Bab 6. Permainan Sandiwara
Saskia baru saja menjatuhkan tubuhnya ke kasur.
Tidak ada niat tidur lama. Hanya ingin memejamkan mata sebentar melepas lelah setelah hampir seharian berdiri sebagai CEO, mendengarkan laporan, menahan gelisah, dan berpura-pura baik-baik saja.
Lampu kamar masih menyala redup.
Ia menatap langit-langit apartemen Bratang Gede dengan napas berat.
Baru beberapa detik matanya terpejam, layar ponsel di samping bantal menyala.
'Mama'
Jantung Saskia langsung berdegup tidak nyaman.
“Kenapa selalu malam…” gumamnya lirih.
Ia menatap layar itu lama. Jemarinya ragu. Namun ia tahu panggilan ini tidak bisa diabaikan.
Ia menggeser tombol.
“Assalamu’alaikum, Ma.”
Wajah ibunya muncul di layar. Rapi seperti biasa, namun malam itu… terlihat lebih lembut. Tidak tegang. Tidak dingin.
“Wa’alaikumsalam,” jawab sang ibu dengan senyum kecil. “Kamu capek, ya?”
Pertanyaan itu justru membuat dada Saskia terasa sesak.
“Iya,” jawabnya jujur. “Sedikit.”
Ibunya mengangguk pelan.
“Mama tidak ngomong lama-lama, kok.”
Saskia menelan ludah.
Kalimat itu selalu menjadi pembuka sesuatu yang berat.
“Kamu… gimana kabarmu akhir-akhir ini?” Tanya ibunya lembut.
“Baik,” jawab Saskia singkat.
Sunyi sejenak.
Lalu ibunya berkata pelan, tanpa nada menghakimi, tanpa desakan keras seperti biasanya.
“Saskia… kalau kamu sudah punya pacar, kenalkan saja pada kami.”
Kalimat itu jatuh pelan.
Namun tepat menghantam dada.
Saskia memejamkan mata.
“Ma...”
“Mana tidak memaksa kamu menikah sekarang,” lanjut ibunya cepat, seolah takut suaranya terdengar menekan. “Hanya… ingin tahu siapa orang yang membuat kamu berubah akhir-akhir ini.”
Saskia terdiam.
“Kamu lebih tenang,” lanjut ibunya. “Lebih jarang marah. Mama tahu, perubahan seperti itu tidak datang dari udara kosong.”
Saskia menggigit bibir.
“Aku dan papa cuma ingin memastikan kamu tidak sendirian,” ujar ibunya lirih. “Umur dua puluh delapan bukan salah. Tapi ibu takut kamu memikul semuanya sendiri.”
Nada itu… bukan ancaman.
Bukan tekanan. Justru itulah yang membuat Saskia nyaris menangis.
“Aku belum punya pacar, Ma,” ucapnya akhirnya. Jujur.
Ibunya mengangguk pelan.
“Kalau nanti ada,” katanya lembut, “bawa ke rumah. Tidak perlu siapa-siapa dulu. Ibu ingin mengenalnya sebagai orang yang kamu pilih.”
Panggilan itu berakhir tanpa pertengkaran. Tanpa ultimatum.
Namun justru itu… membuat kepala Saskia semakin penuh.
Ia meletakkan ponsel di dada, menatap kosong ke arah lampu kamar.
"Pacar?"
Kata itu berputar di pikirannya. Ia menghela napas panjang.
Mencari pacar pura-pura, dulu terdengar sederhana. Transaksi. Perjanjian. Jarak aman.
Namun kini, wajah Reza muncul begitu saja.
Cara ia diam.
Cara ia menjaga.
Cara ia tidak menjanjikan apa pun.
“Kenapa harus jadi serumit ini…” bisiknya pelan.
Saskia membalikkan badan, memeluk bantal. Ia butuh seseorang.
Bukan untuk dicintai penuh. Hanya untuk dikenalkan.
Hanya untuk menghentikan tekanan.
Namun entah kenapa, nama yang muncul di kepalanya bukan nama orang asing. Melainkan satu nama yang terlalu dekat dan terlalu berbahaya.
Dan malam itu, di apartemen yang sunyi, Saskia Wijaya menyadari satu hal yang membuat napasnya tercekat. Mencari pacar pura-pura… tidak pernah terasa sesulit ini sebelumnya.
Apartemen Bratang Gede kembali sunyi.
Terlalu sunyi.
Saskia duduk di tepi ranjang, ponsel masih di tangannya. Percakapan dengan ibunya terus berputar di kepalanya, bukan kata-katanya, melainkan nada lembut yang menyimpan harapan.
Ia menarik napas, lalu menekan satu nama.
"Maya"
Panggilan itu tersambung cepat.
“Kenapa suara kamu kayak mau kabur ke luar negeri?” Suara Maya terdengar setengah bercanda.
“Datang ke apartemen aku,” potong Saskia. “Sekarang.”
Hening satu detik.
“Kamu baik-baik saja?”
“Tidak,” jawab Saskia jujur. “Aku tidak ingin sendirian malam ini.”
Nada itu cukup membuat Maya paham.
“Sepuluh menit,” jawabnya singkat. “Jangan ke mana-mana.”
Karena apartemen dirinya dengan Maya hanya beda blok saja. Naik motor muterin belokan simpang empat sampai sudah. Maya datang dengan pakaian santai, rambut dikuncir seadanya. Begitu pintu apartemen terbuka, ia langsung memeluk Saskia bukan pelukan basa-basi, melainkan pelukan lama.
“Ceritakan,” katanya pelan.
Mereka duduk bersila di kasur, punggung bersandar ke headboard.
Saskia menceritakan semuanya. Panggilan ibunya. Nada lembut itu. Permintaan sederhana yang justru menyesakkan.
“Kalau sudah punya pacar, kenalkan saja.”
Maya mendengarkan tanpa memotong.
“Dan sekarang aku harus cari pacar pura-pura,” lanjut Saskia. “Cepat. Aman. Tidak ribet.”
Maya mengangguk.
“Dan kamu sudah punya nama.”
Saskia menoleh.
“Kenapa kamu selalu tahu?”
“Karena sejak kamu berubah, kamu selalu menyebut satu orang yang sama, tanpa menyebut namanya,” jawab Maya.
Sunyi.
“Reza,” ucap Saskia akhirnya, hampir seperti pengakuan dosa.
Maya tersenyum kecil.
“Tentu saja.”
“Tapi ini tidak mudah,” kata Saskia cepat. “Dia bukan tipe yang bisa aku suruh. Dia… punya harga diri.”
“Justru itu kenapa kamu memilih dia,” potong Maya lembut. “Karena dia tidak tergoda jabatanmu. Tidak silau hartamu.”
Saskia menunduk.
“Aku tidak tahu cara meluluhkannya.”
Maya berpikir sejenak.
“Kamu harus jujur.”
“Sejujur apa?”
“Sejujur manusia yang sedang butuh,” jawab Maya. “Bukan CEO yang memberi kontrak.”
Saskia memejamkan mata.
“Dan kalau dia menolak?”
“Berarti kamu harus menerima bahwa tidak semua masalah bisa dibeli,” ucap Maya pelan. “Dan itu… mungkin pelajaran yang kamu butuhkan.”
Saskia tertawa kecil, pahit.
“Kamu kejam.”
Maya tersenyum.
“Aku sahabatmu.”
Malam semakin larut. Lampu kamar diredupkan. Mereka berbaring berdampingan, seperti dulu saat kuliah, dua perempuan yang mencoba bertahan di dunia masing-masing.
“Aku takut, May,” bisik Saskia di gelap.
“Takut apa?”
“Takut dia menolak… dan aku harus kembali sendirian menghadapi semuanya.”
Maya menoleh, menatap wajah sahabatnya.
“Kalau kamu mau pria seperti Reza,” katanya pelan, “kamu harus siap berjuang. Karena pria seperti itu tidak bisa dibeli. Hanya bisa dihormati.”
Saskia mengangguk dan malam ini, di apartemen mewah yang terasa terlalu besar, satu keputusan perlahan menguat:
Jika harus ada pacar pura-pura…
ia ingin seseorang yang tidak pura-pura dalam hidupnya.
Dan itu berarti, ia harus meluluhkan Reza dengan cara yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
Bukan dengan kekuasaan.
Bukan dengan uang. Melainkan… dengan kejujuran.
**
Saskia sengaja memilih hari Jumat.
Tidak ada rapat mendesak. Tidak ada gaun mahal. Ia hanya mengenakan blouse sederhana, celana bahan warna netral, dan sepatu datar. Tidak ingin terlihat sebagai CEO, hanya sebagai perempuan yang ingin duduk dan berbincang.
Pesannya singkat.
“Reza, kalau nanti pulang kerja belum capek, ada warung kopi dekat taman Bratang. Aku traktir. Ngobrol saja.”
Tidak ada embel-embel. Tidak ada nada memerintah.
Balasan itu datang beberapa menit kemudian.
“Boleh. Tapi saya yang bayar.”
Saskia tersenyum kecil.
Baiklah. Satu poin untuk harga diri itu.
Warung kopi itu sederhana. Meja kayu, bangku panjang, lampu temaram, dan suara jangkrik dari taman kecil di seberangnya. Tidak ada AC, hanya angin malam yang kadang lewat pelan.
Reza sudah duduk lebih dulu, kaos polos, celana hitam, jam tangan sederhana.
“Terima kasih sudah mau datang,” kata Saskia sambil duduk.
“Terima kasih juga sudah ngajak ngobrol biasa,” jawab Reza ringan.
Itu kata kuncinya.
Biasa.
Mereka memesan kopi tubruk dan pisang goreng. Tidak ada pembicaraan soal kantor. Tidak ada topik berat.
“Capek kerja hari ini?” Tanya Saskia.
“Lumayan,” jawab Reza. “Tapi capek yang bisa dinikmati.”
Saskia menoleh.
“Maksudnya?”
“Capek yang tahu tujuannya,” jawabnya. “Bukan capek karena ambisi orang lain.”
Saskia mengangguk, tidak membantah.
Mereka tertawa kecil saat Reza bercerita tentang penjual gorengan yang salah mengira Saskia sebagai mahasiswa. Saskia tidak membetulkan, ia justru ikut tertawa.
“Berarti aku sukses menyamar,” katanya.
“Lumayan,” jawab Reza. “Tapi cara dudukmu tetap ketahuan.”
Saskia mengangkat alis.
“Cara duduk?”
“Tidak semua orang bisa duduk santai tanpa gelisah,” kata Reza. “Kamu masih terlihat… waspada.”
Ia tersenyum, bukan mengejek.
Saskia menerimanya.
“Aku sedang belajar,” jawabnya jujur.
Reza menatapnya sebentar, lalu mengangguk.
Tidak ada pengakuan.
Tidak ada permintaan.
Hanya dua manusia yang duduk di bangku kayu, menyeruput kopi panas, membiarkan malam berjalan pelan.
Saat hendak pulang, Reza berdiri lebih dulu.
“Terima kasih sudah tidak terburu-buru,” katanya.
Saskia menatapnya.
“Untuk apa?”
“Untuk mengenal,” jawab Reza singkat.
Saskia tersenyum.
“Kita lanjut lain waktu?”
Reza berpikir sebentar, lalu mengangguk.
“Kalau tetap seperti ini, boleh.”
Dan malam itu, saat Saskia melangkah menuju mobilnya, hatinya terasa lebih ringan.
Tidak ada janji.
Tidak ada kepastian.
Tapi ada sesuatu yang jauh lebih penting, rasa aman untuk menjadi diri sendiri. Dan untuk pertama kalinya, Saskia tidak merasa perlu memenangkan apa pun. Ia hanya perlu hadir.
Reza menutup pintu kamar kos nomor empat pelan, memastikan kuncinya terpasang. Kamar itu sempit, hanya berisi ranjang besi, lemari plastik, dan kipas angin tua yang berdecit pelan. Bau sabun mandi dan kopi murah masih menggantung di udara.
Ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur.
Kedua tangannya dilipat di belakang kepala, menatap langit-langit yang catnya mulai mengelupas. Senyum tipis terbit tanpa ia sadari.
“Pinter juga,” gumamnya lirih.
Pertemuan di warung kopi itu terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Tidak mendadak. Tidak memaksa. Saskia datang dengan wajah yang sudah disiapkan, bukan wajah CEO, bukan pula perempuan putus asa. Wajah seseorang yang sedang menyusun langkah dengan hati-hati.
Ia tahu.
Saskia sedang merencanakan sesuatu.
Dan ia membiarkannya.
Kipas angin berderak lebih kencang saat Reza memejamkan mata. Ingatannya berputar pada cara Saskia tertawa lepas, cara matanya sempat kosong lalu hangat. Tidak ada kesombongan malam ini. Tidak ada benteng tinggi.
Justru itu yang berbahaya.
“Pelan-pelan, Bos,” bisiknya pada dirinya sendiri.
Ia tidak berniat kabur.
Tidak juga berniat menyerah.
Kalau ini sandiwara, maka ia akan ikut bermain. Tapi bukan sebagai figuran yang mudah diarahkan. Ia memilih menjadi tokoh yang keras kepala yang tidak bisa dibeli, tidak bisa ditarik dengan simpati sesaat.
Karena ia ingin tahu.
Seberapa jauh perempuan sekeras Saskia Wijaya mau berubah, bukan demi skenario, bukan demi tuntutan keluarga, tapi demi seseorang yang bahkan tidak punya apa-apa untuk ditawarkan selain kejujuran.
Reza membuka mata, menatap kipas angin yang berputar malas.
Senyumnya mengembang sedikit.
“Kalau ini permainan,” gumamnya,
“biar aku yang atur ritmenya.”
Di luar kamar, suara motor lewat, anak kos tertawa, dan kehidupan terus berjalan seperti biasa.
Sementara di kamar nomor empat itu, sebuah peran baru saja dipilih, bukan untuk menipu, tapi untuk menguji.
Pintu apartemen baru saja tertutup ketika Saskia melepaskan sepatu haknya begitu saja. Ia berjalan masuk tanpa suara, lalu berhenti mendadak.
“Ya ampun, akhirnya pulang juga.”
Saskia menoleh.
Maya duduk santai di sofa, kaki selonjoran di atas meja kecil.
Di depannya, kotak martabak manis sudah hampir tandas. Cokelat dan keju menyisakan noda lengket di ujung kardus.
“Kamu nunggu dari kapan?” Tanya Saskia.
“Dari kamu masih mikir mau jadi manusia atau patung,” jawab Maya sambil mengunyah sisa martabak. “Tenang, aku makan duluan. Kalau nunggu kamu, bisa masuk angin.”
Saskia tersenyum tipis, lalu menjatuhkan diri di sofa sebelahnya. Kepalanya bersandar, matanya menatap langit-langit.
“Aku capek, May.”
Maya menutup kotak martabak, lalu menoleh serius. Nada bercandanya menghilang.
“Capek karena kerja, atau karena dia?”
Saskia tidak langsung menjawab.
“Itu yang aku takutkan,” lanjut Maya. “Kamu bukan tipe orang yang bisa main peran setengah-setengah.”
Saskia menghela napas panjang.
“Aku cuma butuh waktu.”
“Atau kamu mulai butuh orangnya?” Maya menajam.
Kalimat itu menohok.
Saskia bangkit duduk, memeluk lutut. “Aku sadar ini sandiwara. Aku tahu risikonya. Tapi… Reza beda.”
Maya menggeleng pelan.
“Justru itu masalahnya. Kalau dia murahan, gampang tergoda, aku nggak akan khawatir. Tapi OB satu itu, punya batas. Dan orang kayak gitu biasanya… kalau masuk ke hati, nggak bisa diatur.”
Saskia terdiam.
“Kamu siap nggak,” lanjut Maya pelan tapi tegas, “kalau nanti peran pura-pura ini kebablasan? Kalau kamu jatuh duluan, sementara dia masih berdiri santai, seolah ini cuma permainan?”
Saskia menggigit bibirnya.
“Aku sudah terlalu sering dikendalikan hidupku,” katanya lirih. “Sekali ini… aku mau mencoba.”
Maya menatap sahabatnya lama. Wajah Saskia yang biasa dingin kini terlihat rapuh, bukan CEO, bukan perempuan berkuasa. Hanya Saskia yang lelah.
Maya menarik napas, lalu meraih tangan Saskia.
“Kalau kamu mau jalan di sandiwara ini,” katanya lembut, “aku temani. Tapi satu hal, jangan bohong ke diri sendiri. Begitu perasaanmu mulai tumbuh, kamu harus berani mengaku. Ke aku… dan ke dia.”
Saskia mengangguk pelan.
Di luar jendela, lampu kota Surabaya berkelip tenang.
Sementara di dalam apartemen itu, dua sahabat perempuan duduk berdampingan, satu mencoba mengatur hidupnya, satu lagi berjaga agar ia tidak hancur sendirian.
*****
