Bab 2. Di Balik Pintu CEO
Bel apartemen berbunyi tepat pukul tujuh malam.
Saskia tahu siapa di balik pintu itu bahkan sebelum melihat layar interkom.
Orang tuanya tidak pernah datang tanpa alasan.
Dan mereka tidak pernah datang untuk mendengar. Saskia membuka pintu tanpa senyum.
Mama berdiri paling depan, rapi dengan setelan kebaya modern warna krem. Papa menyusul di belakang, jasnya belum dilepas, wajahnya kaku seperti keputusan yang sudah matang sejak lama.
“Apa kabar?” Tanya Mama singkat.
“Masuk saja,” jawab Saskia dingin.
Mereka melangkah masuk, menilai apartemen itu dengan mata kritis terlalu minimalis, terlalu sepi, terlalu sendiri untuk ukuran perempuan seusianya.
Papa duduk tanpa diminta.
Mama menyilangkan kaki, tas mahalnya diletakkan rapi di meja.
“Kami tidak lama,” kata Papa. “Kami hanya ingin memastikan satu hal.”
Saskia berdiri, menyandarkan tubuhnya di dinding.
“Aku sudah tahu.”
Mama menatapnya tajam.
“Kamu belum berubah.”
“Justru aku berubah,” sahut Saskia cepat. “Aku hanya tidak mau hidupku diatur.”
Papa terkekeh pendek.
“Kamu pikir kami mengatur? Kami menyelamatkan masa depanmu.”
Saskia menahan napas.
“Menyelamatkan dengan cara menikahkan dengan pria yang bahkan tidak kukenal?”
“Kamu akan mengenalnya,” potong Mama. “Dia itu pria baik. Keluarganya terhormat.”
“Dan aku?” suara Saskia mulai meninggi. “Apa aku di semua rencana ini?”
Papa berdiri.
“Kamu anak kami.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari teriakan.
“Dan karena itu,” lanjut Papa, “kamu harus patuh.”
Saskia tertawa lirih.
“Ternyata, sejauh ini aku tidak pernah lebih dari investasi.”
Mama mengernyit.
“Jaga ucapanmu, Saskia.”
“Kenapa?” Saskia menatap ibunya lurus. “Karena kebenaran terdengar tidak sopan?”
Sunyi menekan ruangan.
Papa melangkah mendekat.
“Kami sudah mengatur pertemuan. Kamu tinggal ikuti saja.”
“Tidak,” jawab Saskia tegas.
Mama berdiri menyusul.
“Kamu keras kepala!”
“Karena ini hidupku!”
Papa memukul meja.
“Ini keluarga kita!”
Suara itu menggema.
Dada Saskia naik turun.
“Aku tidak akan datang,” ulang Saskia, lebih pelan namun tajam.
“Aku tidak mau bertemu keluarga Pakuwon Jati.”
Mama menatapnya dengan mata berkilat marah.
“Kamu mau mempermalukan kami?”
“Aku hanya ingin bahagia,” suara Saskia pecah untuk pertama kalinya. “Apa itu dosa?”
Papa terdiam sejenak, lalu suaranya turun dingin dan mematikan.
“Kebahagiaan bukan prioritas.”
Saskia merasa seperti ditampar.
“Kewajibanmu sebagai anak adalah menikah dengan pria yang tepat.”
“Menurut siapa?” tanya Saskia lirih.
“Menurut kami.”
Air mata menggenang di mata Saskia, tapi tidak jatuh. Ia terlalu terbiasa menahannya.
“Aku CEO,” ucapnya pelan. “Aku memimpin perusahaan. Aku mengambil keputusan besar setiap hari.”
Papa menatapnya datar.
“Di kantor, mungkin. Tapi di dalam keluarga, kamu tetap anak kami.”
Kalimat itu mematahkan sesuatu di dalam diri Saskia.
Ia berbalik, menatap jendela. Kota Surabaya berkilau, sama indahnya, sama jauhnya.
“Aku tidak akan datang,” katanya lagi, kali ini tanpa emosi. “Kalau kalian memaksa… aku akan pergi.”
Mama terkejut.
“Pergi ke mana?”
“Ke mana saja,” jawab Saskia. “Asal bukan ke hidup yang kalian pilihkan.”
Papa menghela napas panjang.
“Kami beri kamu waktu.”
Mama menatapnya tajam.
“Tiga bulan. Setelah itu, kami tidak akan tanya lagi pendapatmu.”
Saskia menoleh.
“Dan kalau aku sudah punya calon?”
Papa menyipitkan mata.
“Calon yang pantas.”
Saskia tersenyum pahit.
“Kalian tidak pernah percaya padaku.”
Mama meraih tasnya.
“Kami percaya… pada keluarga.”
Pintu ditutup dengan suara pelan namun berat.
Saskia berdiri sendirian di ruang tamu.
Kakinya terasa lemas. Ia duduk perlahan di sofa, menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Tidak ada tangis.
Hanya napas gemetar dan dada yang sakit.
“Tiga bulan…” Bisiknya.
Di antara sunyi itu, satu nama muncul lagi, tidak diundang, tapi terasa perlu. Reza, nama ini seringkali kali mengganggu pikirannya. Dan untuk pertama kalinya, Saskia tidak menolaknya. Membiarkan wajah pria itu bermain-main di kelopak matanya.
**
Pagi itu, Saskia sengaja memperlambat langkahnya di koridor lantai dua belas.
Ia tahu jadwal Reza.
Ia tahu jam berapa OB itu biasanya membersihkan ruang rapat besar.
Dan ia tahu betul… ia tidak pernah melakukan hal sekonyol ini sebelumnya.
Reza berdiri di dalam ruang rapat, menyeka meja panjang dengan kain lap. Gerakannya rapi, tenang, tanpa tergesa. Seolah dunia kantor ini bukan medan perang baginya.
Saskia berdiri di ambang pintu.
“Kenapa ruangan ini belum siap?” Tanyanya dingin, seperti biasa.
Reza menoleh.
“Sepuluh menit lagi, Bu.”
Tidak gugup.
Tidak terbata.
Saskia melangkah masuk, sengaja mendekat.
“Kamu tahu siapa yang akan pakai ruangan ini?”
“Iya,” jawab Reza singkat. “Tim legal.”
Saskia menunggu.
Biasanya, setelah itu akan ada permintaan maaf. Atau pembelaan. Atau wajah panik.
Tidak ada.
Reza kembali pada pekerjaannya.
Alis Saskia berkerut.
“Kamu tidak merasa perlu minta maaf?”
Reza berhenti, menatapnya sopan.
“Untuk apa, Bu?”
Satu kalimat sederhana.
Namun membuat udara mendadak menegang.
“Karena ini kantor saya,” ucap Saskia, suaranya sedikit meninggi.
Reza mengangguk.
“Betul.”
“Dan kamu bekerja di sini.”
“Iya.”
Saskia menunggu lagi.
Masih tidak ada perubahan ekspresi.
“Kamu tidak takut dipecat?” tanyanya, kini lebih tajam.
Reza berpikir sejenak.
“Takut itu wajar,” katanya pelan. “Tapi bukan berarti semua hal harus ditakuti.”
Saskia terdiam. Untuk pertama kalinya, omelannya tidak memantul menjadi kepanikan. Ia menghela napas, lalu mengubah nada canggung, meski ia sendiri membencinya.
“Kamu… sudah betah bekerja di sini?”
Reza menatapnya agak lama.
“Cukup.”
Jawaban itu membuat Saskia tersinggung tanpa alasan jelas.
“Cukup?” ulangnya.
“Iya,” jawab Reza tenang. “Pekerjaannya jelas.”
Tidak ada pujian.
Tidak ada sanjungan.
Saskia menyilangkan tangan.
“Kamu tidak pernah mengeluh.”
“Karena mengeluh tidak mengubah apa-apa.”
Kata-kata itu menusuk tepat di dadanya.
Saskia menoleh ke jendela, menyembunyikan kegelisahan yang tiba-tiba muncul.
“Biasanya,” ucapnya dingin, “orang seperti kamu berusaha cari perhatian atasan.”
Reza tersenyum tipis bukan senyum manis, melainkan senyum singkat yang nyaris tak terlihat.
“Saya bekerja, Bu. Bukan penjilat.”
Sunyi.
Saskia merasa kehilangan kendali.
Dan ia membencinya. Ia melangkah keluar ruangan, berhenti tepat di pintu.
“Kopi saya dingin tadi pagi,” katanya.
Reza menoleh.
“Besok saya ganti termosnya.”
Nada biasa.
Tanpa rasa bersalah berlebihan. Saskia melangkah pergi dengan dada berdebar.
Di lorong, ia berhenti sebentar.
Kenapa dia tidak takut?
Kenapa omelanku tidak berpengaruh?
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Saskia Wijaya menghadapi seseorang yang tidak berusaha menyenangkannya.
Dan itu membuatnya ingin mendekat.
Sementara di dalam ruang rapat, Reza menghela napas pelan.
Perempuan itu mulai goyah, batinnya dan dia bahkan belum menyadarinya.
Pintu ruang CEO tertutup perlahan.
Saskia berdiri beberapa detik tanpa bergerak, punggungnya masih menghadap pintu. Tangannya mengepal pelan, napasnya tertahan lebih lama dari biasanya.
Ia benci perasaan ini.
Ruang itu biasanya menjadi benteng, tempat ia merasa berkuasa, aman, dan tak tersentuh. Namun pagi ini, meja besar berlapis kayu itu terasa terlalu luas, terlalu sepi.
Saskia duduk, menatap layar laptop yang masih gelap.
Cueknya OB itu kembali terlintas di kepalanya.
Nada suaranya datar.
Tatapan matanya tenang.
Tidak takut. Tidak ingin menyenangkan.
Sejak kapan aku terganggu oleh seorang OB?
Ia menekan tombol laptop, tapi pikirannya tidak ikut menyala.
Wajah Mama muncul di benaknya.
Nada suara Papa yang dingin dan pasti.
Tiga bulan.
Ancaman itu seperti jam pasir yang terus menetes, tak peduli seberapa keras ia berlari. Ia sudah berusaha keras membangun hidupnya sendiri, namun tetap saja pada akhirnya, pilihan terbesarnya bukan miliknya.
Saskia memijat pelipis.
Biasanya, ia akan melampiaskan semua ini dengan marah. Meninggikan suara. Menjatuhkan orang lain agar ia tidak terlihat rapuh.
Namun pagi ini, kemarahannya tidak menemukan sasaran.
Karena Reza tidak bereaksi.
Dan itu membuatnya merasa gagal.
Ia bersandar di kursi, menatap langit Surabaya yang tertutup awan tipis. Apartemen Bratang Gede semalam terasa lebih sunyi dari biasanya. Ia bahkan hampir tidak tidur.
Untuk pertama kalinya, ia membayangkan hidup dengan seorang pria yang tidak memintanya berubah. Tidak menuntut senyum. Tidak memanfaatkan namanya.
Ide itu berbahaya.
Dan bodoh.
Ketukan pelan di pintu memecah lamunannya.
“Masuk.”
Pintu terbuka. Maya muncul dengan tablet di tangan, wajah profesional seperti biasa.
“Bu, rapat dengan tim investor akan dimulai lima menit lagi,” ucapnya hati-hati.
Saskia menarik napas dalam, lalu berdiri.
“Siapkan ruang rapat.”
Nada suaranya kembali dingin. Tegas. Tak bercelah.
“Baik, Bu.”
Maya hendak keluar, namun ragu sejenak.
“Bu Saskia… Anda tidak apa-apa?”
Saskia menoleh. Tatapannya tajam seperti biasa.
“Kenapa kamu bertanya?”
Maya tersenyum tipis.
“Karena Anda terlihat… lelah.”
Sunyi sesaat.
“Lelah bukan alasan untuk berhenti,” jawab Saskia akhirnya.
Maya mengangguk dan menutup pintu.
Saskia merapikan jasnya di depan cermin. Wajahnya kembali tanpa cela. Tatapannya dingin, kokoh.
Namun jauh di dalam dadanya, satu pertanyaan terus bergaung:
Kenapa justru orang yang tak menginginkanku… membuatku ingin bertahan?
Dan di luar sana, seorang OB yang bersikap terlalu biasa…
tanpa sengaja menjadi pusat dari kekacauan hidupnya.
Rapat berakhir tanpa tepuk tangan.
Saskia menutup laptopnya lebih keras dari biasanya. Para investor berpamitan dengan senyum profesional, tak satu pun tahu bahwa sepanjang presentasi, pikirannya melayang ke hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan angka dan proyeksi.
Begitu pintu ruang rapat tertutup, Saskia langsung melangkah menuju ruang CEO.
“Maya,” panggilnya singkat. “Masuk.”
Maya mengikuti dari belakang, sedikit terkejut. Biasanya, setelah rapat, Saskia ingin sendirian.
Pintu ditutup.
Ruangan kembali sunyi.
Saskia tidak langsung duduk. Ia berdiri di dekat jendela, menatap kota Surabaya dari ketinggian. Lalu, tanpa menoleh, ia berkata pelan,
“Maya… aku capek.”
Kalimat itu membuat Maya terdiam.
Saskia Wijaya jarang mengeluh, hampir tidak pernah mengatakan hal seperti itu.
“Orang tuaku datang ke apartemenku,” lanjut Saskia. “Mereka tetap memaksa.”
Maya menunggu, tidak menyela.
“Mereka bilang aku sudah dua puluh delapan tahun.” Saskia terkekeh lirih, pahit. “Katanya, usia itu berbahaya untuk perempuan.”
Maya mengernyit.
“Berbahaya?”
“Takut aku jadi perawan tua,” ucap Saskia datar, seolah membicarakan orang lain. “Itu kata Mama.”
Maya terkejut, tapi berusaha tetap tenang.
“Bu… Anda...”
“Aku tahu,” potong Saskia cepat. Ia akhirnya berbalik. “Aku cantik. Aku tahu itu.”
Bukan sombong.
Hanya fakta yang sudah terlalu sering ia dengar.
“Orang mengira aku masih dua puluh tahun. Tubuhku masih seperti remaja. Tidak ada yang percaya umurku hampir tiga puluh.” Ia tertawa kecil, getir. “Ironis, ya? Di luar, aku terlihat ‘sempurna’. Tapi di mata orang tuaku… aku cuma perempuan yang terlambat menikah.”
Maya menelan ludah.
“Bagi mereka,” lanjut Saskia, suaranya mulai bergetar tipis, “semua pencapaianku tidak ada artinya kalau aku pulang sendirian.”
Ia duduk perlahan di kursi CEO. Bahunya turun.
“Mereka sudah memilihkan aku pria. Keluarga baik. Nama besar. Masa depan terjamin.” Saskia menatap Maya. “Semua hal… kecuali cinta.”
Maya mendekat satu langkah.
“Dan Anda menolak.”
Saskia mengangguk.
“Aku tidak mau menikah hanya karena takut usia.”
“Lalu… tiga bulan itu?” tanya Maya pelan.
Saskia menghela napas panjang.
“Ultimatum.”
Sunyi mengisi ruangan.
Maya memandang atasannya, juga sahabatnya, perempuan kuat yang selama ini ia kagumi dan baru kali ini melihatnya begitu manusiawi.
“Bu,” kata Maya hati-hati, “Anda berhak memilih.”
Saskia tersenyum tipis.
“Orang tuaku tidak percaya pada kata ‘hak’.”
Ia terdiam sesaat, lalu berkata lirih, hampir seperti mengaku dosa,
“Aku hanya ingin seseorang yang melihatku sebagai Saskia… bukan sebagai usia, bukan sebagai aset keluarga.”
Maya langsung teringat satu nama. Namun ia menahannya.
Saskia berdiri kembali, merapikan jasnya. Dinding itu kembali terpasang, meski tidak setebal sebelumnya.
“Terima kasih sudah mendengarkan,” ucapnya dingin, tapi matanya lembut. “Tolong rahasiakan ini.”
“Tentu, Bu.”
Saat Maya hendak keluar, Saskia tiba-tiba bertanya,
“Maya… menurutmu, apa salahnya menikah dengan orang biasa?”
Maya menoleh, terkejut.
“Tidak ada, Bu. Kalau itu membuat Anda bahagia.”
Saskia mengangguk pelan. Saat pintu tertutup, ia kembali sendirian.
Dan untuk kesekian kalinya hari itu, wajah seorang OB yang terlalu cuek muncul di benaknya.
Dua puluh delapan, pikirnya.
Dan waktu tidak lagi berpihak padaku.
*****
