joe tidak menyeret namaku karena narkotika yang dia dapatkan dariku, Ernest. Satu lagi, aku ingin kau membuat surat perceraian Joe dan Starla secepatnya lalu aku ingin menikahi wanita itu secara legal. Urus dengan teliti, aku tak mau ada kesalahan sekecil apa pun, paham?!" titah Brocklyn dengan tatapan mata sekeras granit.

Pengacara muda itu mengendurkan ikatan simpul dasinya karena terasa mencekik. "Saya mengerti keinginan Anda, Tuan. Berikan saya waktu untuk mengurus segalanya dengan sempurna!" jawab Ernest.

"Apa ada lagi yang ingin kalian katakan? Waktuku tak banyak dan jangan menggangguku lagi dengan urusan apa pun. Mau dunia kiamat, aku hanya ingin bercinta dengan Starla Cassidy malam ini!" ujar Brocklyn tak sabar lagi menahan hasratnya yang tak tersalurkan tadi.

Belum sempat Brocklyn meninggalkan ruang kerjanya di mansion, pintu diketok jamak seolah-olah tamunya tak sabar untuk bertemu.

"Ya, masuklah!" seru pentolan mafia itu dengan nada gusar terganggu.

Ketika pintu terayun, sosok Joe Leopard memasuki ruangan itu. Dengan suaranya yang melengking, Joe menghampiri meja Brocklyn dengan berkata, "Hey, Bos. Naas sekali aku malam ini, sekoper Angel Dust pemberianmu jatuh ke tangan polisi. Apa bisa kau memberikan sedikit kompensasi untuk kerugianku itu? Toh, Starla masih ada di rumahmu ini. Ka–kau bisa menahannya di sini lebih dari semalam sampai kau puas, Mr. Hanson!"

Telapak tangan Brocklyn mengepal hingga jari-jarinya memutih karena menahan amarah. 'Kalau kau mendengar sendiri suami keparatmu ini menjualmu seperti pelacur, Starla. Apa kau masih ingin kembali kepadanya nanti, hmm?!' batinnya kesal.

"Ehm ... tawaran yang menarik, Joe. Berapa yang kau minta kalau aku ingin Starla menjadi milikku dan ...," Brocklyn memutar-mutar telapak tangannya di udara, "kalian bercerai saja, huhh?"

Mata Joe melotot seperti baru saja menelan kelereng, dia tak menyangka bos mafia itu sangat menyukai Starla. Padahal baginya, Starla hanya sekadar sapi perahnya yang menghasilkan banyak uang. Dia sejak awal tak pernah menyukai wanita itu karena kesombongannya, menyentuhnya saja tidak sudi!

"Bukankah, harga Angel Dust itu menjadi terlalu mahal bagiku, Mr. Hanson? Starla sangat berarti di hidupku yang mengenaskan ini!" ujar Joe, sok menganggap Starla berharga. Matanya berkilat oleh ketamakan yang nampak jelas di hadapan Brocklyn.

"Katakan saja, berapa? Aku kurang suka negosiasi yang bertele-tele, Joe. Jangan sampai aku menarik pelatuk pistol kesayanganku ke arah kepalamu itu!" ancam Brocklyn dengan nada lembut mematikan.

Seisi ruangan seperti membeku mendengar kata-kata Brocklyn. Anak buahnya tidak meragukan kekejaman yang bisa dilakukan oleh bos mafia itu. Siapa pula Joe Leopard ini? Tak lebih bak lalat sampah yang mengganggu saja.

"T–tolong jangan gegabah, Tuan. Kita bisa bicarakan ini baik-baik!" sergah Joe yang merasakan peluh bercucuran di sekujur tubuhnya karena dicekam ketakutan.

"Jadi, katakan saja apa yang kau mau, berapa?" ucap Brocklyn dengan malas-malasan menatap Joe sembari menyandarkan punggungnya di kursi putar.

Joe menelan ludah lalu berdehem-dehem. "Lima kilo Angel Dust akan cukup untuk seorang Starla, Mr. Hanson. Apa Anda bisa memenuhi permintaanku?"

Anak buah Brocklyn Hanson mendesis dan mengumpat mendengar harga yang ditentukan pria bedebah itu untuk menukar istrinya. Tatapan mata Ernest memicing tak suka, dia pengacara urusan legal organisasi mafia pimpinan Brocklyn. Jauh lebih baik bosnya menarik pistol dan menghabisi Joe saja, pikir Ernest kesal.

"Hahaha. Kau bersikap seperti germo, tak pantas rasanya kau menjadi suami Starla yang sangat berharga!" kecam Brocklyn disertai kebencian tersirat. Namun, dia pada akhirnya mengambil selembar kertas kosong lalu menuliskan perintahnya. Di akhir surat yang ditulis itu dicap dengan embos lambang klan Hawk King yaitu rajawali emas.

"Bawa ini besok ke Bar Uptown Margarita dan serahkan ke Harold Singh, kau akan mendapatkan barang yang kau inginkan sepadan dengan Starla. Jangan lupa tanda tangani surat perceraian kalian, Mr. Ernest Young akan menyiapkan dokumennya besok!" Brocklyn menyelesaikan urusan dengan suami Starla agar pria bajingan itu tak lagi merecoki hubungannya ke depan.

"Ohh ... jangan kuatir, Tuan. Segalanya pasti beres. Selamat bersenang-senang dengan mantan istriku. Dia istimewa, masih murni tak seperti yang dipikirkan orang-orang!" ujar Joe Leopard dengan raut wajah mesum. Dia menyimpan surat berharga pemberian Brocklyn ke saku jasnya lalu melenggang ke luar ruangan kantor mansion sembari bersiul-siul riang.

Setelah pintu menutup, Brocklyn mengumpat keras, "DAMN IT!!"

Anak buahnya memejamkan mata dengan napas tercekat gugup. Corby pun angkat bicara, "Tuan, apa perlu kami membereskan lelaki tak berguna itu setelah dia menanda tangani surat cerai?"

"Hmm ... itu terlalu enak untuknya. Berikan informasi kepemilikan narkotika atas diri Joe Leopard ke polisi. Mereka pasti akan menjebloskannya ke sel tahanan sampai dia membusuk di penjara!" jawab Brocklyn.

Kemudian pria itu bangkit berdiri dan bergegas meninggalkan ruang kantornya, dia berpesan untuk terakhir kalinya, "Jangan ada yang menggangguku lagi malam ini!"

"Baik, Tuan. Kami paham!" sahut Corby lalu melepas kepergian big bossnya yang menyusuri lorong mansion yang remang-remang.

Brocklyn merasa bersalah telah meninggalkan Starla sendirian dalam keadaan tanpa busana di kamar bermain pribadinya. Hasrat menyeruak dari dalam diri Brocklyn, dia akan membuat Starla tak akan mungkin melupakan malam ini bersamanya.

Pintu itu dia buka dengan anak kunci dari saku celananya lalu Brocklyn mencari sosok Starla di dalam ruangan. Cahaya lampu penerang sisi luar mansion menyinari tubuh molek Starla sehingga berpendar keemasan.

"Hello, Starla!" sapanya sembari melangkah perlahan menuju ke ranjang di mana wanita berpenutup mata itu terikat ke tiang dipan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel