Chapter 4
Aurelie masih merasa canggung dan kaku duduk di antara keluarga Kian. Ia hanya bisa tersenyum kaku dan sedikit tertawa jika ada yang lucu. Apa yang ditunjukkan Aurelie bukanlah sosok yang sesungguhnya. Sebab, aslinya Aurelie adalah sosok perempuan yang ceria.
"Mau makan apa?" tanya Kian yang melihat istrinya terlihat kikuk. Ia paham, bahwa sang istri masih belum terbiasa dengan suasana baru. Sebab itulah, Kian langsung bergerak cepat.
Aurelie hanya menatap Kian seraya menunjukkan senyum kikuknya. Jujur saja, ia merasa malu dan tidak enak.
"Jangan malu-malu, Aurelie. Sekarang ini adalah rumahmu," tukas Hamza yang sejak tadi diam, tetapi terus memperhatikan seisi ruang makan itu. Ia tidak mau jika menantunya merasa menjadi orang asing di rumah itu. Sebab, entah menantu atau anak kandung, bagi Hamza mereka tetaplah anak. Ia akan memperlakukan mereka sama rata.
"Benar, Aurelie. Kau harus menganggap rumah ini seperti rumahmu sebelumnya. Karena, sejak kau menjadi istri Kian, rumah ini juga sudah menjadi rumahnya," sambung Tania membenarkan ucapan suaminya.
Aurelie mengalihkan pandangan ke arah Hamza dan Tania. Lalu, tersenyum dengan manis. "Iya, Pa, Ma," jawabnya. Setelah itu, Aurelie langsung mengambil alih perannya menyiapkan makan untuk Kian. Seperti yang dilakukan Tania memperlakukan Hamza. Sekarang, Aurelie sudah memiliki role model baru dalam hidupnya jika dulu ia hanya berfokus melihat perlakuan sang ibu terhadap ayahnya.
"Terima kasih, ya," ujar Kian. Ada yang berbeda kini dari sebelumnya. Rasanya, begitu menggembirakan diperlakukan istimewa. Ya, memang sebelumnya Kian selalu diistimewakan oleh keluarganya. Namun, berbeda dengan perasaan diistimewakan oleh istrinya. Kebahagiaan cukup sempurna kini.
Tak hanya Kian saja yang merasa bahagia dengan hadirnya Aurelie. Namun, rasa bahagia itu juga dirasakan oleh kedua orang tua Kian. Mereka melihat ada semangat baru dalam diri Kian setelah mengenal Aurelie. Apalagi setelah sah menjadi sepasang suami istri.
Lantas, bagaimana dengan Nara? Ya, Nara juga turut berbahagia atas kebahagiaan yang dirasakan Kian. Akan tetapi, di sisi lain Nara merasakan pedih yang begitu dalam. Melihat wajah Aurelie selalu berhasil membuat isi kepalanya berputar dengan hebat tentang kenangan bersama sang mantan istri. Ia tidak tahu, apakah jalan cerita cinta Kian adalah salah satu cara Tuhan menyiksanya dengan rindu.
"Nara," panggil Hamza ketika melihat putra sulungnya hanya menunduk dan menatap makanan di atas piring.
Nara mengangkat wajah dan menatap ayahnya. "Kenapa, Pa?"
"Kamu kenapa? Tidak nafsu makan? Apa kau sakit?" tanya Hamza langsung ke topik inti.
"Hm, tidak, Pa. Nara baik-baik saja."
"Ya sudah makanannya jangan hanya ditonton saja."
Nara hanya bisa mengangguk patuh.
Kian menatap kakaknya dengan lekat. Meski ia mendengar jawaban Nara, tetapi Kian tidak sepenuhnya percaya itu. Nara bukan sosok pendiam di tengah keluarganya. Bahkan, Nara-lah orang yang paling banyak omong di sana. Artinya, sekarang Nara sedang tidak baik-baik saja.
•••••
"Kau kenapa?" Aurelie menatap Kian yang duduk diam di sampingnya sejak memasuki kamar setelah melangsungkan makan malam bersama keluarga. Ia melihat wajah Kian tampak murung dari biasanya. "Ada masalah?"
Kian menatap Aurelie. Lalu, tersenyum tipis. "Tidak ada masalah sih. Tapi, ..." Kian menggantung kalimatnya.
Sepasang alis milik Aurelie terangkat. Pertanda ia menantikan kalimat selanjutnya yang akan diucapkan oleh Kian.
"Tapi, aku hanya kepikiran Mas Nara saja," lanjut Kian.
"Mas Nara?" ulang Aurelie menyebutkan nama kakak iparnya. "Memangnya Mas Nara kenapa?"
Kian menggelengkan kepala. "Aku juga tidak tahu. Tapi, dia pasti sedang ada masalah kalau banyak diam seperti tadi," terang Kian.
"Kau begitu paham Mas Nara, ya, Ki?" tanya Aurelie dengan serius. Ya, salah satu hal yang membuat Aurelie jatuh cinta pada Kian adalah sifat laki-laki itu yang perhatian. Tidak heran jika Kian sangat perhatian pada kakaknya. Sebab, pada Aurelie saja laki-laki itu sangat perhatian.
Kian hanya tersenyum. Ia sebenarnya tidak begitu memahami sosok asli Nara setelah kepergian mantan istri kakaknya. Sebab, banyak sekali perubahan yang terjadi.
Hening dalam beberapa saat. Sampai suara berat kembali terdengar.
"Aurelie."
Pemilik nama itu langsung menoleh ke samping.
"Kau tahu 'kan kalau aku tidak sempurna sebagai seorang laki-laki? Aku ini terlalu banyak kurangnya."
Aurelie mengangguk.
"Lalu, kenapa kau mau menikah denganku?" tanya Kian dengan serius.
"Memangnya kenapa jika kau?"
Alih-alih mendapatkan jawaban. Kian justru dilempari pertanyaan oleh istrinya.
"Tapi, aku tidak bisa memberikanmu keturunan, Rel."
Aurelie menyentuh tangan Kian. "Bukankah aku sudah tahu sejak awal, Ki?"
Kian hanya terdiam.
"Jadi, kau tidak perlu bahas itu lagi. Tidak apa-apa kok, Ki. Sungguh. Kita bisa adopsi anak nanti jika kau mau."
Kian membalas genggaman Aurelie. Lalu, ia menatap lekat sepasang bola mata bulat di hadapannya. "Terima kasih, ya, sudah menerima aku dengan segala kekurangan ini. Aku nggak pernah nyangka jika Tuhan bakalan sebaik itu sama aku dengan menjadikan kamu istriku," tutur Kian dengan sangat lembut dan serius.
Aurelie menunjukkan senyum manisnya. Ia bahagia mendengar penuturan Kian yang menandakan laki-laki itu begitu bersyukur memilikinya. "Aku juga bersyukur banget bisa kenal dan jadi istri kamu," ucap Aurelie dengan tulus. Ya, meskipun ia tahu kondisi Kian yang sesungguhnya. Rasa cinta dalam hatinya selalu tumbuh setiap hari. Apalagi selalu dipupuk juga oleh Kian dengan ketulusan dan perhatian.
"Rel, boleh aku minta sesuatu sama kamu?"
"Of course," jawab Aurelie cepat. "Apapun. Kamu boleh minta apapun sama aku. Pasti aku turutin."
Rasanya Kian ingin sekali tertawa melihat tingkah istrinya yang begitu menggemaskan. Entah kenapa Aurelie selalu menunjukkan tingkah polos dan manjanya di hadapan Kian. Hal itu selalu berhasil membuat gemas dan Kian ingin sekali mencubit pipi istrinya.
"Boleh aku mencium keningmu?" Tatapan Kian lekat dan penuh cinta pada Aurelie.
Tanpa berpikir panjang, Aurelie langsung menganggukkan kepalanya dengan pasti. Tidak lupa dengan seulas senyum cantik menghias paras ayunya. Sekarang, ia adalah milik Kian seutuhnya. Kian boleh melakukan apa pun penuh cinta terhadapnya.
Kian menyentuh wajah istrinya dengan lembut. Menarik pelan kepala Aurelie perlahan. Lalu, ia dekatkan wajahnya hingga tak berjarak.
Aurelie merasakan dengan begitu jelas benda kenyal yang hangat menyentuh keningnya. Dengan sepasang netra tertutup Aurelie menikmati kecupan suaminya. Sungguh, sesuatu berbeda mengalir di dalam tubuh Aurelie. Sesuatu yang tak pernah Aurelie rasakan sebelumnya.
Rupanya, bibir merah muda Kian tak berhenti hanya di kening istrinya saja. Namun, perlahan turun menyentuh mata dan berhenti di bibir ranum Aurelie.
Tidak ada penolakan apapun dari perempuan itu. Ia begitu menikmati perlakuan Kian. Sampai hubungan intim itu terjadi begitu saja.
