Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 6

Sudah menjadi sebuah rutinitas bagi keluarga Kian menikmati hari libur di rumah. Mereka menikmati waktu yang bagi mereka adalah golden time. Sebab, hanya di hari libur saja mereka bisa berkumpul sekeluarga.

Weekend kali ini tentu saja berbeda. Sebab, ada manusia lain yang kini mulai ikut bergabung hingga nanti seterusnya. Akan tetapi, kehadiran Aurelie tak membuat suasana perkumpulan itu berubah. Semuanya terasa sama. Mereka bersenda gurau seperti biasanya.

Namun, ada yang tidak menyadari sesuatu di sana. Seseorang yang hanya memilih diam dan terpaksa tertawa jika ada yang lucu. Lalu, sesekali melirik dengan ekor mata pasangan pengantin baru yang tawanya begitu lepas dan terkesan sangat bahagia. Apalagi, Aurelie juga tak malu-malu bermanja pada suaminya.

Nara. Laki-laki itu hanya bisa tersenyum kecut. Ia tidak tahu harus berbahagia atau sebaliknya sekarang. Sebab, awal Kian memberitahu akan menikah. Ia adalah orang pertama yang sangat mendukung adiknya. Akan tetapi, sekarang rupanya kehadiran istri adiknya itu justru memberi efek yang tak pernah Nara pikirkan akan seperti saat ini. Sungguh, di luar prediksi Nara.

Isi kepala Nara seketika buyar ketika mendapati lemparan pelan dengan kulit rambutan oleh adiknya. Ia menatap Kian dengan tatapan yang tak ada artinya. Hanya tatapan kosong.

"Kenapa?" Hanya satu kata itu yang terjun bebas dari bibir Nara.

"Kau yang kenapa? Diam melulu dari tadi," ujar Kian sedikit kesal. Ini adalah kali pertama Nara tidak begitu menikmati weekend mereka. Dan hal itu jelas menjadi bahan pikiran Kian sebagai orang terdekatnya.

"Memangnya aku kenapa?"

"Sudah. Sudah. Kalian ini saling lempar tanya terus," ucap Tania menengahi kedua putranya.

Setelah itu, tidak ada lagi yang membuka suara. Hening menjadi kawan mereka dalam beberapa saat. Sampai suara bariton Hamza kembali terdengar memecah paksa hening yang ng mendekap.

"Kian."

Sang empunya nama langsung menoleh ke arah sumber suara. Refleks sepasang alisnya terangkat. "Kenapa, Pa?" tanya Kian setelah mendengar namanya disebut dengan serius oleh sang ayah.

"Kau baru saja menikah. Kau tidak ada rencana membawa Aurelie pergi?"

Kening Kian mengkerut dalam hingga sepasang alisnya tampak menyatu. Ia tak mengerti apa maksud pertanyaan ayahnya. "Pergi? Pergi ke mana maksud Papa?"

"Ya ... Pergi bulan madu," jawab Hamza dengan hati-hati.

Hening. Tidak ada jawaban dari Kian. Yang lain pun tak terdengar bersuara.

"Bulan madu?" Kian tertawa sinis. "Memangnya harus, ya, Pa?"

Aurelie menatap suaminya. Suara Kian terdengar mulai tak bersahabat. Meski ia tidak tahu kenapa Kian tiba-tiba seperti itu, Aurelie menyentuh lembut lengan suaminya untuk menenangkan.

Hamza hanya terdiam. Ia tahu saat ini Kian mulai terbawa arus emosi. Rupanya, topik yang ia angkat cukup sensitif bagi si bungsu.

"Papa mengejekku, ya?" Kian menatap ayahnya dengan lekat. Tajam, tetapi ada siratan kepedihan di sorot mata itu.

"Ki, maksud Papa tidak seperti yang kau tuduhkan, Nak," ujar Hamza merasa bersalah. Bukannya ia takut pada Kian. Akan tetapi, ia merasa memiliki kewajiban untuk menjaga hati dan perasaan anak-anaknya. Apalagi, setelah Kian tahu ada sesuatu yang tidak baik-baik saja di dalam tubuhnya. Hamza sangat menjaga perasaan Kian agar tidak tersinggung.

Kian hanya membuang pandang. "Sudah tahu anaknya mandul. Masih saja nyuruh bulan madu," ucapnya dengan nada suara kesak bercampur sinis.

"Bulan madu tidak harus jika kau pulang nanti Aurelie harus hamil. Papa berkata seperti itu agar kau bisa menghabiskan waktu dengan istrimu. Kalian perlu waktu untuk bersantai dan menikmati waktu berdua," terang Tania menjelaskan. Ia menatap serius wajah Kian yang ekspresinya mulai tak terkontrol. Akan tetapi, suaranya masih terdengar sangat lembut. Ya, Tania tahu bagaimana bicara agar Kian paham. Putra sulungnya itu tidak bisa dilawan keras jika sedang emosi.

Kian tak menimpali. Laki-laki itu justru bangkit dan bergegas pergi tanpa suara. Bahkan, Aurelie saja tak ia pedulikan sama sekali.

Hamza, Tania, dan Nara tahu persis bagaimana sifat Kian. Emosian dan keras kepala. Dan mereka hanya bisa geleng-geleng kepala serta menghela napas panjang melihat tingkah Kian yang tak berubah sama sekali sejak dulu.

"Hm, Aurelie coba susul Kian dulu, ya, Pa, Ma," ujar Aurelie. Sebenarnya, ia sendiri merasa tidak enak pada mertuanya, karena sikap Kian tadi. Akan tetapi, ia juga tidak tahu harus berbuat apa.

Percakapan yang dimulai Hamza terkesan sangat sederhana dan biasa saja bagi Aurelie. Bukankah pasangan pengantin baru memang sudah sangat wajar jika dihadapkan dengan topik bulan madu? Ya, Aurelie sendiri merasa Kian sudah sangat berlebihan menanggapi pernyataan Hamza.

Hamza dan Tania hanya mengangguk. Lalu, Aurelie berlalu untuk menyusul suaminya.

Aurelie langsung mendaratkan bokongnya di samping Kian yang duduk di bibir tempat tidur dan menghadap jendela. Raut wajah penuh emosi yang sebelumnya ia lihat kita berubah menjadi wajah sendu yang sayu. Aurelie menyentuh lembut lengan Kian. Ia elus bagian tubuh suaminya itu.

"Ki," panggil Aurelie seraya menatap penuh cinta suaminya. "Boleh aku bicara?"

Kian tak menggubris. Sorot mata laki-laki itu tetap lurus ke depan.

Tak mendapat respons. Aurelie berpindah tempat dan duduk bersimpuh di hadapan Kian. Ia menggenggam kedua tangan suaminya. Setelah itu, Kian menatapnya.

Laki-laki itu tidak bicara. Namun, ia langsung melepas genggaman Aurelie dan menuntun istrinya untuk kembali duduk di bibir tempat tidur. "Jangan duduk di bawah," ucap Kian dengan nada datar.

"Ki, aku mau bicara, boleh?" tanya Aurelie sekali lagi dan langsung dibalas anggukan oleh Kian. Ia mengalungkan kedua tangannya di lengan Kian dan menyandarkan kepalanya. Aurelie tidak agresif. Hanya saja ia merasa nyaman berada di dekat Kian.

"Kau jangan bersikap itu lagi, ya, sama Papa. Papa bicara seperti itu bukan bermaksud seperti yang kau pikirkan. Aku yakin itu," tukas Aurelie dengan pelan agar bahasanya bisa tersampaikan dan disambut dengan baik oleh suaminya. "Bukannya hal biasa kalau baru nikah terus yang dibahas bulan madu?"

Kian tidak menjawab. Memang dasarnya ia yang sensitif.

"Kau kan bisa jawab dengan baik kalau memang kau tidak mau pergi. Tak seharusnya kau membuat Papa merasa tidak enak hati seperti tadi," sambung Aurelie.

Hening.

"Ki," panggil Aurelie.

"Iya, Sayang," jawab Kian sembari menyentuh puncak kepala Aurelie.

"Aku sendiri merasa tidak enak dan bersalah sama Papa. Nanti kita minta maaf, ya."

Tanpa berpikir panjang, Kian langsung menganggukkan kepala. Kian sadar bahwa apa yang dilakukan itu memang salah. Namun, egonya tidak bisa dikalahkan.

Aurelie tersenyum manis. Ia kemudian memeluk erat tubuh Kian hingga aroma tubuh suaminya seketika menelusup masuk ke indra penciuman. Nyaman.

"Sayang," panggil Kian.

"Hm," balas Aurelie hanya dengan gumaman.

"Memangnya kau mau kalau kita pergi bulan madu?"

Aurelie langsung mengangkat kepalanya untuk kemudian bisa melihat wajah tampan Kian. "Kalau bulan madu membuat kau merasa tidak nyaman dan banyak pikiran. Aku tidak mau."

Kian tersenyum. Ia tidak habis pikir jika Aurelie lebih mementingkan perasaannya seperti ini. "Setelah ini, kita atur jadwal perginya, ya, Sayang."

Tatapan Aurelie berbinar. Ia menganggukkan kepala cepat.

"Sayang," panggil Kian dengan senyum.

Aurelie menatap suaminya. Sepasang bola mata bulatnya bertubrukan langsung dengan sepasang mata sipit Kian.

"Terima kasih sudah mau menikah sama aku. Padahal, kau tahu kalau aku tidak sempurna dan tidak bisa memberikanmu anak."

"Ssttt!" Aurelie menempelkan jari telunjuknya di bibir merah muda Kian. "Jangan bicara seperti itu lagi. Kau tetaplah suami yang sempurna untukku. Dan aku bahagia menjadi pasanganmu."

"Aurelie, i'm so lucky to have you."

"Aku lebih beruntung memilikimu."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel