Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab.2. Rayuan Maut Sang Mafia

Udara di kamar mewah itu terasa menyesakkan. Keheningan malam hanya dipecah oleh bunyi jam dinding yang berdetak lambat. Starla Casidy duduk di tepi ranjang king size, tubuhnya kaku seperti patung. Kain hitam tebal menutupi matanya, membuat dunia menjadi kegelapan total – hanya rasa, bunyi, dan bau yang ada.

Sesaat pintu kamar itu terbuka lalu tercium bau wangi parfum pria yang mewah mengelilinginya, disertai aroma sisa tembakau terbakar.

Dia disekap di sini karena Joe, suaminya telah membawanya ke mansion Hanson dengan ancaman. Para pelayan wanita tadi telah menutup matanya dengan kain hitam itu sebelum meninggalkan Starla sendirian. Dia hanya tahu namanya dari bisikan Joe yang dingin di telinganya, Brocklyn Hanson. Orang yang membunuh tanpa ragu, yang kata-katanya seperti hukum di dunia bawah tanah penuh kejahatan.

Langkah-langkah yang tegas mendekatinya dari arah pintu. Berat dan perlahan, tapi penuh kekuasaan. Starla merapatkan badannya, tangannya menggenggam pinggang gaun tidur tipis yang dikenakannya sampai buku jari-jarinya memutih. Perintah Joe masih terngiang, jangan banyak bicara apalagi melawan. Dia hanya diam, menahan napas sampai dadanya terasa sesak.

Bayangan pria itu berhenti tepat di depan dia. Panas tubuhnya menyebar seperti nyala api dari jarak dekat. Kemudian, jari-jari yang besar dan kasar menyentuh dagunya, meluncur perlahan ke bawah ke dagu. Starla ingin menolak, tetapi dia tidak bisa menghindar.

"Kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan untukku, kan?" Suara Brocklyn dalam dan kasar, seperti batu yang digosok. Ada nada kebencian di dalamnya, bukan kebencian pada Starla, tapi kebencian pada perasaan yang dia rasakan. "Gaun itu terlalu tipis untuk menyembunyikan apa yang ada di baliknya. Bentuk tubuhmu yang sempurna, seolah dibuat untuk membuat pria tergila-gila. Dan aku sudah lama tidak gila karena seorang wanita."

Starla menggigil, badannya semakin kaku. Tangan Brocklyn memegang dagunya lebih erat. "Jangan takut, Darling. Ketahuilah bahwa itu tidak akan mengubah apa-apa. Aku adalah orang yang bengis, Starla. Semua orang tahu itu. Aku telah melakukan hal-hal yang akan membuatmu mual. Tapi melihatmu di sini ... membuat gairah liar yang terpendam bertiup nyala lagi. Gairah yang dulu pernah ada karena seorang wanita spesial."

Dia merasakan nafas pria itu terengah-engah, tapi tidak karena lemah melainkan karena usaha menahan diri. "Aku melihatnya dari jauh, bagaimana cahaya malam menyentuh punggungmu yang melengkung sexy, bagaimana rambutmu bergoyang seperti api yang lembut. Kau cantik seperti maut, Starla. Keberadaanmu membuat pria melupakan semua aturan yang mereka kenal."

Brocklyn membungkuk, hidungnya menyentuh dahinya dengan tekanan yang cukup untuk membuat Starla merasa ada di sana. "Matamu yang tertutup itu malah membuatnya lebih buruk. Aku bisa membayangkan mata yang cerah, penuh semangat dan keberanian. Seperti bintang di tengah kegelapan yang aku tinggali. Dan aku ingin meraih bintang itu, meskipun itu akan membakarku."

Tangan Brocklyn meluncur ke bawah, menyentuh bahunya yang terbungkus gaun, sentuhan yang kuat, tidak lembut tapi penuh rasa mendamba. "Buah dada yang penuh, pinggang yang ramping, perut rata, semuanya sempurna. Aku ingin menyentuh setiap inci tubuhmu, ingin merasakan panasmu menyatu dengan panasku. Bagaimana kalau kita mulai malam indah ini berdua, Starla?"

Starla menghela nafas panjang, napasnya terengah-engah. Dia merasakan tubuhnya mulai rileks meskipun hatinya masih takut. Kata-kata pria itu seperti pukulan tinju yang lembut penuh kekuatan, tapi ada kelembutan tersembunyi di dalamnya.

Brocklyn menarik wanita itu sedikit lebih dekat, hingga tubuh Starla menempel pada badannya yang berotot. "Aku tahu, Joe menjualmu untuk obat itu. Aku tidak peduli dengan alasannya. Dia hanyalah bajingan murahan. Tapi sekarang kau di sini dengan aku. Biarkan aku jadikan malam ini sesuatu yang kau ingat bukan karena ketakutan, tapi karena gairah yang sejati. Aku bisa bersikap baik padamu, Starla asalkan kau menuruti keinginanku. Jangan pernah lupakan siapa aku sebenarnya!" bujuknya.

Starla merespon dengan perlahan, menyelipkan tangan kirinya ke lengan bawah Brocklyn yang ditumbuhi bulu subur, begitu jantan. Dia menyentuh kulit pria itu yang terasa hangat dan kasar, penuh bekas luka. Starla merasakan jantungnya berdebar tak menentu.

Kemudian Brocklyn mengangkat tangannya, memegang tangan Starla yang kecil di dalam tangannya yang besar. "Buka kancing kemejaku, Darling. Layani aku malam ini sampai puas!" titahnya seolah-olah tak bisa dibantah.

"Lihat," kata Brocklyn, suaranya lebih dalam sekarang, "jantungmu berdebar cepat, tapi aku bisa merasakan keinginan tersembunyi itu. Biarkan aku memuaskan rasa penasaranmu, Darling. Biarkan aku menunjukkan padamu betapa cantik kau sebenarnya dan betapa kuat aku bisa melindungimu, meskipun caraku melakukannya tidak selalu bersih. Jadilah wanitaku, Starla!"

Kain hitam di matanya terasa semakin berat. Starla mengangkat tangan bebasnya, ingin melepasnya. Namun, Brocklyn menahan tangannya dengan cepat. "Jangan!" sergahnya, dengan nada yang tidak bisa ditolak. "Tunggu sebentar lagi. Biarkan kita lihat apakah kau benar-benar mau dengan orang seperti aku. Sebab sekali kau setuju, tidak ada jalan pulang lagi."

Dia mencium dagu Starla yang dipenuhi air mata. Sebuah ciuman yang cepat dan kuat, tidak lembut tapi penuh makna. Kemudian, dia berdiri, langkah-langkahnya menjauh ke arah jendela dengan kepercayaan diri yang hanya dimiliki oleh orang yang pernah menguasai segala sesuatu.

Starla duduk terisak-isak sendirian, mata masih tertutup kain hitam. Jam dinding berdetak lagi. Malam masih panjang, dan kata-kata Brocklyn terngiang di telinganya. Campuran kekerasan dan keindahan yang membuatnya terjebak antara takut dan keinginan yang tidak dia mengerti. Haruskah dia menyerah menjadi budak ranjang sang mafia?

"Buat apa kau menangis, Starla? Padahal aku akan membuatmu merasakan surga dunia sebentar lagi!" ujar Brocklyn sembari memperhatikan sosok wanita yang duduk di tepi ranjang itu.

"A–aku mau ... pulang saja!" jawab Starla tergagap. Dia ketakutan dengan sosok mafia kejam itu. Dunianya bukan di sini dalam kegelapan melainkan di bawah sorot terang lampu panggung yang gemerlapan.

"Tidak bisa!" ucap Brocklyn tak sabar, dia melucuti pakaiannya hingga berserakan di lantai kamar. Kemudian pria itu mendorong tubuh Starla hingga jatuh terlentang di atas tempat tidur dengan kaki menggantung.

Tanpa banyak bicara Brocklyn menindih tubuh sang bintang terkenal itu lalu menghujani kulit putih mulus Starla dengan ciuman panas bergairah. "Kau milikku malam ini, Starla. Hargamu telah lunas kubayar, rela atau tidak ... kita tetap akan menghabiskan waktu bersama!" tegas Brocklyn.

"Apa kau akan membunuhku jika aku melawanmu, Tuan?!" tantang Starla setelah mengumpulkan segenap keberaniannya yang tersisa.

Brocklyn tertawa renyah hingga menggema di dalam kamar itu. "Jangan terlalu memaksakan diri, Darling. Kau tak akan tahan menghadapi siksaanku. Apa kamu mau mencoba kucambuk dengan ikat pinggangku? Hmm ... sayang sekali, bukan?" ujar pria itu sembari membelai pipi halus Starla yang bergidik ketakutan.

 

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel