Bab 4. Orang di Balik Perubahan
Pagi itu, lantai dua belas terasa berbeda.
Bukan karena dekorasi.
Bukan karena agenda rapat.
Melainkan karena Saskia Wijaya.
“Pagi,” ucapnya pelan saat melewati meja resepsionis.
Kata itu sederhana.
Namun cukup membuat beberapa kepala terangkat bersamaan.
Resepsionis itu sempat terdiam satu detik sebelum membalas gugup, “P-pagi, Bu.”
Di koridor, seorang staf hampir menjatuhkan map.
“Tidak apa-apa,” kata Saskia cepat. “Pelan-pelan saja.”
Sunyi jatuh.
Lalu bisik-bisik kecil menyusul.
“Bu Saskia bilang… tidak apa-apa?”
Maya yang berjalan di belakangnya hampir tersandung langkahnya sendiri.
Ia menatap punggung Saskia lama, seolah memastikan ini bukan mimpi.
Rapat pagi dimulai.
Biasanya, satu kesalahan kecil cukup membuat suasana tegang. Namun hari ini...
“Data ini perlu direvisi,” ucap Saskia tenang. “Tolong diperbaiki sebelum siang.”
Tidak ada bentakan.
Tidak ada nada tajam.
Beberapa manajer saling pandang, bingung.
Saskia menutup rapat dengan satu kalimat yang tidak pernah terdengar sebelumnya.
“Terima kasih atas kerja keras kalian.”
Pintu ruang rapat tertutup. Maya langsung menarik napas panjang.
Ini bukan hanya perubahan.
Ini anomali.
Begitu mereka tiba di ruang CEO, Maya menutup pintu rapat-rapat.
“Oke,” katanya tanpa basa-basi. “Sekarang kamu jelaskan.”
Saskia menoleh, sedikit terkejut.
“Jelaskan apa?”
“Jangan pura-pura,” Maya menyilangkan tangan. “Aku kenal kamu sejak SMA. Sejak kamu menang lomba debat dan bikin juri ketar-ketir. Sejak kamu kuliah dan dosen saja segan.”
Saskia tersenyum tipis.
“Dan?”
“Dan perempuan itu tidak tiba-tiba berubah baik tanpa sebab.” Maya mendekat. “Ada orang di balik ini.”
Saskia terdiam.
Maya memperhatikan wajah sahabatnya itu dengan saksama.
“Kamu jatuh cinta?”
Saskia tertawa kecil, cepat menggeleng.
“Belum.”
“Belum,” ulang Maya curiga. “Tapi hampir.”
Saskia menghela napas, lalu duduk di kursinya.
“Aku cuma… capek jadi orang yang menyakiti.”
“Bohong,” sahut Maya lembut tapi tegas. “Kamu tidak berubah demi konsep. Kamu berubah demi seseorang.”
Saskia memejamkan mata sesaat.
“Aku hanya ingin menjadi lebih baik.”
“Untuk siapa?”
Saskia membuka mata. Tatapannya jujur.
“Untuk diriku sendiri.”
Maya mengangguk pelan, tapi tidak sepenuhnya percaya.
“Dan untuk dia?”
Sunyi beberapa detik.
“Dia tidak minta,” ucap Saskia akhirnya. “Bahkan tidak janji apa-apa.”
Mata Maya membesar.
“Jadi kamu berubah… tanpa kepastian?”
Saskia tersenyum pahit.
“Iya.”
Maya menghela napas, lalu duduk di seberang meja. Nada suaranya berubah, lembut seperti dulu.
“Kamu ingat waktu SMA, saat kamu bilang tidak butuh siapa pun?” tanyanya.
Saskia mengangguk.
“Kamu bohong waktu itu,” lanjut Maya. “Dan kamu bohong sekarang kalau bilang ini cuma soal diri sendiri.”
Saskia menunduk.
“Siapa dia?” tanya Maya akhirnya.
Saskia ragu sesaat.
Lalu berkata pelan,
“OB.”
Maya membeku.
“Apa?”
“OB di kantor,” ulang Saskia tenang.
Maya tertawa kaget, tak percaya.
“Kamu bercanda.”
“Aku tidak.”
Sunyi.
Maya menatapnya lama, lalu tersenyum kecil bukan mengejek, melainkan memahami.
“Pantas,” gumamnya. “Kamu selalu tertarik pada orang yang tidak bisa kamu kendalikan.”
Saskia mendongak.
“Dan kamu pikir aku gila?”
“Tidak,” jawab Maya lembut. “Aku pikir kamu… akhirnya jujur.”
Saskia menghela napas lega.
“Jangan berhenti berubah,” kata Maya serius. “Bukan demi dia. Demi kamu.”
Saskia mengangguk.
Namun jauh di dalam dadanya, satu harapan kecil tetap hidup:
Semoga perubahan ini cukup untuk membuat seorang pria yang terlalu tenang itu menoleh.
Reza bukan pertama kali menyadarinya bukan lewat kata-kata.
Melainkan lewat keheningan.
Pagi ini, ia sedang mengepel lantai dekat ruang rapat ketika pintu lift terbuka. Langkah sepatu hak yang biasa terdengar tegas kini lebih pelan.
“Pagi.”
Satu kata.
Nada datar. Tidak dingin. Tidak tajam.
Reza mendongak refleks.
Saskia Wijaya berjalan melewatinya tidak dengan tatapan merendahkan, tidak pula mengabaikan. Sekadar… melihat. Seperti melihat manusia.
Reza kembali menunduk, melanjutkan pekerjaannya. Namun tangannya sempat berhenti sepersekian detik.
Aneh. Biasanya, perempuan itu lewat seperti badai. Hari ini… seperti angin.
Siang hari, kejadian kecil kembali terjadi.
Reza mengantar termos air panas ke pantry ruang CEO. Saat ia hampir keluar, suara Saskia terdengar dari dalam.
“Reza.”
Ia berhenti.
“Termosnya bocor sedikit,” ucap Saskia sambil menunjuk dasar meja. Tidak ada nada menyalahkan. “Boleh diganti lain kali?”
Reza mengangguk. “Baik, Bu.”
Ia hendak pergi ketika suara itu kembali terdengar.
“Terima kasih.”
Reza menoleh.
Saskia tidak menatapnya. Matanya sibuk pada layar laptop. Seolah kalimat itu keluar begitu saja tanpa maksud memamerkan perubahan.
Dan justru karena itu dadanya terasa aneh.
Sore menjelang. Reza duduk di bangku belakang kantor, melepas sepatu kerjanya. Hujan turun tipis di luar. Maya lewat, berhenti sejenak.
“Kamu sadar nggak,” ujar Maya santai, “kalau kamu jadi topik pembicaraan hari ini?”
Reza mengangkat alis. “Saya?”
“Bukan kamu,” Maya tersenyum samar. “Bos kita.”
Reza tidak menanggapi.
Maya menatapnya sejenak, lalu berkata pelan, “Dia berubah, ya.”
Reza berdiri. “Saya cuma OB.”
Maya mengangguk, menepuk bahunya.
“Justru itu.”
Malam hampir tiba ketika Reza kembali ke ruang penyimpanan.
Ia mendapati kotak bekal kecil di atas meja.
Dengan secarik kertas. Tulisan tangan.
“Kamu belum makan siang. Aku lihat.”
S...✍️
Tidak ada perintah.
Tidak ada ancaman.
Reza duduk perlahan. Ia membuka kotak itu. Isinya sederhana nasi, telur dadar, tumis sayur. Bukan makanan mahal. Bukan pemberian berlebihan.
Hangat.
Reza menghela napas panjang, menutup mata sesaat.
Untuk pertama kalinya Saskia tidak menuntut apa pun darinya.
Dan justru itu yang membuat dadanya terasa berat.
Malam itu, saat pulang, Reza berdiri lama di halte. Hujan membasahi jalanan Surabaya. Pikirannya berputar pada satu wajah, bukan yang marah, bukan yang menangis.
Melainkan Saskia yang berkata terima kasih tanpa menatap.
“Jangan goyah,” gumamnya pada diri sendiri.
Namun di dadanya, sesuatu sudah retak. Karena kebaikan yang tidak diminta… selalu lebih berbahaya daripada paksaan.
Dan Reza tahu jika ini berlanjut…
ia tidak akan bisa terus bersikap biasa saja.
**
Satu jendela kecil menghadap gang sempit yang tak pernah benar-benar sepi. Suara motor tua, tawa anak-anak, dan aroma gorengan dari warung ujung gang menyatu menjadi irama malam Rungkut Industri.
Reza duduk di lantai, bersandar pada dinding yang catnya mulai mengelupas. Kaos tipis melekat di tubuhnya. Kipas angin berdecit pelan, setia meski lelah.
Ia sengaja memilih tempat ini.
Tidak terlalu jauh dari kantor.
Tidak terlalu bersih.
Tidak terlalu nyaman.
Namun… nyata.
Di sudut kamar, ada koper hitam satu-satunya barang yang tak pernah ia buka di depan siapa pun. Di dalamnya, tersimpan dunia yang sengaja ia kunci.
Reza menatap langit-langit rendah.
Hidup di sini mengajarkannya sesuatu setiap hari. Tentang ibu kos yang menghitung uang receh sebelum belanja. Tentang buruh pabrik yang pulang larut malam dengan wajah letih. Tentang tawa yang tetap ada meski penghasilan pas-pasan.
Ia tahu rasanya lapar.
Ia tahu rasanya menahan keinginan.
Dan ia tahu… bukan semua orang punya pilihan.
Telepon genggamnya bergetar. Satu pesan dari nomor yang ia hafal luar kepala.
Ayah.
Reza membacanya pelan.
“Kamu masih betah hidup sederhana?”
Reza tersenyum kecil. Ia teringat percakapan itu, jauh sebelum ia menyamar sebagai OB.
“Ayah tidak takut aku kenapa-kenapa?” Tanyanya waktu itu.
Ayahnya hanya tersenyum tenang.
“Takut itu perlu. Tapi lebih perlu kamu tahu rasanya hidup orang lain.”
Ibunya menambahkan dengan suara lembut,
“Belajar dan nikmati hidup yang sederhana. Supaya kalau nanti kembali pulang, kamu tidak lupa caranya menjadi manusia.”
Reza menghela napas panjang.
Ia menjawab pesan itu singkat:
"Masih. Dan aku belajar banyak."
Ia meletakkan ponsel, bangkit, lalu duduk di ranjang kecil. Pikirannya melayang, tanpa diminta pada wajah Saskia.
Perempuan yang hidup di gedung tinggi, tapi hatinya sesak.
Perempuan yang tidak pernah benar-benar hidup sederhana…
dan kini sedang belajar menjadi manusia yang lebih baik.
Reza memejamkan mata.
“Ini sebabnya aku tidak boleh goyah,” gumamnya.
Bukan karena ia tidak peduli.
Justru karena ia terlalu peduli.
Ia tahu bagaimana rasanya dicintai karena siapa dirinya, bukan apa yang ia miliki. Dan ia tidak ingin Saskia jatuh pada bayangan yang salah.
Jika perempuan itu mendekat…
ia harus datang pada Reza yang apa adanya.
Bukan pada Rezky Adinata.
Di luar, suara adzan Isya menggema dari musala kecil. Reza berdiri, mengambil air wudhu di kamar mandi sempit.
Hidup sederhana memang tidak mudah.
Namun di sanalah ia belajar satu hal penting: Cinta sejati… tidak pernah lahir dari kepura-puraan.
Dan malam itu, di kamar kos sederhana Rungkut Industri, Reza tahu
Ujiannya pada Saskia… juga ujian untuk dirinya sendiri.
Gang itu gelap.
Lampu kuning redup menggantung di beberapa tiang, sebagian mati. Saskia Wijaya melangkah pelan, hak sepatunya terdengar terlalu asing di antara suara televisi dari rumah-rumah sempit dan deru motor yang melintas perlahan.
Ia menarik napas panjang.
Sejak keluar kantor, ia mengikuti Reza dari kejauhan. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Hatinya berdebar bukan karena takut, melainkan karena rasa bersalah.
Ini keterlaluan, batinnya.
Tapi aku harus tahu.
Ia berhenti di depan rumah kos sederhana. Pagar besi berkarat, papan nama kecil bertuliskan “Kos-kosan” tergantung miring.
Saskia menelan ludah.
Ia melangkah masuk, mendapati seorang perempuan paruh baya sedang menyapu halaman.
“Permisi, Bu,” sapa Saskia sopan. “Saya mau bertemu Reza.”
Bu Sri menoleh, menatap dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Tatapan heran, lalu senyum kecil.
“Oh, Reza?” tanyanya. “Mas Reza yang OB itu?”
Saskia mengangguk.
“Iya, Bu. Saya temannya.”
Bu Sri tersenyum ramah.
“Dia baru selesai sholat. Di kamar nomor empat.”
Saskia mengucapkan terima kasih. Langkahnya ragu saat melewati lorong sempit. Bau sabun murah dan masakan malam bercampur jadi satu.
Ia berdiri di depan pintu kayu kusam bernomor empat.
Ketukannya pelan. Tak lama, pintu terbuka.
Reza berdiri di sana. Kaos polos abu-abu melekat di tubuhnya. Sarung dililit seadanya. Rambutnya masih sedikit basah, wajahnya bersih tanpa topeng apa pun.
Wajah itu membeku.
“Saskia?”
Perempuan itu terpaku. Untuk pertama kalinya, ia melihat Reza bukan sebagai karyawan. Bukan sebagai OB. Tapi sebagai laki-laki biasa di ruang hidupnya sendiri.
“A-aku…” Saskia tercekat. “Maaf. Aku tidak bermaksud...”
“Kamu ngapain di sini?” Potong Reza, nada suaranya rendah, terkejut, nyaris panik.
Saskia menelan ludah.
“Aku cuma… ingin bicara.”
Reza menoleh ke kanan-kiri gang, lalu menarik napas panjang.
“Masuk.”
Kamar itu kecil. Hanya cukup untuk satu ranjang, meja lipat, dan kipas angin tua. Tidak ada AC. Tidak ada lukisan mahal. Tidak ada jejak kemewahan.
Saskia berdiri kikuk.
“Maaf aku datang mendadak,” katanya pelan. “Aku mengikuti kamu dari kantor.”
Reza menatapnya tajam.
“Itu bukan hal yang sopan.”
“Aku tahu,” ucap Saskia cepat. “Tapi aku tidak tahu cara lain.”
Sunyi.
Reza duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya.
“Kamu seharusnya tidak ke sini.”
“Aku tidak tahu kamu tinggal di tempat seperti ini,” ucap Saskia jujur.
Nada itu… bukan merendahkan.
Justru terkejut.
Reza menatapnya lama.
“Inilah hidupku,” katanya singkat.
Saskia menggenggam tasnya erat.
“Aku tidak datang untuk menilai.”
“Lalu?” Tanya Reza.
“Aku datang karena aku tidak ingin kehilangan satu-satunya orang yang tidak takut padaku,” ucap Saskia lirih.
Reza terdiam.
Sarung yang ia kenakan, kamar sempit itu, kesederhanaan yang sengaja ia pilih, semua terasa telanjang di hadapan perempuan yang selama ini hidup di puncak gedung.
“Pulanglah,” kata Reza akhirnya. “Ini bukan tempatmu.”
Saskia menggeleng pelan.
“Untuk sekali ini… biarkan aku duduk di dunia kamu.”
Tatapan mereka bertaut.
Reza tahu malam ini bukan hanya tentang kejutan. Ini tentang dua dunia yang mulai bersentuhan. Dan ketika itu terjadi…
tidak ada yang akan benar-benar sama lagi.
Kipas angin tua berputar pelan, mengaduk udara panas di kamar sempit itu.
Saskia duduk di ujung ranjang, punggungnya tegang. Tangannya saling menggenggam di pangkuan, seolah takut terlepas. Reza duduk di kursi lipat di hadapannya jaraknya tidak dekat, tapi juga tidak menjauh.
Ia tidak bertanya.
Dan justru itu yang membuat Saskia akhirnya berbicara.
“Aku akan dijodohkan.”
Kalimat itu jatuh begitu saja. Datar. Seolah bukan tentang hidupnya sendiri.
Reza mengangkat wajah, menatapnya. Tidak terkejut. Tidak menyela.
“Orang tuaku sudah menentukan,” lanjut Saskia. “Anak pengusaha. Aku bahkan belum pernah benar-benar mengenalnya.”
Ia tertawa kecil, hambar.
“Lucu, ya. Aku CEO. Aku bisa memutuskan nasib ratusan orang di kantor. Tapi untuk hidupku sendiri… aku bahkan tidak diberi pilihan.”
Reza tetap diam.
Keheningan itu tidak menekan. Tidak menghakimi. Saskia menelan ludah, lalu melanjutkan lebih pelan.
“Mereka bilang aku sudah dua puluh delapan.”
Nada suaranya bergetar.
“Mereka takut aku jadi perawan tua.”
Kata itu keluar dengan pahit.
“Aku cantik, katanya. Pintar. Mandiri. Tapi semua itu tidak berarti apa-apa kalau aku belum menikah.”
Air mata pertama jatuh, membasahi punggung tangannya.
“Aku tidak minta dicintai dengan berlebihan,” bisiknya. “Aku cuma ingin… tidak dipaksa.”
Tangannya gemetar.
“Aku lelah, Reza.”
Ia akhirnya mendongak.
Untuk pertama kalinya, Saskia Wijaya perempuan yang ditakuti di kantor, menangis tanpa berusaha menahannya.
Reza bangkit perlahan.
Tidak ada kata penghiburan.
Tidak ada janji kosong.
Ia berdiri di depan Saskia, lalu berlutut agar sejajar dengan wajahnya. Dengan gerakan hati-hati, ia mengangkat tangan, ragu sesaat lalu menyentuh pipinya.
Ibu jarinya menghapus air mata yang mengalir pelan.
Satu.
Lalu yang lain.
Sentuhannya hangat. Tenang. Tidak meminta apa pun.
Saskia terisak, menutup wajahnya. Bahunya naik turun, seluruh pertahanan runtuh di kamar kos yang bahkan tidak pantas disebut ruang tamu.
Reza tetap di sana.
Diam.
Menjadi tempat jatuh tanpa bertanya kenapa.
Tanpa berkata, aku akan menyelamatkanmu.
Tanpa berkata, aku janji.
Dan justru karena tidak ada kata-kata itu…
air mata Saskia semakin deras.
Karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak mencoba memperbaiki hidupnya, hanya menemani di saat ia rapuh.
Di luar, suara motor melintas. Gang sempit tetap hidup seperti biasa.
Namun di kamar kecil itu, dua manusia dari dunia yang berbeda sedang duduk dalam satu kesunyian yang jujur.
Dan Reza tahu. Jika ia terus seperti ini jika ia terus diam dan hadir…
ia tidak hanya akan melukai dirinya sendiri.
Ia akan jatuh.
*****
