Bab 5. Pagi Yang Beda
Saskia tertidur tanpa rencana.
Bukan karena nyaman.
Melainkan karena lelah yang akhirnya menang.
Ia masih duduk bersandar di dinding ketika kelopak matanya berat. Reza sempat berdiri, hendak membangunkannya, lalu mengurungkan niat. Ia hanya mengambil bantal tipis dari ranjang, meletakkannya pelan di sisi kepala Saskia.
Tidak ada sentuhan berlebihan.
Tidak ada kecanggungan.
Hanya kepedulian yang sederhana.
Reza duduk di lantai, bersandar di ranjang, membiarkan malam berjalan sampai kantuk ikut merengkuhnya.
Pagi datang lebih cepat dari yang Saskia kira.
Ia terbangun oleh suara ember, langkah kaki, dan obrolan santai yang saling bersahutan di luar kamar. Udara pagi masuk dari jendela kecil hangat, bercampur aroma kopi dan gorengan.
Saskia bangun perlahan.
Untuk sesaat, ia lupa di mana ia berada.
Lalu matanya menangkap dinding kusam, kipas angin tua, dan pintu kayu yang tidak rapat. Ia menelan ludah, duduk tegak.
Ini bukan apartemennya.
Reza sudah bangun. Ia berdiri di sudut kamar, melipat sarung, mengenakan celana panjang dan kaos bersih.
“Kamu bisa mandi,” katanya tenang. “Tapi… harus antre.”
Saskia mengangguk.
“Oke.”
Di luar kamar, ia melihat pemandangan yang tak pernah ia bayangkan akan menjadi bagian dari paginya.
Beberapa penghuni kos sudah mengantre kamar mandi. Ada yang membawa ember, ada yang membawa gayung sendiri. Beberapa bercanda, beberapa menguap sambil memegangi handuk.
Saskia berdiri agak ke pinggir, kikuk.
Tak ada yang mengenalnya.
Tak ada yang peduli siapa dia.
Ia hanya perempuan biasa yang ikut mengantre.
Ketika akhirnya giliran Saskia tiba, ia masuk ke kamar mandi sempit itu. Air dingin menyentuh kulitnya. Ia terdiam beberapa detik—bukan karena tidak nyaman, melainkan karena terharu.
Hidup seperti ini… nyata.
Di luar, Reza berdiri tidak jauh dari pintu kamar mandi. Ia pura-pura sibuk merapikan sapu dan ember, matanya sesekali menoleh.
Bukan posesif.
Bukan cemburu.
Hanya berjaga.
Ia tahu lingkungan ini. Ia tahu kebiasaan mata-mata usil. Dan ia tahu Saskia tidak terbiasa dengan dunia yang tidak memberinya privasi.
Beberapa lelaki kos melintas, melirik sekilas. Reza menatap balik tanpa kata, cukup dengan sikap.
Tak ada yang mendekat.
Ketika Saskia keluar, rambutnya masih basah, wajahnya polos tanpa riasan. Ia terlihat… berbeda. Lebih muda. Lebih manusia.
“Terima kasih,” ucapnya pelan.
Reza mengangguk. “Sudah biasa.”
Saskia tersenyum kecil. Ia melihat sekeliling lagi. Kehidupan pagi yang sederhana: orang berangkat kerja, ibu kos menjemur pakaian, suara sendok beradu dengan gelas.
Dadanya terasa hangat.
“Reza,” katanya pelan.
“Hm?”
“Terima kasih… sudah membiarkanku melihat ini.”
Reza menatapnya sekilas.
“Kamu melihat kehidupan,” katanya singkat. “Bukan pertunjukan.”
Saskia terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa lebih tinggi.
Tidak juga lebih rendah. Hanya… setara.
Dan pagi itu, di kos sederhana Rungkut Industri, Saskia Wijaya menyadari satu hal yang menggetarkan hatinya, Ia tidak hanya jatuh pada seseorang. Ia sedang jatuh pada cara hidup yang jujur.
Warung itu berdiri tepat di depan gang kos.
Meja kayu panjang, bangku plastik warna-warni yang sudah pudar, dan etalase kaca berembun oleh uap nasi hangat. Lantainya tidak benar-benar bersih—jejak kaki, cipratan kuah, dan debu jalanan bercampur jadi satu.
Reza berhenti di depan warung.
“Kita makan di sini,” katanya santai.
Saskia menatap warung itu beberapa detik.
Bukan jijik.
Lebih tepatnya… asing.
“Warung rakyat,” lanjut Reza. “Bukan kafe.”
Saskia mengangguk.
“Oke.”
Jawaban itu membuat Reza meliriknya sekilas.
Mereka duduk berdampingan. Ibu warung langsung menyapa Reza dengan akrab.
“Seperti biasa, Mas?”
“Iya, Bu. Dua,” jawab Reza.
Saskia menatap piring kaleng, sendok yang sudah banyak goresan, dan botol kecap yang lehernya lengket. Biasanya, ia sarapan di restoran hotel atau kafe dengan aroma kopi mahal.
Namun anehnya…
ia tidak ingin kabur.
Saat nasi dan lauk sederhana tersaji, tempe goreng, telur balado, sayur bening Saskia menatapnya sejenak.
“Enak?” Tanyanya ragu.
Reza tersenyum kecil.
“Kalau lapar, semua enak.”
Saskia mencicipi.
Dan berhenti.
“Ini… enak,” katanya jujur.
Reza terkekeh. “Selamat. Kamu lulus tes pertama.”
Saskia mendengus. “Tes apa?”
“Tes bertahan hidup,” jawab Reza santai.
Mereka makan tanpa banyak bicara. Tidak ada obrolan bisnis. Tidak ada tekanan. Hanya suara sendok, sesekali tawa kecil dari pelanggan lain.
Setelah selesai, Reza berdiri ke kasir kecil di depan.
Ia merogoh saku celana. Mengeluarkan… recehan.
Banyak recehan. Ia menuangkannya ke meja kasir dengan bunyi berderak.
Saskia refleks mendekat.
“Kamu ngapain?”
“Bayar,” jawab Reza serius. “Bantu ngitung.”
Saskia tertegun.
“Serius?”
“Serius. Beginilah repotnya jadi orang kaya,” ucap Reza datar. “Kebanyakan uang kecil.”
Saskia menatapnya.
Lalu tertawa.
Bukan senyum sopan.
Bukan tawa tertahan.
Ia tertawa lepas, menutup mulutnya dengan tangan, bahunya sedikit terguncang. Untuk beberapa detik… ia lupa siapa dirinya.
Lupa jabatan.
Lupa tekanan.
Lupa ancaman perjodohan.
Reza ikut tersenyum diam-diam.
Recehan akhirnya terkumpul. Ibu warung tersenyum geli.
“Makasih, Mas,” katanya.
Setelah itu, mereka berdiri di pinggir jalan.
Saskia melirik mobilnya yang terparkir agak jauh.
“Kita bareng ke kantor?” Tanyanya spontan.
Reza menggeleng pelan.
“Kamu duluan.”
Saskia menatapnya.
“Kenapa?”
“Kalau kita datang bareng,” jawab Reza tenang, “akan timbul fitnah.”
Kalimat itu sederhana. Tapi nyata.
Saskia mengangguk, memahami.
“Kamu naik apa?”
“Bus.”
Saskia terdiam.
“Bus?”
Reza menunjuk halte kecil di seberang jalan.
“Setia.”
Ia tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya, Saskia merasa… malu pada kenyamanan yang selama ini ia anggap wajar.
“Terima kasih,” ucapnya pelan. “Untuk pagi ini.”
Reza mengangguk.
“Hati-hati di jalan.”
Saskia berjalan menuju mobil. Sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi. Reza sudah melangkah ke arah halte, tas kecil diselempangkan di bahu. Punggungnya tegap bukan karena kekuasaan, melainkan karena terbiasa berdiri sendiri.
Mobil Saskia melaju lebih dulu dan di dalam hatinya, ada perasaan yang semakin sulit ia definisikan.
Bukan kagum.
Bukan kasihan.
Melainkan… rasa ingin berjalan sejajar.
Sementara itu, Reza naik ke bus kota, duduk di dekat jendela. Ia memejamkan mata sebentar.
“Terlalu dekat,” gumamnya.
Namun senyum kecil itu masih tertinggal.
Bus kota melaju pelan, berhenti dan berjalan lagi seperti napas yang teratur.
Reza duduk di dekat jendela, satu tangan memegang tali pegangan, yang lain menyandarkan tas kecil di paha. Udara di dalam bus hangat, bercampur bau bensin dan parfum murah.
Ia menatap keluar.
Pedagang kaki lima membuka lapak. Anak sekolah berjalan berkelompok, tertawa keras. Seorang ibu menggandong balita sambil menenteng tas belanjaan. Semua bergerak dengan tujuan masing-masing—sederhana, jujur, tanpa kemewahan.
Inilah dunia dari bawah.
Dunia yang tidak mempedulikan siapa bos siapa karyawan. Dunia yang hanya peduli: hari ini bisa makan, besok masih bisa bekerja.
Reza menghela napas pelan.
Pikirannya melayang…
pada tawa Saskia pagi tadi.
Tawa yang tidak dibuat-buat.
Tawa yang membuatnya lupa bahwa perempuan itu hidup di menara kaca.
“Berbahaya,” gumamnya.
Bukan karena Saskia lemah.
Melainkan karena ia mulai ingin melindunginya.
Bus berhenti mendadak. Seorang penumpang naik tergesa. Reza bergeser memberi tempat.
Ia menatap bayangannya sendiri di kaca jendela.
Kalau dia tahu siapa aku sebenarnya…
Pikirannya berhenti di situ.
Ia belum siap.
Bukan karena takut ditolak.
Justru karena takut… diterima dengan alasan yang salah.
Sementara itu, di lantai tertinggi gedung perusahaan, Saskia Wijaya berdiri di depan jendela besar ruang CEO. Kota Surabaya terbentang di bawah, rapi, jauh, seolah tidak pernah kotor.
Ia kembali mengenakan jas rapi, rambut disanggul sempurna. Meja kerjanya tertata, layar laptop menyala.
Semua kembali seperti semula. Namun hatinya tidak.
Ia melirik jam tangan. Pukul delapan lewat sepuluh.
Biasanya, Reza sudah terlihat di koridor. Membawa alat kebersihan, berjalan cepat, nyaris tak terdengar.
Hari ini… belum.
Saskia menarik napas, lalu melepaskannya pelan.
Tenang, katanya pada diri sendiri. Dia naik bus.
Ia kembali menatap keluar jendela.
Untuk pertama kalinya, gedung-gedung tinggi itu terasa sunyi. Ia teringat gang sempit, bangku plastik, suara sendok beradu, dan recehan yang harus dihitung bersama.
Kenangan pagi itu…
terlalu nyata untuk diabaikan.
Pintu diketuk.
“Masuk,” ucapnya cepat terlalu cepat.
Maya masuk, membawa tablet.
“Kamu oke?” tanyanya sambil menyipitkan mata.
“Kenapa?”
“Kamu berdiri di situ lima menit,” jawab Maya. “Biasanya kamu sudah membentak seseorang.”
Saskia tersenyum kecil.
“Ada hari-hari yang tidak ingin aku bentak.”
Maya menatapnya lama, lalu tersenyum tipis.
“Dia belum datang?”
Saskia menoleh cepat.
“Apa?”
Maya terkekeh.
“Kamu bahkan lupa menyangkal.”
Saskia kembali menatap jendela.
Di bawah sana, dunia bergerak. Dan entah di sudut mana, seorang pria yang memilih hidup sederhana sedang menuju gedung miliknya.
Ia menunggu.
Bukan sebagai bos.
Melainkan sebagai perempuan yang hatinya sedang belajar sabar.
Reza tiba di lantai dua belas dengan langkah biasa.
Tidak tergesa.
Tidak mencuri perhatian.
Seragam OB rapi, map cokelat di tangan. Maya yang menyerahkan berkas itu menatapnya sebentar, tatapan yang seolah ingin berkata sesuatu, tapi urung.
“Tolong antarkan ke Bu Saskia,” ujar Maya singkat.
Reza mengangguk.
“Iya, Mbak.”
Koridor menuju ruang CEO terasa lebih panjang dari biasanya.
Di depan pintu kaca buram bertuliskan CEO, Reza berhenti sepersekian detik. Ia menarik napas, lalu mengetuk.
“Masuk,” suara itu terdengar dari dalam.
Reza membuka pintu.
Saskia berdiri di dekat jendela besar. Punggungnya membelakangi pintu, siluetnya tegas dalam balutan jas. Kota terbentang di bawah jauh dan sunyi.
Ia menoleh. Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan.
Namun ada sesuatu yang bergeser halus, nyaris tak terlihat.
“Saya diminta mengantar berkas,” ucap Reza, nada suaranya kembali profesional.
Ia melangkah maju, meletakkan map di atas meja.
“Terima kasih,” jawab Saskia.
Satu detik berlalu.
Dua detik berjalan.
Reza berbalik hendak pergi.
“Sarapanmu…,” Saskia berhenti, lalu mengoreksi diri. “Maksudku, terima kasih atas pagi tadi.”
Reza berhenti melangkah. Ia menoleh setengah badan.
“Sama-sama, Bu.”
Nada itu sopan. Jarak kembali dijaga.
Namun sebelum pintu tertutup, Saskia berkata pelan nyaris untuk dirinya sendiri.
“Aku tertawa hari ini.”
Reza menatapnya.
Untuk pertama kalinya pagi itu, ia melihat Saskia bukan sebagai CEO, bukan sebagai perempuan yang menuntut. Melainkan seseorang yang sedang belajar mengakui perasaan kecil.
“Bagus,” katanya singkat.
Tidak memuji.
Tidak menggoda.
Cukup mengakui.
Reza membuka pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sebentar.
“Dan…,” katanya tanpa menoleh, “kamu tidak perlu berubah terlalu keras. Pelan-pelan saja.”
Pintu menutup.
Saskia berdiri terpaku. Kalimat itu sederhana. Tapi hangatnya tertinggal, lama.
Di luar, Reza berjalan menjauh. Dadanya berdebar tidak kencang, tapi konstan. Ia tahu, batas itu semakin tipis.
Dan di ruang CEO, Saskia menutup mata sesaat.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian di ruangan seluas ini. Bukan karena seseorang menemaninya.
Melainkan karena seseorang… memahami jarak.
Kedatangan itu tidak dijadwalkan.
Lift khusus berhenti di lantai dua belas, pintunya terbuka, dan dua sosok yang langsung dikenali para karyawan melangkah keluar.
Surya Wijaya bersama istrinya.
Orang tua Saskia.
Bisik-bisik spontan menyebar seperti gelombang kecil. Bukan karena sering melainkan karena jarang. Kehadiran mereka selalu berarti sesuatu yang besar.
Maya yang pertama menyambut, wajahnya profesional meski jelas terkejut.
“Selamat pagi, Pak, Bu.”
“Kami ingin bertemu Saskia,” ujar Surya singkat. Nadanya tegas, khas pebisnis lama.
“Bu Saskia sedang rapat,” jawab Maya hati-hati. “Apakah Bapak dan Ibu berkenan menunggu?”
Surya mengangguk. “Di mana saja.”
Maya ragu sejenak, lalu mengantar mereka ke ruang tunggu kecil dekat pantry, ruang yang biasa dipakai staf. Bukan ruang CEO.
Dan di sanalah, Reza sedang menyusun kardus air mineral.
Ia mendongak karena suara langkah kaki yang tidak biasa.
Detik itu juga, tubuhnya menegang.
“Rezky…?”
Suara itu rendah. Terkejut. Tidak salah dengar.
Reza menoleh perlahan. Surya Wijaya berdiri tepat di depannya.
Dua pasang mata bertemu.
Tak ada senyum.
Tak ada basa-basi.
Hanya keterkejutan yang sama besar.
“Pak Surya,” ucap Reza akhirnya, tenang tapi jelas. “Sudah lama.”
Istri Surya ikut membelalak.
“Ya Tuhan… Rezky Adinata?”
Reza mengangguk singkat.
Ruang kecil itu mendadak terasa sempit.
“Kamu…,” Surya memandang dari ujung kepala sampai kaki, kaos OB, celana kerja, name tag bertuliskan Reza. “Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Bekerja,” jawab Reza sederhana.
Surya menarik napas panjang, menoleh sebentar ke arah koridor memastikan tidak ada orang lain mendengar.
“Kita bicara sebentar.”
Beberapa menit kemudian, mereka duduk berhadapan di ruang OB yang lebih tertutup. Reza menuangkan air minum, tangannya stabil.
“Kamu tidak tahu perusahaan ini milik Saskia,” kata istri Surya masih tak percaya.
“Aku tahu,” jawab Reza. “Dan itu tidak mengubah apa pun.”
Surya menyandarkan punggung, menatap serius.
“Orang tuamu tahu kamu di sini?”
“Tahu,” jawab Reza tanpa ragu. “Dan mereka tidak melarang.”
Sunyi.
Surya menghela napas.
“Kamu selalu seperti ini. Melakukan hal besar dengan cara paling sunyi.”
Reza tersenyum tipis.
“Aku hanya ingin hidup biasa, Pak.”
Surya menatapnya lama, lalu bertanya pelan tapi tajam,
“Apakah Saskia tahu siapa kamu?”
Reza menggeleng.
Dan sebelum Surya sempat berkata apa pun, Reza berbicara lebih dulu.
“Saya minta satu hal.” Nada suaranya sopan, tapi tegas.
“Tolong… jangan ceritakan tentang saya pada putri Bapak.”
Surya terdiam.
“Biarkan dia mengenal saya sebagai Reza,” lanjutnya. “Bukan sebagai Rezky Adinata.”
“Kenapa?” Tanya istri Surya pelan.
Karena kalau dia tahu…
dia tidak akan melihatku sama lagi.
Namun Reza tidak mengucapkan itu.
“Karena ini pilihan saya,” jawabnya singkat. “Dan rahasia ini… akan saya buka sendiri, pada waktunya.”
Surya menatap wajah Reza lama. Lalu, perlahan, ia mengangguk.
“Kamu keras kepala,” katanya lirih. “Sama seperti ayahmu.”
Reza tersenyum kecil.
“Itu pujian, Pak.”
Beberapa detik kemudian, Maya mengetuk pintu.
“Pak, Bu… Bu Saskia sudah bisa ditemui.”
Surya berdiri. Sebelum keluar, ia menepuk bahu Reza pelan, penuh makna.
“Hati-hati,” katanya. “Kamu bermain dengan perasaan manusia.”
Reza menjawab tenang,
“Saya tahu.”
Pintu tertutup. Reza duduk sendiri di ruang OB, menatap lantai.
Rahasia itu kini semakin berat. Dan waktunya… semakin dekat.
*****
