Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3. Retaknya Kendali

Reza sengaja tidak melihat ke arah Saskia.

Ia tahu perempuan itu berdiri di ujung koridor, menunggunya menoleh seperti biasanya orang-orang lain. Ia tahu tatapan dingin itu sedang diarahkan padanya.

Dan justru karena itu dia memilih cuek.

Reza melanjutkan mengepel lantai dengan gerakan tenang. Terlalu tenang untuk ukuran OB yang sedang berada di dekat CEO.

Saskia berdehem.

Tidak ada respons.

“Reza.”

Namanya dipanggil.

Ia mengangkat kepala perlahan.

“Iya, Bu?”

Nada biasa. Tatapan netral. Tidak ada hormat berlebihan.

Tidak ada takut.

Saskia menahan napas.

“Kamu sudah membersihkan ruang rapat VIP?”

“Sudah,” jawab Reza singkat.

“Kapan?”

“Tadi pagi.”

Saskia melangkah mendekat.

“Saya lihat masih ada debu di sudut.”

Reza menatap sudut yang dimaksud, lalu kembali menatap Saskia.

“Bisa jadi.”

Hanya itu.

Dada Saskia naik turun.

“Jadi?” Tanyanya tajam.

“Saya bersihkan lagi,” ucap Reza, lalu kembali bekerja tanpa tergesa, tanpa panik.

Saskia menunggu. Biasanya, orang akan minta maaf. Menjelaskan. Atau setidaknya menunjukkan rasa bersalah.

Reza tidak.

“Kamu sengaja?” Suara Saskia menegang.

Reza berhenti. Menatapnya lurus.

“Sengaja apa, Bu?”

“Kamu bersikap seperti ini,” tuding Saskia. “Seolah-olah saya tidak ada.”

Reza terdiam sejenak.

“Saya bekerja, Bu. Kalau itu terlihat seperti mengabaikan mungkin karena saya tidak sedang berbicara.”

Jawaban itu seperti percikan api di ruang penuh gas.

“Kamu kurang ajar!” Bentak Saskia.

Beberapa karyawan yang lewat berhenti. Sunyi jatuh.

Reza berdiri tegak.

“Kalau saya salah, silakan ditegur. Tapi jangan menuduh.”

Saskia tidak pernah diperlakukan seperti ini.

“Siapa kamu sampai berani bicara seperti itu pada saya?” suaranya meninggi. “Kamu OB!”

Reza menelan napas, lalu berkata pelan namun jelas,

“Saya manusia, Bu.”

Kalimat itu menghantam lebih keras dari teriakan.

Saskia tertawa, tajam, patah.

“Jangan sok bermoral! Kamu dibayar untuk patuh!”

Untuk sesaat, ketenangan Reza retak tipis.

“Saya dibayar untuk bekerja,” balasnya. “Bukan untuk diinjak.”

Saskia kehilangan kendali.

“Apa kamu pikir aku butuh kamu di sini?!” teriaknya. “Keluar! Pergi dari hadapanku!”

Reza menatapnya lama.

Terlalu lama. Tatapan itu bukan marah.

Bukan takut. YaMelainkan iba.

Dan itu yang membuat Saskia benar-benar runtuh.

“Kenapa kamu lihat aku seperti itu?!” suaranya pecah. “Jangan tatap aku seperti seolah-olah aku yang salah!”

Reza menghela napas pelan.

“Karena Anda sedang marah… bukan pada saya.”

Saskia terdiam.

“Kamu tidak tahu apa-apa!” bentaknya, tapi kali ini suaranya bergetar. “Kamu tidak tahu bagaimana rasanya hidup di bawah tuntutan!”

Reza mendekat satu langkah, cukup dekat untuk membuatnya sadar bahwa pria itu tidak kecil, tidak lemah, dan tidak bisa ditekan begitu saja.

“Maka jangan lampiaskan pada orang yang tidak punya kuasa atas hidup Anda,” katanya rendah.

Air mata menggenang di mata Saskia dan ia membencinya.

“Kamu pikir kamu siapa?” Bisiknya parau.

Reza menatapnya dalam.

“Orang biasa… yang tidak ingin Anda sakiti hanya karena Anda sedang takut.”

Kalimat itu mematahkan sisa pertahanan Saskia.

Ia berbalik cepat, berjalan menjauh sebelum air matanya jatuh di hadapan OB yang terlalu berani ini.

Di belakangnya, Reza berdiri diam.

Permainannya berhasil. Saskia Wijaya perempuan yang tidak pernah kehilangan kendali baru saja hancur di depannya.

Dan untuk pertama kalinya ia tahu, perempuan itu akan datang lagi.

Sejak hari itu, Reza berubah. Bukan menjadi lebih kasar.

Bukan pula lebih lembut.

Ia menjadi jauh.

Saskia memperhatikannya dari balik dinding kaca ruang CEO. Reza berjalan melintasi koridor tanpa menoleh. Tidak lagi berhenti ketika namanya dipanggil karyawan lain. Tidak pernah menatap ke arah ruangannya.

Seolah-olah ia belajar satu hal, menjauh adalah cara paling aman.

Dan itu membuat Saskia gila.

Ia sengaja turun ke pantry lebih sering.

Sengaja mencari alasan menanyakan hal-hal sepele.

Namun Reza selalu menjawab seperlunya.

Pendek. Profesional. Tanpa emosi.

“Kopi di pantry habis,” kata Saskia suatu pagi, suaranya datar.

“Saya isi sekarang, Bu,” jawab Reza sambil berjalan melewatinya, tanpa berhenti.

Tanpa menunggu. Tanpa menatap.

Saskia berdiri terpaku. Biasanya, orang akan canggung. Akan berusaha membaca suasana. Tapi Reza… seperti menutup pintu rapat-rapat.

Ia kembali ke ruang CEO dengan langkah cepat. Pintu ditutup keras.

Kenapa dia menjauh?

Bukankah seharusnya pria itu takut?

Bukankah seharusnya ia menyesal telah membantah?

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Mama.

'Sudahkah kamu bicara dengan keluarga calon suami?'

Saskia mengunci layar, rahangnya mengeras. Ia memijat pelipis. Nafasnya pendek. Waktu terus berjalan.

Sore itu, ia sengaja menunggu hingga jam pulang hampir tiba. Koridor mulai sepi. Ia melihat Reza membawa kantong sampah ke arah pintu belakang.

“Reza.”

Pria itu berhenti.

Menoleh pelan.

“Iya, Bu?”

Nada yang sama.

Netral.

“Kemari.”

Reza ragu sejenak, lalu mendekat. Tetap menjaga jarak satu langkah.

“Ada apa?”

Saskia membuka mulut lalu menutupnya lagi.

Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak pernah berada di posisi ini.

“Kamu… menghindariku?” Akhirnya ia bertanya.

Reza menatap lantai sesaat, lalu mengangkat wajahnya.

“Saya menjaga jarak.”

“Kenapa?” Nada Saskia lebih tajam dari yang ia inginkan.

“Karena batas,” jawab Reza tenang. “Anda atasan. Saya bawahan.”

Kata-kata itu seharusnya menenangkan. Justru membuat dadanya semakin sesak.

“Kamu takut?” Tanya Saskia.

Reza menggeleng.

“Tidak.”

“Lalu?” Desaknya.

“Saya tidak ingin disalahartikan.”

Sunyi menekan mereka.

Saskia tertawa pendek tanpa humor.

“Kamu pikir aku peduli pada kesan?”

Reza menatapnya.

“Kemarin, Anda peduli.”

Kalimat itu menghantam tepat sasaran.

Saskia mengepalkan tangan.

“Jadi sekarang kamu menghukumku?”

“Tidak,” jawab Reza cepat. “Saya melindungi diri.”

Kata melindungi membuat Saskia seperti ditinggalkan di tengah badai.

Ia ingin berteriak.

Ingin memerintah.

Ingin menarik pria itu agar berhenti pergi.

Namun yang keluar justru suara parau,

“Aku butuh bicara.”

Reza terdiam.

Lalu melangkah mundur satu langkah.

“Bukan saya orang yang tepat, Bu.”

Dan itu adalah penolakan paling menyakitkan yang pernah Saskia terima. Ia berdiri sendirian di koridor yang semakin sepi.

Dada sesak.

Gengsi hancur.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Saskia Wijaya tidak tahu bagaimana caranya memanggil seseorang yang memilih pergi dengan tenang.

**

Hujan turun tanpa suara keras.

Gerimis tipis membasahi halaman belakang gedung kantor, tempat para petugas kebersihan biasa beristirahat sebelum pulang. Lampu-lampu sudah banyak yang mati. Jam kerja hampir habis.

Reza sedang mengikat kantong sampah ketika langkah sepatu berhenti di belakangnya.

Ia tahu siapa itu.

“Apa aku mengganggumu?” suara Saskia terdengar pelan. Terlalu pelan untuk ukuran dirinya.

Reza menoleh.

Perempuan itu berdiri tanpa jas, rambutnya sedikit berantakan, mata yang biasanya dingin kini tampak merah. Tidak ada wibawa CEO di sana. Hanya seorang perempuan yang kelelahan.

“Tidak, Bu,” jawab Reza singkat.

Saskia menelan ludah.

“Aku… boleh bicara?”

Reza terdiam lama. Lalu mengangguk.

“Sebentar saja.”

Itu sudah cukup membuat Saskia nyaris runtuh.

Mereka berdiri di bawah atap kecil. Hujan mengalir di tepiannya, menimbulkan suara pelan yang menekan.

Saskia menggosok kedua tangannya.

“Aku tidak terbiasa begini,” katanya lirih. “Biasanya… orang yang datang padaku.”

Reza tidak menyela.

“Aku tahu aku menyakitimu,” lanjutnya. “Aku kasar. Judes. Tidak adil.” Napasnya bergetar. “Tapi aku tidak tahu cara lain untuk bertahan.”

Ia menatap Reza, mata berkaca-kaca.

“Jangan berubah.”

Reza mengangkat alis tipis.

“Jangan menjauh,” ucap Saskia cepat, suaranya pecah. “Aku… aku butuh teman bicara.”

Kalimat itu akhirnya mematahkan sesuatu.

Air mata jatuh tanpa izin. Saskia menutup mulutnya, bahunya bergetar. Tangisnya sunyi, tertahan, seperti seseorang yang terlalu lama menahan segalanya sendirian.

“Aku tidak punya siapa-siapa,” katanya di sela napas. “Di rumah aku ditekan. Di kantor aku harus kuat. Aku capek, Reza… aku benar-benar capek.”

Ia tidak memanggilnya OB.

Tidak memanggilnya bawahan.

Hanya nama.

Reza memejamkan mata sesaat.

“Bu,” katanya pelan. “Menangis di depanku tidak akan mengubah siapa Anda di luar sana.”

Saskia mengangkat wajahnya, air mata membasahi pipi.

“Aku tidak minta diubah. Aku cuma minta… ditemani.”

Sunyi.

Reza menatapnya lama. Tatapannya tenang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang memegang perasaan orang lain di tangannya.

“Saya tidak bisa janji,” ucapnya akhirnya.

Saskia tersentak.

“Kenapa?”

“Karena janji berarti saya harus menerima semuanya,” jawab Reza jujur. “Termasuk sikap Anda… yang belum berubah.”

Kata-kata itu menusuk, tapi tidak kejam.

“Aku sedang berusaha,” bisik Saskia.

“Belum cukup,” balas Reza. “Anda baik saat rapuh. Tapi bagaimana saat Anda kembali kuat?”

Saskia terdiam.

“Apakah Anda akan kembali meninggikan suara?” lanjut Reza. “Kembali merendahkan? Kembali melampiaskan ketakutan Anda pada orang lain?”

Air mata Saskia jatuh lagi.

“Aku tidak tahu,” katanya jujur. “Tapi aku mau belajar.”

Reza menghela napas panjang.

“Saya bisa menemani,” katanya pelan. “Tapi tanpa janji. Tanpa kedekatan yang Anda minta.”

“Dan kalau aku berubah?” Tanya Saskia nyaris berbisik.

Reza menatapnya dalam.

“Buktikan.”

Hujan semakin rapat.

Saskia mengangguk pelan, mengusap air matanya dengan punggung tangan.

“Baik.”

Ia melangkah mundur satu langkah. Gengsinya sudah habis hari ini dan ia tidak menyesalinya.

“Terima kasih sudah jujur,” katanya lirih.

Reza mengangguk singkat. Saat Saskia pergi, punggungnya terlihat rapuh untuk pertama kalinya.

Reza menatap hujan.

Bos judes itu akhirnya berlutut dan aku tetap tidak memberinya pegangan. Karena cinta atau apa pun ini tidak seharusnya lahir dari ketakutan.

**

Apartemen Bratang Gede terasa terlalu besar malam itu.

Saskia Wijaya duduk di tepi ranjang, masih mengenakan pakaian kerja. Lampu kamar sengaja tidak dinyalakan sepenuhnya hanya cahaya kota Surabaya yang menyelinap lewat celah tirai.

Sunyi.

Namun kepalanya tidak pernah benar-benar sepi.

“Saya manusia, Bu.”

Kalimat itu kembali terngiang, jelas, tanpa emosi berlebihan. Bukan teriakan. Bukan amarah. Hanya kebenaran yang diucapkan terlalu tenang dan karena itu, terlalu menyakitkan.

Saskia menghela napas panjang, menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Pandangannya menatap langit-langit putih yang terasa dingin.

Ia mengingat satu per satu.

Tatapan Reza yang tidak menunduk.

Nada bicaranya yang selalu stabil.

Cara ia menjaga jarak tanpa mempermalukan.

Dan malam itu…

“Buktikan.”

Saskia menutup mata.

Ia tidak pernah diminta membuktikan apa pun selain hasil kerja. Angka. Target. Keputusan besar. Tapi Reza meminta sesuatu yang jauh lebih sulit, perubahan.

Ia bangkit, berjalan menuju cermin besar di sudut kamar. Perempuan di sana masih terlihat seperti biasanya: cantik, terawat, tubuh ramping, wajah muda. Tak ada yang menyangka usia dua puluh delapan.

Namun di balik semua itu ada kebiasaan yang kasar. Nada yang melukai. Emosi yang dibiarkan lepas kendali.

“Aku tidak bisa terus begini,” gumamnya.

Bukan demi orang tuanya. Bukan demi perjodohan.

Demi dirinya sendiri dan demi Reza.

Ia duduk di sofa ruang tamu, memeluk bantal. Tangannya gemetar pelan. Untuk pertama kalinya, ia mengakui sesuatu yang selama ini ia tolak mentah-mentah.

Aku ingin diperhatikan tanpa memerintah.

Ia mengingat cara Reza menjauh ketika ia meninggikan suara. Cara pria itu tidak tergoda oleh kuasa atau air mata.

Jika ia ingin menarik perhatiannya, dia harus berhenti menekan.

Saskia mengambil ponselnya, membuka catatan.

Satu baris ia tulis perlahan: Belajar bicara tanpa marah.

Lalu baris kedua: Belajar mendengar.

Baris ketiga ia ragu lama sebelum menuliskannya: Belajar meminta, bukan memerintah.

Ia tersenyum kecil senyum pertama malam itu.

“Tidak mudah,” bisiknya pada diri sendiri. “Tapi aku mau.”

Di luar, hujan kembali turun pelan, membasahi Bratang Gede dengan suara lembut. Saskia berdiri di balkon, membiarkan udara malam menyentuh wajahnya.

Ia tidak tahu apakah Reza akan memperhatikannya.

Ia tidak tahu apakah perubahan ini cukup.

Namun satu hal ia yakini: Besok… ia akan mencoba menjadi perempuan yang berbeda. Bukan bos judes yang ditakuti.

Melainkan manusia yang layak ditemani.

Dan untuk pertama kalinya sejak ancaman tiga bulan itu datang…

Saskia Wijaya merasa memiliki arah.

*****

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel