Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 3

Kian menatap wajah cantik yang begitu tenang dalam lelap itu. Pelan-pelan ia sematkan anak rambut milik istrinya di belakang telinga agar tidak terganggu tidurnya. Sampai sebuah senyum manis tercipta menghiasi wajahnya yang terpahat begitu rapi dan tampan itu. Ia melihat ketenangan yang sama di wajah Aurelie ketika tersenyum. Memang, Aurelie adalah salah satu alasan kehidupan Kian lebih berwarna.

Sampai detik ini, jujur saja Kian masih belum menyangka jika ia sudah berhasil mengikrar janji di hadapan Tuhan dan ratusan pasang mata untuk menjadikan Aurelie bagian dari hidupnya. Lebih tidak menyangka lagi, Aurelie bisa menerimanya dengan keadaan yang sebut saja segabai sebuah kecacatan permanen.

"Cantik sekali," puji Kian melihat Aurelie yang merasa tidak terganggu meski tangannya terus bermain dengan lembut di wajah natural itu. Sekali lagi, Kian hanya bisa tersenyum menyaksikan kecantikan istrinya dalam jarak sedekat itu.

Masih ingin terus menikmati pahatan cantik wajah Aurelie, tetapi sesuatu yang sudah tak aneh lagi dirasakan oleh Kian. Sontak saat itu juga Kian menyingkirkan tubuhnya perlahan dari dekat sang istri. Lalu, duduk dengan menjuntaikan kaki di bibir tempat tidur.

Sebuah ringisan pelan terdengar. Kian menoleh ke belakang, takut-takut jika istrinya dengar. Namun, semua masih aman. Aurelie masih setia dalam lelapnya.

Sebelum ia tertangkap basah oleh Aurelie, bersama sakit yang menyerbu dengan buas area perutnya Kian perlahan bangkit dengan tubuh sedikit membungkuk dan tangan yang menekan area penuh kesakitan itu. Lama sekali rasanya untuk sampai di pintu kamar.

Kian ke luar dari kamar yang sekarang bukan lagi hanya miliknya seorang. Akan tetapi, kamar yang kini sudah memiliki penghuni baru. Di depan pintu yang sudah tertutup rapat, Kian berdiri dengan menahan rasa sakit di perutnya. Belum lagi rasa mual yang tak mau kalah menyerbu. Kian menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari seseorang. Namun, nihil. Tak ada satupun dari penghuni rumah itu yang terlihat.

Seraya menahan rasa sakit itu. Kian bergerak pergi.

Di pertengahan anak tangga Kian bertemu dengan sang kakak. Kian bersyukur akan hal itu. Sebab, ia tidak akan mati konyol, karena kesakitan dan tidak ada yang menolong.

"Tolong bantu aku," pinta Kian yang tenaganya mulai terkuras perlahan. Suaranya saja sudah terdengar sangat lemah.

Sang kakak, Nara, langsung bergegas mendekat. Ia meraih tangan adiknya dan mengalungkan di lengan. "Kau mau ke mana? Harusnya ke kamarmu saja," tukas Nara dengan nada khawatir melihat kondisi adik semata wayangnya itu.

Kian langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak mau jika Aurelie tahu, Mas," balas Kian seraya menahan sakitnya.

Harusnya Nara paham dengan sifat adiknya yang tidak pernah mau orang lain tahu tentang kesakitannya. Akan tetapi, tidak dengan menyembunyikan dari orang paling dekat. Terlebih Aurelie yang notabene adalah istri Kian sendiri.

"Aku tahu kau tidak mau membuat susah siapapun. Tapi, kali ini aku tidak habis pikir jika istrimu sendiri tidak mau kau beritahu," ucap Nara. Ia hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap adiknya.

"Jika kau tidak mau membantuku. Tolong jangan ajak aku untuk berdebat, Mas," tegas Kian. Bicara dengan Nara dengan topik yang sama tidak akan pernah selesai jika ia tak mengalah. Nara pasti akan memaksa dan menceramahinya panjang lebar.

Helaan napas panjang Nara terdengar sangat jelas. Ia tidak tahu lagi bagaimana harus menasihati adiknya.

Baiklah. Sekarang tugas Nara membantu Kian terlepas adiknya itu masih belum mau mendengarnya.

•••••

Tubuh di atas tempat tidur itu bergerak perlahan seiring terdengarnya lenguhan lembut. Sepasang bola mata yang tadinya terkatup rapat pelan-pelan terbuka. Dalam beberapa saat Aurelie terdiam dan menelisik langit-langit ruang di mana ia berteduh kini. Lalu, Aurelie tersadar bahwa sekarang ia sudah tidak lagi berada di kamarnya. Akan tetapi, di kamar seorang laki-laki yang baru mempersuntingnya. Beruntung Aurelie cepat tersadar. Jika tidak, ia pasti sudah berteriak karena berada di tempat yang asing.

Aurelie menelisik setiap inci ruang yang sekarang akan menjadi kamarnya bersama Kian. Ia juga tidak lupa mencari sosok Kian yang tadinya juga tidur di sampingnya. Namun, saat terbangun ia tak mendapati laki-laki itu.

"Ini sudah jam berapa?" monolog Aurelie setelah merubah posisinya yang semula berbaring dan kini bersila. Ia mengangkat pandangan dan melihat jam dinding. "Hampir jam enam," gumamnya.

Aurelie masih mencoba mencari keberadaan Kian. "Kian di mana, ya? Kenapa nggak bangunin aku dari tadi," ucapnya lagi. Ia melangkah ke arah kamar mandi untuk mencari Kian. Namun, tidak ada tanda-tanda Kian ada di dalam.

Masih dengan muka bantal dan rambut sedikit berantakan diikat asal. Aurelie ke luar dari kamar. Ketika ia berada di depan pintu. Tak sengaja ia melihat Nara berjalan hendak menuruni anak tangga. Awalnya, Aurelie malu menyapa kakak iparnya itu. Namun, Nara adalah satu-satunya orang yang pertama ia temukan dan bisa ia tanya tentang keberadaan Kian.

"Mas Nara!" panggil Aurelie dengan suara lebih keras.

Langkah Nara terhenti. Ia menoleh ke arah sumber suara. Dan seketika itu juga Nara terpaku di tempat melihat Aurelie yang berdiri di depan pintu kamar. Ia seperti tengah melihat sosok perempuan yang belum tergantikan di dalam hatinya. Aurelie benar-benar terlihat seperti mantan istrinya.

"Hm, Mas," panggil Aurelie dengan ragu-ragu ketika Nara tidak merespons panggilannya. Bahkan, laki-laki itu seperti tidak menyadari keberadaannya yang sangat dekat.

"Oh, iya, kenapa?" Nara terbata. Ia bahkan sedikit tersentak ketika melihat Aurelie yang sudah berdiri di hadapannya. Ia tidak menyadari perempuan itu bergerak mengikis jarak dengannya. Ia sibuk dengan isi kepalanya yang seketika bergerilya mengingat perempuan manis di masa lalunya itu.

"Hm, lihat Kian, tidak?" tanya Aurelie masih dengan perasaan ragu dan tidak enak. Ia takut jika menyinggung Nara atau membuat Nara merasa tidak dihormati sebagai orang yang lebih tua.

"Kian," ulang Nara menyebutkan nama adiknya. Nara sebenarnya ingin memberitahu di mana keberadaan Kian pada Aurelie. Akan tetapi, ia juga tidak mau jika nanti Kian akan marah padanya.

"Tidak tahu, Rel. Mungkin di bawah," ucap Nara. Ia tak sepenuhnya berbohong. Sebab, Kian memang berada di lantai bawah rumah bertingkat itu. Akan tetapi, Nara hanya tidak memberitahu di mana ruangan pasti keberadaan Kian.

"Oh, baik, Mas. Terima kasih, ya," ujar Aurelie dengan sopan. Seolah ia tengah berbicara dengan senior atau bahkan dosennya. Lalu, sikap yang Aurelie tunjukkan benar-benar seperti seorang junior penakut.

"Kalau begitu aku ke bawah dulu, Mas. Permisi," ujar Aurelie lagi dengan bahasa yang terdengar formal dah kaku. Ia mendahului langkah Nara dan meninggalkan kakak iparnya itu.

Selepas kepergian Aurelie, Nara masih berdiri menatap punggung perempuan itu. Jantungnya berdegup kencang, persis seperti yang ia rasakan ketika bertemu mantan istrinya dulu. "Apa kau yang sengaja mengirim perempuan yang mirip denganmu ke sini, Ta?"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel