Chapter 5
Masih pagi-pagi sekali. Bahkan, matahari saja masih malu-malu menampakkan wajahnya, membiarkan sisa-sisa embun bergelayut dengan manja di atas dedaunan dan kaca jendela. Sedang seorang laki-laki dengan setelan pakaian santai sudah ke luar dari kamar dan menuju dapur. Di sana, ia tidak menemukan siapapun juga. Mungkin orang-orang masih enggan untuk meninggalkan kamar mereka.
Tangannya yang tampak jelas menonjol urat di sana bergerak membuka lemari es di dapur. Menelisik satu per satu isinya untuk dieksekusi sendiri.
Bingung akan memasak apa sepagi ini. Biasanya, ia sudah terima jadi dan siap santap saja. Namun, bukan berarti ia tidak bisa memasak. Bisa, tetapi Tania-lah yang selalu melarangnya.
Kian memang tidak bisa membuat masakan seenak masakan ibunya. Akan tetapi, masakan sederhana untuk sarapan pagi saja ia masih bisa membuatnya. Lalu, kali ini ia memang berniat bangun lebih pagi dari siapapun untuk menyiapkan sarapan untuk perempuan manis yang masih terlelap di atas tempat tidurnya.
Tiba-tiba, Kian tersenyum. Ia teringat akan apa yang dilakukan semalam terhadap istrinya. Sampai detik ini, Kian antara percaya dan tidak percaya, bahwa sekarang ia bukan lagi seorang lajang. Namun, seorang suami yang sudah memiliki tanggung jawab besar untuk kebahagiaan seorang perempuan yang mau menjadi bagian dari cerita hidupnya yang tak sempurna.
Kian kembali merasa geli ketika kepalanya menyuguhkan kepingan peristiwa di mana ia dengan begitu buas menjamah tubuh istrinya. Ia tidak menyangk juga akan melakukan hal itu dengan begitu profesional.
"Astaga, Kian! Bisa-bisanya kau memikirkan kejadian itu lagi," monolog Kian dan tertawa geli. Menertawakan isi kepalanya yang cukup aneh.
Tak mau melanjutkan menikmati isi kepalanya yang terkesan memalukan, Kian mulai mengambil beberapa bahan makanan yang akan dieksekusi menjadi santapan pagi. Dengan tahan lihai seperti seorang profesional, ia mulai aktifitas memasaknya. Ditemani dengan senandung kecilnya, Kian menikmati pagi dengan perasaan yang jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Memang benar kata Hamza dan Tania, sejak Aurelie hadir di dalam jalan cerita Kian, laki-laki itu tampak sangat berbeda. Aura wajah ceria Kian tampak dengan sangat jelas. Meski sesekali aura itu akan redup saat sakitnya mulai datang mendera tanpa ampun.
Sepiring besar nasi goreng kecap sudah tersaji. Ia hiasi santapan itu dengan beberapa potongan mentimun, tomat, dan selada. Tidak lupa dengan telur dadar yang tak boleh ketinggalan menemani si nasi goreng. Ya, hasil paling memuaskan saat memasak bagi Kian adalah menciptakan nasi goreng kesukaannya. Entah kapan terakhir ia menikmati nasi goreng buatannya sendiri, Kian lupa. Dan kali ini, ia tak hanya menikmatinya sendiri. Akan tetapi, bersama seorang perempuan manis yang Tuhan ciptakan untuk mendampingi dan menemaninya mengukir cerita bersama.
Dengan hati bertabur bunga, Kian membawa sepiring nasi goreng lengkap dengan kawanannya dan segelas susu hangat di atas nampan. Senyum manis bibir merah mudanya tidak luntur. Sembari mengayunkan sepasang tungkai, sesekali ia menurunkan pandangan menatap masakannya itu. Tak sabar ia ingin segera menghidangkan di hadapan wanitanya. Lalu, melihat istrinya makan dengan sangat lahap. Ah, Kian berharap terlalu tinggi.
Perlahan tangannya menyentuh kenop pintu dan membukanya. Kian berhenti sejenak di ambang pintu, melihat perempuan cantiknya masih terlelap begitu nyenyak. Entah mungkin karena Aurelie memang kelelahan semalam. Tampak sekali wajah damai Aurelie dalam lelapnya.
Kian hanya bisa tersenyum melihat wajah tanpa polesan make up masih begitu nyenyak. Akan tetapi, ia tidak mau jika Aurelie harus bangun kesiangan. Ia tahu hal itu bukanlah kebiasaan perempuan itu sejak dulu.
Kian mulai mengikis jarak. Ia letakkan barang bawaannya di atas meja di samping tempat tidur. Lalu, ia duduk di pinggiran kasur dan masih ingin menatap kecantikan alami istrinya.
Jemari jenjang itu mulai menyentuh pelan wajah Aurelie. Bermain dengan lembut di atasnya. Ia sentuh satu per satu bagian wajah Aurelia dan berhenti di bibir ranum yang semalam ia jejaki. Kian mendekatkan wajahnya. Lalu, berhenti di dekat telinga sang istri. Ia berbisik, "Sayang, bangun."
Rupanya, apa yang dilakukan Kian tak membuat Aurelie terganggu sama sekali. Perempuan itu bergeming. Justru dengkuran halus masih terdengar dengan irama yang sangat teratur.
Kian hanya bisa tersenyum lebar melihat istrinya.
Tak mau membiarkan Aurelie tidur sampai kesiangan. Kian membelai lembut pipi Aurelie agar perempuan itu terbangun. Dan ... Ya, kali ini Kian berhasil. Perlahan tubuh Aurelie bergerak sampai kelopak mata itu juga perlahan terbuka.
Aurelie menyipitkan sepasang netranya untuk menyesuaikan cahaya yang ditangkap retina. Setelah itu, yang pertama kali ia lihat adalah wajah suaminya dengan senyum lebar. Seketika Aurelie bangkit tanpa aba-aba. Melihat Kian duduk di pinggiran tempat tidur dengan manis, artinya ia sudah keduluan bangun dari suaminya.
"Apa aku kesiangan, Ki?" tanya Aurelie dengan wajah penuh merasa bersalah. Harusnya, ia yang lebih dulu bangun dari suaminya. Bukan sebaliknya seperti ini. "Kenapa kau tidak membangunkanku sejak tadi? Papa dan Mama pasti bilang aku adalah menantu pemalas," sambungnya dengan bibir mengerucut ke depan beberapa senti.
Kian tersenyum melihat istrinya. Ia menyentuh puncak kepala Aurelie dan mengelus lembut rambut berantakan Aurelie. "Tentu saja tidak," ujar Kian seraya menggelengkan kepala. "Kau tidak bangun kesiangan. Aku juga yang sengaja tidak membangunkanmu dari tadi."
"Kenapa?"
"Kau pasti masih capek," balas Kian.
"Capek? Capek kenapa?"
"Ya, capek karena ...."
"Hentikan, Kian! Jangan teruskan kalimatmu," ucap Aurelie dengan cepat. Demi apapun, ia sendiri malu jika mengingat kejadian semalam.
Kian hanya bisa tertawa melihat tingkah istrinya. "Ya sudah sekarang bersihkan wajahmu. Setelah itu, kita sarapan. Aku sudah siapkan sarapan untukmu."
Aurelie mengangguk patuh. Ia langsung bergegas menuju kamar mandi untuk melakukan titah suaminya. Tak lama ia berada di sana.
Sekembali Aurelie dari kamar mandi, ia tak menemukan suaminya di sana. Begitu juga dengan masakan yang dibawa Kian. Ketika ia mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Kian, sorot matanya langsung menembus kaca balkon. Di sana ia melihat bayangan seseorang yang duduk. Senyum Aurelie terbit. Ia tahu siapa pemilik bayangan itu. Memang siapa lagi kalau bukan Kian?
Tanpa berpikir panjang ia langsung menyusul dengan langkah lebar. Aurelie tidak berbohong. Saat ini, perutnya sudah meminta untuk diisi. Ia juga tidak sabar ingin mencicipi masakan Kian untuk pertama kali.
"Ternyata kau di sini," ujar Aurelie saat berdiri di samping suaminya. Ia langsung duduk setelah dipersilakan oleh Kian di kursi kayu yang berbatasan meja dengan suaminya.
"Boleh aku coba?"
Kian mengangguk cepat. "Tentu saja. Aku kan memang sengaja membuat ini untukmu."
Aurelie tersenyum manis. Ia kemudian mulai menyantap masakan pertama Kian.
"Bagaimana? Enak?"
"He'em," balas perempuan itu seraya menganggukkan kepala. Ia tidak berbohong. Nasi goreng yang dibuat Kian memang sebegitu enaknya di mulut Aurelie.
"Kau suka?"
Sekali lagi perempuan itu menganggukkan kepalanya.
"Besok aku buatkan lagi, ya."
Aurelie menghentikan makannya. Ia menatap Kian yang juga tengah menatapnya dengan senyuman. "Harusnya aku, ya, yang masak buat kamu. Bukan sebaliknya begini."
Kian terkekeh kecil. Ia merasa lucu melihat wajah polos Aurelie. "Tidak apa-apa. Aku akan melakukan apa yang bisa membuatmu senang," jawab Kian tulus.
"Ki, ...."
"Ssstt!" Kian meletakkan jari telunjuknya di bibir ranum Aurelie. "Lanjutkan makannya. Tidak baik makan sambil bicara."
"Makan berdua, mau?" tanya Aurelie dengan wajah gemas.
"Kalau dengan, ngapain saja aku pasti mau," jawab Kian yang membuat pipi Aurelie bersemu merah.
