Bab 1. Hanya Tiga Bulan
Saskia Wijaya tidak pernah tersenyum pada pagi hari.
Atau siang.
Atau sore.
Bahkan pada hari Jumat ketika sebagian besar karyawan berharap pulang lebih cepat, wajah Saskia tetap sama, dingin, datar, dan menusuk. Tatapannya seperti pisau tipis yang bisa mengiris harga diri siapa pun yang cukup bodoh untuk melakukan kesalahan di hadapannya.
“Pakai otak kalau kerja!”
Suara itu menggema di lantai dua belas kantor startup Wijaya Tech, membuat beberapa karyawan menunduk refleks meski bukan mereka yang dimarahi.
Rezky Adinata yang hari itu menyamar dengan nama Reza, lengkap dengan seragam OB abu-abu dan ID card plastik murahan, berdiri kaku di depan pintu ruang CEO. Tangannya menggenggam map berisi dokumen yang sebenarnya sudah ia susun rapi.
“Ma-maaf, Bu Saskia. Saya pikir...”
“Berhenti berpikir kalau hasilnya seperti ini!” potong Saskia tajam. “Saya minta laporan keuangan yang sudah difotokopi. Ini apa?”
Ia mengibaskan map ke udara, membuat beberapa lembar kertas terlepas dan jatuh ke lantai.
Reza menelan ludah.
“Itu… itu aslinya, Bu. Saya pikir...”
“Sekali lagi,” Saskia melangkah mendekat, sepatu hak tingginya berbunyi nyaring di lantai marmer. “Saya tidak membayar orang untuk berpikir. Saya membayar orang untuk melakukan apa yang saya perintahkan.”
Reza berjongkok cepat, memunguti kertas-kertas itu tanpa suara. Rahangnya mengeras. Di dunia aslinya, tak ada satu pun orang yang berani meninggikan suara padanya. Bahkan direksi perusahaan ayahnya selalu berbicara dengan nada hati-hati.
Tapi di sini…
Dia hanya OB.
Dan Saskia Wijaya memperlakukannya seperti debu.
“Kalau kamu tidak sanggup kerja sederhana seperti ini,” lanjut Saskia tanpa ekspresi, “saya bisa cari OB lain yang lebih kompeten.”
Reza berdiri, menyerahkan kembali map itu dengan rapi.
“Baik, Bu.”
Satu kata. Nada datar. Itu yang membuat alis Saskia sedikit terangkat.
Biasanya orang akan gugup. Takut. Atau setidaknya meminta maaf berulang kali. Tapi pria di depannya ini, OB, dengan wajah terlalu rapi untuk ukuran pekerja lapangan, hanya menatap lurus, tenang, seolah omelan barusan tidak berarti apa-apa.
“Kenapa kamu masih berdiri?” Tanya Saskia ketus.
“Pergi.”
Reza mengangguk dan berbalik. Namun sebelum ia sempat melangkah keluar, suara lembut menyela.
“Bu, rapat dengan investor Singapura lima menit lagi.”
Itu Maya, sekretaris pribadi Saskia. Satu-satunya manusia di gedung itu yang masih bisa berbicara santai dengan sang CEO tanpa terlihat seperti terpidana mati.
Saskia menghembuskan napas kesal.
“Siapkan ruang rapat. Jangan sampai ada kesalahan.”
“Sudah, Bu,” jawab Maya tenang, lalu melirik Reza sebentar, tatapan penuh iba yang cepat disembunyikan.
Reza melangkah pergi. Baru beberapa meter, suara Saskia kembali menghantamnya.
“Dan kamu!”
Reza berhenti, menoleh.
“Besok jangan ulangi kebodohan yang sama.”
Ia menatap mata Saskia sesaat. Mata itu indah, tajam, gelap, dan penuh luka yang disamarkan oleh kesombongan.
“Tidak akan, Bu,” jawabnya pelan.
Saskia tidak tahu kenapa, tapi dadanya terasa sedikit terganggu.
Bukan karena kesalahan si OB.
Melainkan karena ketenangan pria itu… seolah ia tidak berada di posisi yang seharusnya.
Sementara di balik pintu yang menutup, Reza menyandarkan punggungnya sebentar di dinding koridor. Bibirnya melengkung tipis bukan senyum, lebih seperti tantangan.
Menarik, batinnya.
Perempuan sejudes ini… ternyata menyimpan badai.
Dan tanpa Saskia sadari, satu kesalahan kecil telah ia lakukan hari ini. Ia mulai memperhatikan seorang OB.
Lift lantai dua belas terbuka. Reza baru saja keluar dengan troli kecil berisi galon air dan beberapa kardus ATK ketika suara itu kembali menghentikannya.
“Berhenti.”
Satu kata. Namun cukup membuat koridor yang semula riuh mendadak senyap. Puluhan pasang mata refleks menoleh.
Saskia Wijaya berdiri di tengah lorong, jas hitamnya rapi, rambut panjang disanggul rendah, wajahnya dingin seperti biasa. Di belakangnya, beberapa staf dan manajer tampak tegang, seolah berada di ruang sidang.
Reza menghentikan langkah.
“Ya, Bu?”
Nada sopannya justru membuat Saskia semakin tidak nyaman, entah kenapa.
“Kamu yang bertugas isi air pantry hari ini?” Tanyanya, suaranya cukup keras untuk didengar semua orang.
“Iya, Bu.”
“Kenapa galonnya kosong?”
Beberapa karyawan saling pandang. Seseorang berdehem canggung.
“Sudah saya isi tadi pagi, Bu,” jawab Reza jujur.
Saskia melangkah maju satu langkah.
“Jangan bohong.”
Reza terdiam sesaat.
“Bu, saya..”
“Diam!” potong Saskia keras. “Kamu tahu berapa waktu kerja yang terbuang karena kelalaianmu? Ini perusahaan teknologi, bukan warung kopi!”
Beberapa karyawan menunduk. Ada yang pura-pura sibuk dengan ponsel, ada pula yang melirik Reza dengan tatapan kasihan.
Reza tetap berdiri tegak. Tangannya mengepal pelan di sisi tubuh.
“Kalau kamu tidak mampu mengerjakan tugas sederhana,” lanjut Saskia tanpa sedikit pun empati, “maka kamu tidak pantas berada di gedung ini.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari tamparan.
Maya, yang berdiri tak jauh dari sana, maju setengah langkah.
“Bu Saskia, mungkin bisa dibicarakan.”
“Tidak, Maya.” Saskia mengangkat tangan. “Saya ingin semua orang tahu.”
Ia menoleh ke arah para karyawan.
“Ini contoh buruk. Jangan pernah bekerja setengah-setengah seperti dia.”
Sunyi.
Reza bisa merasakan panas menjalar di dadanya. Bukan karena malu melainkan karena amarah yang ditahan mati-matian.
Dalam hidupnya, ia pernah ditipu partner bisnis, dikhianati orang kepercayaan, bahkan hampir kehilangan miliaran rupiah dalam satu malam.
Tapi dipermalukan seperti ini…
Di depan orang-orang yang menganggapnya tak lebih dari OB?
Ini pertama kalinya.
“Bu Saskia,” ucap Reza akhirnya, suaranya rendah namun jelas. “Saya tidak pernah meninggalkan tugas.”
Saskia menatapnya sinis.
“Kamu membantah saya?”
“Tidak,” jawab Reza tenang. “Saya hanya menjelaskan.”
Beberapa karyawan terkejut.
Berani sekali OB ini.
Saskia tersenyum kecil, dingin dan menusuk.
“Penjelasanmu tidak dibutuhkan.”
Ia berbalik, lalu melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Reza berdiri di tengah lorong seperti terdakwa tanpa pembelaan.
Maya mendekat pelan.
“Maaf… Bu Saskia memang sedang banyak tekanan,” bisiknya.
Reza mengangguk singkat.
“Tidak apa-apa, Mbak.”
Namun saat Maya pergi, tatapan Reza mengeras.
Perempuan itu terbiasa memegang kendali, terbiasa menginjak orang lain.
Ia mendorong troli itu kembali, langkahnya mantap.
Tak seorang pun tahu, pria yang baru saja dipermalukan ini memiliki kekuasaan untuk membeli seluruh gedung ini jika ia mau.
**
Ruang gudang lantai dasar sunyi.
Lampu neon menyala redup, memantulkan bayangan rak besi yang penuh peralatan kebersihan. Reza berdiri sendirian di sana, seragam OB-nya masih melekat, tapi pikirannya sudah jauh meninggalkan gedung itu.
Ia menatap ID card di tangannya.
REZA – Office Boy
Plastik murahan.
Nama palsu.
Harga diri yang hari ini diinjak-injak di depan banyak orang.
Perlahan, ia melepaskan tali lanyard dari lehernya.
"Cukup!" Gumam Reza dalam hati.
Ia sudah membuktikan satu hal pada dirinya sendiri, bahwa menjadi orang biasa ternyata jauh lebih kejam daripada hidup sebagai orang kaya yang dicurigai niatnya.
Reza melangkah menuju pintu belakang, tempat ia pertama kali masuk bekerja dua bulan lalu. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu ketika suara langkah tergesa terdengar dari arah lorong.
“Reza!”
Ia menoleh. Melihat Maya berdiri di sana, napasnya sedikit terengah. Wajahnya tidak setenang biasanya.
“Kamu mau ke mana?” Tanya Maya, meski jawabannya sudah jelas.
Reza menghela napas pendek.
“Pulang, Mbak.”
“Sekarang?”
“Iya.”
Maya mendekat beberapa langkah.
“Kamu mau berhenti?”
Reza terdiam.
Lalu mengangguk pelan.
“Kalau setiap hari seperti ini, saya tidak sanggup.”
Nada suaranya datar, tapi justru itu yang membuatnya terdengar rapuh.
Maya menggigit bibirnya sendiri.
“Dia keterlaluan hari ini. Aku tahu.”
Reza tersenyum tipis tanpa tawa.
“Bukan hari ini saja.”
Ia mengangkat ID card itu.
“Saya tidak butuh pekerjaan yang membuat saya lupa bagaimana caranya dihargai sebagai manusia.”
Kalimat itu menghantam Maya.
Beberapa detik ia diam, lalu berkata pelan, “Kalau kamu pergi sekarang… kamu tidak akan dapat pesangon.”
Reza terkekeh singkat.
“Itu bukan masalah.”
“Aku tahu,” sahut Maya cepat. “Kelihatan kok.”
Reza menatapnya, sedikit heran.
Maya menghela napas, lalu menurunkan suaranya.
“Reza… Bu Saskia itu bukan orang jahat. Dia cuma… sangat takut kehilangan kendali.”
Reza mengangkat alis.
“Dan itu alasan yang cukup untuk merendahkan orang lain?”
Maya terdiam.
Tidak membanta omong Reza, memang begitu kenyataannya. Sudah banyak office boy yang bekerja, keluar masuk, rata-rata tidak betah.
“Aku minta kamu bertahan,” ucap Maya akhirnya. “Sebulan lagi saja.”
Reza menggeleng.
“Untuk apa?”
Maya menatapnya lurus.
“Karena kamu satu-satunya orang di kantor ini yang berani menatap mata Bu Saskia tanpa gemetar.”
Reza terdiam.
“Dan karena…” Maya menurunkan suara lebih dalam. “Aku sering lihat Bu Saskia memperhatikan kamu.”
Reza terkesiap kecil, lalu tersenyum sinis.
“Memperhatikan untuk mencari kesalahan?”
“Bukan,” jawab Maya cepat. “Seperti… terganggu.”
Reza mengalihkan pandangannya ke pintu.
“Aku tidak tertarik menjadi bahan pelampiasan emosinya.”
Maya melangkah mendekat, kali ini lebih pelan.
“Kalau kamu pergi… aku khawatir dia akan semakin keras pada orang lain.”
Reza menoleh.
“Jadi aku harus bertahan demi semua orang?”
“Demi dirimu sendiri juga,” sahut Maya lirih. “Aku merasa… kamu bukan orang biasa, Reza.”
Untuk sesaat, ruangan itu terasa terlalu sempit.
Reza menarik napas dalam. Lalu mengaitkan kembali ID card itu ke lehernya.
“Sebulan,” katanya akhirnya. “Tidak lebih.”
Maya menghela napas lega.
“Terima kasih.”
Reza melangkah pergi melewati Maya. Namun di dadanya, sebuah keputusan lain sudah mulai terbentuk.
Kalau Saskia Wijaya pikir dia bisa mengendalikan segalanya…
Maka kali ini, aku yang akan membiarkannya mendekat dengan caraku sendiri. Dan tanpa mereka sadari…
permainan baru saja dimulai.
Malam selalu menjadi musuh Saskia Wijaya.
Di siang hari, ia bisa bersikap tegas, dingin, dan kejam tanpa ragu. Ia tahu caranya menegakkan bahu, menajamkan suara, dan menyingkirkan perasaan ke sudut terdalam dirinya.
Namun malam…
Malam tidak bisa dibohongi.
Saskia duduk sendiri di sofa apartemen mewahnya. Lampu sengaja ia redupkan. Segelas anggur merah dibiarkan hampir penuh di meja, tak tersentuh. Di hadapannya, layar ponsel menyala, nama Mama masih terpampang.
Ia baru saja menutup telepon itu.
“Tiga bulan, Saskia,” suara ibunya masih terngiang di kepala. “Kalau kamu belum juga membawa calon suami, Mama dan Papa akan lanjutkan perjodohan itu.”
Saskia memejamkan mata. Bukan ancaman kosong. Ia tahu betul orang tuanya. Keputusan mereka selalu rapi, terencana, dan tidak memberi ruang tawar-menawar.
Menikah dengan pria yang tidak kucintai…
lagi. Dadanya terasa sesak.
Ia bangkit, berjalan menuju jendela besar yang menghadap gemerlap kota. Surabaya tampak indah dari ketinggian terang, sibuk, dan tidak peduli pada kekacauan batinnya.
“Kamu perempuan,” suara Papa seolah muncul dari ingatannya. “Sebagus apa pun kariermu, tetap harus punya suami.”
Saskia terkekeh lirih.
Sangat ironis. Perusahaan ini berdiri dengan darah dan keringatnya sendiri. Ia memimpin ratusan karyawan. Investor tunduk pada keputusannya. Namun dalam urusan hidup paling pribadi…
Ia tidak punya kuasa.
Ia teringat perjodohan pertama pria sopan, mapan, dan sempurna di atas kertas. Sikapnya juga dingin. Sama dinginnya dengan dirinya sekarang. Ia memilih pergi sebelum benar-benar kehilangan diri.
Dan kini, sejarah ingin diulang.
“Tiga bulan,” gumamnya.
Saskia menoleh ke arah cermin besar di sudut ruangan. Perempuan di sana terlihat kuat. Rambut rapi. Wajah tanpa cela. Mata tajam.
Tak seorang pun tahu bahwa perempuan itu lelah berpura-pura.
Ponselnya kembali bergetar.
Pesan dari Mama.
* Mama sudah bicara dengan keluarga Wijaya Pratama. Anak mereka baru pulang dari luar negeri. Hanya tiga bulan, Saskia.*
Saskia mengunci ponsel itu keras. Ia duduk kembali, menyandarkan kepala ke sofa. Napasnya berat. Untuk pertama kalinya hari itu, bahunya sedikit jatuh.
Kalau saja aku bisa memilih sendiri…
Tiba-tiba, wajah itu muncul di benaknya.
Seragam abu-abu.
Tatapan tenang.
Cara berdiri tanpa tunduk meski sedang dimarahi.
Dia itu Reza, OB.
Saskia mengerutkan dahi. OB itu seharusnya tidak layak berada di pikirannya. Ia bukan siapa-siapa. Tidak punya apa-apa. Tidak memenuhi satu pun standar keluarga Wijaya.
Namun justru itu… Ia tidak takut padanya.
Tidak perlu menjaga citra. Tidak perlu berpura-pura lemah atau kuat.
Saskia menegakkan tubuhnya.
Bisa jadikan suami… karena Reza orang luar. Yang tidak punya kepentingan apa pun padaku.
Detak jantungnya sedikit lebih cepat. Pikiran itu berbahaya.
Tidak masuk akal. Dan sangat tidak pantas.
Namun semakin ia mencoba mengusirnya, semakin jelas ide itu terbentuk.
“Tidak,” bisiknya pada diri sendiri.
Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Saskia melihat satu celah kecil dari tembok yang selama ini mengurungnya.
Tiga bulan waktu yang diberikan orang tuanya. Atau hidupnya akan kembali ditentukan orang lain. Tanpa ia sadari, jalan keluar itu…
memiliki nama yang bahkan bukan nama aslinya.
*****
